Charity Teresia Agnes Nababan

Iklan

Komentar dimatikan

YESUS MEMBERI MAKAN LIMA RIBU ORANG

ALLAH MENYEDIAKAN KEBUTUHAN KITA

MATEUS 14:13-21

Saudaraku! Suka atau tidak suka waktu akan terus berjalan dan tidak akan pernah mundur atau terulang kembali, (point of no return). Sepertinya waktu berjalan begitu cepat serta membawa perubahan yang begitu cepat dan sangat mendasar. Dikatakan mendasar karena mempengaruhi seluruh lini kehidupan: ekonomi, social, budaya, agama, politik, bahkan teknologi komunikasi yang cepat berubah. Kita belum selesai menguasai teknologi komunikasi yang ada, selanjutnya sudah muncul teknologi komunikasi yang baru, dan begitu seterusnya. Perubahan begitu cepat dan sangat mendasar. Apabila kita asik bertahan dalam zona aman (comfort zone) melalui cara kerja linier, monoton, sudah pasti kita akan tertinggal bahkan tergilas oleh perubahan itu sendiri. Tidak cukup hanya kerja tetapi harus ada karya; tidak cukup hanya mengikut tetapi harus ada inovasi. Sikap seperti inilah yang harus kita bangun untuk dapat memaknai waktu ini. Sudah pasti tantangan demi tantangan akan datang silih berganti, namun ingatlah untuk melawan arus air yang keras dibutuhkan ikan yang kuat, hanya mengapung saja ikan mati pun bisa melakukannya.

Saudaraku! Saat ini kita telah memasuki Minggu pertama bulan Agustus 2017. Berbagai dinamika kehidupan sudah kita hadapi dan akan kita hadapi. Persoalan kebutuhan (perut) terus menjadi momok: hari ini kami makan apa…, besok apa yang kami makan…, dan lusa siapa yang kami makan. Barangkali cara berpikir seperti ini masih menguasai sebagian orang karena persoalan kemiskinan atau keadaan ekonomi keluarga yang sangat terbatas. Namun pada saat yang sama ada orang berpikir: hari ini di mana kami makan…, besok ke mana kami makan…., dan lusa siapa kami ajak makan. Konsep pikiran seperti ini menguasai sebagian orang karena hidup berkecukupan, memiliki ekonomi yang sejahtera dan makmur. Selama bumi ini masih ada gambaran kehidupan social seperti ini tetap ada, dan apabila kedua keadaan ini berdiri sendiri makai ketimpangan social akan terus terjadi. Yang miskin akan tetap miskin, dan yang kaya akan tetap semakin kaya. Ini tidak baik. Mendekati kebaikan adalah mau berbagi, seperti ada tertulis: “Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya” 2 Korintus 9: 9. Dan selanjutnya dikatakan dalam 2 Korintus 8: 14 “Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan”. Dalam konteks ini keseimbangan yang dimaksud adalah harmoni. Harmoni kehidupan social akan tercipta apabila masing-masing orang mau berbagi dengan orang lain. Selama kita masih enggan berbagi dengan orang lain maka dunia akan terus mengalami kelaparan. Dan ingatlah ini bahwa kelaparan terbesar di jagad raya ini bukan lapar karena ketiadaan roti atau ketiadaan makanan, tetapi karena ketiadaan kepedulian dan cintakasih (baca= berbagi). Dunia dengan roh yang ada di dalamnya tidak menginginkan kebaikan (baca=harmoni) tercipta dalam kehidupan, karena roh dunia ini adalah roh egois, roh konsumerisme, roh hedonisme yang selalu menghisap martabat kemanusiaan dari manusia itu sendiri. Beda dan sungguh jauh berbeda dengan Roh Allah yang setia dalam kasih-Nya menghembuskan roh perdamaian, roh kepeduliaan, dan keselamatan kepada martabat kehidupan manusia itu sendiri.

Saudaraku! Bila demikian halnya muncul satu pertanyaan: kenapa Tuhan menempatkan kita di dalam dunia yang egois ini? Jawabannya sangat sederhana yaitu supaya kita ber-kemauan hati dipakai oleh Tuhan meneruskan missi-Nya (baca= kerajaan-Nya) selama waktu kita masih ada di dunia ini. Lihatlah betapa Yesus menunjukkan belas kasihan kepada orang banyak yang datang mengikuti-Nya. Sang murid berkata supaya mereka di suruh pulang ke rumah masing-masing. Ini adalah rasional karena tidak mungkin memberikan mereka makanan tanpa ada persediaan. Bagaimana mungkin memberikan makan lima ribu orang itu pun belum termasuk perempuan, sementara persediaan makanan tida ada? Yang lebih nyaman adalah menyuruh mereka pulang ke rumah masing-masing. Murid-murid membangun sikap lari dari kenyataan, lemah dalam peran mengambil tanggungjawab. Berbanding terbalik dengan sikap yang ditunjukkan oleh Yesus yaitu menyuruh murid-murid-Nya untuk mengumpulkan orang banyak itu, dan memakai situasi sulit itu sebagai kesempatan menunjukkan Kerajaan Tuhan. Dengan dan melalui lima roti dan dua ikan orang banyak diberi makan, bahkan sisa dua belas bakul, (5 + 2: 5000 = 12). Ada banyak pesan rohani yang bisa kita pelajari dari nas ini, sekaligus meneguhkan iman percaya kita kepada Tuhan di dalam Yesus Kristus yang selalu menyediakan kebutuhan kita. Paling tidak tiga hal yang saya sampaikan:

Pertama: Berjalan bersama Yesus dibutuhkan komitmen dan tanggungjawab. Setiap orang yang dengan sungguh mengikuti Yesus pasti tidak terhindar dari kesulitan dan persoalan-persoalan kehidupan. Namun pada saat yang sama setiap orang yang sungguh mengikuti Yesus pasti akan mengalami kemenangan dari setiap kesulitan dan persoalan-persoalan kehidupan ini. Kesulitan yang terjadi di dalam kehidupan ini bukan untuk dihindari, namun harus kita hadapi. Kita akan kehilangan kualitas unggul kepribadian apabila kita tidak berani menghadapi kesulitan sebagai realitas kehidupan. Yesus menghadapi kesulitan menurut sudut pandang para murid, bahkan memakai kesempatan itu untuk menunjukkan kuasa Kerajaan Tuhan yang perduli terhadap kehidupan setiap orang. Di dalam kehidupan ini ada banyak perkara yang tidak bisa kita jawab. Pikiran tidak sanggup atau mampu untuk mengurainya. Terkadang kita melarikan diri dari kenyataan, hati kita kalut, bahkan melemparkan tanggungjawab kepada orang lain. Hari ini firman Tuhan meneguhkan hati kita supaya di setiap kesulitan yang kita hadapi boleh siuman bahwa Tuhanlah jawaban itu. Jangan ragu, jangan bimbang ikutlah Dia terus.

