ALLAH ADALAH TERANG

MENJADI KRISTEN KARAKTER KRISTUS
1 Yohanes 1:1-10

Saya suka Kristus Anda, tetapi saya tidak suka dengan orang Kristen Anda…
demikian Mahatma Gandhi berucap…

Sawah_by_HendroDia adalah seorang pejuang kemerdekaan India dengan cara damai. Kenapa kata-kata demikian keluar dari mulutnya? Di pagi Minggu saat ia mau melangkah masuk ke gereja, seorang penerima tamu berkata: “Mau ke mana kamu kafir… tidak ada ruang untuk orang kafir di gereja ini, enyahlah dari sini atau saya akan meminta orang untuk melemparkan kamu keluar!”. Suatu tindakan keangkuhan dari seorang yang seharusnya mewakili Kristus. Sekali pun demikian Mahatma Gandhi di dalam kesaksiannya kepada Organisasi Misionaris Wanita (woman missionaries) 28 Juli 1925, berkata: “terdapat ribuan pria dan wanita hari ini belum pernah mendengar tentang Alkitab dan Yesus, namun memiliki iman, dan lebih takut pada Tuhan ketimbang orang-orang Kristen yang mengenal Alkitab dan Sepuluh Perintah”. Pernyataan ini adalah kritikan tajam akan cara hidup atau perilaku orang Kristen yang tidak mencerminkan ajaran Kristus. Banyak orang mengaku Kristen dan percaya kepada Kristus, rajin datang ber-ibadah ke gereja, membaca Alkitab, namun cara hidupnya dan perilakunya menyimpang dari ajaran Kristus. Hmmmm…

Apa yang disampaikan oleh Mahatma Gandhi mempunyai pesan yang sangat dalam. Bukan sekedar kritikan, namun sebuah peneguhan kepada orang kristiani untuk menjadi Kristen yang sesungguhnya dan sejati. Menjadi Kristen yang sesungguhnya dan sejati maksudnya adalah iman sesuai dengan gaya hidup, pengakuan seusai dengan perilaku, kesaksian sesuai dengan tindakan. Karakter Kristus menjadi karakter Kristen. Pernyataan yang sama disampaikan oleh Rasul Yohanes dalam nas ini, supaya orang kristiani Hidup Di Dalam Terang (marparangehon hatiuron). Ada tiga pesan penuh makna yang disampaikan Rasul Yohanes hubungannya dengan karakter Kristus menjadi karakter kriten:

Pertama: Dihidukan supaya menghidupkan. Hidup itu telah dinyatakan oleh Kristus melalui kuasa kebangkitannya. Kebangkitan Kristus telah kami dengar, kami lihat, kami saksikan, kami raba, kami beritakan. Di dalam kesaksiannya Rasul Yohanes memahami betul apa arti kebangkitan Kristus, yaitu kehidupan yang kekal bagi orang yang meng-imani Kristus. Kebangkitan Kristus adalah kebangkitan kita juga. Kebangkitan dipahami sebagai akhir dari kekerasan untuk selama-lamanya, dan awal dari kerukunan dan damai untuk selamalamanya. Kebangkitan dipahami sebagai akhir dari arogansi kepentingan kekuasaan sektoral untuk selama-lamanya, dan awal dari kepentingan kesejahteraan masyarakat yang berdaulat, dan bermartabat untuk selama-lamanya. Kebangkitan dipahami sebagi akhir dari diskriminasi terhadap status kemanusiaan untuk selama-lamanya, dan awal dari penegakan hak azasi kemanusiaan untuk selama-lamanya. Inilah hidup itu dan tentu menjadi menghidupkan. Segala tindakan kekerasan, diskriminasi, pelecehan terhadap status kemanusiaan adalah cara hidup orang-orang sebelum Kristus. Era kita sekarang adalah era kebangkitan Kristus, itu berarti bahwa karakter kita adalah karakter Kristus yaitu menghidupkan. Hidup bersama-sama supaya sama-sama hidup dan saling menghidupkan. Pembangunan karakter seperti ini menghasilkan sukacita menjadi sempurna.

Kedua: Diterangi supaya Menjadi Terang. Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan. Inilah berita, didengar, dan disampaikan oleh Rasul Yohanes. Karya kreatif Kristus di dalam kebangkitanNya mengungkap sebuah misteri akan ketidakberdayaan gelap pekatnya dunia kematian menahan celah sinar kuasa kebangkitanNya menjadi terang kehidupan kemanusiaan. Rasul Paulus melayangkan sebuah kritikan keras terhadap kematian dengan berkata: Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu? Di manakah penyakit samparmu, hai maut? (1Kor 15:55). Gelapnya dunia kematian telah diterangi oleh kuasa kebangkitan Kristus. Terang yang sesungguhnya telah tiba di dalam Kristus dan berada di dalam kehidupan. Itulah sebabnya karakter kristiani adalah menjadi terang. Segala tindakan atau perbuatan gelap gelapan adalah era sebelum Kristus yang berujung kepada kematian untuk selama-lamanya. Ingatlah ini: kegelapan tidak bisa mengusir kegelapan, yang dapat melakukannya hanyalah terang. Di dalam dunia yang semakin rusuh dan garang ini biarlah setiap orang dengan rendah hati berkata dan bermohon, “ditengah-tengah kegelapan jadikanlah kami menjadi pembawa terang”. Inilah karakter kristiani yang terus kita bangun.

Ketiga: Diampuni supaya Mengampuni. Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri sendiri, dan kebenaran tidak ada di dalam diri kita. Pernyataan ini bukan basa-basi kesalehan rohani, namun sesusungguhnya adalah inti dari rasa sadar diri atau insaf diri terhadap realitas kemanusiaan yang lemah, rapuh, dan mudah pecah. Rasul Paulus di dalam pengenalan terhadap kemanusiaan berkata: “Tidak ada yang benar, seorang pun tidak, (Roma 3:10-18). Kita semua adalah orang berdosa yang membutuhkan sang pengampun. Sang pengampun itu ialah Kristus. Di dalam hukum profan Yahudi seorang manusia bersalah atau terdakwa, hanya bisa diampuni oleh seorang manusia. Status manusia yang bisa mengampuni manusia. Itulah sebabnya Allah di dalam diri Yesus Kristus datang menjadi manusia di dalam misi penerimaan mengampuni manusia. Dalam hal ini jalan pengampunan itu adalah pengorbanan status, kerendahan hati, dan menjadikan diri sama. Karya Kristus ini sempurna di dalam kematian dan selanjutnya di dalam kebangkitan-Nya. Kristus bangkit itu berarti pengampunan telah terpatri di dalam kehidupan. Oleh karena itu setiap orang yang berada di dalam pengampunan Kristus, dari dalam dirinya terdesak kerelaan untuk mengampuni. Kristus sudah atau telah mengampuni kita, maka kita juga haruslah mengampuni sesama kita. Ingatlah ini: Tidak ada masa depan tanpa kebebasan, dan tidak ada kebebasan tanpa pengampunan. Ini adalah karakter Kristus dan menjadi karakter kristiani.

Saudaraku! Di dalam hidup dan persekutuan yang menghidupkan, marilah kita bangun karakter Kristus menjadi karakter persekutuan kita. Persekutuan yang di dalamnya ada hidup dan saling menghidupkan, terang sekaligus menjadi terang, pengampunan sekaligus mengampuni. Amin. Selamat Minggu Quasimodogeniti.

Komentar dimatikan

PASKAH 2015 “KRISTUS BANGKIT”

PASKAH: PESTA MERIAH KEHIDUPAN

u=41792555,3775496751&fm=0

Selamat Paskah! Kristus sudah bangkit, kuasa maut dikalahkan.
Kebangkitan-Nya adalah kebangkitan kita juga.
Paskah adalah pesta ”kehidupan”.
Paskah adalah peristiwa ketika manusia diperkenankan
memasuki awal sejarah dan realitas baru,
yaitu ketika kehidupan berkuasa atas kematian.
Paskah adalah urat nadi, jantung kehidupan,
karena apabila Kristus tidak bangkit sia-sialah kepercayaan kita,
sia-sialah ke-Kristenan kita.
Paskah adalah titik sentral iman ke-Kristenan.

Oleh Paskah, yaitu kebangkitan-Nya dari kubur,
puncak kegagalan, penderitaan dan kesengsaraan manusia,
yaitu maut, telah dipatahkan dan dikalahkan.
Kuasa dan kebesaran Yesus, mengatasi semuanya itu.
Dengan kematian dan selanjutnya kebangkitan-Nya itu,
dinyatakanlah bahwa:
Paskah adalah awal dari segala sesuatu yang baru
dan akhir dari segala sesuatu yang lama.
Paskah adalah awal dari segala hidup rukun
dan akhir dari segala kekerasan
Paskah adalah awal dari segala kehidupan yang baru
dan akhir dari segala kuasa maut.

Maut telah ditelan dalam kemenangan.
Hai maut di manakah kemenanganmu?
Hai maut, di manakah sengatmu?
Di manakah penyakit samparmu, hai maut?
manakah tenaga pembinasamu, hai dunia orang mati?
Akan Kubebaskankah mereka dari kuasa dunia orang mati,
akan Kutebuskah mereka dari pada maut.
Inilah pesta lestari kehidupan yang diukir Kristus di dalam Paskah.

Kristus sudah bangkit – kuasa maut telah dipatahkan.
Itu terjadi dari pihak Tuhan demi dan untuk saya, anda dan untuk kita semua.
Kuasa kebangkitan Kristus membuat kehidupan menjadi bergairah,
bermakna, penuh sahaja,
dan tidak satu kuasapun yang dapat merampas itu dari kita.

Nafas Paskah menghembuskan satu pengharapan baru
ditengah-tengah keputusasaan yang hampa,
Nafas Paskah memberikan gairah tanpa menyerah
ditengah-tengah keletihan dan keluh kesah yang diam,
Nafas Paskah menancapkan tujuan yang pasti
ditengah-tengah keraguan yang tak berdaya.

Itulah nafas Paskah menghembus roh kehidupan,
supaya saya, anda dan kita semua memperoleh kehidupan.

Kiranya Perayaan Paskah ini dapat memberikan pencerahan,
pencerdasan, hikmat dan pengharapan
sehingga kita mampu menampilkan iman Kristen yang tangguh
di tengah-tengah berbagai pergumulan hidup;
Perayaan Paskah kiranya dapat melahirkan energi baru dan
potensi kreatif-dinamik dalam kehidupan kita bergereja
sehingga gereja kita dengan komunitas kristiani di semua aras
mampu mengalirkan kasih sejati di tengah-tengah
kehidupan dunia yang makin keras dan sarat konflik;
Perayaan Paskah kiranya dapat menjadi sumber inspirasi
dan titik-berangkat bagi gereja kita
untuk mengembangkan etika baru berbasiskan kebangkitan Kristus,
yang di dalamnya nilai-nilai kemajemukan dihargai,
sikap inklusif dan non-diskriminatif diberi ruang. Selamat Paskah

Komentar dimatikan

TANGGUNG JAWAB YANG BERAT

MENJADI KRISTEN YANG BERTANGGUNG JAWAB
IBRANI 12:18-29

sawah-subakSaudaraku! Peristiwa demi peristiwa kehidupan sudah kita jalani hingga medio bulan Maret ini. Ada yang membahagiakan, menyedihkan, menggelisahkan, menakutkan, bahkan membuat hati miris. Kekerasan yang dilakukan para begal motor, pembunuhan yang dipertontonkan kelompok-kelompok teroris (ISIS), arogansi politik yang ditampilkan oleh oknum-oknum politikus, pelemahan lembaga-lembaga yang berjuang memberantas korupsi semakin massif, dan berbagai peristiwa lain yang membuat kehidupan terpenjara dalam kegelisahan. Sesungguhnya peristiwa ini adalah tampilan wajah orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan, tampilan wajah orang-orang yang tidak takut kepada Tuhan, atau tampilan wajah orang-orang yang menolak Kristus. Bertitik tolak dari perspektif iman segala tindakan atau perbuatan yang tidak menghargai kemanusiaan adalah tindakan penolakan, bahkan pemberontakan kepada Tuhan. Dalam missi-Nya Tuhan berkarya untuk menghidupkan kemanusiaan, menyelamatkan manusia, bahkan bumi dengan segala yang ada di dalamnya. Missi inilah yang harusnya diukir, diteruskan, diperankan oleh setiap insan dalam dunia yang semakin rusuh ini.

Saudaraku! Jangan menolak Tuhan Allahmu. Ini bukan persoalan verbal, namun adalah totalitas hidup kemanusiaan dalam tampilan hormat, takut, dan taat kepada Tuhan. Tuhan telah berkarya kepada bangsa pilihan (baca: Isarael) demi masa depan, era baru kehidupan; membawa keluar dari tanah Mesir (baca: perbudakan). Kepada bangsa pilihan Tuhan telah menunjukkan ke-Ilahian-Nya di Gunung Sinai, memberi dekalog tuntunan hidup. Dalam bentuk api yang menyala, asap, bunyi sangkakala, Tuhan hadir kepada umat-Nya dan membuat bangsa pilihan menjadi gemetar, bahkan Musa pun ketakutan dan sangat gemetar, (Kel 19). Peristiwa ini adalah karya Agung untuk rancangan kehidupan umat Allah yang lebih baik, lebih sejahtera, mendatangkan damai sejahtera, hari depan yang penuh harapan, (Yer 29: 11).

Penulis buku Ibrani kembali mengingatkan peristiwa ini kepada bangsa Yahudi dalam pemahaman yang baru di dalam diri Yesus Kristus. Bila dulu bangsa Israel datang bertemu dengan Tuhan di Gunung Sinai dalam pandangan yang sangat mengerikan, namun sekarang umat (baca: bangsa Yahudi) boleh datang ke Bukit Sion, (Bukit Sion sering digambarkan sebagai simbol rumah Allah atau Bait Suci Allah). Di sana mereka boleh datang menyembah, mengucap syukur, beribadah dengan hormat, dan takut, serta mendengarkan firman-Nya. Yesus Kristus anak Allah Pengantara perjanjian baru sempurna segala karya keselamatan Tuhan untuk umat-Nya. Oleh karena itu penulis Ibrani mengingatkan bangsa Yahudi akan sebuah tanggungjawab yang besar, yaitu: supaya mereka jangan menolak Kristus, bersyukur senantiasa, mendengar firman-Nya, dan beribadah kepada-Nya.

Saudaraku! Apa yang disampaikan oleh penulis Ibrani kepada bangsa Yahudi tentang tanggungjawab yang besar orang-orang percaya kepada Tuhan, ini jualah pesan kepada kita orang-orang Kristen masa kini. Ber-iman itu bukanlah statis, namun dinamis. Artinya terlibat aktif dalam pembangunan manusia yang semakin bermartabat, lingkungan yang bersahabat, dan hukum keadilan yang semakin berdaulat.. Ibadah adalah praksis kehidupan, ibadah adalah perayaan hidup atau hidup yang dirayakan. Ibadah bukan sekedar datang ke gereja, mendengar firman, bernyanyi, berdoa, tetapi bagaimana membawa gereja, membawa firman, membawa nyanyian, dan membawa doa di dalam setiap gerak kehidupan, pekerjaan, dunia usaha, dan apa pun aktivitas setiap orang. Inilah arti dari ibadah sesungguhnya kepada Tuhan.

