BAGAIMANA MENGIKUT YESUS?

KASIH YANG NYATA : MENGIKUT YESUS DAN PIKUL SALIB

Mateus 10:34-39

 

Saudara, sebuah nyanyian rohani mengatakan, Mengikut Yesus Keputusanku!. Setiap orang percaya harus mengaku dan menyaksikan imanya ditengah-tengah dunia ini, dunia menjadi tempat  kita untuk menyaksikan kebenaran yang telah dibawakan oleh Yesus. Dia ingin  para pengikutnya bersedia membuat keputusan dan komitmen s pribadi. Hal ini sangat   penting mengingat akan semakin berat tantangan yang akan dihadapi baik dari dirinya sendiri maupun dari luar dirinya. Bagi Yesus tantangan itu harus dijawab bukan disesali, jawaban itu ditunjukkan melalui kesaksian hidup yang didasarkan pada iman kepadaNya.   Setiap pribadi diberi kebebasan untuk memilih, pilihan itu akan lebih baik bila didasarkan pada  iman dan pengenalanya pada Tuhan, pengenalan itu dapat  melalui pengajaran, bimbingan dan kotbah. Pengajaran Yesus yang mengutamakan kasih dan damai menjadi landasan berpijak  sehingga orang percaya dapat mengarahkan hidup pada jalan yang benar.  Membuat keputusan pribadi dalam rangka mengikut Yesus bukan sesuatu yang mudah tetapi pengalaman dan pengenalan pada Tuhan  membantunya untuk membuat keputusan yang tepat.

Saudara, Yesus mengajar dengan tegas bahwa mengikut Dia dibutuhkan komitmen diri ,sebab segala sesuatu yang tidak didasarkan pada komitmen   sering  membawa kemunduran dalam segala hal apalagi hal itu menyangkut iman kepada Yesus. Dibutuhkan sikap dan tindakan nyata  dari pribadi orang tersebut, mereka  bukan lagi  sebagai pendengar tetapi menjadi pelaku-pelaku firman.  Kedatangan Yesus membawa pembaharuan hidup, Dia mengubah situasi hidup kearah  yang lebih baik, di mana kebencian, perselisihan bukan lagi bagian dari hidup para pengikutNya. Pengikut Yesus diberi kemampuan untuk mengubah hidupnya sehingga dia bukan lagi orang yang mudah diombang-ambingkan keadaan dunia ini, ia bukan lagi sebagaimana yang diinginkan dunia ini, tetapi melakukan keinginan Tuhan. Sebagai orang percaya dipanggil  untuk mengubah, menerangi dan menggarami dunia ini. Hari ini gereja kita melaksanakan Peneguhan Sidi di mana anak-anak kita  menyaksikan dan  mengaku iman pada  Yesus, harapan kita semua apa yang sudah diterima dapat diterapkan dalam hidupnya. Perubahan sikap sudah harus terjadi di mana  mereka bukan lagi orang yang kekanak-kanakan yang mudah diombang-ambingkan pengajaran dunia ini tetapi sudah menjadi dewasa dalam iman dan pengenalan pada Kristus. Mereka telah dibekali dengan Firman Tuhan, sebagai dasar dan pedoman hidupnya, maka apa yang sudah dipelajari menjadi modal untuk dapat memfilter segala sesuatu yang dia lihat dan alami. Pilihan mereka tidak lagi didasarkan atas keinginan-keinginan sesaat tetapi sudah mampu melihat hidup (masa depan) yang baik. Bagi kita  hidup tidak  lagi didasarkan pada hal-hal yang fana, tetapi lebih  tertuju pada  kekekalan, pilihan orang percaya bukan lagi didasarkan pada apa yang dia lihat (yang bersifat fana) tetapi lebih tertuju pada apa yang dijanjikan oleh Tuhan yang bersifat kekal. Apa yang dilihat oleh mata secara kedangingan tidak selalu dapat memampukan kita lebih dekat mengenal Tuhan tetapi yang terutama  adalah mempertajam mata hati  atau iman pribadi kita kepadaNya. Iman kepada Yesus dan mengikut Yesus bukan hitung-hitungan secara materi atau kedangingan, tetapi lebih pada pengorbanan dan  kerelaan untuk menyerahkan hidup pada  Kristus. Jadi mengasihi Yesus adalah kerelaan untuk membuang sikap-sikap yang negatif dan mau berkorban bagi sesamanya. Kasih yang nyata kepada Kristus ditunjukkan pada kerelaan untuk mempersembahkan hidup kepadaNya sehingga hidup kita bukan lagi milik dunia ini tetapi sudah menjadi milik Tuhan. Tidak lama lagi gereja kita akan memasuki akhir tahun gerejawi, di mana kita diingatkan bahwa dalam hidup tidak ada yang abadi, ada awal dan ada akhir, ada kehidupan ada kematian. Kehidupan akan berakhir tetapi kasih setia Tuhan abadi selama-lamanya. Keabadian hanya ada pada Tuhan, dan tujuan hidup kita adalah kepadaNya, maka jadilah pengikut Kristus yang setia.