Kedua: Pedulilah terhadap orang lain jangan enggan untuk berbagi. Kuasa Allah di dalam Yesus Kristus yang mencukupkan lima roti dan dua ikan untuk makanan orang banyak adalah sebagai mujizat, tetapi hal yang membuat mujizat selanjutnya adalah kemauan hati untuk mau berbagi dengan orang lain sehingga semuanya mendapat makanan sesuai kebutuhannya. Apa jadinya kalau setiap orang hanya mementingkan dirinya sendiri dan mengambil hanya untuk dirinya sendiri? Yang pasti adalah kekacauan. Dalam konteks kita di sini bahwa kelaparan terjadi karena ada orang mengambil lebih banyak. Dan ini tidak akan menjadikan hidup mengalami sukacita. Yang membuat hidup ini ada sukacitanya adalah berbagi… sekali lagi berbagi. Bahasa lainnya adalah PEDULI. Di saat kepedulian diperankan maka di sana mujizat akan dirasakan. Di zaman teknologi informasi baru (New Digital Age) ini, di saat manusia berlomba mengutamakan tenaga-tenaga mesin (baca: drone) dalam tatanan kehidupan, biarlah harkat martabat kemanusiaan itu juga dihargai dan dimaknai dengan membangun roh kepedulian, mau berbagi dengan orang lain. Sebagai mahluk social kita tidak bisa terpisah dari orang lain; Anda tidak bisa hidup sendirian dengan segala apa yang Anda miliki tanpa orang lain. Ingatlah begitu banyak orang yang membutuhkan kepedulian kita hari ini. Maulah berbagi dengan mereka…

Ketiga: Allah menyediakan bagi kita apa yang kita butuhkan. DI PARADE DEBATA DO NA RINGKOT DI HITA. Barangkali untuk beberapa orang perkataan ini adalah sebagai utopia, hanya untuk menina bobokkan hati dan perasaan kita, sementara realitas begitu banyak orang yang sulit memenuhi kebutuhan setiap harinya. Mencari sesuap nasi pun amat dan teramat sulit. Bagaimana kebenaran perkataan ini? Bila Allah menyediakan apa yang kita butuhkan tentu angka kemiskinan akan terus menurun bukan sebaliknya. Untuk mencoba menjawab pertanyaan ini harus jelas bagi kita perbedaan antara kebutuhan dan keinginan kita. Kita harus jujur mengaku bahwa sesungguhnya realitas manusia sekarang sudah lebih banyak mencari apa yang menjadi keinginannya bukan apa yang menjadi kebutuhannya. Dan ini sudah terjadi sejak awal ketika manusia pertama diciptakan: dari sudut kebutuhan Allah sudah menyediakannya di Taman Eden, dan Allah memberi titah untuk tidak memakan buah yang ada di tengah taman itu. Si jahat hadir dan menawarkan sesuatu yang indah dipandang mata sehingga muncullah keinginan. Keinginan itulah yang menguasai pikiran manusia pertama, dan itulah awal runtuhnya harmoni kehidupan. Dengan kata lain kebutuhan kita akan menjadi hilang apabila kita gagal mendidik keinginan-keinginan kita. Di padang gurun Allah memberi Manna kepada umat-Nya, memberi daging kepada umat-Nya, dan itulah realitas Allah yang mencukupkan kebutuhan umat-Nya. Kuncinya adalah kerinduan kita untuk mau datang kehadiran Tuhan, mendengarkan firman-Nya, dan melakukan perintah-perintah-Nya.

Saudaraku! Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran! Mengapakah kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? Dengarkanlah Aku maka kamu akan memakan yang baik dan kamu akan menikmati sajian yang paling lezat. Sendengkanlah telingamu dan datanglah kepada-Ku; dengarkanlah, maka kamu akan hidup! (Yesaya 55: 1-3). Amin.

Komentar dimatikan

AJAKAN JURUSELAMAT

AJAKAN JURUSELAMAT:

MARILAH KEPADA-KU, SEMUA YANG LETIH LESU DAN BERBEBAN BERAT

Matius 11:16-19, 25-30

 

MG-1832Saudaraku! Bumi yang kita diami sekarang sepertinya semakin garang; bumi yang kita diami sekarang sepertinya semakin keras; bumi yang kita diami sekarang sepertinya semakin rusuh. Hampir setiap hari kita melihat dan mendengar, baik secara langsung maupun melalui media elektronik, cetak, dan media social terjadi pelecehan akan harkat dan martabat kemanusiaan. Secara global pembunuhan dan perang atas nama agama masih terus terjadi di Mosul Irak, Suriah, Philippine, dan Negara lainnya. Akibatnya banyak masyarakat sipil yang terbunuh dan harus mengungsi mencari zona aman. Secara nasional ujuran kebencian dan hasutan masih terjadi. Akibatnya nilai-nilai kebangsaan yaitu persatuan dan kesatuan dalam konteks pluralisme terganggu. Identitas keberagaman dalam konteks suku, agama, budaya, dan ras yang adalah kekayaan dilihat sebagai ancaman dan dicurigai. Baru-baru ini kita mendengar adanya selebaran terror kepada oknum kepolisian, bahkan secara langsung berusaha membunuh oknum-oknum kepolisian. Celakanya tindakan tersebut dilihat sebagai jalan “mulia” menuju sorga. Belum lagi persoalan-persoalan local seperti perampokan, korupsi, dan tindakan kejahatan lainnya. Inilah sebagian potret kehidupan kita kini dan di sini. Bumi yang kita diami sekarang sepertinya bukan lagi bumi yang damai, bumi yang nyaman, bumi yang tenteram, bumi yang adil. Namun adalah bumi yang egois, penuh kegelisahan, keresahan, dan gersang. Martabat kemanusiaan sudah diukur dari sudut angka rupiah tidak lagi dari sudut nilai sebagai anugerah Tuhan.