Ibadah yang sesungguhnya akan sampai kepada maksud dan tujuannya apabila setiap orang menunjukkan peran aktif dalam pembangunan hidup sesamanya. Inilah tanggungjawab kita sebagai orang yang beribadah kepada Tuhan, bersyukur kepada Tuhan dalam hormat dan takut akan Dia. Pembiaran akan kejahatan bahkan menjadi pelaku kejahatan bukanlah wajah orang Kristiani. Menyimpan dendam, rasa benci, itu pun bukan perilaku orang Kristiani. Tindakan kekerasan, dan melukai sisi-sisi kemanusiaan adalah tampilan wajah orang-orang sebelum Kristus. Segala tindakan ini adalah fakta dari penolakan akan Kristus. Ingat dan imanilah ini bahwa Allah kita adalah api yang menghanguskan. Oleh karenanya bangunlah hidup bersyukur senantiasa kepada Tuhan, bertekunlah senantiasa beribadah kepada Tuhan, dan bangunlah sikap takut dan hormat kepada Tuhan di setiap gerak hidupmu setiap hari. Amin.

Komentar dimatikan

MENGIKUT YESUS

SANGKAL DIRI – PIKUL SALIB – IKUT YESUS
Markus 8:31-38

gambar_petani_sedang_membajak_sawah Saya mau ikut Yesus, saya  mau ikut Yesus, Sampai slama-lamanya.
Meskipun saya susah, menderita dalam dunia
Saya mau ikut Yesus, sampai s’lama-lamanya…

Inilah syair Kidung Jemaat no. 375. Lagunya enak didengar, penuh makna, di dalamnya ada roh kemuliaan, dan kaya pesan rohani (baca: iman).

Saudaraku! Benarkah menjadi Kristen itu enak? Memang tidak salah kali kita katakan menjadi Kristen itu enak. Tetapi benarkah demikian? Apakah benar menjadi Kristen itu selalu enak? Mungkin tidak. Yang benar adalah: Menjadi Kristen itu tidak selalu enak bila benar-benar menjadi Kristen. Mengapa? Karena kehadiran orang percaya di dunia ini tidak pernah diterima dengan mulus. Dunia ini cenderung menolak Yesus dan malah dikatakan ”…dan kamu akan dibenci semua orang karena namaKu” (Mat.10:18,22). Yesus tidak mau mengobral janji-janji kosong supaya orang tertarik mengikuti Dia. Beda dengan kampanye politik mengumbar janji-janji yang enak didengar.

Saudaraku! Yesus tidak pernah menjanjikan bahwa menjadi Kristen itu tanpa rintangan. Yesus tidak pernah berkata: Ikutlah Aku, maka hidupmu akan senang, tetapi yang Yesus katakan: ”Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” Artinya harus mau menderita. Terlalu berat? Itulah jalan yang dipilih Kristus penderitaan Salib. Memang berat mengikut Yesus, namun tidak pernah ditinggalkan. Yesus mengajar dengan tegas bahwa menikut Yesus dibutuhkan komitmen, integritas, dan jati diri. Sebab segala sesuatu yang tidak didasarkan pada komitmen, integritas, jati diri sering membawa kemunduran dalam segala hal apalagi hal itu menyangkut iman. Sesungguhnya jati diri orang kristiani adalah mengikut Kristus dengan bersedia menanggung segala resiko sebagai konsekuensi imanya. Yesus tidak memilih jalan aman dalam karya keselamatan, namun Dia bersedia berkorban dan mengorbankan diriNya demi keselamatan umat. Ini adalah karya ilahi yang ditunjukkan dalam hidup manusiawi.

Karya Kristus ini menyampaikan pesan yang sarat makna bahwa menjadi orang Kristen harusnya memihak dan berpihak untuk mau berkorban untuk orang lain bukan mengorbankan orang lain. Dalam hal iman kita harus fanatik dalam pengertian yang luas yaitu: demi iman dituntut jiwa yang mau berkorban, bukan sebaliknya demi iman mengorbankan orang lain. Dalam konteks pluralitas agama kini dan di sini tidaklah dibenarkan sikap mengintimidasi, melakukan kekerasan, menebarkan terror, bahkan membunuh orang yang berbeda agama demi simbol-simbol agama itu sendiri. Sikap seperti ini bukan karakter orang Kristiani. Kita dipanggil bukan hanya pemberita tetapi penderita: Ikutlah menderita sebagai prajurit yang baik dari Kristus”(2Tim2:3). Mengikut Yesus berarti teken kontrak mau mati bersama Yesus. Berat sekali? Memang! Menjadi Kristen tidak selalu enak. Untuk itu kita harus berhitung. Mau ikut atau tidak… sayang nanti di dunia namanya Kristen tetapi tidak mendapat bagian dalam kerajaan sorga karena di dunia tidak mau menderita bersama Kristus.

Saudaraku! Mau mengikut Yesus? Tentu pertanyaan ini mengarahkan kita untuk menentukan pilihan. Apakah kita hanya kristen enak? Di saat semua kehidupan tanpa masalah, sakit, rugi, dan ketika semuanya aman tenteram? Atau apakah kita menjadi Kristen simeol-eol, yang sebentar Kristen, sebentar tidak Kristen, pindah agama? Atau memang kita Kristen murni yang benar-benar loyal kepada Kristus apapun yang terjadi? Membangun loyalitas kepada Kristus inilah panggilan nas ini. Kristus telah mau mati untuk kita. Nyawa Kristus telah dikorbankan untuk melepaskan dan menyelamatkan kita dari kuasa dosa, kuasa iblis dan kuasa kematian. Itu mahal!. Karena itu, dari kita dituntut integritas, komitmen, loyalitas penuh. Tidak boleh tanggung-tanggung, tidak boleh setengah-setengah. “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.”. Bila kita harus menanggung derita sebagai konsekuensi iman kita – ucapkanlah syukur kepada Tuhan. Selamat memaknai Minggu-minggu sengsara Kristus. Amin.