Saudara,  Tuhan telah memberi kita sukacita besar melalui JUBILEUM, dimana tindakan Tuhan telah nyata kepada kita sebagai umat pilihanya. Dia telah  membebaskan dan memberi  hidup yang baru dan hal-hal  yang ter utama dan berharga  telah diberikan Tuhan kepada kita yakni Hari pembebasan. JUBILEUM  itu  telah tiba dan melahirkan sukacita besar bagi umatNya. Pembebasan itu perlu ditunjukkan kepada semua bangsa melalui kesaksian iman baik melalui perayaan dan tindakan pembebasan bagi semua orang.  Keberadaan kita sebagai warga sorgawi  dan  sebagai warga duniawi perlu berkontribusi untuk mengubah keadaan hidup ke arah yang lebih baik.  Sebagai warga sorgawi dapat memancarkan, dan mengingatkan bangsa ini agar  nilai-nilai kebenaran wajib diterapkan kepada warganya. Suara kenabian perlu digelorakan melalui kehadiran semua umat dalam perayaan serta tindakan nyata di dalam kasih persaudaraan. Allah tidak mengiginkan kita untuk mensiasiakan kesempatan tersebut, setiap ada kesempatan, pengikut Kristus bertanggungjawab memberikan nilai  untuk membawa pembaharuan hidup.  Amin.

 

 

Iklan

Komentar dimatikan

AIR BAH SURUT

ERA DAN BUMI BARU KEHIDUPAN UMAT TUHAN

KEJADIAN 8:18-22

 

Saudara! Dibalik setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup ini: suka maupun duka, sehat maupun sakit, menangis atau tertawa, mati atau hidup, pasti ada hikmat yang begitu berharga di dalamnya. Seorang bijak pernah berkata bahwa peristiwa hidup tidak memiliki makna tertentu, dan kitalah yang merumuskan makna atas semua peristiwa.  Tragedi  air bah – Tuhan memberi peringatan kepada umat manusia bahwa Dia menghukum orang-orang yang melakukan kejahatan, namun sekaligus menunjukkan kasih karunia bagi orang-orang yang menuruti perintahNya. Ini nyata dalam hidup Nuh dan keluarganya  serta binatang-binatang yang ada di dalam bahtera untuk melanjutkan dunia baru, era baru, tatanan kehidupan baru. Nuh tidak melupakan kebaikan Tuhan, dengan segera ia mendirikan mezbah, memberikan korban sembelihan, sebagai tanda ucapan syukur. Dia merasakan bahwa kehidupan yang diterimanya adalah anugerah Tuhan yang direspon melalui sikap mentalitas kesetiaan melakukan perintah Tuhan. Benarlah bahwa pengertian hidup hanya dapat dilakukan dengan menengok sejenak ke belakang, tetapi untuk menjalaninya kita harus serius melihat ke masa depan.

Saudaraku! Era baru, tatanan bumi baru adalah karya agung sang pencipta. Bagaimana kita memaknainya? Berilah hidupmu kepada Tuhan, sebab Dialah pemilik kehidupan. Dan  hidup yang kita hidupi sekarang sesungguhnya adalah berkat sekaligus menjadi berkat bagi orang lain dan alam ciptaan ini. Nuh didalam  iman dan kesetiaannya kepada Tuhan membuat dia  berkat bagi keluarga dan kelangsungan makhluk hidup ciptaan Tuhan.  Masa kini  hubungan manusia dengan alam ciptaan sepertinya mengalami ketidakseimbangan. Para penguasa dan pengusaha sesuka hati mengeksploitasi alam sehingga ekosistem kehidupan rusak dan mengalami sakit yang begitu parah. Akibatnya kehidupan kita sekarang menderita. Cuaca ekstrim dan pemanasan global membuat hidup kita gelisah. Banjir dan longsor menelan korban dan membuat hidup kita kehilangan ketenangan. Puting beliung merusak dan menghancurkan tatanan kehidupan yang sudah lama kita bangun. Manusia perlu menyadari bahwa ia adalah mitra Allah bukan untuk merusak namun untuk membangun dan memeliharanya.  Dalam hubungan dengan sesama, sering terjadi manusia menjadi mangsa bagi sesamanya, melakukan kekerasan bagi sesamanya,  saling menjatuhkan, terjadi persaingan yang tidak sehat. Manusia perlu mengevaluasi diri untuk kembali kepada kodratnya sebagai mandataris Allah. Manusia harus bertanggungjawab atas semua yang diberikan Tuhan kepadanya, dan  Tuhan mengiginkan agar umat yang telah diselamatkan itu mempersembahkan hidupnya kepada Dia.

Saudara! Dibutuhkan  komitmen diri untuk selalu setia dalam  memelihara alam ciptaan dan menjaga hubungan baik dengan sesamanya. Dengan demikian kasih setia Allah menjadi nyata yakni perlindungan, pemeliharaan bagi semua  umat yang setia kepadaNya. Penyerahan diri kepada Tuhan sebagai dasar membangun hubungan baik kepadaNya dan bagi sesama umat  manusia dan Allah telah menjanjikan keselamatan bagi semua ciptaanNya dimana  tidak lagi membinasakan segala yang hidup sebagaimana yang sudah terjadi.  Janji Tuhan itu tetap berlaku dan hal itu terjadi dimana dikatakan” Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti  musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam. Allah telah menciptakan segalanya dengan sempurna, jadi pada hakikatnya tidak ada ruang  bagi manusia untuk menghancurkanya. Manusia haruslah bekerja dan sunguh-sungguh untuk  mengelolanya agar  dipergunakan untuk kelangsungan hidup manusia itu sendiri.  Bumi yang kita tempati sekarang  bukanlah  milik kita sendiri  tetapi milik semua orang dari generasi ke generasi sehingga dengan  menjaga dan memeliharanya berarti kita melanjutkan kelangsungan hidup umat manusia. Hidup kita berada dalam kuasa pemeliharaan Tuhan, dan selama kita hidup perlu mewariskan sumber kehidupan bagi generasi berikutnya,  ada pepatah mengatakan” Janganlah mewariskan air mata kepada generasimu, tetapi wariskanlah mata air kepadanya”. Hidup kita menjadi mata air yang selalu memberi kesegaran dan kesejukan bagi semua orang jadi  selama kita hidup hendaklah setia dalam segala perbuatan yang baik dan  saling membangun melalui  apa yang sudah dipercayakan Tuhan kepada kita.