Terhadap realitas ini tentu kita bertanya di mana peran atau posisi agama-agama yang kita anut? Bukankah seharusnya melalui ajaran-ajaran agama kehidupan semakin baik? Kehidupan semakin damai? Relasi-relasi social semakin merekat? Bukankah melalui ajaran-ajaran agama yang kita anut cinta kasih antar sesama manusia semakin terpelihara? Semua kita berkata bahwa tidak satu pun agama di dunia ini yang mengajarkan kebencian, permusuhan, pembunuhan, dan yang sama dengan itu justru sebaliknya. Hidup berdamai, hidup dalam kepedulian, saling menghargai atau menghormati, hidup rukun, dan saling mengasihi itulah ajaran agama. Bila itu ajaran agama yang kita anut lantas kenapa bumi yang kita diami sekarang semakin rusuh dan gelisah? Apa yang salah dengan agama? Ketika agama dijadikan sebagai kebiasaan dan kewajiban maka yang terjadi adalah kegersangan dan kekeringan nilai-nilai spiritual. Senada dengan itu Marxisme Karl Marx menyatakan agama dijadikan sebagai “alienasi dan candu” yang secara sengaja diciptakan oleh kalangan-kalangan atas (penguasa) untuk menina-bobokkan masyarakat, dalam pengertian sebagai candu semakin banyak dikonsumsi maka semakin menggerogoti jiwa pecandunya. Namun selalu ada keinginan yang kuat dan hasrat tak tertahankan untuk selalu mengkonsumsi candu. Artinya agama dijadikan bukan dalam hasrat membangun hubungan vertical (nilai-nilai rohaniah), namun sudah dalam kepentingan kalangan-kalangan atas. Bila ini yang terjadi maka agama hanya sekedar sarana untuk memuaskan kepentingan-kepentingan manusia. Apakah ini yang terjadi di Negara ini? Celaka! Semestinya agama itu harus menjadi jati diri dan identitas bukan kebiasaan dan kewajiban. Artinya ajaran agama yaitu cinta kasih, kebenaran, keadilan, kedamaian, kerukunan menjadi gaya hidup kita setiap hari.

Saudaraku! Tuhan di dalam Yesus Kristus mengkritik dengan keras cara hidup bangsa Yahudi yang hanya menjadikan agama itu sekedar memuaskan hasrat keinginan mereka. Yesus membuat perumpamaan kepada umat Israel seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya: Kami meniup seruling bagimu tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka tetapi kami tidak berkabung.(ay,17). Makna dari perumpamaan ini adalah menggambarkan kekerasan hati, ketidak pedulian, orang Yahudi dalam menanggapi karya penyelamatan Tuhan dan berita pertobatan yang disampaikan oleh Yohanes. Mereka tidak mendengar firman Tuhan dan hukum-hukum Tuhan. Mereka tidak memperhatikan tanda-tanda yang ditunjukkan Tuhan, bahkan mereka menuduh Yohanes sebagai orang yang kerasukan setan, dan anak manusia yaitu Yesus sebagai pelahap, peminum, sahabat orang berdosa. Orang Yahudi telah menutup telinga dan mata terhadap karya keselamatan Tuhan. Mereka sudah ditawan oleh hasrat kehendak dan kepentingan sendiri, sehingga apa pun yang dilakukan oleh Yesus mereka tidak peduli.

Namun demikian, luar biasanya dalam bertindak  Tuhan dalam Yesus Kristus tidak ditentukan oleh sikap mentalitas orang Israel. Tuhan dalam Yesus Kristus bertindak sesuai dengan hakekatnya sendiri yaitu pengasih dan penyayang, panjang sabar, dan besar kasih setia-Nya. Yesus mengajak bangsa yang keras hatinya, yang tidak peduli untuk datang kepada-Nya. “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu”, (ay.28). Yang sangat menarik di sini adalah sudut pandang! Dari sudut pandang Yesus, yaitu  bahwa kekerasan hati, ketidak pedulian yang ditunjukkan orang-orang Yahudi adalah bentuk dari hidup yang lemah, tidak berdaya, terbeban yang memerlukan pertolongan dari Tuhan. Artinya bahwa kerajaan Allah dinyatakan kepada orang-orang yang dalam hidupnya tak berdaya. Yesus menawarkan kasih dan pertolongan-Nya kepada setiap orang yang letih lesu, dan berbeban berat, yaitu hidup yang lega, hidup yang merdeka. Hidup yang lega, dan hidup yang merdeka dalam arti yang sesungguhnya hanya ada di dalam Tuhan. Datanglah kepada-Nya!

Saudaraku! Selama bumi masih ada, dan kehidupan semua mahkluk belum berakhir, ajakan Juruselamat ini masih terus berlangsung. Nyatalah kepada kita sekarang bahwa sudut pandang Allah dalam melihat sikap mentalitas dan karakter manusia adalah sangat berbeda dengan sudut pandang dunia ini. Benar, ketika manusia melakukan pemberontakan kepada Allah, tidak peduli terhadap karya Tuhan, dan berlaku jahat di mata Tuhan adalah pantas untuk dibinasakan. Adalah benar di saat manusia bersifat egois, serakah, tinggi hati, membenci, tidak takut kepada Tuhan adalah pantas untuk di binasakan. Itulah sudut pandang dunia ini. Namun dari sudut pandang Allah bahwa semua jenis kehidupan seperti itu adalah bentuk kualitas kehidupan yang sangat rendah yang membutuhkan pertolongan Tuhan. Tindakan ini bukan berarti bahwa Tuhan setuju terhadap kejahatan atau setuju terhadap segala perbuatan yang bertentangan dengan firman Tuhan, namun Dia berbelas kasihan terhadap manusia yang kehilangan kemuliaan Tuhan. Untuk itulah Tuhan dalam Yesus Kristus mengundang kita semua untuk datang kepada-Nya.

Mungkin secara pribadi kita tidak terlibat dalam melakukan tindakan-tindakan pelecehan terhadap kemanusiaan, melakukan kejahatan dengan mencuri, memfitnah, membunuh, merampok, mengintimidasi orang lain. Tetapi secara tidak langsung acap kita mengeraskan hati, tidak peduli terhadap karya Tuhan, menutup mata dan telinga kepada firman Tuhan. Menutup mata dan telinga kita terhadap jeritan masyarakat yang mengalami ketidak adilan, pelecehan, penistaan terhadap harkat dan martabat manusia. Kita sering hanya memikirkan kebutuhan kita sendiri, urusan kita sendiri, kelompok politik kita. Dan untuk ini Tuhan mengundang kita untuk datang kepada-Nya. Selagi hari masih siang dan selama Tuhan masih memberi kita nafas hidup marilah kita membuka mata dan telinga kita untuk peduli kepada sesama kita dan bumi kita yang sedang mengerang ini. Marilah kepada-Ku semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Amin.