Komentar dimatikan

PEMBERITAHUAN TENTANG KELAHIRAN YESUS

TUHAN MENYAPA KELUARGA ANDA:
AKU MENYERTAI ENGKAU – JANGAN TAKUT
Lukas 1: 26-38

sawah (3)Saudaraku! Hari ini kita memasuki Minggu Adven ke-4. Lilin yang kita nyalakan sudah berubah dari warna ungu menjadi warna merah muda yang semakin cerah. Ini adalah simbol dari makna Adven itu sendiri yang dimulai dengan permenungan yang sangat dalam akan kesesakan hidup karena genggaman dosa. Dan kini hidup sudah semakin dekat dengan sukacita yang disimbolkan dengan lilin warna merah muda. melambangkan adanya sukacita di tengah masa pertobatan karena sukacita Natal hampir tiba. Saat natalitas Kristus sempurnalah sukacita itu yang disimbolkan dengan lilin warna putih.

Betapa hati ini semakin bergirang karena penolong dan penyelamat yang sesungguhnya sudah semakin dekat dan cahaya kemuliaannya sudah terlihat. Kepada orang yang berada di dalam penjara, tidak ada hidup yang lebih membahagiakan selain dari berita bahwa sebentar lagi mereka akan dibebaskan. Inilah muatan minggu-minggu Adven. Gereja merayakan mingu-minggu Adven di dalamnya sarat permenungan yang sangat dalam, bahwa tidak satu pun penolong dan pembebas kehidupan selain Tuhan di dalam Kristus. Manusia di dalam tabiat keberdosaannya merindukan kelepasan, mengharapkan kebebasan, dan membutuhkan pertolongan, terbebas dari rasa sesak yang sangat menyiksa akibat dosa. Hidup bebas, kelepasan, dan pertolongan telah lama dinantikan. Dan apa yang dinanti, dirindukan dan diharapan sudah semakin dekat melalui natalitas Kristus. Dialah sang pembebas dan penyelamat.

Saudaraku! Banjar Negara…berduka. Peristiwa ini menjadi pokok permenungan bagi semua warga bangsa, hususnya bagi mereka yang merayakan Minggu Adven ke-4 ini. Peristiwa ini menggoreskan duka yang sangat dalam bagi kehidupan ini. Dalam hitungan detik longsor meluluh-lantahkan kehidupan. Kehilangan harta benda dan nyawa tidak ter-elakkan. Banyak orang yang menangis: anak kehilangan orangtua, dan orang tua kehilangan anaknya. Rumah tempat tinggal ditelan longsor, mengungsi menjadi pilihan yang tidak bisa ditawar. Sungguh kita berkabung karena peristiwa ini. Peristiwa ini memberi permenungan kepada kita bahwa hidup ini adalah singkat. Karenanya tunjukkanlah kasihmu terhadap kehidupan ini, dan doakanlah mereka semua. Kepada Maria – Allah menyuruh malaikat Gabriel menyampaikan salam kelembutan dan berita sukacita: “Salam, hai engkau yang dikarunia, Tuhan menyertai engkau” Bukankah sapaan seperti ini yang sangat dirindukan oleh dunia sekarang ini? Ya..ya.. inilah yang dibutuhkan bumi kita sekarang ini. Ditengah-tengah dunia yang semakin rusuh, arogan, dan liar ini, kita membutuhkan sapaan kelembutan akan cinta kasih. Saudara-saudara kita yang sedang dikuasai duka di Banjar Negara sangat menanti sapaan cinta kasih kita. Tuhan menyertai engkau. Sapaan yang membangkitkan semangat, meneguhkan hati, dan mencerahkan kehidupan.

Kepada Maria, malaikat Tuhan berkata: “jangan takut, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah”. Realitas dunia saat ini banyak orang yang diselimuti rasa takut. Siapa yang tidak takut ketika anak-anak dan guru-guru sekolah di Pakistan ditembak mati secara membabi buta oleh terorisme. Siapa yang tidak takut ketika terjadi penyanderaan di Australia oleh orang yang tidak bertanggungjawab. Sungguh banyak tindakan kekerasan dan pembunuhan yang dipertontonkan dunia sekarang ini yang membuat manusia dikuasai rasa takut. Sapaan Allah melalui malaikat Gabriel kepada Maria menjadi inspirasi positif bagi kita untuk mendesak diri menjadi sarana penghibur, peneguh hati orang lain. Sarana penghibur, peneguh hati orang lain itu berarti bersedia melarut dalam penderitaan orang lain, sekaligus memberi diri sebagai inspirasi dan motivasi akan hormat terhadap kehidupan.

Kepada Maria, malaikat Tuhan berkata: “Sesungguhnya engkau akan mengandung dan melahirkan…” sekalipun waktu itu Maria tidak bersuami. Sesuatu yang irrasional. Memang wilayah iman kebanyakan irrasional, (tidak dapat dijangkau oleh alam logika). Pada kenyataannya apa yang rasional berada di dalam jangkauan waktu, namun apa yang irrasional berada di luar jangkauan waktu yang tidak berakhir, itulah iman. Itulah sebabnya banyak peristiwa kehidupan tidak bisa dijawab oleh logika, dan karenanya manusia harus melakukan hati rela menyerah terhadap Tuhan yang berada di luar jangkauan waktu. Sadar bahwa Tuhan adalah sang pemilik kehidupan dan berkuasa atas kehidupan, itulah awal memasuki ruang spritualitas yang menghidupkan. Kepada orang seperti ini diberi kasih karunia dan tongkat kerajaan, sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.

Saudaraku! Melalui hotbah ini paling tidak ada tiga pembelajaran berharga yang hendak kita lakukan dalam membangun gerak relasi, interaksi dan komunikasi? Pertama: bangunlah komunikasi yang membangkitkan semangat, dan motivasi kepada semua orang. Komunikasi yang didominasi intimidasi, ancaman, pelecehan, menyalahkan, penghakiman, dll tidak akan pernah merubah keadaan yang semakin baik. Tetapi komunikasi yang didominasi apresiasi, motivasi, dan menyemangati akan menjadikan hidup kaya kreasi, dan inovasi. Ingatlah: terkadang di dalam komunikasi yang terpenting adalah bukan apa yang kita katakan, tetapi bagaimana kita mengatakan.. Dalam salammu katakanlah: Tuhan menyertaimu. Adven akan sampai kepada maksud dan tujuannya bila masing-masing orang melibatkan diri dalam komunikasi yang saling membangun, menguatkan dan saling menyemangati. Kedua: bangunlah relasi dan interaksi yang membuat orang lain nyaman. Caranya: terima kepribadiannya secara utuh, tunjukkan rasa hormat kepada kemanusiaannya, dan biarkan dirinya merasakan bahwa Anda benar-benar mau menjadi sahabatnya. Adven akan sampai kepada maksud dan tujuannya bila masing-masing orang melibatkan diri dalam relasi dan interaksi yang saling menerima, dan saling mengakui. Dia, mereka merasa nyaman dengan aku. Ketiga: kecerdasan logika adalah bukan menjadi tuan dalam kehidupan, namun sesungguhnya adalah hamba untuk melayani kehidupan. Sebagai hamba dia harus tunduk kepada kehidupan, dan kehidupan itu adalah Tuhan, sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil. Dengan demikian Adven akan sampai kepada maksud dan tujuannya apabila masing-masing orang membangun sikap taat dan tunduk kepada Tuhan. Disanalah sukacita lestari kehidupan akan kita rayakan. Amin. Selamat Adven.

Komentar dimatikan

KABAR SELAMAT KEPADA SION

UNANG BE SAI TUNGKI HO – PADIRGAK MA SIMANJUJUNGMU
(ANGKATLAH KEPALAMU – JANGAN BERKABUNG LAGI)
Yesaya 61:1-4 + 8-11

Sawah_by_HendroSaudaraku! Hari ini kita telah memasuki Minggu Adven ke-3. Puspa ragam peristiwa terus mengikuti setiap langkah perjalanan kehidupan. Sekalipun menyesakkan dan memilukan tidak bisa ditolak pun dihindarkan. Harus dihadapi. Menghadapinya dengan bangunan PENGHARAPAN yang kokoh bahwa hari esok lebih baik dari hari ini. Di depan ada nyala obor, sinar terang, dari perjalanan gelap yang kita tempuh hari ini. Segelap apa pun kehidupan hari ini, namun esok sinar terang itu ada di hadapanku. Seberat apa pun persoalan yang kuhadapi hari ini, namun esok sukacita itu ada bersamaku. Betapa pun pergumulan sangat menyesakkan hati dan pikiranku hari ini, namun esok hatiku lapang, penuh damai dan bahagia. Inilah karakter hidup orang yang terbangun di dalam Pengharapan. Kaya di dalam solusi, kreatif merajut kehidupan, dan tercerahkan di setiap gumul juang kehidupan. Tidak mau terpenjara dalam genggaman perstiwa, namun di setiap peristiwa tampil memaknainya di dalam pengharapan. Pengharapan itu bukan aku, dia, mereka, tetapi Tuhan di dalam aku, dia, dan mereka.

Saudaraku! Bila hari ini Anda meratap, bergumul, penuh persoalan dan kesulitan; dengarlah dan yakinilah firman Tuhan yang menyapa Anda hari. TUHAN MENGASIHIMU dan PERDULI terhadap semua persoalan hidupmu. Kepada mereka yang berada di dalam kesengsaraan dan remuk hatinya – kabar baik akan disampaikan. Kabar baik itu adalah kabar sukacita bahwa Kristus mengasihi dan perduli terhadap kehidupanmu. Kepada orang-orang yang berada di tawanan dan terkurung diberitakan kebebasan dan kelepasan dari penjara. Di zaman yang moderen ini ada banyak manusia terpenjara oleh kepahitan, kesulitan, penderitaan, bahkan ditawan oleh perilaku keberdosaan. Kepada mereka Kristus berkata Aku mengasihimu dan peduli kepadamu. Aku akan membebaskan dan melepaskan kamu. Kepada mereka yang tertunduk berkabung karena beratnya beban kehidupan diberi penghiburan. Penghiburan itu adalah resapan kuasa Kristus yang berdiam dan menyatu di dalam jiwa manusia. Kuasa Kristus inilah yang mengubahkan abu menjadi perhiasan, kain kabung menjadi minyak, semangat yang pudar menjadi nyanyian puji-pujian. Itulah karya Tuhan di dalam Kristus yang mengasi dan peduli kepadamu.

Saudaraku! Tuhan tidak akan pernah meninggalkanmu di lembah kekelaman ini. Ke-Ilahian Kristus jauh lebih besar dari segala peristiwa kehidupanmu. Apa pun peristiwa kehidupanmu: baik atau buruk, kaya atau miskin, cantik atau jelek, pintar atau bodoh, dll, ke – IlahianNya mengatasi semuanya. Sifat ke-Ilahian Tuhan itu adalah mengasihi dan peduli kepadamu. Ke-Ilahian Kristus mencintai kebenaran, keadilan, dan membenci setiap perampasan dan kecurangan. Kepada mereka yang selama ini merasa haknya dirampas, dan hidupnya dicurangi – Kristus datang meneguhkannya kembali. Inilah nyanyian Kristus: Aku mengasihi dan peduli kepada setiap persoalan hidupmu. Unang be tungki ho – Padirgak ma simanjujungmu. Bersukarialah di dalam Tuhan, bersorak-sorailah di dalam Allah.

Di Minggu Adven yang ke-3 ini, firman Tuhan ini mengajak kita, pertama: Arahkanlah pandangan dan hatimu kepada Tuhan. Barangkali selama ini arah pandangan kita lebih banyak tertuju kepada sinar kemilauan dunia ini yang membuat banyak orang menjadi buta. Buta kepeduliaan dan buta cinta kasih. Sudah pasti hidup seperti ini akan menghasilkan kegelisahan, kepahitan, dan kehancuran. Hari ini, arahkanlah pandanganmu dan hatimu kepada Tuhan – bangunlah cinta dan kepedulian kepada orang lain. Ingatlah: kelaparan yang terbesar melanda alam jagad raya ini bukan lapar karena ketiadaan roti atau nasi, tetapi lapar karena ketiadaan cinta kasih. Kedua: genggam dan milikilah hidup berpengharapan. Hanya orang yang memiliki pengharapan bisa mengalami hidup penuh semangat dan termotivasi. Mereka yang hilang harapan akan selalu pesimis, tiada gairah (mandele), dan bersikap apatis. Orang yang terbangun di dalam pengharapan selalu dapat melihat kebaikan dari setiap ketidakbaikan. Mampu melihat sisi positif dari setiap hal-hal negative. Inilah orang yang mewujud dalam Adven memunculkan sikap optimisme membarui kehidupan yang lebih bergairah. Ketiga: Angkatlah mukamu – jangan berkabung lagi. Jangan salahkan bila di dalam hari-hari kehidupan ini datang hujan, lebih baik dipikirkan adalah setelah hujan pasti ada sinar mentari kehangatan. Jangan salahkan bila laut berombak, lebih baik pikirkanlah setelah ombak pasti ada ketenangan. Jangan salahkan bila hidup ini banyak persoalan, lebih baik kita yakini bahwa setiap persoalan, pergumulan, dan penderitaan pasti berakhir berganti menjadi kebahagiaan, sukacita, dan sorak-sorai di dalam Tuhan. Tuhan mengasihi dan peduli kepada kehidupanmu. Amin. Selamat Adven.

Komentar dimatikan

HARI TUHAN

ADVEN II: HARI TUHAN

BERSIHKAN HATI – BENINGKAN JIWA – SUCIKAN TINDAKAN
2 Petrus 3:6-15

gambar_petani_sedang_membajak_sawahSaudara! Sebagai umat percaya tentu opsesi kita adalah terus bergerak maju dalam barisan prosesi menuju tujuan akhir pesta lestari kehidupan. Waktu di mana umat manusia berjalan saat ini adalah proses menuju titik akhir peradaban seluruh alam ciptaan, di mana kesempurnaan waktu terjadi dan berlangsung pada saat kedatangan Kristus kedua kali. Seluruh umat rindu dan menantikannya. Ide ini sekaligus meluruskan paham sosialisasi waktu yang bergerak dalam ranah circle, namun sesungguhnya bergerak lurus (linier) dari titik awal menuju titik akhir. Rasul Petrus memberi kontribusi pengertian titik akhir ini melalui sebutan Hari Tuhan (Kedatangan Kristus pada kedua kalinya), dan kedatanganNya adalah pasti sekalipun waktunya seorangpun tidak tahu, Anak pun tidak, selain Bapa sendiri. Desakan alam logika untuk mengetahui waktu atau saat kedatangan Kristus pada kedua kalinya dijawab melalui fenomena krisis moral yang rendah dari mahkluk social. Persitiwa ini adalah gambaran diri manusia sebagai orang berdosa, najis, kotor, dan kehilangan kemuliaan Allah yang tidak layak menerima kemuliaan Allah tanpa karya kreatif Kristus yang melayakkan manusia berada dalam posisi orang-orang yang dibenarkan dan diselamatkan.

Peristiwa adalah sesuatu yang penting dalam kehidupan karena tanpa peristiwa kehidupan akan sepi dan miskin kreasi dan inovasi, namun yang terpenting adalah karya apa yang akan diukir dalam peristiwa, memaknai persitiwa? Dengan membangun paradigma seperti ini maka seluruh peristiwa yang terjadi dalam kehidupan bukan untuk diratapi, dicela, dihakimi, dll, namun membangkitkan motivasi mengukir karya kreatif memaknai kehidupan. Manusia sebagai karya kreatif Kristus ditempatkan di dalam peristwa, namun bukan sebagai hamba peristiwa, melainkan sebagai tuan atas peristiwa yang berlaku bebas mengukir dan memaknai peristiwa. Tanda kedatangan Kristus yang kedua kali sudah dinyatakan melalui peristiwa fenomenal krisis moral, dan lenyapnya unsur-unsur dunia, tetapi di dalam Kitab Rasul Petrus yang terpenting bukan peristiwanya, namun sikap apa yang perlu dibangun disaat tanda-tanda peristiwa itu terjadi? Adalah MEMBANGUN HIDUP SALEH DAN SUCI. Membangun hidup saleh dalam pengertian membangun insaf diri terhadap realitas manusia yang memiliki tabiat keberdosaan, dan sekaligus berupaya bangkit bergerak dalam ranah kehendak Kristus. Membangun hidup saleh ditandai dengan munculnya kesadaran baru dan motivasi baru untuk memaknai realitas kehidupan yang sepi pengharapan dan miskin sukacita. Melaui kesadaran baru itu karya kreatif Kristus diperankan dalam pemahaman citra Kristus menjadi citra kehidupan, karakter Kristus menjadi karakter kehidupan, dan karya Kristus menjadi karya kehidupan. Ketika ini dilakoni, maka habitus baru akan terpatri dalam kehidupan dan pesta lestari kehidupan akan dirayakan melalui, di dalam, dan oleh iman.

Menyikapi Hari Tuhan (kedatangan Kristus kedua kalinya), tidak cukup di dalam ranah idealis sekalipun itu sangat diperlukan, namun idealisme tanpa realisme yang terjadi adalah penghianatan. Demikian halnya realisme tanpa idealisme yang terjadi adalah kepalsuan. Bagaimana memadukan antara idealisme dan realisme begitu rupa sehingga tetap idealis dan realis tanpa terjerembab menjadi oportunis? Satu-satunya yang perlu dibangun adalah kejujuran mental. Artinya jujur luar dalam, terutama terhadap diri sendiri. Yang jujur adalah mental kita, bukan cuma akting kita. Kejujuran mental adalah jujur terhadap hati nurani sejauh mana kita memaknai kehidupan dalam batas waktu penantian kedatangan Kristus kedua kalinya? Sejauh mana kita membangun hidup saleh dalam proses waktu menuju titik akhir?

Idenya adalah seluruh umat rindu menantikan kedatangan Kristus sebagai hari keselamatan. Realitas kini dan di sini banyak umat hidup dalam pesta pora sekular, bersukacita dalam tarian kemesuman, terlarut dalam nikmat hawa nafsu, dan pelbagai roh keberdosaan yang menjadikan manusia jauh dari sikap berjaga-jaga. Dalam domain bangsa atau negara masing-masing faksi membangun dirinya sendiri, kepentingan kelompoknya, memaksakan idenya sendiri, miskin simpati dan empati. Sekalipun ada ranah hukum yang mengikat dan mengatur, namun ranah itu terkadang diabaikan dan sengaja tidak dipedulikan. Dalam wilayah sosial tenggang rasa dan kepedulian semakin lemah, jurang antara simiskin dan sikaya semakin lebar, dan terkadang interaksi sosial semakin kabur. Dalam ranah ke-agamaan masing-masing orang membentengi diri dengan simbol-simbol dan bergerak dalam fanatisme yang sempit, sehingga toleransi umat beragama menjadi sebuah utopia. Terkadang atas nama agama kekerasan dipertontonkan bahkan bunuh diri dan membunuh dianggap sebagai martir. Antara idealisme dan realisme yang sering terjadi adalah sikap ambivalensi. Bagaimana memadukan keduanya sehingga tetap idealis dan realis? Yang perlu dibangun adalah sikap jujur: jujur terhadap hati nurani, jujur terhadap diri sendiri sebagai orang berdosa sekaligus orang yang tahu insaf diri di dalam usaha hidup tak bercacat dan tak ternoda di hadapan Tuhan..

Saudara! Hari Tuhan datang. Pernyataan ini mengajak setiap orang untuk bergegas memperbarui cara hidupnya, memperbaiki tingkah lakunya kepada tingkah laku dan karakter Kristus. Adanya kejujuran dalam diri untuk menghidupkan sikap penyesalan, membangun tobat diri, dan mengarahkan cara hidup kepada cara hidup Kristus. Minggu Adven kedua ini mengajak semua orang untuk membangun penyesalan diri dan sekaligus membangkitkan dalam dirinya semangat baru mengukir karya kreatif Kristus sebagai fakta dari sikap menantikan kedatangan Kristus. Saat ini bukanlah waktu untuk bersungut-sungut, menghakimi, menyalahkan orang lain, namun adalah waktu untuk bangkit memperbarui diri, mengukir karya konstruktif, membangun kehidupan kepada gerak Kerajaan Allah yang sudah dekat. BERSIHKAN HATI – BENINGKAN JIWA – SUCIKAN TINDAKAN . Amin. Selamat Adven.

Komentar dimatikan

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.033 pengikut lainnya.