LIHATLAH AKU JADIKAN SEMUA BARU

MERAJUT ASA BERTABUR MAKNA:

TUHAN MENERANGI UMATNYA UNTUK MEMELIHARA LINGKUNGAN

WAHYU 22:1-5

3218Saudaraku! Janganlah kiranya HARAPANMU menjadi padam – tetaplah HARAPANMU menyala dan bersinar sekalipun angin kuat datang menerpa. Hilang harapan membuat hidup menjadi lesu, tiada gairah, dan hampa sukacita. Hidup dalam HARAPAN membuat kehidupan penuh daya juang, hangat dalam karya, tekun dalam bertindak, dan utuh dalam persona kemanusian. Di dalam HARAPAN ada sinar menerangi kegelapan, ada air membasahi padang gurun, ada solusi menjawab penderitaan, ada kemenangan mewarnai pergumulan, dan ada visi melihat masa depan yang lebih baik yaitu langit dan bumi yang baru. Begitu hebat penderitaan yang dialami oleh Yohanes. Rasa sepi yang membelenggu, rasa sakit yang sangat perih, tekanan jiwa dan batin penuh sesak, dan intimidasi yang tak pernah berhenti. Sengaja dibuang dan terbuang di  ke pulau Patmos oleh sang penguasa Romawi bertindak lalim. Sebenarnya ada alasan untuk menyerah mengingat berat dan hebatnya penderitaan, namun Yohanes tidak memilih sikap itu. Yohanes justru membangun dan menyalakan sumbu pengharapan kepada Tuhan, bahwa ada masa depan kebaikan yang dirancang oleh Tuhan kepada orang yang bertekun dan setia kepada-Nya, yaitu langit dan bumi yang baru. Sumbu Harapan ini tidak pernah padam, namun semakin menyala menggairahkan kehidupan dalam gumul juang penderitaan. Bagi dia seruan: “…Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan”, menjadi pilihan utama dan pertama daam mengelola penderitaan.

Saudaraku! Kemampuan melihat masa depan yang lebih baik hanya ada bagi orang yang memiliki harapan. Kemampuan memenangkan rasa sakit, penderitaan, pergumulan, dan tekanan hidup hanya terjadi bagi orang yang memiliki harapan. Harapan itu adalah sinar yang dapat menembus pekatnya kegelapan. Harapan itu adalah jawaban realitas masa kini dalam menggemgam  masa depan yang utuh dalam kebaikan dan kesempurnaan. Langit dan bumi yang baru adalah kebaikan dan kesempurnaan itu. Inilah visi (penglihatan) Yohanes dalam nas renungan minggu ini. Sesungguhnya langit dan bumi yang baru akan datang, menggantikan bumi (Eden, Jerusalem) yang lama. Di sana ada sungai air kehidupan, yang jernih, dan mengalir keluar dari takhta Allah. Di sana ada pohon-pohon kehidupan. Di sana tidak ada laknat, dan malam. Di sana ada Tuhan yang menerangi, memerintah untuk selamalamanya. Inilah masa depan itu yang ditenun oleh Allah bagi mereka yang setia kepada-Nya.

Saudaraku! Di bumi yang garang dan rusuh yang kita diami sekarang, kita merindukan bumi dan langit yang baru. Realitas kini bahwa dunia yang kita diami sekarang adalah bumi yang keras, dan kejam. Bumi yang ganas dan beringas. Bumi menggelora dalam guncangan gempa, dan longsor. Gunung memuntahkan lahar panas dalam letusan dahsyat. Pohon mengerang karena ketamakan pengusaha, dan penguasa. Eksploitasi alam dipertontonkan demi perolehan rupiah. Tindak kekerasan, pemerkosaan, pembunuhan merajalela. Kemerdekaan beribadah terpasung oleh fanatisme sempit dari ormas tertentu. Sungguh keadaan ini menjadikan bumi yang kita diami sekarang ini  tidak layak lagi untuk dihuni. Pada mulanya Allah menempatkan manusia di taman Eden dengan segala kesempurnaan dari kebaikannya untuk mengusahakan dan memeliharanya, namun karena telinga lebih mendengarkan perkataan sang jahat, sehingga manusia itu diusir dari tempat kesempurnaan itu. Kita merindukan langit dan dunia yang baru tiba, dalam desakan hati penuh peyesesalan, pertobatan kepada Tuhan untuk merajut asa bertabur makna.

Pertama: Usahakan hidup setia kepada Tuhan, dan peliharalah perintah Tuhan dalam hidupmu. Allah menempatkan manusia pertama di Taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. Namun, karena untuk memenangkan keinginan sempit yaitu godaan dan bisikan sang ular, maka mereka diusir dari taman itu. Sesungguhnya Yohanes mempunyai alasan untuk menyerah dan meninggalkan perintah Tuhan karena tekanan dan pergumulan berat yang dihadapinya, namun sesungguhnya dengan penderitaan hebat yang dialaminya dia tetap mendengar dan setia kepada Tuhan. Dengan sikap seperti itu Yohanes dapat melihat masa depan hidupnya yang baru.

Kedua: Kebaharuan dalam hidup hanya ada dalam persekutuan yang intim dengan Tuhan. Peristiwa Allah menempatkan manusia di taman Eden adalah peristiwa intimitas Allah dengan manusia. Manusia mengalami kabaharuan dalam relasi yang saling menghidupkan di antara sesama mahkluk ciptaan yang berbeda. Di sana ada interaksi kebaikan, di sana ada dialog dalam bentuk saling menghargai, saling memelihara, dan saling meneguhkan integritas ciptaan yang lain. Namun rusaknya intimitas dengan Tuhan melalui kegagalan manusia mendengar perintah Tuhan, maka kegelisan, keletihan, dan pemberontakan menguasai kehidupan. Yohanes di dalam gumul juangnya akan penderitaan, kesusahan, dan kesesakannya tetap membangun intimitasnya dengan Tuhan. Dengan sikap seperti ini dia dapat melihat masa depan hidupnya yang baru hanya ada di dalam Tuhan sang sumber kehidupan.

Ketiga: Rajutlah asa – taburkan makna. Mengeluh dengan keadaan bumi yang kita diami sekarang in? Alam rusak, air penuh limbah, relasi antar persona terganggu, bumi mengerang dalam kesakitan. Dengan mengeluh tidak akan pernah ada perubahan hanya menambah kesusahan. Merajut asa bertabur makna itulah panggilan kita membarui kehidupan bumi saat ini. Sekecil apa pun karya kebaikan yang kita lakukan hari ini, sudah cukup menyalakan pengharapan untuk kehidupan masa depan yang lebih baik. Hari ini kita memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia.  Ini bukan konsep namun praksis. Ini bukan retorika namun adalah karya menjaga dan memelihara dialog kebaikan dengan alam ciptaan lain. Kiranya kita dapat bertegur sapa yang baik dan saling menghidupkan dengan lingkungan di mana kita hidup. Maka dengan demikian, lihatlah aku jadikan semuanya baru. Selamat hari lingkungan hidup sedunia. salam

 

 

Komentar dimatikan

YESUS DIELU-ELUKAN DI YERUSALEM

Palmarum: Prosesi Merayakan Hidup Berkemenangan
Lukas 19:28-44

tumpek_kandang1Saudara! Hari ini kita memasuki Minggu Palmarum (palma = mare-mare). Dalam tradisi Gereja Minggu Palmarum dirayakan untuk mengenang peristiwa Yesus memasuki kota Yerusalem. Umat menyambut-Nya dengan penuh sukacita sambil menebarkan daun palem di jalan yang dilewati Yesus. Tradisi Gereja meneruskan tindakan ini dengan melakukan prosesi daun palem dan ruangan Gereja dipenuhi dengan ornamen daun palem atau mare-mare.

Minggu Palmarum juga disebut pembuka Pekan Suci yang di isi dengan:

Selasa daging (lemak)! Umat masuk dalam sikap penyembahan dengan berkata selamat tinggal untuk keinginan daging.

Rabu Abu! Kepala umat ditaburkan abu daun palem sebagai simbol pertobatan, penyesalan dan untuk mengingatkan umat bahwa manusia berasal dari debu dan kembali kepada debu.

Kamis Putih! Di dalam sikap penyembahan dilakukan Perjamuan Kudus dan Pembasuhan Kaki sebagai peringatan Perjamuan Malam yang dilakukan oleh Yesus bersama dengan para Murid-muridnya, dan hidup rendah hati di dalam hidup saling melayani.

Jumat Agung (devosi salib)! Umat datang berdiam diri masuk dalam sikap penyembahan mengenang penyaliban Kristus.

Sabtu sunyi! Tidak ada aktivitas semuanya sunyi mengingatkan kesunyian Yesus di dalam kubur.

Minggu Paskah! Umat menyanyikan Gloria In Excelsis Deo sebagai ungkapan sukacita, kemenangan Yesus yang bangkit dari kubur.