Komentar dimatikan

PERARAKAN KEMENANGAN ALLAH

DENGARLAH, TUHAN, SERUAN YANG KUSAMPAIKAN

Mazmur 68: 20-22, 32-36

sawah-padiDengarlah Tuhan, Seruan yang Kusampaikan, (Exaudi)!

Saudara! Sesungguhnya seruan ini adalah jeritan hati tatkala kehidupan berada di dalam kesesakan, tekanan, intimidasi, terror. Tatkala kehidupan terhempas kepada titik nadir penderitaan yang sangat menyiksa. Tidak seorang pun peduli, tak seorang pun mau menolong, pupus harapan, dan kegelapan pun berkuasa. Hati menjerit! Hidup berada di dalam bayang-bayang kematian. Hidup tercekik oleh nafsu keserakahan, kekuasaan yang menindas, dan pemaksaan kehendak. Hati menjerit! Mau melarikan diri, namun semua jalan sudah tertutup. Ledakan bom bunuh diri pada hari Rabu, 24 Mei 2017 di Kampung Melayu Jakarta membuat hati menjerit – anggota tubuh korban berserak, dan orang yang tak bersalah meregang nyawa. Bom bunuh diri dilihat sebagai jalan mulia memperoleh sorga. Hmmmm… di sini saya menjerit. Siapa yang tidak menjerit ketika semangat kesatuan dan persatuan relasi keberagaman tergradasi oleh keinginan sektarian yang sempit. Uniformitas bukan takdir yang harus dipaksakan – takdir kita adalah perbedaan tanpa pembeda-bedaan. Siapa yang tidak menjerit ketika Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia memulangkan 20.612 buruh migran Indonesia, 3.240 diantaranya karena bermasalah hukum di negara penempatannya. Di tempat terpisah Direktur Exekutif Migrant Care menyebutkan bahwa 153 orang buruh migran Indonesia menjadi korban perbudakan pengelolaan sarang burung wallet di salah sau Negara telah dipulangkan, (Koran Kompas, Sabtu 27 Mei 2017, hal 18). Berbagai peristiwa di jagad raya ini bukan tidak kurang banyaknya membuat hati manusia menjerit. Apakah ini terus terjadi? Kapan ini berakhir? Bagaimana ini dihadapi?

Saudaraku! Benar bahwa peristiwa yang terjadi disekitar kita sekarang bukan tidak kurang membuat hati menjerit. Tetapi syukur kepada Tuhan bahwa ternyata di setiap peristiwa kita Tuhan ada, peduli, dan mendengar seruan jeritan hati kita. Pemazmur menyaksikan perbuatan-perbuatan besar Tuhan di dalam seluruh peristiwa hidup umat-Nya. Perbudakan Mesir adalah tindakan pengkerdilan harkat dan martabat kemanusiaan; di sana terjadi intimidasan, terror, dan upaya penghapusan identitas. Di wilayah pembuangan Babel adalah upaya pemaksaan kehendak; di sana terjadi indoktrinasi kepercayaan, uniformitas keyakinan dilihat sebagai “kebenaran mutlak”. Umat Israel menjerit! Di tengah jeritan hati dalam bibir yang kelu, Tuhan tampil dan maju  di garis terdepan sebagai seorang prajurit menghalau musuh untuk membela umat-Nya. Allah bangkit, dan terseraklah musuh-musuh-Nya. Orang-orang yang membenci Dia melarikan diri dari hadapan-Nya, (ay.2). Pemazmur menyaksikan Allah adalah Maha Dahsyat (el-shaday) membuat bumi bergoncang, gunung bergoyang, langit mencurahkan hujan, dan raja-raja segala tentara melarikan diri, (ay.9,13). Ini adalah fakta kedahsyatan Tuhan Allah dalam peristiwa keluaran umat-Nya dari perbudakan Mesir. Allah telah mendengar jeritan dan seruan umat-Nya, (I have hear the cry of my people). Arak-arakan kemenangan Allah dinobatkan dalam kesaksian ibadah:

Pertama: Terpujilah Tuhan! Hari demi hari Ia menanggung bagi kita; Allah adalah keselamatan kita. Kesaksian ini adalah iman yang hidup dan dinamis. Iman yang hidup dan dinamis itu berarti mensaksikan apa yang di Imani, dan meng-imani apa yang disaksikan. Saksi yang benar adalah saksi yang melihat, mendengar, dan mengalami keadaan atau peristiwa. Apa yang di lihat, di dengar, di alami tentu itulah yang disaksikan. Pemazmur intim dalam pengalaman ini untuk disaksikan kepada umat di bait suci sebagai bentuk pujian. Pemazmur bukan hanya mengenal Allah dalam hidupnya tetapi mengalami Allah dalam hidup. Dengan kemampuan jiwa  mengalami Allah di dalam hidup maka hati, pikiran dan perbuatan dengan sendirinya terdesak untuk memuji Tuhan. Jadi pujian itu bukan sekedar untaian syair lagu atau nyanyian, namun adalah tautan hati dari hidup bersama dengan Tuhan..

Kedua: Akuilah kekuasaan Allah. Mengaku itu berarti menerima sesuatu objek atau subyek sebagai kebenaran, sekaligus kesediaan menanggung atau menyanggupi segala konsekuensi dari pengakuan itu. Pemazmur menyerukan kepada umat “akuilah kekuasaan Allah”, itu berarti supaya umat tidak ragu akan kekuasaan Allah dalam seluruh dinamika kehidupannya, sekaligus menempatkan kuasa, kekuatan, yang ada padanya dibawah kuasa dan kekuatan Allah. Allah berkuasa atas kehidupan umat-Nya bahkan pemilik mutlak dari kehidupan itu sendiri sehingga hidup mati umat-Nya ada di dalam kekuasaan-Nya.

Ketiga: Allah mengaruniakan kekuasaan dan kekuatan kepada umat-Nya. Masa depan umat Allah terbentuk dalam rajutan dan tenunan Allah sendiri. Allah yang merajut dan menenun kesinambungan hidup masa depan itu dalam karya pemberian, penganugerahan kekuasaan dan kekuatan. Kepada umat, Allah memberi kekuasaan dan kekuatan. Tanpa itu masa depan tidak ada. Tanpa pemberian Allah yaitu kekuasaan dan kekuatan; hidup akan rapuh, kering, dan gersang. Tidak ada gairah, semangat, dan harapan. Hal ini di alami oleh Pemazmur ketika dia dikuasai oleh pikiran, kenginan atau kehendaknya sendiri. Masa depan itu hanya terjadi dalam fakta pemberian Allah, karena Dialah pemilik waktu, dan penentu waktu. Terpujilah Allah.

Saudaraku! Allah adalah keselamatan kita – Akuilah Kekuasaan Allah – dan Allah mengaruniakan kekuasaan dan kekuatan kepada kita. Inilah pesan nas kotbah kepada kita hari ini. Di saat kita mengalami beban pergumulan hidup yang berat, di saat kita jatuh dalam kesesakan, di saat tubuh kita disapa penyakit yang parah, ingatlah bahwa Allah di dalam anak-Nya Yesus Kristus adalah keselamatan kita. Akuilah kekuasaan-Nya yang sanggup menolong kita, Allah telah mengaruniakan kepada kita anak-Nya Yesus Kristus sebagai sumber kuasa dan kekuatan kita. Saat ini banyak peristiwa yang membuat kita menjerit: barangkali hubungan keluarga yang tidak membahagiakan, keadaan ekonomi keluarga yang tidak memadai, kesempatan kerja yang belum terbuka, ingatlah Allah adalah keselamatan kita – Akuilah Kekuasaan Allah – dan Allah mengaruniakan kekuasaan dan kekuatan kepada kita. Sebagai warga bangsa barangkali kita mengalami ketidakadilan, tindakan kekerasan, intimidasi, hak yang terampas, namun sekarang ingatlah Allah adalah keselamatan kita – Akuilah Kekuasaan Allah – dan Allah mengaruniakan kekuasaan dan kekuatan kepada kita. Allah mendengar seruan kita dan Pujilah Dia. Amin. Salam Exaudi.

Komentar dimatikan

YESUS TERANGKAT KE SORGA

YESUS TERANGKAT KE SURGA: MENJADI SAKSI KRISTUS

Kisah 1:1-11

37822721Saudaraku! Sesuai dengan tahun liturgi gerejawi, hari ini kita memasuki pesta perayaan rohani peringatan kenaikan Yesus Kristus ke surga.Kelihatannya, kisah kenaikan Yesus Kristus tidak dilihat begitu penting sebagaimana kisah kematian dan kebangkitanNya. Hal itu bisa dilihat dari sikap umat untuk menyikapinya. Kelihatannya, sepi saja. Syukur di berbagai negara, seperti Indonesia hal itu masih diperingati dan dijadikan hari libur nasional. Lain halnya di Singapura. Hari kenaikan tersebut bukan hari libur. Itulah sebabnya, kantor-kantor dibuka seperti biasanya. Namun terlepas dari itu, bagi kita berita injil tentang kenaikan Yesus Kristus ke surga adalah merupakan kesaksian iman gereja yang tidak terpisah dari peristiwa pelayanan Kristus: kelahiran-Nya, kematian-Nya, kebangkitan-Nya, dan selanjutnya turunnya Roh Kudus. Semua ini termuat dalam rumusan Pegakuan Iman Rasuli yang selalu kita ikrarkan di setiap liturgi hari Minggu.

Saudaraku! Dalam nas kotbah ini, dokter Lukas dengan sangat jelas dan cukup detail menuliskan kisah Kenaikan Yesus Kristus ke surga. Melalui nas ini paling tidak ada dua hal penting yang bisa kita aminkan dari berita Kenaikan Yesus Kristus ke surga. Pertama: Kenaikan Yesus ke surga menegaskan akan fakta kebangkitanNya. Dengan sangat jelas Lukas menuliskan bahwa kenaikan Tuhan Yesus tersebut merupakan satu kesatuan dengan kematian dan kebangkitanNya. Dia tidak hanya menulis penderitaan, kematian dan kebangkitan Yesus, tetapi sampai pada hari Ia terangkat. Peristiwa Kenaikan Yesus ke surga menjadi pembuktian bahwa Yesus yang mati itu, benar-benar telah bangkit. Tanpa kebangkitan tidak akan pernah ada kenaikan. Kedua: Kenaikan Yesus ke surga menunjukkan betapa pentingnya tugas memberitakan Injil. Di dalam ayat 9 kita membaca: “Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutupNya dari pandangan mereka“. Jadi, kita membaca bahwa Tuhan Yesus terangkat “sesudah Ia mengatakan demikian”. Mengatakan apa? Jawabnya ada pada ayat 8: “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksiku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Dengan perkataan lain, pesan atau perintah terakhir yang diberikan oleh Tuhan Yesus sebelum kenaikan-Nya ke surga adalah agar menjadi saksi-Nya. Hal itu dimulai dari tempat di mana mereka berada (Yerusalem), meluas ke seluruh propinsi (Judea) hingga seluruh bumi. Tugas memberitakan Injil diberikan oleh Yesus sebagai sebuah keharusan. Hal yang sama ditegaskan oleh Paulus di dalam 1 Korintus 9:16b “Celakalah aku jika aku tidak memberitakan Injil”, dan 2 Timoteus 4: 2 “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya…”.

Saudaraku! Di saat kita memperingati perayaan pesta rohani kenaikan Yesus ke surga hari ini, roh kemandirian dan kesaksian diteguhkan kepada murid-murid-Nya (baca= Gereja). Roh kemandirian, roh kesaksian untuk memberitakan Injil Kerajaan Tuhan, yaitu Keadilan, Kebenaran, dan Perdamaian adalah tugas mendesak yang harus kita kiprahkan. Gerak pemberitaan Injil terbuka untuk semua wilayah kehidupan secara global tanpa batas. Inilah misi kita sebagai gereja dalam konteks seruan kesatuan berbangsa dalam bingkai 4 pilar kebangsaan (Pancasila, UUD, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika). Umat Kristiani mesti menjadi warga Negara yang bertanggungjawab. Artinya turut bertanggungjawab atas maju mundurnya kesatuan dan persatuan Negara ini. Tanggungjawab itu hanya dapat dilakukan apabila kita mempunyai keinsyafan kenegaraan dan keinsyafan kenegaraan hanya dapat tumbuh jika terdapat keinsyafan kebangsaan. Kehadiran warga Kristiani  dalam konteks bernegara dan berbangsa adalah sebagai Keluarga Besar, tidak ada seorangpun dikecualikan. Semuanya mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Seorang tidak dapat dianggap sebagai “orang lain” hanya lantaran ia merupakan golongan kecil. Seorang Batak tidak dapat dianggap bukan Bangsa Indonesia lantaran ia bukan suku Jawa yang mayoritas. Demikian pula seorang Kristen tidak dapat dianggap mempunyai hak dan kewajiban yang berbeda dibanding saudara-saudara yang beragama Islam, lantaran jumlah mereka kecil. Umat Kristiani bukanlah suatu minoritas dilihat dari sudut ketatanegaraan. Kita bukan warga Negara kelas dua atau kelas tiga.

Kita sebagai warga jemaat Kristiani sekaligus warga bangsa mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan orang-orang lainnya. Kehadiran umat Kristiani di Negara yang kita cintai ini adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Bangsa Indonesia. Bagaimanapun juga Tuhan sudah menjadikan umat Kristiani sedarah, sedaging dan senasib dengan Bangsa ini, maka umat Kristiani tidak boleh mementingkan golongannya sendiri dan menganggap dirinya sebagai bagian parsial dari bangsa ini. Persatuan dan kesatuan Bangsa berdasarkan Pancasila dan UUD 45 adalah taruhan sejarah yang harus secara terus menerus  diperjuangkan umat Kristiani dengan seluruh komponen bangsa. Jangan sampai sejarah mencatat bahwa “konon dahulu kala ada sebuah Negara Indonesia. Namun karena rasa kebangsaan dan bernegara cukup rendah, maka Negara Indonesia hancur berantakan”. Tanggungjawab untuk mempertahankan Negara ini terletak ditangan setiap warga bangsa dan umat Kristiani yang bertanggungjawab. Kiranya roh Kenaikan Yesus Kristus ke surga menggairahkan kita untuk semakin lebih dewasa dalam visi kesatuan, dan semakin mandiri dalam misi keadilan, kebenaran demi dan untuk kehidupan berbangsa dan bernegara supaya bangsa kita berjalan ke arah keadilan, kebenaran dan kemerdekaan yang sesungguhnya. Amin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar dimatikan

NYANYIAN SYUKUR KARENA ORANG ISRAEL TERTOLONG

TERPUJILAH ALLAH YANG TIDAK MENOLAK DOAKU

Mazmur 66: 8-20

 

Sesungguhnya, Allah telah mendengar, Ia telah memperhatikan doa yang kuucapkan.

Terpujilah Allah, yang tidak menolak doaku dan tidak menjauhkan kasih setia-Nya dari padaku.

wp-1483441752047.jpegSaudaraku! Hari ini kita merayakan pesta sukacita rohani Minggu ROGATE (berdoa). Ajakan kepada seluruh umat Tuhan untuk mewujud dalam hidup doa. Jika manusia meyakini kebaikan kasih Tuhan, maka seseorang akan mampu menemukan kekuatan spiritual dalam kekuatan doa. Tiada kekuatan lain bagi keseluruhan umat manusia selain seorang manusia yang berlutut berdoa, dan mengharapkan tuntunan Tuhan. Tujuan dari doa bukan untuk memberi tahu Tuhan tentang kebutuhan-kebutuhan kita, tetapi untuk mengundang-Nya agar mengatur hidup kita. Doa terutama memerlukan hati, bukan suara. Tanpa hati kata-kata tidak berarti. Begitu besarnya kekuatan doa menentukan detak jantung kita sebagai penentu hidup dan mati setiap orang. Doa itu adalah nafas kehidupan. Orang yang berdoa adalah orang yang “hidup”, dan sebaliknya orang yang tidak berdoa adalah orang yang “mati”. Apa artinya hidup apabila selalu dikuasai oleh kecemasan, keputusasaan, kegelisahan? Bukankah itu salah satu fakta dari hidup yang mati? Namun disaat kecemasan, keputusasaan, dan kegelisahan muncul tetapi ada semangat, gairah, rasa nyaman, dan penuh harapan di dalamnya, bukankah itu fakta dari kata hidup? Semua itu terjadi ditentukan oleh sikap hati kita mewujud di dalam doa. Doa adalah jawaban dari hidup dan mati kita.

Saudaraku! Penyelamatan umat Israel (baca: gereja) akan sampai kepada maksud dan tujuannya apabila itu dilihat dalam peristiwa Tuhan. Dan pada saat yang sama terbangun pengakuan mutlak terhadap kuasa Tuhan akan apa dan bagaimana kehidupan umat itu sendiri. Sekalipun umat Allah terbuang ke Babel, namun hidupnya dipertahankan, kakinya tidak goyah, tidak jatuh kehilangan identitasnya. Biar mereka diuji dan dimurnikan dalam dapur kesengsaraan, biar mereka tertangkap dan mengalami segala macam penderitaan, namun Allah mengeluarkan umat-Nya sehingga mereka bebas dan memperoleh keselamatan. Biar apa pun yang sudah diderita, dan masih akan ditanggung, akhirnya Tuhan selalu hadir membebaskan, menolong, dan meyelamatkan mereka. Karya pembebasan dan penyelamatan Allah itulah merupakan tanda untuk mengajak semua umat memandang pada Tuhan dalam praksis pujian dan ucapan syukur. Inti ucapan syukur pemazmur bukanlah dalam bentuk korban saja, melainkan cerita tentang perbuatan Tuhan di dalam hidupnya. Doa pemazmur didengar Tuhan, dan Tuhan tidak pernah jauh, namun selalu dekat dengan umat-Nya. Dengan demikian praksis ibadah yang kita nyatakan adalah:

Pertama: Hidup yang penuh gairah memasyurkan karya Tuhan dan mengucap syukur kepada Tuhan. Gairah ini akan muncul ketika setiap orang sadar dan insyaf akan perbuatan-perbuatan Tuhan yang menyertai, menuntun, dan memelihara perjalanan hidupnya. Umat Tuhan memasyurkan karya Tuhan yang membebaskannya dari perbudakan Mesir, mengantarkannya ke tanah yang dijanjikan itu, menguji dan memurnikannya melalui penderitaan pembuangan Babel untuk membawanya kepada kemerdekaan baru, di mana umat dapat memuji Tuhan dengan bebas. Hidup memuji Tuhan sesungguhnya adalah respons kita atas penyataan Tuhan di dalam Kristus yang peduli terhadap realitas manusia yang terpenjara dalam kuasa maut atau kematian. Kita memuji Tuhan bukan atas dasar pencapaian-pencapaian keberhasilan secular, bukan atas dasar keinginan-keinginan kita yang terpenuhi, dan atau bukan karena harapan-harapan kita yang tercapai. Namun adalah karena Kristus telah menebus dan menyelamatkan kita. Oleh karena itu pujian itu adalah hak dan milik Allah. Hak kita adalah memuji Tuhan. Apa yang menjadi milik dan hak Allah, jangan pernah kita rampas menjadi hak dan milik kita. Rogate itu akan sampai kepada maksud dan tujuannya apabila ada pengakuan yang jujur atas perbuatan-perbuatan yang besar dari Tuhan kepada realitas kehidupan kita yang hina, dan lemah ini.

Kedua: Memandang kepada Tuhan bahwa Ia selalu dekat dengan kita, tidak pernah jauh dari kita. Bagi umat Allah pembuangan ke Babel dengan segala penderitaan yang diakibatkannya adalah Allah yang menghukum dan Allah yang telah jauh dari mereka. Sudut pandang ini membuat mereka kehilangan harapan, kehilangan semangat, meratap, hilang masa depan. Tetapi pemazmur mempunyai sudut pandang lain, yaitu Allah menghukum dan terbuang ke Babel adalah menguji, memurnikan mereka sebagai fakta bahwa Dia dekat, tidak pernah jauh dari mereka. Allah menginginkan supaya mereka selalu memandang kepada-Nya. Di saat arah pandangan itu tidak lagi tertuju kepada Tuhan, maka kehidupan umat Allah akan menderita dan mati. Allah tidak menginginkan umat-Nya menderita dan mati oleh karenanya Dia menguji, dan memurnikan mereka melalui jalan penderitaan. Melalui pertolongan Tuhan, mereka dibebaskan dari susah dan curiga. Ditengah hiruk pikuk dan kegaduhan politik yang kita hadapi saat ini, ditengah penderitaan, kesulitan dan banyaknya penderitaan yang kita alami saat ini, marilah kita mengarahkan hati dan pikiran kita memandang kepada Tuhan. Tuhan dekat, dan tidak pernah jauh dari kita.

Ketiga: Jangan abaikan hidup berdoa di dalam hidup ini, rajinlah berdoa. Ingatlah firman Tuhan yang mengatakan: “Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya, (Yak 5:16). Pemazmur di dalam seluruh dinamika hidupnya selalu bermohon sujud kepada Tuhan. Tidak ada saat terlewatkan tanpa penyerahan yang sungguh kepada Tuhan melalui hidup doa. Segala hidupnya dan kebaikan terhadap hidupnya dilihat dalam lingkaran peristiwa Tuhan. Pemazmur berkata “Sesungguhnya, Allah telah mendengar, Ia telah memperhatikan doa yang kuucapkan. Terpujilah Allah, yang tidak menolak doaku dan tidak menjauhkan kasih setia-Nya dari padaku”, (Maz 66:19-20). Doa yang diucapkan adalah bentuk syukur atas segala perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Tuhan kepadanya. Ini menjadi pembelajaran penting bagi kita untuk melihat kembali muatan doa-doa yang kita ucapkan: apakah rumusa doa yang kita sampaikan Selama ini adalah bentuk ucapan syukur atas segala perbuatan-perbuatan Tuhan kepada kita? Atau hanya deretan keinginan-keinginan atau urutan tuntutan-tuntutan kebutuhan hidup kita ucapkan? Sekali lagi tujuan dari doa bukan untuk memberi tahu Tuhan tentang kebutuhan-kebutuhan kita, tetapi untuk mengundang-Nya agar mengatur hidup kita. Jika kita meyakini kebaikan kasih Tuhan, maka kita akan mampu menemukan kekuatan spiritual dalam kekuatan doa.

Saudaraku! Kiranya ketiga praksis ibadah ini terpatri dalam sikap mentalitas kita sebagai umat percaya kepada Yesus Kristus yang adalah Tuhan atas semua dan untuk semua. Berbagai dinamika kehidupan kita hadapi saat ini, apakah itu menyenangkan atau menggelisakan, apakah itu keberhasilan pun kegagalan, apakah itu penderitaan atau kesukaan. Disetiap peristiwa itu biarlah kita menjadi umat yang selalu mewujud dalam doa. Kita berdoa kalau kesusahan dan membutuhkan sesuatu; mestinya kita juga berdoa dalam kegembiraan besar dan saat rezeki melimpah. Laksanakan kewajiban kita sebaik-baiknya, selebihnya serahkan kepada Tuhan. Selamat Minggu Rogate. Amin.

Komentar dimatikan

YESUS KRISTUS BATU PENJURU

YESUS KRISTUS BATU PENJURU GEREJA

1PETRUS 2: 4 – 10

 

Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani,

bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri,

supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia,

yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terangNya yang ajaib.

 

533420_4768995178701_1949865757_n

Ke DPR Senayan

Saudaraku! Di Minggu KANTATE hari ini seluruh orang percaya diajak, diundang untuk “Menyanyikan nyanyian baru bagi Tuhan”. Nyanyian baru yang dimaksud bukanlah gubahan baru, syair lagunya yang baru, atau tehnik menyanyikannya yang baru, namun lebih dari itu adalah desakan jiwa, hati yang tulus, sikap mentalitas yag jujur, ungkapan iman yang sungguh untuk melibatkan diri dalam perjuangan keadilan, kebenaran, kedamaian, dan cinta kasih, (bnd: Bapak Basuki Tjahwa Purnama = Ahok, divonis 2 tahun penjara dengan tuduhan dugaan kasus penodaan agama. Repons masyarakat dari Sabang sampai Merauke bangkit dengan gerakan seribu llilin dan bunga untuk tegaknya Keadilan, bebaskan Ahok). Nyanyian yang baru itu adalah respon umat akan karya keselamatan Allah di dalam Kristus dalam peran sukacita memuji Tuhan melalui sikap mental jujur, karakter kebaikan, dan aktivitas sehari-hari meneladani Kristus. Dasar dari nyanyian baru itu adalah pengenalan, penghayatan, serta pengamalan kasih setia Tuhan yang telah menyelamatkan manusia melalui anak-Nya Tuhan Yesus Kristus. Kristus yang menderita, disalibkan, dan mati untuk menebus dosa-dosa manusia; dan pada hari yang ketiga bangkit dari dunia orang mati sebagai fakta kebangkitan dan keselamatan orang-orang percaya juga. Mempercayai, meng-imani dan meng-amini karya Allah di dalam relitas kehidupan manusia yang dibenarkan ini, itulah dasar atau fundasi yang kuat untuk mengokohkan kita menyanyikan nyayian yang baru bagi Tuhan. Nyanyian yang baru itu tidak terpisah dari sikap mentalitas, karakter atau perilaku kita dalam hidup sehari-hari.

Saudaraku! Yesus Kristus adalah Batu Penjuru Gereja, (baca: orang percaya). Dalam realitasnya banyak orang yang tidak percaya kepada-Nya, bahkan Rasul Petrus mengatakan Dia memang dibuang oleh manusia. Pemahaman kata “…memang dibuang oleh manusia”, itu terlihat dalam bentuk demokrasi Pilatus, di mana orang banyak, ulama-lama Yahudi, dan pimpinan kekuasaan mengadakan pemufakatan untuk menyalibkan Kristus. Bagi orang Yahudi seseorang yang tersalib itu adalah penjahat, dan itulah yang dituduhkan kepada Yesus. Dia dibuang oleh manusia. Namun sejarah tidak berhenti di sana, Kristus bangkit dari kematian. Sejarah baru diukir oleh kebangkitan Kristus bukan hanya untuk diri-Nya sendiri, tetapi untuk seluruh umat manusia yaitu keselamatan. Dia menjadi batu penjuru “…batu yang telah dibuang oleh tukang-tukang bangunan, telah menjadi batu penjuru, juga telah menjadi batu sentuhan, dan suatu batu sandungan.” (ay.7). Inilah pilar kesaksian kita bahwa Kristus adalah batu penjuru Gereja, (baca= orang percaya) yang mengawali dan menciptakan cakrawala baru dalam kehidupan manusia. Cakrawala baru itu adalah pembaruan (transformasi) kehidupan yang sebelumnya berorientasi kepada maut atau kematian, namun sekarang di dalam Kristus berorientasi kepada keselamatan dan kehidupan. Sebelumnya berada di dalam genggaman kuasa kegelapan, tetapi kini di dalam Kristus berada di dalam kuasa terang. Kesaksian kita tentang Yesus Kristus batu penjuru menggerakkan hati nurani dan sikap mentalitas kita untuk memaknai kehidupan dalam tiga aspek:

Pertama: Dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani. Batu hidup yang dimaksud adalah kehidupan yang memiliki kuasa atau kekuatan untuk bermakna bagi orang lain dan atau menjadi berkat bagi orang lain. Batu hidup itu adalah luapan manusia batiniah yang kuat bergelora untuk melakukan karya kehidupan: kebenaran, keadilan, kedamaian, cinta kasih sebagai dan menjadi realitas manusia jasmaniah. Dipergunakan sebagai batu hidup itu berarti hidup yang dinamis, hidup yang merdeka, hidup yang bergairah, hidup yang kreatif membarui kehidupan sesuai missi Kristus. Setiap orang yang meng-imani Kristus terpanggil untuk terlibat dalam pembangunan hidup social, hidup bermasyarakat, hidup berbangsa dalam prinsip adil, benar dan sejahtera. Dalam konteks ini bukan memaksa orang lain memulai untuk melakukannya, namun pertama memaksa diri untuk melakukannya kepada orang lain. Karena dasar atau fundasi kita untuk berkarya bukan orang lain, tetapi karena Kristus yang adalah batu penjuru. Bebaskan Ahok…

Kedua: Hidup yang penuh gairah untuk memuji Tuhan. Gairah ini akan muncul ketika setiap orang sadar dan insyaf akan perbuatan-perbuatan Tuhan yang menyertai, menuntun, dan memelihara perjalanan hidupnya. Hidup memuji Tuhan sesungguhnya adalah respons kita atas penyataan Tuhan di dalam Kristus yang peduli terhadap realitas manusia yang terpenjara dalam kuasa maut atau kematian. Melalui dan di dalam Kristus yang adalah batu penjuru; rekonsiliasi tercipta, keselamatan terpatri, dan kehidupan terjadi di dalam dunia orang-orang percaya. Inilah dasar atau pondasi bangunan pujian kita kepada Tuhan yang tidak lekang di sepanjang masa dan abad, bahwa: “Batu yang telah dibuang oleh tukang-tukang bangunan, telah menjadi batu penjuru…”, (ay.7). Dengan demikian kita memuji Tuhan bukan atas dasar pencapaian-pencapaian keberhasilan secular, bukan atas dasar keinginan-keinginan kita yang terpenuhi, dan atau bukan karena harapan-harapan kita yang tercapai. Namun adalah karena Kristus telah menebus dan menyelamatkan kita. Oleh karena itu pujian itu adalah hak dan milik Allah. Hak kita adalah memuji Tuhan. Apa yang menjadi milik dan hak Allah, jangan pernah kita rampas menjadi hak dan milik kita. Kantate itu akan sampai kepada maksud dan tujuannya apabila ada pengakuan yang jujur atas perbuatan-perbuatan yang besar dari Tuhan kepada realitas kehidupan kita yang hina, dan lemah ini. Bebaskan Ahok…

Ketiga: Jangan resah dan gelisah menjadi orang Kristen. Kenapa kita jangan resah dan gelisah? Dikatakan di dalam ayat 9 “… kamulah bangsa yang terpilih, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri…”. Iman dan kesaksian kita berkata apabila kita adalah bangsa yang terpilih, umat kepunyaan Allah sudah pasti bahwa Allah tidak akan membiarkan kita hidup sendirian. Sebagai umat kepunyaan Allah kita berharga di mata Tuhan. Gereja takkan punah selama-lamanya, dibimbing tangan Tuhan, dibela kasihNya. Ditantang penghianat dan banyak musuhnya, bertahanlah jemaat dan jaya mulia, (KJ. No 252: 4). Itulah sebabnya ditengah hiruk pikuknya dunia ini, ditengah kegaduhan politik bangsa yang kita alami saat ini, ditengah intervensi keadilan ber-orientasi tekanan massa yang kita hadapi di bangsa ini, hendaknya kita tetap melibatkan diri dalam misi perdamaian, cinta kasih kepada semua orang, dan berjuang demi tegaknya kebenaran dan keadilan untuk kemanusiaan. Bebaskan Ahok…

Saudaraku! Kristus adalah batu penjuru, datanglah kepada-Nya! Melalui Yesus Kristus setiap orang percaya sudah menjadi imam di hadapan Allah. Sebagai imam mempunyai tanggungjawab untuk berlaku hidup di dalam kekudusan, mempersembahkan hidupnya kepada Tuhan di dalam kesetiaan, ketaatan. Mengucap syukur di dalam doa, dan bersukahati memuji Tuhan, dan memiliki hati yang gembira menjadi saksi memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Tuhan. Amin. Salam perjuangan untuk Keadilan, bebaskan Ahok… Selamat Minggu Kantate.

Komentar dimatikan

%d blogger menyukai ini: