MENGIKUT YESUS

SANGKAL DIRI – PIKUL SALIB – IKUT YESUS
Markus 8:31-38

gambar_petani_sedang_membajak_sawah Saya mau ikut Yesus, saya  mau ikut Yesus, Sampai slama-lamanya.
Meskipun saya susah, menderita dalam dunia
Saya mau ikut Yesus, sampai s’lama-lamanya…

Inilah syair Kidung Jemaat no. 375. Lagunya enak didengar, penuh makna, di dalamnya ada roh kemuliaan, dan kaya pesan rohani (baca: iman).

Saudaraku! Benarkah menjadi Kristen itu enak? Memang tidak salah kali kita katakan menjadi Kristen itu enak. Tetapi benarkah demikian? Apakah benar menjadi Kristen itu selalu enak? Mungkin tidak. Yang benar adalah: Menjadi Kristen itu tidak selalu enak bila benar-benar menjadi Kristen. Mengapa? Karena kehadiran orang percaya di dunia ini tidak pernah diterima dengan mulus. Dunia ini cenderung menolak Yesus dan malah dikatakan ”…dan kamu akan dibenci semua orang karena namaKu” (Mat.10:18,22). Yesus tidak mau mengobral janji-janji kosong supaya orang tertarik mengikuti Dia. Beda dengan kampanye politik mengumbar janji-janji yang enak didengar.

Saudaraku! Yesus tidak pernah menjanjikan bahwa menjadi Kristen itu tanpa rintangan. Yesus tidak pernah berkata: Ikutlah Aku, maka hidupmu akan senang, tetapi yang Yesus katakan: ”Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” Artinya harus mau menderita. Terlalu berat? Itulah jalan yang dipilih Kristus penderitaan Salib. Memang berat mengikut Yesus, namun tidak pernah ditinggalkan. Yesus mengajar dengan tegas bahwa menikut Yesus dibutuhkan komitmen, integritas, dan jati diri. Sebab segala sesuatu yang tidak didasarkan pada komitmen, integritas, jati diri sering membawa kemunduran dalam segala hal apalagi hal itu menyangkut iman. Sesungguhnya jati diri orang kristiani adalah mengikut Kristus dengan bersedia menanggung segala resiko sebagai konsekuensi imanya. Yesus tidak memilih jalan aman dalam karya keselamatan, namun Dia bersedia berkorban dan mengorbankan diriNya demi keselamatan umat. Ini adalah karya ilahi yang ditunjukkan dalam hidup manusiawi.

Karya Kristus ini menyampaikan pesan yang sarat makna bahwa menjadi orang Kristen harusnya memihak dan berpihak untuk mau berkorban untuk orang lain bukan mengorbankan orang lain. Dalam hal iman kita harus fanatik dalam pengertian yang luas yaitu: demi iman dituntut jiwa yang mau berkorban, bukan sebaliknya demi iman mengorbankan orang lain. Dalam konteks pluralitas agama kini dan di sini tidaklah dibenarkan sikap mengintimidasi, melakukan kekerasan, menebarkan terror, bahkan membunuh orang yang berbeda agama demi simbol-simbol agama itu sendiri. Sikap seperti ini bukan karakter orang Kristiani. Kita dipanggil bukan hanya pemberita tetapi penderita: Ikutlah menderita sebagai prajurit yang baik dari Kristus”(2Tim2:3). Mengikut Yesus berarti teken kontrak mau mati bersama Yesus. Berat sekali? Memang! Menjadi Kristen tidak selalu enak. Untuk itu kita harus berhitung. Mau ikut atau tidak… sayang nanti di dunia namanya Kristen tetapi tidak mendapat bagian dalam kerajaan sorga karena di dunia tidak mau menderita bersama Kristus.

Saudaraku! Mau mengikut Yesus? Tentu pertanyaan ini mengarahkan kita untuk menentukan pilihan. Apakah kita hanya kristen enak? Di saat semua kehidupan tanpa masalah, sakit, rugi, dan ketika semuanya aman tenteram? Atau apakah kita menjadi Kristen simeol-eol, yang sebentar Kristen, sebentar tidak Kristen, pindah agama? Atau memang kita Kristen murni yang benar-benar loyal kepada Kristus apapun yang terjadi? Membangun loyalitas kepada Kristus inilah panggilan nas ini. Kristus telah mau mati untuk kita. Nyawa Kristus telah dikorbankan untuk melepaskan dan menyelamatkan kita dari kuasa dosa, kuasa iblis dan kuasa kematian. Itu mahal!. Karena itu, dari kita dituntut integritas, komitmen, loyalitas penuh. Tidak boleh tanggung-tanggung, tidak boleh setengah-setengah. “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.”. Bila kita harus menanggung derita sebagai konsekuensi iman kita – ucapkanlah syukur kepada Tuhan. Selamat memaknai Minggu-minggu sengsara Kristus. Amin.

Leave a comment »

PEMBERITAHUAN TENTANG KELAHIRAN YESUS

TUHAN MENYAPA KELUARGA ANDA:
AKU MENYERTAI ENGKAU – JANGAN TAKUT
Lukas 1: 26-38

sawah (3)Saudaraku! Hari ini kita memasuki Minggu Adven ke-4. Lilin yang kita nyalakan sudah berubah dari warna ungu menjadi warna merah muda yang semakin cerah. Ini adalah simbol dari makna Adven itu sendiri yang dimulai dengan permenungan yang sangat dalam akan kesesakan hidup karena genggaman dosa. Dan kini hidup sudah semakin dekat dengan sukacita yang disimbolkan dengan lilin warna merah muda. melambangkan adanya sukacita di tengah masa pertobatan karena sukacita Natal hampir tiba. Saat natalitas Kristus sempurnalah sukacita itu yang disimbolkan dengan lilin warna putih.

Betapa hati ini semakin bergirang karena penolong dan penyelamat yang sesungguhnya sudah semakin dekat dan cahaya kemuliaannya sudah terlihat. Kepada orang yang berada di dalam penjara, tidak ada hidup yang lebih membahagiakan selain dari berita bahwa sebentar lagi mereka akan dibebaskan. Inilah muatan minggu-minggu Adven. Gereja merayakan mingu-minggu Adven di dalamnya sarat permenungan yang sangat dalam, bahwa tidak satu pun penolong dan pembebas kehidupan selain Tuhan di dalam Kristus. Manusia di dalam tabiat keberdosaannya merindukan kelepasan, mengharapkan kebebasan, dan membutuhkan pertolongan, terbebas dari rasa sesak yang sangat menyiksa akibat dosa. Hidup bebas, kelepasan, dan pertolongan telah lama dinantikan. Dan apa yang dinanti, dirindukan dan diharapan sudah semakin dekat melalui natalitas Kristus. Dialah sang pembebas dan penyelamat.

Saudaraku! Banjar Negara…berduka. Peristiwa ini menjadi pokok permenungan bagi semua warga bangsa, hususnya bagi mereka yang merayakan Minggu Adven ke-4 ini. Peristiwa ini menggoreskan duka yang sangat dalam bagi kehidupan ini. Dalam hitungan detik longsor meluluh-lantahkan kehidupan. Kehilangan harta benda dan nyawa tidak ter-elakkan. Banyak orang yang menangis: anak kehilangan orangtua, dan orang tua kehilangan anaknya. Rumah tempat tinggal ditelan longsor, mengungsi menjadi pilihan yang tidak bisa ditawar. Sungguh kita berkabung karena peristiwa ini. Peristiwa ini memberi permenungan kepada kita bahwa hidup ini adalah singkat. Karenanya tunjukkanlah kasihmu terhadap kehidupan ini, dan doakanlah mereka semua. Kepada Maria – Allah menyuruh malaikat Gabriel menyampaikan salam kelembutan dan berita sukacita: “Salam, hai engkau yang dikarunia, Tuhan menyertai engkau” Bukankah sapaan seperti ini yang sangat dirindukan oleh dunia sekarang ini? Ya..ya.. inilah yang dibutuhkan bumi kita sekarang ini. Ditengah-tengah dunia yang semakin rusuh, arogan, dan liar ini, kita membutuhkan sapaan kelembutan akan cinta kasih. Saudara-saudara kita yang sedang dikuasai duka di Banjar Negara sangat menanti sapaan cinta kasih kita. Tuhan menyertai engkau. Sapaan yang membangkitkan semangat, meneguhkan hati, dan mencerahkan kehidupan.

Kepada Maria, malaikat Tuhan berkata: “jangan takut, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah”. Realitas dunia saat ini banyak orang yang diselimuti rasa takut. Siapa yang tidak takut ketika anak-anak dan guru-guru sekolah di Pakistan ditembak mati secara membabi buta oleh terorisme. Siapa yang tidak takut ketika terjadi penyanderaan di Australia oleh orang yang tidak bertanggungjawab. Sungguh banyak tindakan kekerasan dan pembunuhan yang dipertontonkan dunia sekarang ini yang membuat manusia dikuasai rasa takut. Sapaan Allah melalui malaikat Gabriel kepada Maria menjadi inspirasi positif bagi kita untuk mendesak diri menjadi sarana penghibur, peneguh hati orang lain. Sarana penghibur, peneguh hati orang lain itu berarti bersedia melarut dalam penderitaan orang lain, sekaligus memberi diri sebagai inspirasi dan motivasi akan hormat terhadap kehidupan.

Kepada Maria, malaikat Tuhan berkata: “Sesungguhnya engkau akan mengandung dan melahirkan…” sekalipun waktu itu Maria tidak bersuami. Sesuatu yang irrasional. Memang wilayah iman kebanyakan irrasional, (tidak dapat dijangkau oleh alam logika). Pada kenyataannya apa yang rasional berada di dalam jangkauan waktu, namun apa yang irrasional berada di luar jangkauan waktu yang tidak berakhir, itulah iman. Itulah sebabnya banyak peristiwa kehidupan tidak bisa dijawab oleh logika, dan karenanya manusia harus melakukan hati rela menyerah terhadap Tuhan yang berada di luar jangkauan waktu. Sadar bahwa Tuhan adalah sang pemilik kehidupan dan berkuasa atas kehidupan, itulah awal memasuki ruang spritualitas yang menghidupkan. Kepada orang seperti ini diberi kasih karunia dan tongkat kerajaan, sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.

Saudaraku! Melalui hotbah ini paling tidak ada tiga pembelajaran berharga yang hendak kita lakukan dalam membangun gerak relasi, interaksi dan komunikasi? Pertama: bangunlah komunikasi yang membangkitkan semangat, dan motivasi kepada semua orang. Komunikasi yang didominasi intimidasi, ancaman, pelecehan, menyalahkan, penghakiman, dll tidak akan pernah merubah keadaan yang semakin baik. Tetapi komunikasi yang didominasi apresiasi, motivasi, dan menyemangati akan menjadikan hidup kaya kreasi, dan inovasi. Ingatlah: terkadang di dalam komunikasi yang terpenting adalah bukan apa yang kita katakan, tetapi bagaimana kita mengatakan.. Dalam salammu katakanlah: Tuhan menyertaimu. Adven akan sampai kepada maksud dan tujuannya bila masing-masing orang melibatkan diri dalam komunikasi yang saling membangun, menguatkan dan saling menyemangati. Kedua: bangunlah relasi dan interaksi yang membuat orang lain nyaman. Caranya: terima kepribadiannya secara utuh, tunjukkan rasa hormat kepada kemanusiaannya, dan biarkan dirinya merasakan bahwa Anda benar-benar mau menjadi sahabatnya. Adven akan sampai kepada maksud dan tujuannya bila masing-masing orang melibatkan diri dalam relasi dan interaksi yang saling menerima, dan saling mengakui. Dia, mereka merasa nyaman dengan aku. Ketiga: kecerdasan logika adalah bukan menjadi tuan dalam kehidupan, namun sesungguhnya adalah hamba untuk melayani kehidupan. Sebagai hamba dia harus tunduk kepada kehidupan, dan kehidupan itu adalah Tuhan, sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil. Dengan demikian Adven akan sampai kepada maksud dan tujuannya apabila masing-masing orang membangun sikap taat dan tunduk kepada Tuhan. Disanalah sukacita lestari kehidupan akan kita rayakan. Amin. Selamat Adven.

Komentar dimatikan

KABAR SELAMAT KEPADA SION

UNANG BE SAI TUNGKI HO – PADIRGAK MA SIMANJUJUNGMU
(ANGKATLAH KEPALAMU – JANGAN BERKABUNG LAGI)
Yesaya 61:1-4 + 8-11

Sawah_by_HendroSaudaraku! Hari ini kita telah memasuki Minggu Adven ke-3. Puspa ragam peristiwa terus mengikuti setiap langkah perjalanan kehidupan. Sekalipun menyesakkan dan memilukan tidak bisa ditolak pun dihindarkan. Harus dihadapi. Menghadapinya dengan bangunan PENGHARAPAN yang kokoh bahwa hari esok lebih baik dari hari ini. Di depan ada nyala obor, sinar terang, dari perjalanan gelap yang kita tempuh hari ini. Segelap apa pun kehidupan hari ini, namun esok sinar terang itu ada di hadapanku. Seberat apa pun persoalan yang kuhadapi hari ini, namun esok sukacita itu ada bersamaku. Betapa pun pergumulan sangat menyesakkan hati dan pikiranku hari ini, namun esok hatiku lapang, penuh damai dan bahagia. Inilah karakter hidup orang yang terbangun di dalam Pengharapan. Kaya di dalam solusi, kreatif merajut kehidupan, dan tercerahkan di setiap gumul juang kehidupan. Tidak mau terpenjara dalam genggaman perstiwa, namun di setiap peristiwa tampil memaknainya di dalam pengharapan. Pengharapan itu bukan aku, dia, mereka, tetapi Tuhan di dalam aku, dia, dan mereka.

Saudaraku! Bila hari ini Anda meratap, bergumul, penuh persoalan dan kesulitan; dengarlah dan yakinilah firman Tuhan yang menyapa Anda hari. TUHAN MENGASIHIMU dan PERDULI terhadap semua persoalan hidupmu. Kepada mereka yang berada di dalam kesengsaraan dan remuk hatinya – kabar baik akan disampaikan. Kabar baik itu adalah kabar sukacita bahwa Kristus mengasihi dan perduli terhadap kehidupanmu. Kepada orang-orang yang berada di tawanan dan terkurung diberitakan kebebasan dan kelepasan dari penjara. Di zaman yang moderen ini ada banyak manusia terpenjara oleh kepahitan, kesulitan, penderitaan, bahkan ditawan oleh perilaku keberdosaan. Kepada mereka Kristus berkata Aku mengasihimu dan peduli kepadamu. Aku akan membebaskan dan melepaskan kamu. Kepada mereka yang tertunduk berkabung karena beratnya beban kehidupan diberi penghiburan. Penghiburan itu adalah resapan kuasa Kristus yang berdiam dan menyatu di dalam jiwa manusia. Kuasa Kristus inilah yang mengubahkan abu menjadi perhiasan, kain kabung menjadi minyak, semangat yang pudar menjadi nyanyian puji-pujian. Itulah karya Tuhan di dalam Kristus yang mengasi dan peduli kepadamu.

Saudaraku! Tuhan tidak akan pernah meninggalkanmu di lembah kekelaman ini. Ke-Ilahian Kristus jauh lebih besar dari segala peristiwa kehidupanmu. Apa pun peristiwa kehidupanmu: baik atau buruk, kaya atau miskin, cantik atau jelek, pintar atau bodoh, dll, ke – IlahianNya mengatasi semuanya. Sifat ke-Ilahian Tuhan itu adalah mengasihi dan peduli kepadamu. Ke-Ilahian Kristus mencintai kebenaran, keadilan, dan membenci setiap perampasan dan kecurangan. Kepada mereka yang selama ini merasa haknya dirampas, dan hidupnya dicurangi – Kristus datang meneguhkannya kembali. Inilah nyanyian Kristus: Aku mengasihi dan peduli kepada setiap persoalan hidupmu. Unang be tungki ho – Padirgak ma simanjujungmu. Bersukarialah di dalam Tuhan, bersorak-sorailah di dalam Allah.

Di Minggu Adven yang ke-3 ini, firman Tuhan ini mengajak kita, pertama: Arahkanlah pandangan dan hatimu kepada Tuhan. Barangkali selama ini arah pandangan kita lebih banyak tertuju kepada sinar kemilauan dunia ini yang membuat banyak orang menjadi buta. Buta kepeduliaan dan buta cinta kasih. Sudah pasti hidup seperti ini akan menghasilkan kegelisahan, kepahitan, dan kehancuran. Hari ini, arahkanlah pandanganmu dan hatimu kepada Tuhan – bangunlah cinta dan kepedulian kepada orang lain. Ingatlah: kelaparan yang terbesar melanda alam jagad raya ini bukan lapar karena ketiadaan roti atau nasi, tetapi lapar karena ketiadaan cinta kasih. Kedua: genggam dan milikilah hidup berpengharapan. Hanya orang yang memiliki pengharapan bisa mengalami hidup penuh semangat dan termotivasi. Mereka yang hilang harapan akan selalu pesimis, tiada gairah (mandele), dan bersikap apatis. Orang yang terbangun di dalam pengharapan selalu dapat melihat kebaikan dari setiap ketidakbaikan. Mampu melihat sisi positif dari setiap hal-hal negative. Inilah orang yang mewujud dalam Adven memunculkan sikap optimisme membarui kehidupan yang lebih bergairah. Ketiga: Angkatlah mukamu – jangan berkabung lagi. Jangan salahkan bila di dalam hari-hari kehidupan ini datang hujan, lebih baik dipikirkan adalah setelah hujan pasti ada sinar mentari kehangatan. Jangan salahkan bila laut berombak, lebih baik pikirkanlah setelah ombak pasti ada ketenangan. Jangan salahkan bila hidup ini banyak persoalan, lebih baik kita yakini bahwa setiap persoalan, pergumulan, dan penderitaan pasti berakhir berganti menjadi kebahagiaan, sukacita, dan sorak-sorai di dalam Tuhan. Tuhan mengasihi dan peduli kepada kehidupanmu. Amin. Selamat Adven.

Komentar dimatikan

HARI TUHAN

ADVEN II: HARI TUHAN

BERSIHKAN HATI – BENINGKAN JIWA – SUCIKAN TINDAKAN
2 Petrus 3:6-15

gambar_petani_sedang_membajak_sawahSaudara! Sebagai umat percaya tentu opsesi kita adalah terus bergerak maju dalam barisan prosesi menuju tujuan akhir pesta lestari kehidupan. Waktu di mana umat manusia berjalan saat ini adalah proses menuju titik akhir peradaban seluruh alam ciptaan, di mana kesempurnaan waktu terjadi dan berlangsung pada saat kedatangan Kristus kedua kali. Seluruh umat rindu dan menantikannya. Ide ini sekaligus meluruskan paham sosialisasi waktu yang bergerak dalam ranah circle, namun sesungguhnya bergerak lurus (linier) dari titik awal menuju titik akhir. Rasul Petrus memberi kontribusi pengertian titik akhir ini melalui sebutan Hari Tuhan (Kedatangan Kristus pada kedua kalinya), dan kedatanganNya adalah pasti sekalipun waktunya seorangpun tidak tahu, Anak pun tidak, selain Bapa sendiri. Desakan alam logika untuk mengetahui waktu atau saat kedatangan Kristus pada kedua kalinya dijawab melalui fenomena krisis moral yang rendah dari mahkluk social. Persitiwa ini adalah gambaran diri manusia sebagai orang berdosa, najis, kotor, dan kehilangan kemuliaan Allah yang tidak layak menerima kemuliaan Allah tanpa karya kreatif Kristus yang melayakkan manusia berada dalam posisi orang-orang yang dibenarkan dan diselamatkan.

Peristiwa adalah sesuatu yang penting dalam kehidupan karena tanpa peristiwa kehidupan akan sepi dan miskin kreasi dan inovasi, namun yang terpenting adalah karya apa yang akan diukir dalam peristiwa, memaknai persitiwa? Dengan membangun paradigma seperti ini maka seluruh peristiwa yang terjadi dalam kehidupan bukan untuk diratapi, dicela, dihakimi, dll, namun membangkitkan motivasi mengukir karya kreatif memaknai kehidupan. Manusia sebagai karya kreatif Kristus ditempatkan di dalam peristwa, namun bukan sebagai hamba peristiwa, melainkan sebagai tuan atas peristiwa yang berlaku bebas mengukir dan memaknai peristiwa. Tanda kedatangan Kristus yang kedua kali sudah dinyatakan melalui peristiwa fenomenal krisis moral, dan lenyapnya unsur-unsur dunia, tetapi di dalam Kitab Rasul Petrus yang terpenting bukan peristiwanya, namun sikap apa yang perlu dibangun disaat tanda-tanda peristiwa itu terjadi? Adalah MEMBANGUN HIDUP SALEH DAN SUCI. Membangun hidup saleh dalam pengertian membangun insaf diri terhadap realitas manusia yang memiliki tabiat keberdosaan, dan sekaligus berupaya bangkit bergerak dalam ranah kehendak Kristus. Membangun hidup saleh ditandai dengan munculnya kesadaran baru dan motivasi baru untuk memaknai realitas kehidupan yang sepi pengharapan dan miskin sukacita. Melaui kesadaran baru itu karya kreatif Kristus diperankan dalam pemahaman citra Kristus menjadi citra kehidupan, karakter Kristus menjadi karakter kehidupan, dan karya Kristus menjadi karya kehidupan. Ketika ini dilakoni, maka habitus baru akan terpatri dalam kehidupan dan pesta lestari kehidupan akan dirayakan melalui, di dalam, dan oleh iman.

Menyikapi Hari Tuhan (kedatangan Kristus kedua kalinya), tidak cukup di dalam ranah idealis sekalipun itu sangat diperlukan, namun idealisme tanpa realisme yang terjadi adalah penghianatan. Demikian halnya realisme tanpa idealisme yang terjadi adalah kepalsuan. Bagaimana memadukan antara idealisme dan realisme begitu rupa sehingga tetap idealis dan realis tanpa terjerembab menjadi oportunis? Satu-satunya yang perlu dibangun adalah kejujuran mental. Artinya jujur luar dalam, terutama terhadap diri sendiri. Yang jujur adalah mental kita, bukan cuma akting kita. Kejujuran mental adalah jujur terhadap hati nurani sejauh mana kita memaknai kehidupan dalam batas waktu penantian kedatangan Kristus kedua kalinya? Sejauh mana kita membangun hidup saleh dalam proses waktu menuju titik akhir?

Idenya adalah seluruh umat rindu menantikan kedatangan Kristus sebagai hari keselamatan. Realitas kini dan di sini banyak umat hidup dalam pesta pora sekular, bersukacita dalam tarian kemesuman, terlarut dalam nikmat hawa nafsu, dan pelbagai roh keberdosaan yang menjadikan manusia jauh dari sikap berjaga-jaga. Dalam domain bangsa atau negara masing-masing faksi membangun dirinya sendiri, kepentingan kelompoknya, memaksakan idenya sendiri, miskin simpati dan empati. Sekalipun ada ranah hukum yang mengikat dan mengatur, namun ranah itu terkadang diabaikan dan sengaja tidak dipedulikan. Dalam wilayah sosial tenggang rasa dan kepedulian semakin lemah, jurang antara simiskin dan sikaya semakin lebar, dan terkadang interaksi sosial semakin kabur. Dalam ranah ke-agamaan masing-masing orang membentengi diri dengan simbol-simbol dan bergerak dalam fanatisme yang sempit, sehingga toleransi umat beragama menjadi sebuah utopia. Terkadang atas nama agama kekerasan dipertontonkan bahkan bunuh diri dan membunuh dianggap sebagai martir. Antara idealisme dan realisme yang sering terjadi adalah sikap ambivalensi. Bagaimana memadukan keduanya sehingga tetap idealis dan realis? Yang perlu dibangun adalah sikap jujur: jujur terhadap hati nurani, jujur terhadap diri sendiri sebagai orang berdosa sekaligus orang yang tahu insaf diri di dalam usaha hidup tak bercacat dan tak ternoda di hadapan Tuhan..

Saudara! Hari Tuhan datang. Pernyataan ini mengajak setiap orang untuk bergegas memperbarui cara hidupnya, memperbaiki tingkah lakunya kepada tingkah laku dan karakter Kristus. Adanya kejujuran dalam diri untuk menghidupkan sikap penyesalan, membangun tobat diri, dan mengarahkan cara hidup kepada cara hidup Kristus. Minggu Adven kedua ini mengajak semua orang untuk membangun penyesalan diri dan sekaligus membangkitkan dalam dirinya semangat baru mengukir karya kreatif Kristus sebagai fakta dari sikap menantikan kedatangan Kristus. Saat ini bukanlah waktu untuk bersungut-sungut, menghakimi, menyalahkan orang lain, namun adalah waktu untuk bangkit memperbarui diri, mengukir karya konstruktif, membangun kehidupan kepada gerak Kerajaan Allah yang sudah dekat. BERSIHKAN HATI – BENINGKAN JIWA – SUCIKAN TINDAKAN . Amin. Selamat Adven.

Komentar dimatikan

JANGANLAH KIRANYA ENGKAU MARAH KEPADA KAMI YA TUHAN

ADVEN I: JANGANLAH KIRANYA ENGKAU MARAH

KEPADA KAMI YA TUHAN
(Yesaya 64: 1-9)

Ya TUHAN, janganlah murka amat sangat
dan janganlah mengingat-ingat dosa untuk seterusnya!
Sesungguhnya, pandanglah kiranya, kami sekalian adalah umat-Mu.

10387334_10203062344060801_1072204530445235424_nSaudara! Hari ini kita telah memasuki minggu Advent pertama, sebagai awal tahun baru gerejawi. Adven adalah masa menantikan kedatangan Tuhan Yesus yang ke-dua kali dan sekaligus mempersiapkan Natal (kisah kelahiran Yesus) atau Epifania (kisah awal pelayanan Yesus). Makna kedua hari raya tersebut mengandung arti eschatology, di mana gereja-gereja mengungkapkan kerinduannya akan kedatangan Tuhan pada masa Adven dan kesiapannya menyambut Natal.

Adven pertama ditetapkan gereja menjadi awal tahun liturgi. Adven I hingga 16 Desember menekankan aspek eskatologis yang mengarahkan pandangan kepada kedatangan Kristus ke dua kali. Mulai 17 Desember hingga 24 Desember tema bacaan lebih mengarah kepada penantian kelahiran Yesus. Adven pertama diisi dengan thema sikap gereja dalam menantikan kedatangan Yesus Kristus yang ke dua kali untuk membebaskan umat manusia. Adven kedua diisi dengan tema pertobatan menuju langit baru dan bumi baru bagi segala bangsa, seluruh umat manusia, sesuai dengan keadilanNya. Adven ke tiga merupakan ajakan untuk mempersiapkan jalan bagi kedatangan Tuhan. KedatanganNya tidak sejajar dengan kelahiranNya, namun dapat dilihat sebagai kedatanganNya yang kedua kali. Adven keempat mengarah kepada kelahiran Tuhan di Betlehem. Demikianlah makna perayaan Adven yang dirayakan dalam liturgi.

Saudaraku! Kita tidak dapat memahami makna perayaan Adven apabila hati dan pikiran sudah terarah kepada kemeriahan, gegap gempita, assesoris natal yang ditawarkan roh zaman ini. Sebab Adven bukan kemeriahan, bukan gegap gempita, pula bukan semarak assesoris, namun permenungan, puasa diri, seruan ratapan, dan kesadaran tersungkur di hadapan Tuhan memohon pengampunan dosa. Makna Minggu-minggu Adven baru bisa dipahami apabila ada kesadaran diri bahwa sesungguhnya tidak ada penolong yang lain selain Tuhan. Ibarat seorang yang sedang tenggelam: menggerakkan tangan dan kaki untuk menghirup udara, berteriak minta tolong, terkadang mulut dan hidung kemasukan air, sulit bernafas, kepala timbul tenggelam dipermukaan air. Tidak ada tangan yang ter-ulur untuk menolong, selain tangan Kristus yang ter-ulur menarik dan mengangkatnya dari air sehingga selamat dan hidup. Inilah pemahaman Adven dalam realitas hidup Gereja (baca: orang Kristen). Gereja (orang Kristen) harusnya membangun insyaf diri karena segala kecerdasan, kekuasaan atau kekuatan, pemilikan harta melimpah tidak akan dapat dijadikan sebagai jaminan keselamatan hidup. Dosa yang telah berkuasa di dalam diri, sikap pemberontakan kepada Tuhan, serta darah yang telah dialiri oleh tabiat keberdosaan, telah membuat manusia seperti orang yang tenggelam. Tidak seorang pun yang mau dan dapat mendengar teriakan minta tolong yang keluar dari mulut yang kaku ini, selain Tuhan sang pembebas dan penyelamat kita. Adven harusnya dipahami seperti itu. Sehingga sangat naïf apabila Gereja merayakan Minggu Adven dengan sikap kemeriahan, pesta pora, dan bersibuk ria menghias gereja melalui ornamen-ornamen natal sekular yang disukai oleh para kapitalisme modern saat ini.

Saudaraku! Memaknai Minggu Adven pertama ini, benarlah yang disampaikan oleh nas kotbah kita minggu ini: “Ya TUHAN, janganlah murka amat sangat dan janganlah mengingat-ingat dosa untuk seterusnya! Sesungguhnya, pandanglah kiranya, kami sekalian adalah umat-Mu. Sesungguhnya inilah sikap gereja (baca: orang Kristen) saat ini. Berkatub tangan, menundukkan kepala, berdoa memohon welas kasih Tuhan untuk kehidupan. Penderitaan silih berganti, masalah yang satu belum selesai sudah datang masalah baru. Manusia tidak lagi bersahabat dengan alam akibatnya banjir terjadi, longsor di Tapanuli memakan korban, anarkisme demonstrasi terjadi karena hasutan provokator, kekerasan dan pembunuhan dianggap biasa karena setan telah menguasai hati dan pikiran. Sungguh realitas sosial seperti ini membuat kita seperti orang tenggelam, “megap” sulit memperoleh sukacita. Kebutuhan hidup semakin mahal, banyak orang yang tidak dapat menjangkaunya. Semuanya seperti lingkaran setan mempermainkan kehidupan. Para wakil Rakyat ngotot dengan kepentingan faksinya sehingga musyawarah untuk mufakat diabaikan, dan kepentingan rakyat ter-abaikan. Ya TUHAN, janganlah murka amat sangat dan janganlah mengingat-ingat dosa untuk seterusnya. Inilah doa dan sikap hati kita kepada Tuhan di Minggu Adven pertama ini. Membangun insyaf diri, membersihkan jiwa, permenungan batin yang suci menuju pencerahan kehidupan, dengan berkata kepada Tuhan: pandanglah kiranya, kami sekalian adalah umat-Mu.

Saudaraku! Lilin pertama warna ungu sudah kita nyalakan di Minggu Adven pertama ini, serta kain tutup altar warna ungu sudah kita pasang sebagai lambang pertobatan. ini adalah simbol kegairan hati untuk bangkit Lilin ungu sebagai lambang pertobatan. Warna ungu mengingatkan kita bahwa Adven adalah masa di mana kita mempersiapkan jiwa kita untuk menerima Kristus pada Hari Natal, dengan membangun sikap hati yang rela membersihkan noda-noda hitam, luka-luka batin yang membuat kita terpenjara di dalam kebencian, dendam, jauh dari ketentraman. Mari kita sambut dan masuki Minggu-minggu Adven ini dengan sikap doa, permenungan, dan pertobatan demi kehidupan di dalam Tuhan. Selamat Adven.

Komentar dimatikan

PENGHUKUMAN PADA HARI TUHAN

HARI TUHAN (HARI PENGHAKIMAN) SUDAH DEKAT
Zefanya 1:7+12-18

u=2807606680,3679825194&fm=0Saudaraku! Inilah Minggu terakhir setelah Trinitatis sebelum kita memasuki Minggu Akhir Tahun Gerejawi. Sejenak kita menoleh kebelakang peristiwa kehidupan yang telah kita jalani, sungguh banyak kisah yang boleh kita ceritakan. Apakah itu kisah duka maupun suka, sakit atau sehat, berhasil atau gagal, miskin atau kaya, pensiun atau kerja, berkelahi atau berdamai, benci atau cinta, dll. Itulah hidup tidak selamanya satu warna, namun puspa warna menghiasi kehidupan. Puspa ragam warna kehidupan terkadang membuat kita kehilangan gairah dan acap membuat kita jatuh kedalam keputusasaan. Ini sering terjadi saat manusia lebih memperbesar lingkaran kecerdasan alam logika menjawab seluruh peristiwa kehidupan. Namun, sebagian orang melihat apa pun peristiwa kehidupan adalah sebagai peluang atau kesempatan untuk mencapai kualitas unggul dari hidup bahagia atau berhasil. Ini sering terjadi dan di alami oleh orang yang telah memiliki kecerdasan spiritual. Selama manusia masih menghuni dunia ini energi positif dan negatif akan selalu ada, dan itu jangan disalahkan. Tetapi, salahkanlah diri apabila energi negatif itu menguasai kemanusiaan kita.

Saudaraku! Akhir dari setiap perjalanan pasti ada, akhir dari setiap peristiwa kehidupan juga pasti ada, bahkan akhir dari bumi dengan segala yang ada di dalamnya juga pasti ada. Bila ada awal pasti ada akhir. Bergerak dari kecerdasan spiritual (iman) kekristenan, ini yang disebut Hari Tuhan (hari Penghakiman). Hari Tuhan menjadi saat akhir dari keterangan waktu di bumi ini beserta segala mahluk yang ada di dalamnya, dan tidak satu pun yang dapat mengelak atau menghindar dari saat itu, baik yang hidup maupun yang mati. Manusia lintas suku, agama, bangsa, maupun bahasa, berada di dalam gengaman kekuasaan sang khalik. Pada saat itu, Tuhan akan berdiri sebagai hakim yang adil untuk menghukum dan menyelamatkan. Menghukum orang yang berbalik dari Tuhan, penyembah-penyembah “baal”, duku-dukun penyesat, dan semua orang-orang yang tidak mengindahkan petunjuk-petunjuk Tuhan. Menyelamatkan orang-orang yang setia kepada Kristus, yaitu: orang yang remuk hatinya karena perjuangan kebenaran dan keadilan; orang miskin karena jujur, tidak menginginkan ketamakan dan kerakusan; orang lemah yang selalu berseru dan mengharap kepada Tuhan; orang yang tidak medapatkan promosi jabatan atau pangkat karena setia kepada Kristus; orang yang kesepian ditinggal sahabat karena tidak mau kompromi terhadap tindak kejahatan atau penipuan. Hari Tuhan menjadi akhir dari segala peristiwa kehidupan dunia yang fana ini.

Saudaraku! Nabi Zefanya secara gamblang mempercakapkan saat atau waktu hari Tuhan (hari penghakiman) ini. Hari Tuhan menjadi hari pengudusan umat-Nya. Pengudusan dalam pengertian pemisahan dari bersih dan kotor, gelap dan terang, buruk dan baik, munafik dan jujur. Zefanya juga menyebutkan waktu hari Tuhan itu sebagai Perjamuan Korban Tuhan, di mana Dia akan bangkit berdiri menghukum orang yang memakai pakaian asing, (baca: orang yang tidak percaya = yang tidak mengindahkan petunjuk-petunjuk Tuhan). Bagi mereka hari Tuhan itu menjadi hari kebinasaan, kemusnahan, kesuraman, kegelapan. Pemilikan akan harta kekayaan akan sirna, rumah-rumah sunyi sepi, dan segala hasil kerja akan menjadi kesia-siaan, karena hari Tuhan telah datang. Sekali pun mereka memiliki harta kekayaan (perak dan emas), itu tidak bisa dipakai untuk menghindarkan diri dari penghakiman Tuhan. Tuhan akan bangkit berdiri menghukum mereka tanpa bisa dibeli atau disuap dengan uang, emas dan perak. Begitu dahsyat hari Tuhan, dan tak seorang pun yang dapat menghindarinya.

Saudaraku! Hari Tuhan akan datang. Bagi orang percaya yang senantiasa hidup berjaga-jaga itu akan menjadi pesta lestari kehidupan, tetapi bagi orang yang tidak percaya itu akan menjadi ratapan kematian untuk selamanya. Pernyataan ini mengingatkan kita yang hidup pada masa kini:
Pertama: Selagi hari masih siang maknailah kehidupan dengan karya kreatif Kristus. Kegelapan tidak bisa mengusir kegelapan, yang mungkin bisa melakukan itu adalah terang. Kebencian tidak mungkin bisa mengusir kebencian, yang mungkin bisa melakukan itu adalah cinta kasih. Kekerasan tidak mungkin bisa mengusir kekerasan, yang mungkin bisa melakukakan itu adalah kedamaian. Kita adalah anak-anak terang.
Kedua: Senantiasa hidup berjaga-jaga, dan sadar (torang ma rohamu). Hidup sadar adalah hidup yang tidak serupa dengan dunia ini, dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah. Hidup menjadi serupa dengan dunia ini akan membuat manusia larut dalam ketidaksadaran. Gereja (baca: orang percaya) hadir di dunia ini adalah untuk memperbarui. Membarui sistem kekuasaan yang menindas, membarui sistim kemasyarakatan yang tidak adil, membarui sistim ekonomi yang tidak memihak kepada orang-orang lemah dan miskin, membarui sistim peradilan yang acap memenangkan perkara “orang-orang besar”.
Ketiga: Berbajuzirahkan Iman dan kasih, berketopongkan pengharapan keselamatan. Seorang prajurit yang siap maju ke medan pertempuran sudah pasti akan mempersiapkan dirinya dengan perlengkapan-perlengkapan perang. Gereja (baca: orang percaya) adalah prajurit Kristus yang maju ke tengah-tengah dunia ini. Tanpa perlengkapan senjata rohani sudah pasti orang-orang percaya akan menjadi mangsa dari roh-roh dunia ini. Supaya menang pilihan satu-satunya adalah berbajuzirahkan iman, (manoluk haporseaon). Kesetiaan beriman kepada Kristus adalah obor kemenangan, dan sinar masa depan untuk hidup yang dicerahkan dan diselamatkan. Peganglah itu. Amin.

Komentar dimatikan

BERHARAPLAH KEPADA ALLAH

SOLUSI DARI SETIAP PERGUMULAN:

BERHARAPLAH KEPADA ALLAH
Mazmur 43: 1-5

u=41792555,3775496751&fm=0Kondisi sulit, penuh tantangan dan bergumul sering membuat seseorang jatuh ke dalam keputusasaan “mandele”. Hidup terasa pudar seolah-olah tidak punya arti, lebih ekstrim menyesali hari kelahiran “boasa ma ditubuhon dainang au tu portibi on, tu magon ma au mate”. Realitas hidup seperti ini bukan asumsi; akibat kondisi sulit, penuh tantangan, ada yang memilih bunuh diri, gantung diri “maningkot”. Ketidakberdayaan mengelola kesulitan, tantangan dan pergumulan membuat dirinya menjadi obyek bukan sebagai subyek yang bebas berinovasi dalam setiap kondisi. Akibatnya muncullah manusia-manusia cengeng, pesimis, sinis, dan apatis. Bila ini yang terjadi maka masa depan yang lebih baik akan menjadi sebuah utopia yang sangat mengecewakan.

Saudaraku! Allah tidak mau bila umat-Nya menjadi umat yang rapuh dikala kondisi sulit terjadi, Allah tidak mau bila umat-Nya menjadi umat yang cengeng, pesimis di saat tantangan dan pergumulan mewarnai kehidupan. Allah menginginkan supaya supaya umat-Nya menjadi umat yang tangguh, dinamis dan penuh daya juang mengelola kesulitan dengan prinsip: Kelolalah kesulitan sebelum anda dikelola kesulitan itu sendiri. Caranya: BERHARAPLAH KEPADA ALLAH. Pemazmur dalam lingkaran spiritualnya melihat dan merasakan pimpinan, tuntunan, dan pemeliharaan Tuhan yang tidak pernah berhenti. Di kala hidupnya dikejar-kejar penguasa (prajurit Raja Saul), sepertinya tidak ada jalan untuk selamat, namun Tuhan menenun jalan keselamatan baginya. Di kala harapan mengabdikan diri sebagai Raja atas pilihan Allah mulai pupus, namun Allah semakin mengokohkannya. Allah sendiri sang penyelamat dalam hidupnya. Itulah sebabnya pemazmur mengatakan: Mengapa engkau tertekan hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah. Artinya kepada umat diberikan motivasi supaya jangan pernah menyerah tetapi bangkit dan bangkit menciptakan karya mengukir makna di tengah kondisi sulit. Sekalipun banyak cerita kehidupan yang tidak meng-enakkan, tetapi justru dari situasi seperti itulah mereka diajak untuk menunjukkan mentalitas yang tangguh pantang menyerah.

Saudaraku! Apakah Anda sekarang dililit oleh kesulitan? Apakah Anda sekarang mengalami banyak pergumulan? Apakah Anda sekarang dihadang oleh banyak tantangan? Firman Tuhan mengatakan mengatakan kepada Anda: BERHARAPLAH KEPADA TUHAN. Jangan menyerah tetapi bangkitlah. Jangan biarkan dirimu dikelola kesulitan, namun kelolalah itu dengan membangun sikap mental bahwa Tuhan mempunyai rancangan terhadap kehidupanmu bukan rancangan kecelakaan, namun rancangan damai sejahtera untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. Bangkitlah, mulailah melangkah, ayunkan tangan, jangan tangisi keadaan tetapi maknailah kehidupanmu. Penolongmu adalah Tuhan. Amin.

Komentar dimatikan

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.017 pengikut lainnya.