Demikianlah Gereja memaknai Pekan Suci dalam ranah spritualitas menyatu di dalam jalan salib dan kebangkitan Kristus.

Saudaraku! Peristiwa Palma bukanlah sekedar pesta lahiriah (pesta meriah) sekular, menyambut kehadiran sang Raja sebagaimana dilakukan oleh orang banyak di Yerusalem. Sambutan meriah yang mereka lakukan terhadap Yesus hanya terjadi dalam ranah kecerdasan intelektual, dengan harapan Yesus dapat membebaskan mereka dari kungkungan kekuasaan Roma. Orientasi mereka hanya tertuju kepada persoalan kebebasan politik dari kekuasaan Roma. Sesungguhnya prosesi palma bukan untuk menjawak keinginan lahiriah, pun juga persoalan politik, namun prosesi palma adalah pesta rohani membangun intimitas dengan Tuhan, intim dengan diri sendiri, intim dengan orang lain, dan intim dengan alam ciptaan. Semuanya itu dinyatakan dalam peristiwa prosesi palmarum: “Yesus dielu-elukan di Yerusalem”. Keintiman yang dimaksud adalah terciptanya hamparan harmoni dalam kehidupan secara holistik: manusia berdamai dengan dirinya sendiri, berdamai dengan sesamanya manusia, dan berdamai dengan alam ciptaan Tuhan.

Saudaraku! Memaknai minggu palmarum yang kita masuki hari ini, paling tidak ada tiga hal penting yang kita ukir sebagai nilai dalam kehidupan kini dan disini:

1. Masa Palmarum adalah masa kegairahan membangun KETAATAN. Kepada para murid, Yesus berkata: “…pegilah ke kampung yang di depanmu itu…”. “Lalu pergilah mereka…! Inilah yang kita katakan intim dengan Tuhan. Buah atau tanda dari keintiman itu adalah ketaatan. Setiap orang yang memiliki relasi yang intim dengan Tuhan akan selalu memprioritaskan hidup taat terhadap perintah Tuhan daripada hal apa pun yang mengitari hidupnya. Orang yang terbangun di dalam ketaatan tidak akan pernah kecewa dalam hasil. Mereka akan menemukan bahkan tidak seorang pun yang dapat menghalanginya, (bnd. sang pemilik keledai itu pun merelakannya). Hidup taat melakukan perintah Tuhan akan menemukan kesukaan dalam hidup. Dalam konteks kini dan di sini ada banyak manusia terhempas dalam kekecewaan… untuk ini perlu kita renungkan apakah ketaatan terhadap firman Tuhan sudah tergerus oleh nafsu keserakahan dunia ini?

2. Masa Palmarum adalah masa membangun KETULUSAN. Dengan spontanitas para murid mengalasi keledai itu dengan pakaian mereka, dan menolong Yesus naik ke atasnya, serta mereka menghamparkan pakaiannya di jalan. Apa yang dilakukan oleh para murid bukan hanya menunjukkan intimitas dengan Tuhan, tetapi juga intim dengan diri sediri, serta intim dengan orang lain. Intim dengan diri sendiri ditandai dengan hati tulus melakukan apa yang berguna bagi orang lain tanpa memperhitungkan untung dan ruginya. Ketulusan itu menghasilkan sukacita yang menggetarkan seluruh tubuh, dan membuat hidup cerah, dan ceria dalam bertindak. Di mana ketulusan dinyatakan, di situ akan tercipta senyum indah menghiasi kehidupan. Dalam kontek kini dan di sini ada banyak manusia sekarat dalam wajah murung, bengis, dan sangar… untuk ini perlu kita renungkan apakah sang ketulusan itu telah digerogoti oleh egoism dunia ini?

3. Masa Palmarum adalah masa menggeliatnya PUJIAN. Mulailah semua murid yang mengiringi Dia bergembira dan memuji Allah dengan suara nyaring…”. Pujian itu menggeliat dalam respon amin terhadap karya Tuhan, kesaksian damai atas kehadiran Tuhan, dan pengakuan akan keagungan Tuhan. Semua pujian itu terarah dan tertuju hanya kepada Tuhan. Pujian itu adalah ekspresi emosi manusia secara utuh yang tidak bisa diungkapkan dengan kalimat atau kata untuk menyatakan keagungan Tuhan. Di sana ada luapan hati penuh kegembiraan! Pujian itu sesungguhnya adalah milik dan hak Allah. Apa yang menjadi hak dan milik Allah jangan pernah dirampas oleh manusia, bila itu terjadi kita telah menjadikan diri kita sebagai allah, dan seorang penghianat dalam kemunafikan agama. Dalam konteks kini dan di sini ada banyak praktek ibadah menjadi kering dan hampa kegembiraan… untuk ini perlu kita renungkan apakah pujian itu sudah kita rampas menjadi hak dan milik kita?

Memaknai Minggu Palmarum ini sebagai umat yang menyatu di dalam sembah sujud kepada Tuhan; hiduplah di dalam ketaatan, ketulusan, dan pujian. Salam Palmarum.

Komentar dimatikan

UNGKAPAN SYUKUR DAN DOA

ADVEN II: BENINGKAN JIWA, SUCIKAN HATI, MURNIKAN TINDAKAN
Filipi 1:3-11

u=41792555,3775496751&fm=0Saudara! Hari ini kita masuk dalam Minggu Adven yang kedua. Di Minggu Adven yang pertama kita disapa, dicerahkan dan diteguhkan oleh firman Tuhan dengan satu pernyataan bahwa Tuhan akan menepati janji-Nya. Dia akan datang melaksanakan keadilan dan kebenaran. Melaksanakan karya keselamatan dan memberikan ketenteraman kepada umat-Nya. Sungguh, ini adalah berita sukacita ditengah gumul juang masyarakat untuk memperoleh kehidupan social ekonomi yang berkeadilan, berkesejahteraan, dan berkemakmuran. Sungguh ini adalah dambaan setiap orang ditengah realitas kehidupan yang semakin egois, kasar, dan sangar ini. Ditengah kegaduhan politik “papa minta saham”, masyarakat harap-harap cemas menunggu hasil akhir supaya kebenaran, keadilan, ketentraman di negeri ini tercipta. Sekiranya ini tidak menjadi nyata oleh karena kepentingan-kepentingan sempit, namun penantian akan realitas kehidupan yang semakin baik, benar, adil, dan tenteram akan menjadi fakta di dalam Kristus. Inilah pengharapan yang tidak mengecewakan kita.

Saudaraku! Sembari kita berjalan dalam realitas kegaduhan politik “papa minta saham”, di Minggu Adven yang kedua ini firman Tuhan mengajak kita untuk membangun hidup yang samakin akrab, intim bersama dengan Tuhan, melalui cara hidup beningkan jiwa, sucikan hati, murnikan jiwa: Supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari kristus. Rasul Paulus sadar betul apa artinya hidup di dalam Kristus – itu tidak pernah terpisah dari karakter, perilaku, sikap mental setiap orang. Selama dunia ini masih berputar peristiwa baik dan tidak baik, gelap dan terang, hitam dan putih pasti akan ada. Di dalam realitas kehidupan seperti inilah Rasul Paulus mengajak jemaat Filipi untuk memilih apa yang baik, hidup suci, dan tak bercacat. Tunas kebaikan yang diperankan oleh jemaat Filipi melalui persekutuan di dalam Berita Injil, perbuatan kasih, menjadi lentera ucapan syukur dan doa Rasul Paulus. Dia mengucap syukur kepada Tuhan dan berdoa kepada jemaat Filipi atas buah iman yang diperankan oleh jemaat melalui cara hidup yang semakin berkualitas, (mengasihi, perduli, menghargai kemanusiaan, bermartabat). Pola hidup seperti ini jugalah yang diterapkan orang-orang Kristen perdana: “mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan, dan mereka selau berkumpul… semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama…”” (Kis 2:41-47). Prinsip yang dibangun adalah pengakuan yang tulus serta penghayatan yang dalam, bahwa hidup adalah persekutuan yang saling membutuhkan. Rasul Paulus di dalam penjara dan jemaat Filipi menunjukkan perbuatan kasihnya kepadanya. Dengan perbuatan ini Rasul Paulus mengucap syukur dan berdoa, mendoakan jemaat Filipi. Inilah yang disebutkan persekutuan yang saling membutuhkan.

Saudaraku! Melalui nas khotbah di Minggu Adven yang kedua ini, paling tidak ada tiga hal yang harus dipergumulkan dan dimenangkan.

Pertama: Masa Adven adalah masa membangun hidup doa dan ucapan syukur. Rumusan lain dari kalimat ini adalah beningkan jiwa, sucikan hati, murnikan tindakan. Dalam kebeningan jiwa Rasul Paulus berdoa dan mendoakan jemaat Filipi; dalam kesucian hati Rasul Paulus mengucap syukur kepada Tuhan; dan dalam keterpenjaraan Rasul Paulus memurnikan tindakannya memberitakan Injil. Permenungan kita adalah: Sudahkah kita menjadi orang Kristen yang berdoa mendoakan orang lain? Sudahlah kita menjadi orang Kristen yang selalu mengucap syukur? Sudahkan kita menjadi orang Kristen yang murni di dalam tindakan? Hati Paulus meluap dalam ucapan syukur dan doa atas kemitraan orang-orang percaya di Filipi dalam pekerjaan pelayanan Injil, serta ia mengungkapkan kerinduannya yang mendalam agar mereka terus bertumbuh di dalam kasih dan ketajaman wawasan. Hati yang penuh syukur, bukan saja merupakan kebajikan yang terbesar, melainkan induk dari segala kebajikan yang lain. Minggu Adven ini mengajak kita untuk melakukan itu.

Kedua: Masa Adven adalah masa membangun hidup yang semakin berkualitas. Hidup berkualitas yang dimaksud bukan dilihat dalam lingkaran perolehan gelar yang berderet, perolehan kedudukan atau jabatan strategis, pula bukan perolehan materi yang bertabur, tetapi adalah lebih menekankan arti atau makna hidup kita kepada orang lain. Adakah hidupmu mempunyai arti kepada orang lain? Adakah makna gelar, kedudukan atau jabatan yang kita sandang kepada orang lain? Adakah arti dan makna materi yang kita miliki kepada orang lain?. Jemaat Filipi dengan hidup persekutuan di dalam Berita Injil saling mengasihi, peduli terhadap kemanusiaan, kaya di dalam kemurahan, dan menyukakan diri terhadap perbuatan baik. Inilah hidup yang berkualitas. Makna hidup bukan ditentukan oleh banyaknya yang di peroleh, tetapi apakah ada makna yang diperoleh itu kepada orang lain? Makna hidup tergantung pada apa yang kita berikan, bukan pada apa yang kita peroleh.

Ketiga: Masa Adven adalah masa memilih yang baik, yang suci, dan tidak bercacat. Hidup memiliki tujuan, dan supaya sampai kepada tujuan harus ada pilihan, jalan mana yang kita pilih. Ketika pilihan salah tidak mungkin sampai kepada tujuan. Demikian pula halnya dengan hidup orang Kristen, ada tujuan yang pasti yaitu kerajaan Tuhan. Supaya sampai ke sana jalan yang kita pilih adalah percaya kepada Kristus dan meneladani citra Kristus. Itulah sebabnya Rasul Paulus mengatakan kepada jemaat Filipi “sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci, dan tidak bercacat menjelang hari Kristus”. Orang yang dilimpahi banyak karunia, dituntut untuk berbuat banyak kebaikan.

BENINGKAN JIWA, SUCIKAN HATI, MURNIKAN TINDAKAN

Komentar dimatikan

PERJANJIAN DENGAN KETURUNAN DAUD DAN LEWI

ADVEN I : TUHAN MENEPATI JANJINYA
Jeremia 33:14-16

sawah-subakSaudaraku! Tidak ada kebahagiaan terbesar bagi seorang yang terpenjara selain berita bahwa “ANDA AKAN DIBEBASKAN”; bagi prajurit yang terkepung dengan berita bantuan sudah datang; bagi orang yang tertindas dengan berita anda dilindungi dan dibela; bagi orang yang ditolak dengan berita anda diterima… dll. Inilah sesungguhnya makna Adven – bergerak secara bebas dalam realitas pengharapan memaknai setiap peristiwa kehidupan. Adven adalah penantian akan sebuah realitas kehidupan yang semakin berkualitas, bergairah, berwibawa, dan penuh sahaja pun berjiwa. Bentuk kehidupan seperti ini tidak pernah diberikan dunia ini, tetapi sesungguhnya datangnya dari Tuhan sang pencipta kehidupan. Melalui Minggu-minggu Adven sesungguhnya Tuhan mengatakan kepada kehidupan: di dalam kesesakan dan keletihanmu – Aku ada! Di dalam rasa perih dan sakitmu – Aku bersamamu! Di dalam keterpurukan dan pergumulanmu – Aku mendampingimu! Di dalam kesunyian dan kekosonganmu – Aku disampingMu!. Itulah sebabnya setiap orang yang melibatkan dirinya dalam masa-masa Adven adalah orang orang yang hatinya tergerak dalam gumul juang spritualitas melihat karya kreatif Kristus yang membebaskan, dan sekaligus meluruhkan hati, pikiran, dan kekuatannya di dalam kuasa Kristus sumber pengharapan yang tidak mengecewakan. Begitu agungnya masa-masa Adven ini. Melarutlah di dalamnya.

Saudaraku! Kepada kaum Israel, dan kaum Yehuda yang sedang megalami keterpurukan di dalam pembuangan Babel, Allah berkata melalui Jeremia: “waktunya akan datang, bahwa Aku akan menepati janji yang telah Kukatakan…Aku akan menumbuhkan Tunas keadilan (yaitu: Yesus Kristus). Ia akan melaksanakan keadilan dan kebenaran; Yehuda akan dibebaskan, Yerusalem akan hidup dengan tenteram. Tuhan keadilan kita! Begitu hebat penderitaan yang mereka alami bukan hanya secara psikis, tetapi juga hidup batin yang tertindas. Seluruh lini kehidupan mereka berada di dalam lingkaran kesesakan dan keterpurukan. Harapan untuk mengalami hidup yang lebih baik telah ditelan oleh pekat gelapnya derita kehidupan. Dalam konteks hidup seperti inilah Tuhan berkata kepada Jeremia waktuNya akan datang. Muatan kata “waktunya..” bukan dipahami dalam persoalan, jam, hari, minggu, atau tahun, tetapi adalah keberadaan Tuhan sebagai sang pemilik waktu. Dia tidak pernah dibatasi dan ditentukan oleh waktu, namun Dia bebas berkarya di setiap waktu. Yang menentukan karya Tuhan bukan waktu, namun disetiap waktu dia bebas melaksanakan karya ilahiNa yaitu keadilan, kebenaran, kebebasan, dan ketenteraman serta kedamaian untuk umatNya.

Saudaraku! Di dalam Minggu Adven yang pertama ini, firman Tuhan mencerahkan kita untuk memaknai hidup bahwa:

Pertama: Masa Adven adalah masa penantian yang penuh harapan. Berbahagialah setiap orang yang menaruh harapannya kepada Tuhan. Dalam konteks kini dan di sini ada banyak hal yang kita harapkan. Secara pribadi atau pun keluarga kita mengharapkan pertumbuhan ekonomi yang semakin baik, relasi intimitas keluarga yang semakin menggairahkan, memperoleh solusi dari setiap keletihan, dan persoalan yang kita hadapi. Secara kebangsaan dan hidup bernegara kita mengharapkan komunikasi politik yang saling membangun antar faksi tercipta, komunikasi yang saling menyemangati antar eksekutif, yudikatif, dan legislative tertata baik. Dan focus kerja berorientasi keadilan, kebenaran, dan kesejahteraan rakyat semakin berkualitas. Pengharapan untuk hidup seperti ini selalu tumbuh mekar bagi orang-orang yang melarut dalam masa-masa Adven.

Kedua: Masa Adven adalah masa membangun kepedulian terhadap realitas social. Benar bahwa bumi yang kita diami sekarang adalah bumi yang semakin garang dan sesungguhnya tidak layak lagi untuk dihuni. Kekerasan sudah menjadi tontonan yang tidak memalukan setiap hari baik antar kelompok masyarakat; kelompok organisasi keagamaan yang kerab menaburkan kebencian dan sikap permusuhan. Asyik hanya memikirkan kepentingan faksi tanpa malu mengatasnamakan kepentingan rakyat dengan sumbringan bibir penuh racun. Oleh karena itu seruan masa Adven adalah berhenti untuk egois, menghakimi, berhenti untuk bersungut-sungut, berhenti untuk menyerah terlebih apatis. Kembali merajut kepedulian terhadap kehidupan adalah jiwa masa-masa Adven.

Ketiga: Masa Adven adalah masa menikmati intimitas bersama Tuhan. Segala sesuatu yang kita miliki saat ini tidak dapat menjanjikan pengharapan yang kekal bagi kita. Pekerjaan atau jabatan apapun memang sangat penting, namun tidak dapat menjanjikan kedamaian dan ketenteraman bagi kita, bahkan seringkali pekerjaan atau jabatan itu menjadi masalah ketika kita menyalahgunakannya. Oleh sebab itu kita tidak dapat menaruh pengharapan kita sepenuhnya di atas semuanya itu. Tetapi Tuhan itu setia terhadap janji-Nya dan Dia berkuasa melaksanakan janji-Nya. Dan pengharapan kita ialah bahwa Tuhan akan melaksanakan kebenaran dan keadilan di dalam kehidupan kita, baik secara pribadi, keluarga, maupun bangsa ini. Hati yang merindu kepada Tuhan adalah roh Adven. Selamat Minggu Adven.

TUHAN BERKATA:
AKU AKAN MENEPATI JANJI YANG TELAH KUKATAKAN

Komentar dimatikan

KEWASPADAAN

ANDA MAU MENGALAMI HIDUP BERBAHAGIA?
Lukas 12:35-43

Jadilah kamu manusia yang pada kelahiranmu…
Semua orang tertawa bahagia,
tetapi hanya kamu sendiri yang menangis..
Dan pada kematianmu, semua orang menangis sedih,
tetapi hanya kamu sendiri yang tersenyum…

10387334_10203062344060801_1072204530445235424_nSaudaraku! Hari ini kita memasuki Minggu akhir tahun gerejawi, dan hari ini di gereja HKBP adalah waktu permenungan untuk mengingat saudara-saudara, keluarga, dan sesama kita yang telah lebih dahulu meninggalkan kita. Nama-nama mereka akan dibacakan. Minggu akhir tahun gerejawi ini mengingatkan kita bahwa waktu yang kita diami ini mempunyai titik akhir (linier), dan seiring dengan itu, semua yang hidup di dalam waktu akan berakhir juga. Bila gereja HKBP membacakan nama-nama mereka yang telah meninggal, itu juga mengingatkan kita bahwa hidup setiap orang akan mengalami dan sampai ke titik akhir. Hidup kita sekarang sedang berjalan menuju titik akhir. Kapan itu terjadi? Seorang pun tidak tahu, tetapi itu adalah pasti. Bertitik tolak dari iman dan untuk iman yang utama bukanlah persoalan waktu yang akan berakhir, namun adalah karya atau makna apa yang diukir di dalam waktu itu sediri. Yang penting bukan seberapa lama kita hidup, seberapa panjang umur yang kita miliki, apa dan bagaimana peristiwa kematian itu terjadi, namun yang terpenting adalah perbuatan apa yang kita ukir di dalam waktu. Apakah perbuatan kebajikan atau kesiasiaan? Apakah kebenaran atau kecurangan? Apakah kesucian atau kenajisan? Apakah karya yang menghidupkan atau kematian? Apa pun itu, semua akan diberi pertanggunganjawab kepada sang pemilik waktu. Kepada mereka yang hidup di dalam kebajikan, kebenaran, dan kesucian, (hidup berjaga-jaga) Yesus berkata: Berbahagialah hamba-hamba yang di dapati tuannya berjaga-jaga ketika Ia datang.

Saudaraku! Kepada para murid-muridNya Yesus membuat sebuah perumpaan tentang kedatangan Kristus (parusia), seperti seorang tuan yang sedang bepergian ke pesta perkawinan. Kapan Dia pulang itu bukan urusan hamba-hambaNya, namun adalah pasti tuannya akan pulang apakah tengah malam atau dinihari adalah hak mutlak dari tuannya. Seorang hamba yang baik akan melaksanakan tugasnya dengan baik dan sungguh sebagaimana statusnya sebagai seorang hamba yaitu membaktikan seluruh pikiran, tenaga, kecakapannya, waktunya, hidupnya kepada sang tuannya. Kepada hamba seperti inilah Yesus mengatakan: “Berbahagialah hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga…”, (ay 37). Sebagai permenungan untuk kita: Apakah kita adalah hamba yang baik dan dapat dipercaya? Apakah kita sudah membaktikan seluruh hidup kita untuk tugas dan pekerjaan yang disukakan oleh Tuhan? Ketika Tuhan hadir, apakah kita sudah kedapatan berjaga-jaga?

Saudara! Ada dua gambaran dari Seorang hamba yang siap dan berjaga-jaga ialah:

Pertama: Hendaklah pinggangmu tetap berikat. Kata hendaklah pinggangmu tetap terikat, ini diambil dari dunia kemiliteran, di mana seorang prajurit yang maju ke medan perang harus mengenakan ikat pinggang sebagai tanda kesiapan, kewaspadaan, dan berjaga-jaga. Ketika musuh datang dia sudah siap menghadapinya. Ketelodoran adalah pintu masuk dari kekalahan. Dalam menantikan kedatangan Kristus (parusia) hal yang sama berlaku yaitu kesiapan, kewaspadaan, dan hidup berjaga-jaga dengan mengenakan perlengkapan rohani yaitu kebenaran, keadilan, damai sejahtera, doa, dan hidup di dalam firman Tuhan, (bnd. Efesus 5:10-20).

Kedua: Pelitamu tetap menyala. Dari sepuluh gadis yang mempersiapkan dirinya menyonsong mempelai laki-laki, hanya lima orang yang bijaksana. Dikatakan bijaksana karena mereka mempersiapkan minyak dalam buli-buli mereka. Mereka tidak menggantungkan hatinya kepada batasan waktu, namun disepanjang waktu mereka kedapatan siap sedia, (bnd. Matius 25: 1-13). Mereka sadar bahwa bukan waktu yang menentukan kehadiran sang mempelai, tetapi mempelailah yang menentukan waktu kehadirannya. Oleh karena itu tidak seorang pun yang dapat menentukan kapan kedatangan Kristus, namun bagi orang yang bijaksana dia akan mempersiapkan dirinya dengan sebaik-baiknya menantikan kedatangan Kristus.

Saudaraku! Di dalam memasuki minggu akhir tahun gerejawi, sekaligus gereja HKBP membacakan nama-nama mereka yang telah meninggal dalam kurun waktu satu tahun ini, juga dalam konteks bumi yang semakin rusuh ini, apa pesan nas ini kepada kita:

Pertama: Selagi hari masih siang maknailah kehidupan dengan karya kreatif Kristus. Yang penting bukan seberapa lama kita hidup, pula bukan kenapa kita meninggal, berapa usia kita, pula bukan kenapa kita miskin dan kaya; namun terpenting adalah karya apa yang kita ukir dalam hidup, dalam usia, dalam kekayaan dan kemiskinan kita. Bila yang kita ukir adalah hidup yang berpadanan kepada kehendak Tuhan, sebagai gambaran siap-sedia, berjaga-jaga dan waspada, maka berbahagialan Anda.

Kedua: Senantiasa hidup berjaga-jaga, dan sadar (torang ma rohamu). Hidup sadar adalah hidup yang tidak serupa dengan dunia ini, dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah. Hidup menjadi serupa dengan dunia ini akan membuat manusia larut dalam ketidaksadaran. Gereja (baca: orang percaya) hadir di dunia ini adalah untuk membarui. Membarui sistem kekuasaan yang menindas, membarui sistim kemasyarakatan yang tidak adil, membarui sistim ekonomi yang tidak memihak kepada orang-orang lemah dan miskin, membarui sistim peradilan yang acap memenangkan perkara “orang-orang besar”.

Ketiga: Berikatpinggankan kebenaran, dan pelitamu tetap menyala. Seorang prajurit yang siap maju ke medan pertempuran sudah pasti akan mempersiapkan dirinya dengan perlengkapan-perlengkapan perang. Gereja (baca: orang percaya) adalah prajurit Kristus yang maju ke tengah-tengah dunia ini. Tanpa perlengkapan senjata rohani sudah pasti orang-orang percaya akan menjadi mangsa dari roh-roh dunia ini. Supaya menang pilihan satu-satunya adalah berbajuzirahkan iman, (manoluk haporseaon). Kesetiaan beriman kepada Kristus adalah obor kemenangan, dan sinar masa depan untuk hidup yang dicerahkan dan diselamatkan.

Dalam praksis kehidupan ingatlah: Kegelapan tidak bisa mengusir kegelapan, yang mungkin bisa melakukan itu adalah terang. Kebencian tidak mungkin bisa mengusir kebencian, yang mungkin bisa melakukan itu adalah cinta kasih. Kekerasan tidak mungkin bisa mengusir kekerasan, yang mungkin bisa melakukakan itu adalah kedamaian. Hiduplah senantiasa dalam sikap berjaga-jaga, karena apabila Dia datang Anda didapatinya siap sedia. Amin.

BERBAHAGIALAH HAMBA-HAMBA
YANG DIDAPATI TUANNYA BERJAGA-JAGA
KETIKA IA DATANG

Komentar dimatikan

YESUS MENYEMBUHKAN BARTIMEUS

KUATKANLAH HATIMU, BERDIRILAH, IA MEMANGGIL KAMU
Markus 10:46-52

3218Saudaraku! Rasa-rasanya duka atas peristiwa Tolikara dalam suasana Idul Fitri beberapa bulan yang lalu belum sepenuhnya tuntas. Pada Minggu lalu kita kembali merasakan keprihatinan dan menyesalkan atas peristiwa yang lebih tragis yang terjadi di Singkil Aceh. Pembakaran, pembongkaran, kekerasan, intimidasi dan perusakan tempat ibadah atas nama agama dipertontonkan oleh sekelompok orang yang menyebut dirinya pengawal regulasi untuk kerukunan ber-agama. Dan yang paling menyedihkan negara tidak saja tidak hadir tetapi juga menjadi inisiator dan pelaku kekerasan tersebut. Peristiwa ini tentu saja menambah daftar panjang tentang adanya berbagai bentuk kekerasan atas nama agama; dan menunjukkan bahwa belum sepenuhnya semua warga negara mendapatkan kebebasannya untuk mengekspresikan agama dan keyakinan masing-masing. Kedamaian dan kerukunan umat beragama ternyata masih jauh dari yang kita harapkan. Mengungsi menjadi pilihan yang sangat terpaksa untuk memperoleh ketenangan dan kenyamanan. Sangat memprihatinkan dan sangat menyedihkan peristiwa ini terjadi di Negara yang menjamin kebebasan beribadah. Buta dan buta itulah sebutan yang tepat bagi pelaku tindakan kekerasan ini.

Saudaraku! Menghadapi peristiwa ini kita harus tegar dan tenang, tidak juga membalas kekerasan dengan kekerasan, perusakan dengan perusakan, namun juga bukan menjadi bulan-bulanan akan tindakan kekerasan, Sebagai umat kristiani sekaligus warga Negara yang baik, kita harus mempertanyakan, dan mengkritisi segala tindakan yang mengabaikan martabat kamanusiaan apa pun sukunya, bahasanya, dan agamanya. Sebagai umat Kristiani kita harus tegak berdiri mendoakan pemerintah, memberi kontribusi baik untuk pembangunan sebuah bangsa yang berdaulat, berwibawa, dan bermartabat. Sebagai umat kristiani kita harus berdiri menjungjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dalam terang iman kepada Kristus yang mencintai kemanusiaan, membela orang-orang lemah, mengangkat hak-hak orang miskin, serta membebaskan manusia dari keterpurukannya karena dosa. Inilah karya kreatif Kristus di dalam kehidupan bumi yang garang dan rusuh ini mewujudkan kehidupan yang merdeka dan bebas. Karya Kreatif Kristus ini jualah yang menjadi inspirasi dan teladan bagi seluruh umat Kristiani untuk menyikapi dinamika kebebasan beribadah yang terganggu, dan sengaja diganggu oleh roh-roh arogansi sektoral, yaitu tampil membela, mengangkat, membebaskan manusia.

Saudaraku! Yesus menyembuhkan Bartimeus, seorang pengemis yang buta. Pertemuan dengan Yesus mengubahkan kehidupan, menciptakan habitus baru, mewujud dalam prespektif kemanusian yang penuh gairah untuk melihat betapa mulianya manusia di dalam karya Tuhan. Bartimeus seorang pengemis yang buta berseru kepada Yesus: “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!”. Seruan ini direspon oleh Yesus dengan berkata kepada muridNya: “Panggilah dia”! dan selanjutnya murid berkata kepada Bartimeus: “Kuatkanlah hatimu, berdirilah, Ia memanggil engkau”. Selanjutnya Yesus menjumpai Bartimeus, dan berkata: “Apa yang kaukehendaki supaya kuperbuat bagimu?”. Bartimeus pengemis yang buta menjawab Yesus:”Rabuni, supaya aku dapat melihat!”. Yesus bertindak dan berkata kepadanya: “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau” dan pada saat itu juga Bartimeus dapat melihat dan mengikuti Yesus. Yesus yang penuh kemurahan dan welaskasih akan selalu memberi kebaharuan dalam hidup manusia apabila manusia dengan hati tulus dan rela merebahkan diri di hadapan Tuhan.

Saudaraku! Melalui nas ini paling tidak ada 3 pesan berharga yang patut kita amini dan teladani untuk menghadapi dinamika perjalanan kehidupan yang semakin rusuh dan garang ini.

Pertama: Berserulah kepada Tuhan, karena Dialah solusi dari setiap persoalan yang kita hadapi. Mungkin kita sedang menghadapi jalan buntu yang terlihat seperti tidak lagi punya solusi atau harapan, ini saatnya untuk belajar mengambil keputusan seperti Bartimeus. Ia datang dan berseru-seru kepada Tuhan dengan mengedepankan imannya, dan lihatlah bagaimana Tuhan lantas merespon seruannya. Hal ini tepat seperti yang dikatakan Daud dalam salah satu Mazmurnya: “Orang yang tertindas ini berseru, dan TUHAN mendengar; Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya.” dan “Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya.” Dalam konteks perjuangan kebebasan beribadah kita mengetahui bahwa belum sepenuhnya semua warga negara mendapatkan kebebasannya untuk mengekspresikan agama dan keyakinan masing-masing. Padahal kita semua tahu bahwa UUD 45 menjamin kebebasan beragama. Sepertinya kita sedang mengalami jalan buntu saat ini karena regulasi – regulasi yang tidak memerdekakan. Memaknai jalan buntu ini disamping kita harus terus berjuang, marilah kita menyatukan seruan kita kepada Tuhan: “Kasihanilah kami ya Tuhan”.

Kedua: Percayalah, jangan ragu dan jangan bimbang bahwa Tuhan mengasihimu. Bartimeus mengalami jamahan dan pemulihan Tuhan yang ajaib, dan itu karena ia memiliki iman percaya kepada Yesus. Pemulihan terjadi adalah karena hakikati Yesus yang mengasihi yang diterima dalam iman, bukan karena ukuran kebaikan, kecantikan, kecakapan manusia itu sendiri. Bartimeus memperoleh kuasa kesembuhan dari Yesus, dan itu terjadi karena sifat ke-ilahian Kristus yang mengasihi kehidupan. Dalam konteks saudara-saudara kita yang sedang mengungsi dari daerah Aceh Singkil saat ini, kita melihat dan percaya bahwa Tuhan mengasihi kehidupan mereka, dan akan memulihkan kehidupan mereka untuk sebuah habitus yang baru di dalam Tuhan.

Ketiga: Tetaplah setia mengikuti Kristus dalam kehidupanmu, jadilah penyembuh bagi orang lain. Bartimeus mengikuti Yesus dan dia menjadikan dirinya menjadi bagian dari missi Yesus. Dia bukan hanya mengalami sukacita untuk dirinya sendiri, tetapi merayakan sukacita dalam misi kesembuhan Kristus. Hidup yang sudah dibaharui Kristus akan sampai kepada maksud dan tujuan Kristus apabila kita juga ikut dalam arak-arakan kesembuhan kepada orang lain. Inilah kesaksian kita sekarang dalam konteks banyaknya intimidasi, kekerasan, pembunuhan, dan kebencian yang dipertontonkan oleh sekelompok orang tanpa rasa malu membakar, dan membongkar rumah-rumah ibadah. Sekalipun ini dihadapi oleh umat Kristiani di Aceh Singkil, namun misi kita sebagai umat Kristiani adalah bergerak maju dalam arak-arakan kesembuhan bagi orang lain.
KUATKANLAH HATIMU, BERDIRILAH, IA MEMANGGIL KAMU

Komentar dimatikan

ACARA PESTA GOTILON (INKULTURATIF)

I. PARMINGGUON
1. ACARA PROSESI (INTROITUS) :

Pandita dohot sude Sintua, Panitia Peletakan Batu Pertama, Panitia Pembangunan, Panitia Taon Parompuan: Prosesi diiringi/disambut tim tortor jala marbaris ma di jolo mangadop ruas. (Musik: Marolopolop Tondingki)
……………….JONGJONG MA RUAS…………………………

L1 : Huria ni Debata na hinaholongan ni Tuhanta Jesus Kristus, hami saluhut Parhalado, pasahathon tabe ma tu sude hamu ruas ni huria: Asi ni roha ma di hamu, jala dame na sian Tuhanta, ima na mangaramoti hita saluhutna.

L2 : Dibagasan sadari on tung tama do hita mandok mauliate tu Debata, di saluhut pandonganion dohot pangaramotion ni Debata di pardalanan ni ngolunta. Sadarion, naeng patupaonta ma Peletakan Batu Pertama Pembangunan Bagas Joro ni Tuhanta na niuluhon ni amanta Praeses. Puji ma Tuhanta, tahamauliatehon ma denggan ni basaNa. Beta ma hita nangkok tu Betel, asa hupauli disi sada langgatan di Debata, na mangalusi ahu di ari hagogotanki, jala didongani ahu di dalan na hudalani i. Martua ma angka na mangingani bagasMu, sai Ho do pujionnasida.

L1 : Laos di pestanta sadari on, patupaonta ma PESTA PEMBANGUNAN, PESTA GOTILON dohot PESTA TAON PAROMPUAN NI HURIANTA. Antong parjolo ma jolo husise hami hamu sude Parompuan ni hurianta: PAROMPUAN…!

Sude Parompuan: MENJADI BERKAT…!

L2 : PAROMPUAN..!

Sude Parompuan: MENJADI BERKAT…!

L1 : PAROMPUAN ..!

Sude Parompuan: MENJADI BERKAT…!

L2 : Nunga 154 taon HKBP di ari 07 Oktober 2015 na salpu, jala nunga jongjong HKBP Cimahi Jl. Sisingamangaraja di luat on: 62 taon. Dipasupasu Tuhanta do huriaNa, lobi sian i tahe, diparar do tingki, gogo, pingkiran nang panghobasion ni angka Ina di huriaNa. Ina Batak, Ina Soripada, Ina siboan tua dohot Ina siboan las ni roha ma sude Ina. Antong di las ni rohanta manghamauliatehon denggan ni basaNa, taendehon ma “Tarbege do Panjou ni Kristus”

Mangendehon BE. No. 519: 1-2 “Tarbege do Panjou ni Kristus”
Tarbege do panjou ni Kristus torus ditano Batak i
Ise na sumeahon hosa, ise mangkophop dongan i
Hita sude, naeng marade nang dilele, da, haposanna di Debata
Na olo hita Paboahon Holong do Jesus Tuhan i
Naung saut malua do dibahen Ama nang ina Batak i
Hita sude naeng ma rade nang di lele da haposan ma di Debata

L1 : Saluhutna i tung asi ni roha ni Debata do i tu hita. Ala ni tapuji ma Tuhanta jala tasomba ma Ibana, taendehon ma “Somba ma Jahowa”
(Praeses dohot sude Parhalado, Panitia
masibuat hundulanna be; sude ruas hundul)

J : (mangendehon BE.No. 585: 1 “Somba ma Jahowa”)

Somba ma Jahowa Debatanta, Amen haleluya
Sigomgom langit, tano on, ro di isina, Amen haleluya
Beta hita lao marsinggang tu joloNa, Amen haleluya
Na songkal jala na badia do Jahowa, Amen haleluya
Endehon amen haleluya, endehon Amen haleluya
Endehon amen haleluya, endehon Amen haleluya

L2 : Tung so tarasam hita do balga ni holong ni roha ni Debata, dibagasan pardalan ni ngolunta, jala tung so hasuhatan do denggan ni basaNa. Nuaeng marpungu do hita di bagas joro on, patupahon Peletakan Batu Pertama, Pesta Pembangunan, Pesta Gotilon manghalashon Pasu-pasu ni Debata na tajalo dibagasan ngolunta, dohot Pesta Taon Parompuan di Hurianta on, asa tarjou do sude Ina gabe PELOPOR DI PEMBARUAN, PENDAMAIAN DOHOT PEMBERDAYAAN KELUARGA, GEREJA NANG MASYARAKAT.

L1 : Didok hata ni Debata: Puji hamu ma Ibana mardongan soara ni sarune, puji hamu ma Ibana mardongan arbab dohot sordam. Puji hamu ma Jahowa mardongan tali sayak dohot panontoron na marliat, puji hamu ma Ibana mardongan hasapi dohot tulila. Puji hamu ma Ibana mardongan ogung panggora, puji hamu ma Ibana mardongan ogung panonggahi (Psalm 150:3-5)! Antong tapuji ma Tuhanta marhite ende “Puji ma Jahowa Debatanta”, laos jongjong ma hamu!

J : (mangendehon BE, No. 585: 2 “Somba ma Jahowa”)
Puji ma Jahowa Debatanta, Amen haleluya
Parasiroha na sumurung do Ibana, Amen haleluya
Taendehon ma goar ni Debatanta, Amen haleluya
Ala ni denggan ni basaNa na tu hita, Amen haleluya
Endehon amen haleluya, endehon Amen haleluya
Endehon amen haleluya, endehon Amen haleluya

2. MARSOMBA TU DEBATA:

L2 : Na marpungu do hita ruas ni huria HKBP Cimahi Jl. Sisingamangaraja, marlas ni roha, marriaria jala marolopolop manghalashon denggan basa ni Jahowa di Pestanta sadarion. Ibana do mual ni pasupasu dohot hangoluanta. Nuaeng pe pataridahononta ma parsombaonta, panindangionta, dohot las ni rohanta di pasupasu ni Jahowa naung tajalo, marhitehite budaya ha-Batakonta.

Antong amang pangual pargonsi:
Alualuhon ma jolo tu Debata Ama, na manompa langit dohot tano on, dohot nasa isina, ima TUHAN JAHOWA, Ama na hutanda hami di bagasan goar ni AnakNa Jesus Kristus.
……(manghuling taganing)…..

Alualuhon ma tu Tuhan Jesus Kristus, Anak ni Debata na sasada i, na paluahon hami sian dosa dohot hamatean marhite mudarNa na badia i.
…..(manghuling taganing)…..

Alualuhon ma tu Tondi Porbadia na ruar sian Ama i dohot sian AnakNa Tuhan Jesus Kristus, na pajongjong huria na badia i.
…… (manghuling taganing)……

L1 : On pe Amang panggual pargonsi, na marmula do nasa na adong, jala Debata do haroroan ni saluhutna! Nuaeng bahen damang ma jolo gondang mula-mula laos padomu ma dohot gondang somba-somba i, asa di pesta Peletakan Batu Pertama, Pesta Pembangunan, Pesta Gotilon dohot Pesta Taon Parompuan sadari on, jolo marsomba hami tu jolo ni Tuhan, Debata Jahowa na sasada i, na tumompa langit dohot tano on, dohot tu AnakNa Tuhan Jesus Kristus naung mate humophop hita jala mulak mangolu, dohot tu Tondi Porbadia na mangalehon hasesaan ni dosa, las ni roha dohot ngolu na imbaru na so ra suda i”.
[—- manortor ruas di ingananna be, tortor sombasomba —-]

L2 : Nunga Husomba hami be Tuhan Jahowa marhite tangan, simanjujung, dohot roha. Nuaeng pe amang panggual pargonsi, naeng liathononnami ma Kristus silehon pasupasu, songon panindangionnami tu portibi on, alani: bahen damang ma gondang liatliat i, asa mangaliat hami manghalashon jala manghamauliatehon pasu-pasu ni Debata naung sahat tu hami be, asa mangaliat hami mangolophon hangoluan naung pinatupa ni Tuhan Jesus i, asa mangaliat hami di Pesta Peletakan Batu Pertama, Pesta Pembangunan, Pesta Gotilon dohot Pesta Taon Parompuan sadari on, asa mangaliat hami mamaritahon Barita na Uli jala patupahon ulaon asi ni roha i, asa Hat hahorasan, Hat las ni roha, Hat hadameon, Hat hasonangan tu bangsonami.
[—- manortor ruas di ingananna be tortor liat-liat….]

L1 : Pinuji ma Tuhan i na mangalehon pasupasuNa marhitehite Kristus si lehon pasupasu. Di Ibana hasangapon, hamuliaon, dohot hahormaton ro di saleleng ni lelengna. Antong “Amang panggual pargonsi, bahen damang ma gondang sitiotio i, asa tongtong tio ulaonnami jala tiur ngolunami, tangkas parrohaonnami jala torang pingkirannami, pita haporseaonnami jala polin holongnami di pesta Peletakan Batu Pertama, Pesta Pembangunan, Pesta Gotilon dohot Pesta Taon Parompuan, laos padomu ma dohot gondang hasahatan siala nunga sahat pasupasu na pinatupa ni Kristus i, sahat ditongoshon Tuhan i denggan basaNa, jala sahat hami tu hahorason, hadameon dohot hangoluan na imbaru……”
[—- manortor ruas di ingananna be, tortor sitiotio dohot hasahatan….]

L2 : Tu hita saluhut na liat na lolo, nunga tapataridahon be las ni rohanta di Pesta Peletakan Batu Pertama, Pesta Pebangunan, Pesta Gotilon dohot Pesta Taon Parompuan ni hurianta, jala nunga tapatuduhon parsombaonta tu Jesus Kristus si lehon pasu-pasu tu ngolunta. Ibana do Raja na mamasumasu boni ni angka na taula, jala laos Ibana do silehon hangoluan di hita. Antong tapuji ma Tuhanta marhite Buku Ende “Sangap di Jahowa Debatanta”

J : (mangendehon BE, No. 585: 3 “Somba ma Jahowa”)
Sangap di Jahowa Debatanta, Amen haleluya
Na bonar jala marmulia do Jahowa, Amen haleluya
Tapatimbul ma goar ni Debatanta, Amen haleluya
Na tigor jala na sun gogo salelengna, Amen haleluya
Endehon amen haleluya, endehon Amen haleluya
Endehon amen haleluya, endehon Amen haleluya.

3. VOTUM – INTROITUS – TANGIANG!
L1 : Marhitehite Goar ni Debata Ama dohot Goar ni AnakNa Tuhan Jesus Kristus dohot Goar ni Tondi Parbadia na tumompa langit dohot Tano on.

H : Amen.

L2 : Gok di Jahowa do tano on ro di isina, portibi on dohot pangisina.

H : Ai Ibana do paojakhonsa di atas ni angka laut, jala dipahot di atas ni angka batang aek

L1 : Ise do na jadi nangkok tu dolok ni Jahowa? Jala ise do na hum jongjong sogot di hajongjongan ni habadiaonNa i?

H : Halak partangan na lidang dohot na ias roha

L2 : I ma halak na maruli pasupasu sian Jahowa, dohot hatigoran sian Debata ni hatuaonna i. Haleluya.

H : (mangendehon): Haleluya-Haleluya-Haleluya.

L1 : Martangiang ma hita: Ale Tuhan Debata, Amanami na di banua ginjang ! Ho do haroroan ni sude denggan basa na marragamragam i. Alani pasupasuM do umbahen marparbue sude na niula ni tangannami, jala diparmudu Ho do hami na tinompaM, asa unang rapar. Sian tanganMu do sude hujalo hami, nasa na denggan tu dagingnami dohot tu tondinami, jala asi ni rohaM do na mangaramoti hami. Mauliate ma rohanami di Ho. Pasupasu ma hami sadari on manghalashon dohot patupahon “Peletakan Batu Pertama” pajongjong bagas Joro na imbaru di inganan on. Pasupasu ma nang Pesta Pembangunan dohot Pesta Taon Parompuan ni huriaM. On pe, sai jalo ma hamauliateon ni rohanami. Angkup ni i, sai lehon ma TondiM tu hami, na mamuhai dohot patiurhon mata ni rohanami, asa lam huida hami sude na denggan, sude na uli na pinatongonMi tu hami, asa lam ringgas rohanami mamuji dohot pasangaphon Ho marhitehite Tuhan Jesus Kristus, Tuhannami. Amen. —- hundul —-

4. MARENDE BE.No. 214: 1+3 “ Sonang di Lambung Jesus”
Sonang di lambung Jesus, sonang na ro tu si
Unang be ho mabiar, lao mandapothon i
Tongtong dijouhon Jesus, sai ro ma ho tu Au
Tadingkon haholomon, jala haposi Au
Sonang di lambung Jesus, sonang na ro tu si
Unang be ho mabiar, lao mandapothon i

Jesus haholonganku Jesus haposanki
Saleleng au mangolu Dohot di tingkingki
Ndang be huhabiari Angka pangago i
Ai diramoti Jesus Au hinophopNa i.
Jesus haholonganku Jesus haposanki
Saleleng au mangolu Dohot di tingkingki

5. PATIK:
L2 : Didok hata ni umpama: Tinallik bulung sihupi, pinarsaong bulung siala; sotung sumulsol di pudi, ndada sipaingot na soada. Antong tangihon hamu ma Patik ni Debata di Minggunta sadari on, ima na tarsurat di Mateus 22: 37-40: Jadi didok Jesus ma: Sihaholonganmu do Tuhan Debatam sian nasa ateatem, sian nasa hosam dohot sian nasa roham!

H : I do patik raja jala parjolo.

L1 : Alai dos do arga ni na paduahon on: Sihaholonganmu do donganmi doshon dirim!

H : Patik na dua on do mangkangkam nasa patik dohot hata ni panurirang.

L2 : Antong nunga dibege hamu patik ni Debata asa tahaholongi Tuhan Debata dohot dongan jolma, nuaeng pe songon na nidok di hata ni umpasa ma dohononku: Aek marjullakjullak, marjullakjullak sian batu; patik na uli, na marulakulak, ampu hamu ma dibagasan ateate dohot tondimuna:

H : Turtu ma ninna anduhur, tioma ninna lote: Patik nauli hata ni Debata, huampu hami ma dibagasan ateate dohot tondinami: Ale Tuhan pargogoi ma hami mangulahon na hombar tu PatikMi. Amen.

6. Marende BE. No. 857: 1-2 “Husomba Ho Tuhan”
Husomba Ho Tuhan tangihon au!
Sangkapmu ma tongtong pasaut tu au
Ajari rohangki, manghaholongi Ho
Sai lam gandai holong tu Ho
….. Jongjong …..
Husomba Ho Tuhan, tangihon au
Mandate tondingki, sungguli au
Ajari rohangki, manghaholongi Ho
Sai lam gandai holong tu Ho

7. PANOPOTION NI DOSA DOHOT HASESAAN NI DOSA

L 1 : Didok angka natuatua: Rupa do dang boi muba, alai pangalaho boi do tarpauba. Habang binsakbinsak, sirubaruba dohot ambaroba – Sai unang jolo hona insak hita, asa pinauba roha. Ringkot do na mananda diri. Alani dibagasan unduk dohot serep ni rohanta, martangiang ma hita di bagasan rohanta be
(… tingki na hohom… musik mangendehon BE. 683: 1)

L2 : Huria ni Debata na hinaholongan ni Kristus. Dibagasan unduk dohot serep ni roha, ro ma hita tu adopan ni Debata. Tatopoti ma dosanta tu Amanta Debata, jala tapangido ma hasesaan ni dosanta, dibagasan goar ni Tuhan Jesus Kristus Parasi roha i.

L1 : Ale Debata amanami na badia jala na gok asi ni roha, manang na piga hali hami ro tu adopanMu, huparhatopot hami do sude angka dosanami na godang i. Tung mansai jotjot do hami manirpang sian dalanMu, ndang mangulahon lomo ni rohaM. Unang ma pabali hami sian adopanMu ale Jahowa, ala ni dosa dohot hajahatonnami. Alai marpamuati ma rohaM di hami. Nuaeng ro hami tu joloM mangido asi ni rohaM: Sai sesa ma sude dosanami jala unang paingotingot sude dosanami na godang i.

H : Ale Tuhan….., asi ma roham sai sesa ma dosanami…!

L2 : Huria ni Debata naung manopoti dosa, nuaeng tabege ma hata bagabaga ni Debata, taringot tu hasesaan ni dosa: Songon on do hata ni Tuhan Jahowa: Nunga pola hupasisi angka pangalaosim songon ombun, jala songon ombun manorop angka dosam. Sai mulak ma ho tu Ahu, ai Ahu do sipalua ho. Hasangapon ma di Debata na di Ginjang.

H : Amen. —– hundul ——

8. MARENDE BE. No. 169 :1-2 “ Ho Sipangolu Au”
Ho Sipangolu au sai topot ma au on
Sai unang mandaodao, Ho sian rohangkon
Ro Sipangolu ro tibu, baen ma au anakMu tutu
Dohot mudarMi buri au, ias songon hapas ma au
Ias tutu, ias tutu; dohot mudarMi buri au, ias songon hapas ma au

Togu ma rohangkon Sai taiti au tu Ho
Ai langkaMi tongtong Naeng tiruonku do
Ro Sipangolu ro tibu Baen ma au anakMu tutu
Dohot mudarMi buri au Ias songon hapas ma au
Ias tutu Ias tutu Dohot mudarMi buri au Ias songon hapas ma au

9. MANJAHA EPISTEL: Amos 5: 6-7, 10-15

L1 : Lului hamu ma Jahowa, asa mangolu hamu! Asa unang dirampok bagas ni si Josep, songon api, jala suda dipangan, hape ndang adong pangintopi di Betel nanggo sahalak.

H : Hamu angka na pahosing uhum gabe pogu, jala diluntak hatigoran tu tano

L2 : Dihasomorhon nasida do jolma pamodai di partungkoan, jala marbiasbias nasida mida halak sidok na sintong.

H : Dibahen i, ala diluntak hamu halak na pogos, jala dijalo hamu eme silehonlehon manuruk sian ibana, gabe ndang ingananmuna bagas, angka na pinaulimuna sian batu na nidakdak; disuani hamu pe angka porlak anggur hasoloan, hape ndang inumonmuna anggurna.

L1 : Ai huboto do torop ni pangalaosionmuna dohot hinadeak ni dosamuna, hamu angka na manosak halak partigor, angka na manjalo hasunan manuruk, jala dipatungki halak na pogos di partungkoan.

H : Dibahen i laos hohom do halak na marroha, ai tingki na jahat do on.

L2 : Lulu i hamu ma na denggan, unang tagonan na jat i, asa mangolu hamu! Asa tongon Jahowa, Debata Zebaot donganmuna, songon na nidokmuna i.

H : Hagigihon hamu ma na jat i, jala haholongi hamu na denggan, jala hajongjongkon hamu uhum di partungkoan! Anggiat tung marpangulahi roha ni Jahowa Debata Zebaot mida pasipasi ni Josep.

L1 : Ido sahatna. Martua ma na tumangihon hata ni Debata jala na umpeopsa.
Sude: Amen!

10. MARENDE BE.NO. 690: 1-2 “Hibul Rohangku”
Hibul rohangku tu Tuhan Jesus
Sude ngolungku di Tuhan Jesus
Ihuthononku do Tuhan Jesus
Ndang olo au sumurut be
…. Jongjong ….
Sai hutundalhon haportibion
Silang ni Kristus ma hudapothon
Sai hutundalhon haportibion
Ndang olo au sumurut be

11. MANGHATINDANGKON HAPORSEAON

L2 : Didok hata ni umpama: Ansimun sada holbung, pege sangkarimpang; manimbung rap tu toru, mangangkat rap tu ginjang. Antong rap dohot donganta sahaporseaon di sandok portibion, tahatindangkon ma haporseaonta i.

H : Ahu porsea….du —– hundul —–

12. KOOR GABUNGAN: HALELUYA NA BOLON
13. TINGTING
14. Marende BE.No. 392: 1… “Sai Pasiat Tuhan Jesus”(Pasahathon Pelean Ia + Ib)
Sai pasiat Tuhan Jesus tu bagasan roha mi
Sai maimaima ma Jesus, bege panuktukNa i
Sai pasiat Tuhan Jesus, jangkon i tu rohami
Nunga tingki parasian, sotung jolo salpu i
Hariburon na di tano sai ringgas di jangkon ho
Marisuang Tuhan Jesus sai dihagarishon ho
Sai pasiatTuhan Jesus……..
—- musik —–
Ai sadia leleng nari laos so putus rohami?
Unang toishon, so tung salpu tingki parasian i
Sai pasiat Tuhan Jesus….
Lehon ngolumi tu Jesus, ai hatop do salpu i
Sai pasiat ma Tuhanmu tu roham na loja i
Sai pasiat Tuhan Jesus ….
—- musik —–

15. JAMITA : Heber 4: 12-16

16. Marende BE. N0. 754: 1… “Gok Las ni roha do Au Meddley BE. No. 792: 1… Pasupasu hami O Tuhan.

(Pasahathon Pelean II dihundulan)
Gok las ni roha do au di ngolungkon, di ngolungkon di ngolungkon
Gok las ni roha do au dingolungkon tongtong di rohangkon
Mauliate gok las ni roha maringan holongMi Tuhan di au
Mauliate gok las ni roha, maringan holongMi Tuhan di au
Mardame jala sonang do ngolungkon, dirohangkon, dirohangkon
Mardame jala sonang do ngolungkon, tongtong dirohangkon
Mauliate ……………
—- musik —–
Gok do holong ni Jesus di ngolungkon, di ngolungkon, di ngolungkon
Gok do holong ni Jesus di ngolungkon, Tongtong di rohangkon
Mauliate …………

MEDDLEY: Pasupasu hami o Tuhan

Pasu-pasu hami 0 Tuhan sai usehon dameMi
Sai ampehon tanganMi Tuhan lehon tu au gogoMi
Di portibion baen ma au Tuhan habaoran ni las ni roha
Tu na marsak i tu na dangol i gabe pangapuli i
Pasupasu hami o Tuhan…..
Diportibion, baen ma au Tuhan
Monang maralohon dosa dibahen gogoMi
Talu musu i sibolis pangago i
Pasu-pasu hami O Tuhan ………
—- musik —–
Diportibion, baen ma au Tuhan
Sipatupa hadameon baen ma hataMi
Saor tu roha ni na masihosoman i
Pasu-pasu hami O Tuhan ………

17. ACARA PESTA GOTILON:

Pdt: Hamu ruas ni huria na hinaholongan ni Tuhanta Jesus Kristus! Nuaeng sahat ma hita tu acara PESTA GOTILON ni hurianta, laho manghalashon dohot manghamauliatehon denggan basa ni Jahowa. Antong dibagasan roha na mandok mauliate tu Debata, tapuji ma Ibana, taendehon ma “Mangula Hita Jolma”

H : (mangendehon BE. No. 373:1-2 “Mangula Hita Jolma”)
Mangula hita jolma manabur boni i, alai anggo jadina di Debata do i
Dilehon las ni ari, nang nambur udan pe
Tongtong di panumpakNa marguru sasude
Nasa ulibasa ro sian Debata, i pe Ibana puji ma huhut haposi da
Sai sian Debatanta do nasa na adong
Nang rihit sangkamata, nang laut, nang tano on
Tinompa ni hataNa, do hau nang bulung i
Nang nasa parbuena, nang bungabunga i
Nasa ulibasa ro sian Debata,i pe Ibana puji ma huhut haposi da

Pdt : Hamu dongan sahuria! Nunga itajalo denggan basa dohot asi ni roha sian Jahowa. Ta okuhon do, saluhutna silehonlehon na denggan, nasa ulibasa na mauliutus, ima na ro sian ginjang. Dilehon do di hita parbueni tano, parbueni suansuanan dohot parbueni angka ulaonta. Saluhutna i nunga tajalo sian Jahowa. Antong nda tama ma hita mandok maulite tu Debata?

H : Mauliate ma di Ho Tuhan, naung mangalehon parbue ni angka ulaonnami.

Pdt : Didok hata ni Debata: Ingkon buatonmu ma sian patumonaan ni sandok parbue ni tano i, na dapot ho sian tanomi, naung nilehon ni Jahowa, Debatam tu ho, jala pamasuhonmu do i tu bagasan ampang, jala boanonmu do i tu inganan sipilliton ni Jahowa, Debatam bahen inganan di Goarna. Ingkon burju do lehononmu parpuluan sian nasa gogo ni tano, boni sinaburhonmi, sian saluhut na tubu di tanomi ganup taon. (5 Musa 26:2)

H : Mauliate ma di Ho Tuhan, naung mangalehon parbue ni angka ulaonnami. Hupasahat hami ma i bahen pelean na hushus di joloM.
Pdt : Antong! Taruhon hamu ma sintong parsampuluan i tu bagas parpeopan, asa adong bohal di bagasan jabungku, jala unjuni hamu ahu taringot tusi, ninna Jahowa Zebaot, manang so ungkaponku di hamu angka pandiloan ni langit, jala mangusehon tu hamu gabe maradu marlobilobi. (Maleakhi 3:10)

PASAHATHON PARBUE NA NIULA
(Ro ma sude ruas pasahathon Pelean Pesta Gotilonna tu jolo
huhut marende diiringi musik)

18. Marende BE. 848:1-2 “Dison Adong Huboan Tuhan”

Dison adong huboan Tuhan, parbue ni ngolungku na so tardok nian
Sadia ma argana Tuhan, molo sai ni rajuman sude denggan basaM
Jalo ma Tuhan, sai las ma rohaM
—- musik —–
Huingot do hataM da Tuhan, ingkon sarihononhon anggim na metmetan
Ampehon ma tanganMu sangkan, itak na otik i unang suda nian
Jalo ma Tuhan, sai las ma rohaM

19. Marende BE.No. 435:1-2+4 “Marolopolop Tondingki”
Marolopolop tondingki ai naung di tobus Jesus i
Hamu sude, bege ma i, sai las rohangku mandok i
Sonang ni tingki i, dung jumpang Jesus Tuhanki
Tondi na mangajari au, tarbaen marlas ni roha au
Sonang ni tingki i, dung jumpang Jesus Tuhanki
—- musik —–
Dihaol holongna rohangki, tung na so boi be mago i
MataNa do manatap au, pinggolNa tumangihon au
Sonang ni… du.
—- musik —–
O rohangki, sai tahan ma, ditobus ho, ihuthon ma
I ma tutu, nang mate ho, tu surgo do ditogu ho. Sonang ni…du.

Pdt : Tadok ma mauliate tu Jahowa, ai pardenggan basa do Ibana, ro di saleleng ni lelengna do asi ni rohaNa tu hita. Nunga tapasahat siluanta tu huriaNa, songon parbue ni angka na taula. Antong! Tangihon hamu ma hata ni Debata na mandok: Alai marhuaso do Debata, mangusehon saluhut asiasi tu hamu, asa sandok tuk situtu di hamu jala marlobilobi hamu, laho patupahon saluhut ulaon na denggan. Antong taharinggashon ma manghobasi huriaNa dibagasan dame, sada ni roha dohot holong ni roha. Jongjong ma hita!

H : (mangendehon BE No 435:3 “Morolopolop Tondingki)
Tu Jesus sahat ngolungki, saleleng ni lelengna i
Rap dohot au endehon ma, endengku na imbaru da
Sonang ni tingki i, dung jumpang Jesus Tuhanki
Tondi na mangajari au, tarbaen marlas ni roha au
Sonang ni tingki i, dung jumpang Jesus Tuhanki

20. TANGIANG PANUTUP: PELEAN – ALE AMANAMI – PASUPASU

Komentar dimatikan