SaudaraKU! hidup yang membangun sesama ditunjukkan dalam persekutuanya dengan Tuhan dan membangun relasi yang baik dengan sesamanya. Hubungan dengan Tuhan tidak terlepas dari hubunganya dengan  sesama. Jadi bagi kita  sesama adalah berkat dan hal itu ditunjukkan dalam sikap dan perbuatannya yang senantiasa menyehatkan bukan menyakiti, memberkati bukan mengutuk. Hidup manusia berada di dalam Tuhan dan berada dalam penyertaanNya. Dia adalah sumber segala berkat baik jasmani maupun rohani. Di dalam Dia semuanya disatukan, dipersekutukan untuk suatu tugas mulia yakni membawa orang pada suatu kehidupan yang bahagia. Hidup bahagia telah dipersiapkan Tuhan kepada orang-orang yang setia dan percaya kepadanya. Mari saudaraku maknailah  bumi ini dengan karya kreatif berorientasi bumi yang layak dihuni. Cintailah bumi ini dengan karya konstruktif yang memihak kepada kehidupan supaya kita hidup untuk bersama-sama, dan bersama-sama untuk hidup. Amin.

 

 

 

Komentar dimatikan

SIAPA YANG BOLEH DATANG KEPADA TUHAN?

HIDUPKU DI RUMAH TUHAN: RITUS PENTING-TERPENTING PRAKSIS

Mazmur 15:1-5

Saudara! Apa yang kita lihat dan rasakan dalam persekutuan  di rumah Tuhan?  Tentu  setiap orang mengiginkan gereja  itu  ideal, cocok,  sesuai,  namun dalam kenyataan  sulit menemukan gereja yang ideal. Gereja masih di dunia dan menghadapi pergumulan dunia,  gereja masih terus berjuang.  Jadi siapa yang boleh menumpang di dalam rumah Tuhan dan  apakah kita  yang sudah datang ke rumah Tuhan sudah termasuk orang-orang yang baik, sempurna  dan benar? Tentu kita belumlah orang yang sempurna namun telah disempurnakan, jadi orang-orang yang menumpang di rumah Tuhan adalah orang-orang yang mau berubah dan disempurnakan oleh Tuhan.

Saudara, jati diri kita sebagai umat Tuhan, adalah menunjukkan sikap dan perbuatan yang positif dan membangun,. Jati diri itu menjadi pedoman dalam setiap sikap dan tindakan, yakni Tidak melakukan hal-hal yang bercela : dimana Kekudusan Tuhan menjadi dasar pijakan untuk bertindak serta bersikap dalam hubungan dengan sesama dan hubungan dengan Tuhan.  Hati dan pikiran manusia yang belum diubahkan oleh Tuhan  cenderung melakukan hal-hal yang amoral.  Akhir-akhir ini  kita mengalami  degradasi  moral,  kita  melihat  banyak orang  yang jatuh karena masalah  moralitas yang kurang baik. Terkadang orang tidak lagi malu menampilkan dirinya di ruang public pada hal  moralitasnya sudah bercela, berita perceraian, perselingkuhan, korupsi, sepertinya tidak lagi hal yang tabu, atau sudah membudaya,  lihat dalam tayangan di televisi, hampir setiap hari  menjadi tontonan dan sangat  menarik, sepertinya orang sudah mulai  permisif (menerima) perbuatan-perbuatan tersebut menjadi hal yang biasa. Berlaku adil serta hidup dalam kebenaran: Kita sering mendengar, “ kalau engkau berlaku adil dan jujur kamu tidak akan mendapatkan apa-apa”. Kamu akan dianggap bodoh dan tidak tahu apa-apa “. Benarkah demikian? Dari sudut duniawi bisa saja ada  benarnya, namun sebagai orang beriman tentu bukan dari hal-hal ketidakjujuran manusia memperolehnya?. Tidak menyebarkan fitnah : Fitnah lebih kejam dari pembunuhan, sebab kerugianlah yang terdapat di dalamnya.  Fitnah yang dilakukan seseorang akan mencelakakan dirinya sendiri. Jangan menyebarkan badai, karena badai itu dapat saja mencelakakan diri  sendiri. Apa yang engkau tabur itulah yang akan engkau tuai. Tidak menjadi batu sandungan. Setiap orang haruslah menjadi berkat bagi sesamanya, ia akan diterima dengan baik, apabila ia mampu menerima sesamanya dengan baik. Tidak memandang hina orang yang tersingkir.  Orang lemah adalah orang yang  kurang berdaya, ia akan berdaya apabila ada yang memberdayakan,  mereka haruslah diberi perhatian khusus, Jadi tugas kita adalah menghargai siapapun sebab mereka adalah sesama kita.  Namun di tengah persaingan hidup yang kompetitif  sekarang ini seringkali terjadi persaingan yang tidak sehat, dan menyebabkan kurangnya keperdulian terhadap sesama. Tidak cinta uang. Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa  uang adalah hamba yang baik tetapi sekaligus menjadi tuan yang kejam. Uang memang perlu tetapi bukan menjadi jaminan kebahagiaan, dengan uang semua dapat dibeli tetapi tidak dapat membeli kebahagiaan.

Saudara, melakukan perbuatan baik adalah tanda orang yang menumpang di rumah Tuhan, setiap orang haruslah menjaga kekudusan itu janganlah menajiskan rumah Tuhan melalui sikap dan perbuatan yang bercela.  Rumah Tuhan hendaknya menjadi solusi dalam setiap permasalahan bukan menjadi sumber masalah. Walaupun dalam kenyataan memang sering terjadi, persoalan uang, kuasa, jabatan, dan lainya  sering menjadi sumber konflik,  mengapa karena manusia sering  kehilangan jati dirinya,  kepribadianya (karakternya) sangat rapuh, tidak mencerminkan  karakter Kristus. Hal ini menyebabkan  manusia  kehilangan arah dan tidak mampu  mempertahankan jati dirinya. Tubuhmu adalah Bait Roh Kudus, janganlah menajiskanya dengan tindakan yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Karena dengan demikianlah kita tidak akan goyah selama-lamanya. Gereja HKBP telah menetapkan tahun 2012 sebagai tahun Penelitian dan Pengembangan (LITBANG). Gereja kita mempergumulkan tingkat kehadiran jemaat, serta partisipasi jemaat yang sangat minim kepada gereja, ini mengundang pertanyaan, mengapa ?  Mengapa angggota jemaat  malas ke gereja, mengapa  persentase kehadiran di ibadah minggu tidak sampai 50 % dari jumlah jemaat? Mengapa disebut Kristen Kapal selam, dimana  pada waktu-waktu tertentu muncul ke permukaan, kemana selama ini?. Kita harus banyak merenungkan, jangan-jangan kita masih disebut Kristen KTP. Kita Kristen karena lahir dari keluarga Kristen, tidak mengalami pertumbuhan iman. Kita harus kembali pada Jati Diri kita sebagai umat yang telah dipanggil, dikuduskan dan ditetapkan oleh Tuhan, untuk dapat menjadi saksi-saksi Kristus di tengah-tengah dunia ini. Amin.

 

Comments (4) »

ANAK YANG HILANG

KASIH DAN PENGAMPUNAN TANPA BATAS

Lukas 15:11-24

 

Saudaraku! Perumpamaan ini muncul sebagai protes Allah terhadap diskriminasi yang diperankan oleh orang Farisi yang dikuasai pemikiran paling benar dari orang lain. Yesus ”bergaul bebas” dengan pemungut cukai yang dicap sebagai orang berdosa, najis, dan kotor. Ia tidak memandang rendah pada mereka, seperti dilakukan orang-orang Farisi. Apa yang dilakukan Yesus membuat marah guru-guru hukum Taurat dengan berkata: ”Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka” (ay. 2). Perbuatan Yesus dilihat menodai hidup keagamaan. Lalu Yesus menyampaikan perumpamaan ini.

Hidup adalah ketika kasih dan pengampunan diperankan bukan diabaikan:

  • Perumpamaan ini mestinya tidak pernah dapat disebut “Perumpamaan mengenai si Anak Hilang”, sebab anak di sini bukanlah pahlawan. Lebih baik kalau perumpamaan ini disebut “Perumpamaan mengenai Bapa yang Mengasihi”, sebab menceritakan tindakan bapa yang mengasihi dan bukan dosa si anak.
  • Perumpamaan ini juga menceritakan lebih banyak tentang pengampunan Allah. Bapa menanti dan telah menunggu lama kembalinya si anak dan ketika anak tiba, sang bapa mengampuninya tanpa tuduhan-tuduhan. Adalah buruk ketika seseorang diampuni, tetapi senantiasa disertai dengan kata dan ancaman mengenai dosa yang ditanggungkan kepadanya. Pengampunan sang bapa tidaklah seperti itu.

Kasih yang diperhitungkan dalam deret hitung upah tidak pernah dapat membebaskan.

  • Kisah saudara tua dan sebenarnya merasa sayang bahwa saudaranya telah pulang kembali adalah gambaran orang-orang Farisi yang merasa diri benar yang lebih suka melihat seorang berdosa dibinasakan daripada diselamatkan.
  • Sikapnya memperlihatkan bahwa tahun-tahun selama ia bersama dengan bapanya adalah tahun-tahun yang penuh dengan kewajiban-kewajiban bukan pelayanan yang didasarkan atas kasih. Salah satu sifat kasih sebenarnya tidak menuntut.
  • Sikapnya tidak menunjuk simpatik karena menunjuk anak yang terhilang itu bukan sebagai saudaraku tetapi sebagai anakmu. Ia masuk pada jenis orang yang memiliki watak membenarkan diri dan suka menjatuhkan orang yang sudah jatuh untuk seterusnya.

Memandang Kristus melakoni hidup demi fakta pembebasan kehidupan itu sendiri:

  • Adalah lebih mudah untuk mengaku kepada Allah daripada kepada manusia di dalam fakta Allah lebih berbelaskasih dalam penghakimanNya daripada kebanyakan manusia.
  • Adalah kasih Allah jauh lebih luas dari kasih manusia di dalam fakta Allah dapat mengampuni di mana manusia menolak untuk mengampuni. Tabiat ilahi Allah tidak dapat dikurangi oleh dosa manusia.
  • Menghadapi kasih seperti ini tidak ada lain yang dapat kita perbuat selain daripada larut tanpa memperhitungkan deret hitung perbuatan sebagai penentu penerapan kasih.
  • Kasih yang utuh sesungguhnya tidak tergantung kepada besar kecilnya jasa dan kepentingan yang diukir, namun tergantung kepada desakan hati untuk mengasihi terbebas dari jasa dan kepentingan

Datang dan tinggalkanlah cara hidupmu yang lama. Setiap orang yang dikuasai cara hidup yang lama akan menggelisahkan dan menyengsarakan, namun orang yang insaf dan datang kepada sanga Bapa yang mengasihi akan disambut dan dikenakan jubah yang terbaik,  yaitu kerajaanNya. Pintu kerajaan Allah terbuka lebar kepada setiap orang yang menyesali dosa-dosanya.

 Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH,

Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan…

Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya

supaya ia hidup.

Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu!

Komentar dimatikan

UPAH MENGIKUT YESUS

UPAH MENGIKUT YESUS: ANGKA ATAU NILAI

Lukas 18: 28-30           

Saudaraku! Sepertinya bangsa ini tidak henti-hentinya diterpa oleh pergumulan dan penderitaan. Musim kemarau panjang mengakibatkan sulitnya menemukan air bersih. Banyak warga bangsa terpaksa berjalan dan berjalan kilometer demi perolehan air. Di berbagai daerah kebakaran rumah dan hutan terus terjadi mengakibatkan sesaknya dada. Kapal Motor alat transportasi laut terbakar menambah deretan jumlah korban anak-anak bangsa. Terakhir-terakhir ini berita jatuhnya pesawat Cassa antara bandara Polonia – Kutacane menambah derasnya aliran linangan air mata yang tidak di sengaja. Kapan derita ini akan berakhir? Secara khusus kita berduka atas bencana yang dialami oleh saudara-saudara kita HKBP Pangururan Samosir, bangunan gereja missionaries habis terbakar pada hari Kamis, 29 September 2011, pukul 10 pagi. Tidak ada yang tersisa, tinggal puing-puing hitam berserakan. Di mana mereka sekarang beribadah? Kiranya kita jangan pelit dan miskin mengatupkan tangan berdoa kepada Tuhan supaya mereka terhibur, kuat, dan tekun di dalam pengharapan kepada Kristus serta setia mengikut Kristus.

Saudaraku! Ditengah banyaknya pergumulan dan penderitaan yang kita alami saat ini, firman Tuhan selalu hadir menyapa kita: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Kerajaan Allah meninggalkan rumahnya, isterinya atau saudaranya, orang tuanya atau anak-anaknya, akan menerima kembali lipat ganda pada masa ini juga, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal.” Inilah suara yang menghidupkan kita, memotivasi kita, serta menyemangati kita dalam menghadapi dan memenangkan penderitaan yang kita alami saat ini. Perolehan angka penting, namun terpenting adalah pemilikan nilai hidup kita. Nilai hidup kita bukan tergantung dari banyaknya dan panjangnya deret angka yang kita miliki, namun tergantung kepada konsistensi, komitmen, dan kesetiaan kita terhadap citra kemanusiaan sebagai gambar ciptaan Allah. Orang yang memperoleh banyak angka belum tentu memiliki nilai, namun orang yang memiliki nilai dipastikan mendapatkan angka. Mengikut Yesus bukan persoalan perolehan angka, tetapi adalah pemilikan nilai. Ketika manusia ter-obsesi mengikut Yesus untuk dan demi memperoleh angka yang terjadi adalah ratapan tanpa akhir, namun ketika obsesi kita mengikut Kristus adalah iman yang terus bertumbuh dalam kesetiaan maka kehidupan sekarang dan nanti menjadi milik kita yang dijamin oleh Kristus. Betapa sedihnya kehidupan seorang Pemuda yang kaya, datang kepada Yesus dan berkata: Hukum Taurat sudah aku turuti, apa lagi yang kulakukan untuk memperoleh hidup kekal? Yesus menjawab: Juallah hartamu dan berikan kepada orang miskin! Dengan bersedih hati sang pemuda kaya sangat berat melepaskan angka. Atas sikap itu Yesus berkata: “Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah.

Saudaraku! Apakah upahmu mengikut Yesus? Dalam hidup ini kita harus berani belajar untuk melepaskan supaya kita memiliki. Angka penting, namun terpenting adalah Nilai. Supaya kehidupan kita memiliki nilai kita harus berani belajar melepaskan deret hita angka. Angka bisa saja kuasa, jabatan, kekayaan, sukses, dsb. Bila itu yang kita inginkan dalam bungkusan intensitas agama, maka nasib kita sama seperti Pemuda kaya itu. Namun ketika kuasa, jabatan, kekayaan, dan sukses itu kita lepaskan dalam pengertian mempunyai makna membangun kehidupan orang lain, disanalah kita memiliki dalam arti yang sesungguhnya. Yang kita miliki saat ini adalah nilai, dan nanti adalah kehidupan kekal. Itulah upah kita mengikut Yesus.

Petrus seorang murid Tuhan Yesus menanyakan apa upah yang akan diperolehnya sebab  ia sudah meninggalkan segala kepunyaanya, sanak saudaranya, sudah berusaha mendahulukan Kerajaan Allah. Yesus mengatakan bahwa ia akan  memperoleh lipat ganda pada masa ini juga dan pada zaman yang akan datang yakni hidup kekal. Mengikut Yesus hidup tidak sia-sia, namun hidup yang sia-sia adalah ketika seseorang  meninggalkan Tuhan Yesus. Orang percaya hidup dalam pengharapan, dimana hidup yang sedang dijalaninya adalah bagian yang tidak terpisah dari hidupnya di masa  yang akan datang.

Saudaraku! Allah telah menyediakan upah bagi orang-orang yang selalu setia kepadaNya, serta bagi orang-orang yang  mau mendahulukan kerajaanNya. Upah mengikut Yesus  tidak selalu diidentikkan  dengan harta duniawi namun harta yang terutama adalah hidup kekal yakni keselamatan jiwanya. Keselamatan itu membuat  hidup bahagia, namun keselamatan  tidak selalu diukur dengan kekayaan, tetapi ukuran adalah sejauh mana ia menyerahkan hidupnya kepada Tuhan. Falsafah Batak mengatakan “ arta na godang i ma roha na sonang”. Bisa saja harta berlimpah tetapi jiwa dan hatinya tidak mengalami ketenangan, mengapa? sebab ia lebih menjaminkan hidupnya kepada harta bukan kepada Tuhan. Jadi harta hanyalah sarana bukan jaminan, apa yang kita miliki perlu dimaknai di dalam hidup yang saling berbagi dan  hidup dalam kemurahan hati. Mengikut Yesus bukan persoalan angka, tapi adalah nilai. Apapun kesusahanmu, jangan lemah; Tuhan Yesus besertamu, ikut tetap. Pikullah salibmu saja, ikut terus; lihatlah mahkota Raja agung kudus! Amin.

Komentar dimatikan

DATANG DAN TERIMALAH KESEMBUHAN DARI TUHAN

DISEMBUHKAN SUPAYA MENYEMBUHKAN

Markus 1:40-45

Saudaraku! Setiap orang yang sakit  menginginkan kesembuhan, apalagi keadaanya sudah kronis, ada perasaan cemas, bimbang dan kuatir membayangi alam pikirannya sehingga ia selalu berusaha dengan segala daya dan upaya untuk memperoleh kesembuhan tersebut. Dalam nats ini  seorang penyakit kusta datang kepada Yesus dengan suatu harapan memperoleh kesembuhan melalui kuasaNya. Penyakit kusta termasuk menular dan sangat berbahaya, itu sebabnya orang berpenyakit kusta dikucilkan atau dijauhkan  dari masyarakat, dan biasanya sulit disembuhkan.

Biasanya seseorang yang sakit selalu berharap adanya keperdulian dari sesamanya, sahabat atau keluarganya, hal seperti ini sangat penting untuk memberi semangat kepadanya. Seorang yang sakit kusta ini berusaha sendiri datang kepada Yesus, ia percaya  bahwa Yesus berkuasa atas segala penyakit tak terkecuali penyakitnya.  Dia percaya bahwa Yesus adalah seorang pribadi  yang sangat perduli dan mau mendengar segala keluh kesah orang-orang yang menderita. Dengan segala kehormatan ia datang dan berlutut dihadapanNya, dengan penuh harap bahwa Yesus akan mentahirkannya (menyembuhkannya). Ia berkata” Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku”. Sebuah ucapan yang sangat mengharukan, ia menyadari  dan mengenal siapa dirinya dihadapan Yesus. Dalam ucapan ini tidak ada unsur memaksakan namun suatu permintaan yang menunjukkan sikap kerendahan hati.

Mendengar permohonan itu maka tergeraklah hatiNya oleh belas kasihan, lalu Yesus mengulurkan tanganNya, menjamah orang itu, dengan berkata” Aku mau jadilah engkau tahir”. Maka seketika itu terjadilah mujizat kesembuhan, lenyaplah penyakitnya. Adanya komunikasi atau  interaksi antara orang tersebut dengan Yesus menunjukkan bahwa Yesus itu selalu terbuka terhadap siapapun tanpa memandang posisi ataupun status. Kehidupan yang diubahkan oleh kuasa Yesus membawa sukacita dan pembaharuan, keadaan berubah dari dukacita kepada sukacita. Sepanjang manusia itu percaya pada kuasa dan selalu mengandalkan anugerah Tuhan, ia akan mengenal dirinya dan mengalami hidup yang diubahkan.

Kesembuhan itu sebagai anugerah Tuhan yang perlu disyukuri, walaupun Yesus menyuruhnya untuk tidak memberitakan kepada siapapun selain kepada imam, tetapi karena sukacita  besar yang telah diterimanya ia memberitakannya dan menyebarkannya kemana-mana. Suatu hidup yang sudah diubah adalah menjadi pembawa berita sukacita, menjadi berkat bagi orang lain. Dampak dari pemberitaanya jelas terlihat dimana orang terus datang kepada Yesus dari segala penjuru walaupun Yesus tinggal diluar kota di tempat sepi. Kita semua yang sudah menerima anugerah Tuhan, dipakai untuk menyebarluaskan apa yang sudah kita imani dari Tuhan dan apa yang sudah dilakukan Tuhan kepada kita.

Saudaraku! Setiap orang pasti mengalami sakit, apakah itu ringan atau keras, biasa atau kronis. Dalam hal ini  iman kita diuji, dan sering hidup kita lemah, kurang berdaya menghadapinya sehingga dibutuhkan iman yang kokoh kepada Tuhan, percaya pada kuasa Tuhan, sebagaimana firmanNya mengatakan “ Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil (Lukas 1,37). Pertolongan kita adalah Tuhan semesta alam, Dia pribadi yang mengenal hati dan mau memperdulikan kehidupan kita.  Keadaan apapun yang kita alami adalah sebuah tantangan yang harus dijawab dengan iman percaya. Yesus mengatakan “ Imanmulah yang menyelamatkan kamu,” iman  membuat hidup kita  lebih teguh dan berpengharapan kepadaNya.

Datang kepada Tuhan dengan lebih dahulu mengenal diri adalah penting, sebab Tuhan melihat hati, apakah sungguh-sungguh atau sekedar berbasa-basi. Kesungguhan untuk meminta kepada Tuhan sebagai tanda bahwa kita percaya sepenuhnya pada kuasaNya. Kuasa Allah melebihi kuasa dan pikiran manusia, apa yang tidak mungkin bagi manusia, tetapi bagi Allah mungkin. Apa yang dilakukan dan yang sudah kita terima dari Tuhan semata-mata adalah anugerahnya, bukan karena kebaikan kita, itu sebabnya perlu menyebarluaskannya, menjadi saluran  berkat dan sukacita bagi  semua orang.

 

Saudara! Hari ini kita sudah memasuki Minggu-minggu terakhir di bulan September 2011. Pusparagam warna kehidupan sudah kita lewati, jalani, dan terus menata kehidupan berikutnya. Berbagai informasi media sudah kita baca dan dengar: tindakan kekerasan, anarkis sepertinya tak pernah berhenti menghiasi wajah negeri ini. Pertikaian antar kampung dan kampus dipertontonkan tanpa malu. Arogansi lemahnya nilai-nilai moral di beberapa mahasiswa dan siswa ditampilkan dalam kemasan kekerasan. Sangat disayangkan dan sangat memprihatinkan. Sekolah yang diharapkan sebagai sarana perekat kesatuan dan masa depan bangsa justru memunculkan benih-benih permusuhan. Belum lagi persoalan gugatan hukum tipikor yang tidak kunjung usai menambah jumlah pergumulan bangsa ini. Terkadang membuat suasana menjadi bising, dan karenanya terkadang terlinga tidak dapat lagi mendengar seruan teriakan anak bangsa, mata tidak dapat lagi melihat penderitaan warga bangsa meminta tolong.  Bangsa ini sakit!  Ya… bangsa ini sakit. Siapa tabib yang akan menyembuhkan bangsa ini. Siapapun tidak arif bila menghilangkan tanggungjawab terlebih melimpahkan tanggungjawab itu kepada orang lain. Kuasa kasih Tuhan sudah menyembuhkan kita, dan kita pun terpanggil untuk  menjadi kesembuhan bagi bangsa ini. Aku, Anda, saudara dan kita semua terpanggil untuk menjadi kesembuhan bagi bangsa dan orang lain. Amin.

 

Comments (2) »

PERUMPAMAAN DUA ORANG ANAK

JANGAN ADA DUSTA DI ANTARA KITA:

ANTARA IDEALISME DAN REALISME HARUS ADA KEJUJURAN

Matius 21:28-32

Saudara! Tak seorang pun diantara manusia yang ingin disebut sebagai orang munafik atau pembohong. Seorang penjahat sekali pun atau pembunuh sekali pun tak ingin disebut sebagai orang munafik. Sebutan itu menghinakan dirinya, merendahkan martabatnya, dan tidak mempunyai moral sebagai seorang manusia. Kita marah bila disebut orang munafik atau pembohong! Syukur apabila kita marah dengan sebutan itu. Ini pertanda bahwa nilai-nilai kebaikan masih ada di dalam diri kita. Supaya nilai-nilai kebaikan itu terus bertumbuh sangat perlu komitmen, kejujuran, kesetiaan, integritas, dan keberpihakan diri kepada karya konstruktif mentalitas ya bila ya, tidak bila tidak. Kata sesuai dengan tindakan, keyakinan sesuai dengan perilaku. Bila tidak demikian kehidupan akan menjadi pengharapan yang mengecewakan. Dan bila kekecewaan sudah terjadi maka sikap apatis menjadi pilihan keterpaksaan. Dan bila sikap apatis sudah menjadi karakter maka runtuhlah nilai-nilai kemanusiaan, hati nurani menjadi mati. Tentu kita tidak mau apabila nilai-nilai kemanusiaan kita hilang, hati nurani kita mati. Oleh karena itu marahlah bila ada kemunafikan, marahlah bila ada kebohongan di dalam diri kita. Jangan ada dusta diantara kita.

Dalam konteks kehidupan berbangsa nilai kejujuran ini masih terus kita perjuangkan. Karena kita menginginkan bangsa ini menjadi bangsa yang berdaulat, bermartabat, bermoral, menjungjung tinggi hak-hak azasi setiap orang, baik suku maupun agama menuju masyarakat adil dan makmur. Kita merindu adanya akselerasi kata dan tindakan, janji dan perbuatan, kepercayaan dan perilaku. Tidak ada dusta diantara kita, tidak ada kepura-puraan, tidak ada ingkar janji. Bila pemerintah berjanji secara sungguh-sungguh memberantas korupsi tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mendukungnya. Bila pemerintah berjanji menegakkan keadilan tanpa tebang pilih, semua organic bangsa harus bergerak untuk itu. Bila pemerintah berjanji secara serius mengentaskan kemiskinan, pada masa-masa mendatang jumlah penderita gizi buruk di nusantara ini tidak ada lagi, masyarakat yang tinggal di daerah-daerah perbatasan sudah mendapatkan infra-struktur yang layak dan memadai. Antara idealisme dan realisme harus kita bangun nilai kejujuran. Artinya jujur luar dalam, terutama terhadap diri sendiri. Yang jujur adalah mental kita, bukan cuma akting kita. Kejujuran mental adalah jujur terhadap hati nurani sendiri. Karena inilah awal pembangunan karakter unggul bangsa ini yang di dalamnya terpelihara nilai-nilai kebangsaan adil, makmur, dan sejahtera. Jangan ada dusta di antara kita.

Saudara! Perumpamaan Yesus tentang dua orang anak mengisahkan dua kelompok manusia dalam menyikapi idealisme dan realisme. Tipe orang pertama adalah perkataan jauh lebih baik daripada perbuatan. Orang seperti ini bercirikan kebih suka memamerkan kesalehan dan kesetiaan, memberi janji yang muluk-muluk namun prakteknya jauh dari itu. Tipe orang kedua adalah perbuatan lebih baik  dari pada perkataan. Mereka mengaku orang kasar, berdosa tetapi terbukti melakukan kebaikan. Kedua tipe ini ada di dalam  hidup ke-agamaan. Ada  orang yang mengaku percaya kepada Tuhan  tetapi tidak menuruti sesuai dengan perintahNya, begitu mudahnya orang  untuk menjawab ya, tetapi belum tentu melakukanya, pada hal  perintah Tuhan itu bukan hanya didengar tetapi lebih penting dilakukan, sebab yang berbahagia adalah orang yang melakukan perintahNya. Ada orang mengaku percaya tetapi tidak beriman, hidup keagamaanya hanyalah kelihatan dari luar tetapi isinya jauh dari hidup keagamaan itu sendiri, mereka ini lebih mementingkan dirinya sendiri serta menonjolkan hal-hal yang lahiriah yang menguntungkan bagi dirinya sendiri.

Allah tidak menginginkan hidup yang berpura-pura (munafik), bagiNya lebih baik mengakui segala kekurangan daripada menutupinya. Anak pertama dalam perumpamaan ini, mengatakan  baik bapa, tetapi tidak pergi. Ini menandakan begitu sulitnya menerima keadaan diri,  tidak mau berterus terang dan akhirnya hasilnya kosong. Namun anak kedua, aku tidak mau, tetapi kemudian menyesal, lalu pergi juga. Ini menandakan bahwa ia sadar atas kekurangan dan mau belajar, dia mampu menerima keadaan dan akhirnya melakukan hal-hal yang lebih baik.. Di dalam Matius 7:21 “ bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! Akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan  kehendak BapaKu yang di sorga”. Juga dikatakan, ada orang yang terdahulu tetapi kemudian menjadi yang terakhir, tetapi ada orang yang terakhir menjadi yang terdahulu. Jadi kekristenan kita haruslah menjadi Kristen yang operasional (pelaku). Banyak orang mengaku  percaya tetapi sedikit orang yang benar-benar beriman, orang beriman adalah orang yang sungguh-sungguh melakukan apa yang dia percayai. Dia mau mempertanggungjawabkan  imanya dalam situasi atau keadaan apapun,  apa yang diucapkan sesuai dengan perbuatanya. Hendaklah kita yang mengaku percaya kepada Tuhan, mau datang dan menyesali segala kekurangan, dan mau melakukan seturut dengan perintahNya.

Saudaraku! Iman tanpa perbuatan adalah mati, jadi iman yang berbuat itulah yang akhirnya membuahkan buah-buah yang baik.  Pohon yang  baik itu kelihatan dari buah yang dihasilkanya. Jadi menilai seseorang bukanlah dari banyaknya yang diungkapkan tetapi dari banyaknya  yang  dia kerjakan. Janganlah menilai orang dari penampilanya tetapi nilailah  dia dari prestasi atau perbuatanya atau hasil  yang dikerjakanya. Ketulusan seseorang tidak dapat diukur dari hal-hal lahiriah, namun  tingkat kerohanianyalah yang menentukan. Sebagai orang percaya dan beriman,  Allah menginginkan agar hidup kita menjadi  berkat bagi sesama,  sebab bagi Allah melakukan yang baik  itu adalah kewajiban. Allah memang tidak memaksa kita untuk melakukanya namun kemauan di dalam melakukan perintahNya akan mendatangkan sukacita. Seorang tuan akan bersukacita  bilamana hambanya dengan sukarela dan tulus mau bekerja, dan tuan itu akan memberikan upah yang lebih besar karena ia sudah bekerja dengan baik. Jadi lakukanlah segala yang engkau imani dengan ketulusan, sebab itu mendatangkan sukacita. Amin

Komentar dimatikan

%d blogger menyukai ini: