PERARAKAN KEMENANGAN ALLAH

DENGARLAH, TUHAN, SERUAN YANG KUSAMPAIKAN

Mazmur 68: 20-22, 32-36

sawah-padiDengarlah Tuhan, Seruan yang Kusampaikan, (Exaudi)!

Saudara! Sesungguhnya seruan ini adalah jeritan hati tatkala kehidupan berada di dalam kesesakan, tekanan, intimidasi, terror. Tatkala kehidupan terhempas kepada titik nadir penderitaan yang sangat menyiksa. Tidak seorang pun peduli, tak seorang pun mau menolong, pupus harapan, dan kegelapan pun berkuasa. Hati menjerit! Hidup berada di dalam bayang-bayang kematian. Hidup tercekik oleh nafsu keserakahan, kekuasaan yang menindas, dan pemaksaan kehendak. Hati menjerit! Mau melarikan diri, namun semua jalan sudah tertutup. Ledakan bom bunuh diri pada hari Rabu, 24 Mei 2017 di Kampung Melayu Jakarta membuat hati menjerit – anggota tubuh korban berserak, dan orang yang tak bersalah meregang nyawa. Bom bunuh diri dilihat sebagai jalan mulia memperoleh sorga. Hmmmm… di sini saya menjerit. Siapa yang tidak menjerit ketika semangat kesatuan dan persatuan relasi keberagaman tergradasi oleh keinginan sektarian yang sempit. Uniformitas bukan takdir yang harus dipaksakan – takdir kita adalah perbedaan tanpa pembeda-bedaan. Siapa yang tidak menjerit ketika Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia memulangkan 20.612 buruh migran Indonesia, 3.240 diantaranya karena bermasalah hukum di negara penempatannya. Di tempat terpisah Direktur Exekutif Migrant Care menyebutkan bahwa 153 orang buruh migran Indonesia menjadi korban perbudakan pengelolaan sarang burung wallet di salah sau Negara telah dipulangkan, (Koran Kompas, Sabtu 27 Mei 2017, hal 18). Berbagai peristiwa di jagad raya ini bukan tidak kurang banyaknya membuat hati manusia menjerit. Apakah ini terus terjadi? Kapan ini berakhir? Bagaimana ini dihadapi?

Saudaraku! Benar bahwa peristiwa yang terjadi disekitar kita sekarang bukan tidak kurang membuat hati menjerit. Tetapi syukur kepada Tuhan bahwa ternyata di setiap peristiwa kita Tuhan ada, peduli, dan mendengar seruan jeritan hati kita. Pemazmur menyaksikan perbuatan-perbuatan besar Tuhan di dalam seluruh peristiwa hidup umat-Nya. Perbudakan Mesir adalah tindakan pengkerdilan harkat dan martabat kemanusiaan; di sana terjadi intimidasan, terror, dan upaya penghapusan identitas. Di wilayah pembuangan Babel adalah upaya pemaksaan kehendak; di sana terjadi indoktrinasi kepercayaan, uniformitas keyakinan dilihat sebagai “kebenaran mutlak”. Umat Israel menjerit! Di tengah jeritan hati dalam bibir yang kelu, Tuhan tampil dan maju  di garis terdepan sebagai seorang prajurit menghalau musuh untuk membela umat-Nya. Allah bangkit, dan terseraklah musuh-musuh-Nya. Orang-orang yang membenci Dia melarikan diri dari hadapan-Nya, (ay.2). Pemazmur menyaksikan Allah adalah Maha Dahsyat (el-shaday) membuat bumi bergoncang, gunung bergoyang, langit mencurahkan hujan, dan raja-raja segala tentara melarikan diri, (ay.9,13). Ini adalah fakta kedahsyatan Tuhan Allah dalam peristiwa keluaran umat-Nya dari perbudakan Mesir. Allah telah mendengar jeritan dan seruan umat-Nya, (I have hear the cry of my people). Arak-arakan kemenangan Allah dinobatkan dalam kesaksian ibadah:

Pertama: Terpujilah Tuhan! Hari demi hari Ia menanggung bagi kita; Allah adalah keselamatan kita. Kesaksian ini adalah iman yang hidup dan dinamis. Iman yang hidup dan dinamis itu berarti mensaksikan apa yang di Imani, dan meng-imani apa yang disaksikan. Saksi yang benar adalah saksi yang melihat, mendengar, dan mengalami keadaan atau peristiwa. Apa yang di lihat, di dengar, di alami tentu itulah yang disaksikan. Pemazmur intim dalam pengalaman ini untuk disaksikan kepada umat di bait suci sebagai bentuk pujian. Pemazmur bukan hanya mengenal Allah dalam hidupnya tetapi mengalami Allah dalam hidup. Dengan kemampuan jiwa  mengalami Allah di dalam hidup maka hati, pikiran dan perbuatan dengan sendirinya terdesak untuk memuji Tuhan. Jadi pujian itu bukan sekedar untaian syair lagu atau nyanyian, namun adalah tautan hati dari hidup bersama dengan Tuhan..

Kedua: Akuilah kekuasaan Allah. Mengaku itu berarti menerima sesuatu objek atau subyek sebagai kebenaran, sekaligus kesediaan menanggung atau menyanggupi segala konsekuensi dari pengakuan itu. Pemazmur menyerukan kepada umat “akuilah kekuasaan Allah”, itu berarti supaya umat tidak ragu akan kekuasaan Allah dalam seluruh dinamika kehidupannya, sekaligus menempatkan kuasa, kekuatan, yang ada padanya dibawah kuasa dan kekuatan Allah. Allah berkuasa atas kehidupan umat-Nya bahkan pemilik mutlak dari kehidupan itu sendiri sehingga hidup mati umat-Nya ada di dalam kekuasaan-Nya.

Ketiga: Allah mengaruniakan kekuasaan dan kekuatan kepada umat-Nya. Masa depan umat Allah terbentuk dalam rajutan dan tenunan Allah sendiri. Allah yang merajut dan menenun kesinambungan hidup masa depan itu dalam karya pemberian, penganugerahan kekuasaan dan kekuatan. Kepada umat, Allah memberi kekuasaan dan kekuatan. Tanpa itu masa depan tidak ada. Tanpa pemberian Allah yaitu kekuasaan dan kekuatan; hidup akan rapuh, kering, dan gersang. Tidak ada gairah, semangat, dan harapan. Hal ini di alami oleh Pemazmur ketika dia dikuasai oleh pikiran, kenginan atau kehendaknya sendiri. Masa depan itu hanya terjadi dalam fakta pemberian Allah, karena Dialah pemilik waktu, dan penentu waktu. Terpujilah Allah.

Saudaraku! Allah adalah keselamatan kita – Akuilah Kekuasaan Allah – dan Allah mengaruniakan kekuasaan dan kekuatan kepada kita. Inilah pesan nas kotbah kepada kita hari ini. Di saat kita mengalami beban pergumulan hidup yang berat, di saat kita jatuh dalam kesesakan, di saat tubuh kita disapa penyakit yang parah, ingatlah bahwa Allah di dalam anak-Nya Yesus Kristus adalah keselamatan kita. Akuilah kekuasaan-Nya yang sanggup menolong kita, Allah telah mengaruniakan kepada kita anak-Nya Yesus Kristus sebagai sumber kuasa dan kekuatan kita. Saat ini banyak peristiwa yang membuat kita menjerit: barangkali hubungan keluarga yang tidak membahagiakan, keadaan ekonomi keluarga yang tidak memadai, kesempatan kerja yang belum terbuka, ingatlah Allah adalah keselamatan kita – Akuilah Kekuasaan Allah – dan Allah mengaruniakan kekuasaan dan kekuatan kepada kita. Sebagai warga bangsa barangkali kita mengalami ketidakadilan, tindakan kekerasan, intimidasi, hak yang terampas, namun sekarang ingatlah Allah adalah keselamatan kita – Akuilah Kekuasaan Allah – dan Allah mengaruniakan kekuasaan dan kekuatan kepada kita. Allah mendengar seruan kita dan Pujilah Dia. Amin. Salam Exaudi.

Komentar dimatikan

YESUS TERANGKAT KE SORGA

YESUS TERANGKAT KE SURGA: MENJADI SAKSI KRISTUS

Kisah 1:1-11

37822721Saudaraku! Sesuai dengan tahun liturgi gerejawi, hari ini kita memasuki pesta perayaan rohani peringatan kenaikan Yesus Kristus ke surga.Kelihatannya, kisah kenaikan Yesus Kristus tidak dilihat begitu penting sebagaimana kisah kematian dan kebangkitanNya. Hal itu bisa dilihat dari sikap umat untuk menyikapinya. Kelihatannya, sepi saja. Syukur di berbagai negara, seperti Indonesia hal itu masih diperingati dan dijadikan hari libur nasional. Lain halnya di Singapura. Hari kenaikan tersebut bukan hari libur. Itulah sebabnya, kantor-kantor dibuka seperti biasanya. Namun terlepas dari itu, bagi kita berita injil tentang kenaikan Yesus Kristus ke surga adalah merupakan kesaksian iman gereja yang tidak terpisah dari peristiwa pelayanan Kristus: kelahiran-Nya, kematian-Nya, kebangkitan-Nya, dan selanjutnya turunnya Roh Kudus. Semua ini termuat dalam rumusan Pegakuan Iman Rasuli yang selalu kita ikrarkan di setiap liturgi hari Minggu.

Saudaraku! Dalam nas kotbah ini, dokter Lukas dengan sangat jelas dan cukup detail menuliskan kisah Kenaikan Yesus Kristus ke surga. Melalui nas ini paling tidak ada dua hal penting yang bisa kita aminkan dari berita Kenaikan Yesus Kristus ke surga. Pertama: Kenaikan Yesus ke surga menegaskan akan fakta kebangkitanNya. Dengan sangat jelas Lukas menuliskan bahwa kenaikan Tuhan Yesus tersebut merupakan satu kesatuan dengan kematian dan kebangkitanNya. Dia tidak hanya menulis penderitaan, kematian dan kebangkitan Yesus, tetapi sampai pada hari Ia terangkat. Peristiwa Kenaikan Yesus ke surga menjadi pembuktian bahwa Yesus yang mati itu, benar-benar telah bangkit. Tanpa kebangkitan tidak akan pernah ada kenaikan. Kedua: Kenaikan Yesus ke surga menunjukkan betapa pentingnya tugas memberitakan Injil. Di dalam ayat 9 kita membaca: “Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutupNya dari pandangan mereka“. Jadi, kita membaca bahwa Tuhan Yesus terangkat “sesudah Ia mengatakan demikian”. Mengatakan apa? Jawabnya ada pada ayat 8: “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksiku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Dengan perkataan lain, pesan atau perintah terakhir yang diberikan oleh Tuhan Yesus sebelum kenaikan-Nya ke surga adalah agar menjadi saksi-Nya. Hal itu dimulai dari tempat di mana mereka berada (Yerusalem), meluas ke seluruh propinsi (Judea) hingga seluruh bumi. Tugas memberitakan Injil diberikan oleh Yesus sebagai sebuah keharusan. Hal yang sama ditegaskan oleh Paulus di dalam 1 Korintus 9:16b “Celakalah aku jika aku tidak memberitakan Injil”, dan 2 Timoteus 4: 2 “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya…”.

Saudaraku! Di saat kita memperingati perayaan pesta rohani kenaikan Yesus ke surga hari ini, roh kemandirian dan kesaksian diteguhkan kepada murid-murid-Nya (baca= Gereja). Roh kemandirian, roh kesaksian untuk memberitakan Injil Kerajaan Tuhan, yaitu Keadilan, Kebenaran, dan Perdamaian adalah tugas mendesak yang harus kita kiprahkan. Gerak pemberitaan Injil terbuka untuk semua wilayah kehidupan secara global tanpa batas. Inilah misi kita sebagai gereja dalam konteks seruan kesatuan berbangsa dalam bingkai 4 pilar kebangsaan (Pancasila, UUD, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika). Umat Kristiani mesti menjadi warga Negara yang bertanggungjawab. Artinya turut bertanggungjawab atas maju mundurnya kesatuan dan persatuan Negara ini. Tanggungjawab itu hanya dapat dilakukan apabila kita mempunyai keinsyafan kenegaraan dan keinsyafan kenegaraan hanya dapat tumbuh jika terdapat keinsyafan kebangsaan. Kehadiran warga Kristiani  dalam konteks bernegara dan berbangsa adalah sebagai Keluarga Besar, tidak ada seorangpun dikecualikan. Semuanya mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Seorang tidak dapat dianggap sebagai “orang lain” hanya lantaran ia merupakan golongan kecil. Seorang Batak tidak dapat dianggap bukan Bangsa Indonesia lantaran ia bukan suku Jawa yang mayoritas. Demikian pula seorang Kristen tidak dapat dianggap mempunyai hak dan kewajiban yang berbeda dibanding saudara-saudara yang beragama Islam, lantaran jumlah mereka kecil. Umat Kristiani bukanlah suatu minoritas dilihat dari sudut ketatanegaraan. Kita bukan warga Negara kelas dua atau kelas tiga.

Kita sebagai warga jemaat Kristiani sekaligus warga bangsa mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan orang-orang lainnya. Kehadiran umat Kristiani di Negara yang kita cintai ini adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Bangsa Indonesia. Bagaimanapun juga Tuhan sudah menjadikan umat Kristiani sedarah, sedaging dan senasib dengan Bangsa ini, maka umat Kristiani tidak boleh mementingkan golongannya sendiri dan menganggap dirinya sebagai bagian parsial dari bangsa ini. Persatuan dan kesatuan Bangsa berdasarkan Pancasila dan UUD 45 adalah taruhan sejarah yang harus secara terus menerus  diperjuangkan umat Kristiani dengan seluruh komponen bangsa. Jangan sampai sejarah mencatat bahwa “konon dahulu kala ada sebuah Negara Indonesia. Namun karena rasa kebangsaan dan bernegara cukup rendah, maka Negara Indonesia hancur berantakan”. Tanggungjawab untuk mempertahankan Negara ini terletak ditangan setiap warga bangsa dan umat Kristiani yang bertanggungjawab. Kiranya roh Kenaikan Yesus Kristus ke surga menggairahkan kita untuk semakin lebih dewasa dalam visi kesatuan, dan semakin mandiri dalam misi keadilan, kebenaran demi dan untuk kehidupan berbangsa dan bernegara supaya bangsa kita berjalan ke arah keadilan, kebenaran dan kemerdekaan yang sesungguhnya. Amin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar dimatikan

NYANYIAN SYUKUR KARENA ORANG ISRAEL TERTOLONG

TERPUJILAH ALLAH YANG TIDAK MENOLAK DOAKU

Mazmur 66: 8-20

 

Sesungguhnya, Allah telah mendengar, Ia telah memperhatikan doa yang kuucapkan.

Terpujilah Allah, yang tidak menolak doaku dan tidak menjauhkan kasih setia-Nya dari padaku.

wp-1483441752047.jpegSaudaraku! Hari ini kita merayakan pesta sukacita rohani Minggu ROGATE (berdoa). Ajakan kepada seluruh umat Tuhan untuk mewujud dalam hidup doa. Jika manusia meyakini kebaikan kasih Tuhan, maka seseorang akan mampu menemukan kekuatan spiritual dalam kekuatan doa. Tiada kekuatan lain bagi keseluruhan umat manusia selain seorang manusia yang berlutut berdoa, dan mengharapkan tuntunan Tuhan. Tujuan dari doa bukan untuk memberi tahu Tuhan tentang kebutuhan-kebutuhan kita, tetapi untuk mengundang-Nya agar mengatur hidup kita. Doa terutama memerlukan hati, bukan suara. Tanpa hati kata-kata tidak berarti. Begitu besarnya kekuatan doa menentukan detak jantung kita sebagai penentu hidup dan mati setiap orang. Doa itu adalah nafas kehidupan. Orang yang berdoa adalah orang yang “hidup”, dan sebaliknya orang yang tidak berdoa adalah orang yang “mati”. Apa artinya hidup apabila selalu dikuasai oleh kecemasan, keputusasaan, kegelisahan? Bukankah itu salah satu fakta dari hidup yang mati? Namun disaat kecemasan, keputusasaan, dan kegelisahan muncul tetapi ada semangat, gairah, rasa nyaman, dan penuh harapan di dalamnya, bukankah itu fakta dari kata hidup? Semua itu terjadi ditentukan oleh sikap hati kita mewujud di dalam doa. Doa adalah jawaban dari hidup dan mati kita.

Saudaraku! Penyelamatan umat Israel (baca: gereja) akan sampai kepada maksud dan tujuannya apabila itu dilihat dalam peristiwa Tuhan. Dan pada saat yang sama terbangun pengakuan mutlak terhadap kuasa Tuhan akan apa dan bagaimana kehidupan umat itu sendiri. Sekalipun umat Allah terbuang ke Babel, namun hidupnya dipertahankan, kakinya tidak goyah, tidak jatuh kehilangan identitasnya. Biar mereka diuji dan dimurnikan dalam dapur kesengsaraan, biar mereka tertangkap dan mengalami segala macam penderitaan, namun Allah mengeluarkan umat-Nya sehingga mereka bebas dan memperoleh keselamatan. Biar apa pun yang sudah diderita, dan masih akan ditanggung, akhirnya Tuhan selalu hadir membebaskan, menolong, dan meyelamatkan mereka. Karya pembebasan dan penyelamatan Allah itulah merupakan tanda untuk mengajak semua umat memandang pada Tuhan dalam praksis pujian dan ucapan syukur. Inti ucapan syukur pemazmur bukanlah dalam bentuk korban saja, melainkan cerita tentang perbuatan Tuhan di dalam hidupnya. Doa pemazmur didengar Tuhan, dan Tuhan tidak pernah jauh, namun selalu dekat dengan umat-Nya. Dengan demikian praksis ibadah yang kita nyatakan adalah:

Pertama: Hidup yang penuh gairah memasyurkan karya Tuhan dan mengucap syukur kepada Tuhan. Gairah ini akan muncul ketika setiap orang sadar dan insyaf akan perbuatan-perbuatan Tuhan yang menyertai, menuntun, dan memelihara perjalanan hidupnya. Umat Tuhan memasyurkan karya Tuhan yang membebaskannya dari perbudakan Mesir, mengantarkannya ke tanah yang dijanjikan itu, menguji dan memurnikannya melalui penderitaan pembuangan Babel untuk membawanya kepada kemerdekaan baru, di mana umat dapat memuji Tuhan dengan bebas. Hidup memuji Tuhan sesungguhnya adalah respons kita atas penyataan Tuhan di dalam Kristus yang peduli terhadap realitas manusia yang terpenjara dalam kuasa maut atau kematian. Kita memuji Tuhan bukan atas dasar pencapaian-pencapaian keberhasilan secular, bukan atas dasar keinginan-keinginan kita yang terpenuhi, dan atau bukan karena harapan-harapan kita yang tercapai. Namun adalah karena Kristus telah menebus dan menyelamatkan kita. Oleh karena itu pujian itu adalah hak dan milik Allah. Hak kita adalah memuji Tuhan. Apa yang menjadi milik dan hak Allah, jangan pernah kita rampas menjadi hak dan milik kita. Rogate itu akan sampai kepada maksud dan tujuannya apabila ada pengakuan yang jujur atas perbuatan-perbuatan yang besar dari Tuhan kepada realitas kehidupan kita yang hina, dan lemah ini.

Kedua: Memandang kepada Tuhan bahwa Ia selalu dekat dengan kita, tidak pernah jauh dari kita. Bagi umat Allah pembuangan ke Babel dengan segala penderitaan yang diakibatkannya adalah Allah yang menghukum dan Allah yang telah jauh dari mereka. Sudut pandang ini membuat mereka kehilangan harapan, kehilangan semangat, meratap, hilang masa depan. Tetapi pemazmur mempunyai sudut pandang lain, yaitu Allah menghukum dan terbuang ke Babel adalah menguji, memurnikan mereka sebagai fakta bahwa Dia dekat, tidak pernah jauh dari mereka. Allah menginginkan supaya mereka selalu memandang kepada-Nya. Di saat arah pandangan itu tidak lagi tertuju kepada Tuhan, maka kehidupan umat Allah akan menderita dan mati. Allah tidak menginginkan umat-Nya menderita dan mati oleh karenanya Dia menguji, dan memurnikan mereka melalui jalan penderitaan. Melalui pertolongan Tuhan, mereka dibebaskan dari susah dan curiga. Ditengah hiruk pikuk dan kegaduhan politik yang kita hadapi saat ini, ditengah penderitaan, kesulitan dan banyaknya penderitaan yang kita alami saat ini, marilah kita mengarahkan hati dan pikiran kita memandang kepada Tuhan. Tuhan dekat, dan tidak pernah jauh dari kita.

Ketiga: Jangan abaikan hidup berdoa di dalam hidup ini, rajinlah berdoa. Ingatlah firman Tuhan yang mengatakan: “Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya, (Yak 5:16). Pemazmur di dalam seluruh dinamika hidupnya selalu bermohon sujud kepada Tuhan. Tidak ada saat terlewatkan tanpa penyerahan yang sungguh kepada Tuhan melalui hidup doa. Segala hidupnya dan kebaikan terhadap hidupnya dilihat dalam lingkaran peristiwa Tuhan. Pemazmur berkata “Sesungguhnya, Allah telah mendengar, Ia telah memperhatikan doa yang kuucapkan. Terpujilah Allah, yang tidak menolak doaku dan tidak menjauhkan kasih setia-Nya dari padaku”, (Maz 66:19-20). Doa yang diucapkan adalah bentuk syukur atas segala perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Tuhan kepadanya. Ini menjadi pembelajaran penting bagi kita untuk melihat kembali muatan doa-doa yang kita ucapkan: apakah rumusa doa yang kita sampaikan Selama ini adalah bentuk ucapan syukur atas segala perbuatan-perbuatan Tuhan kepada kita? Atau hanya deretan keinginan-keinginan atau urutan tuntutan-tuntutan kebutuhan hidup kita ucapkan? Sekali lagi tujuan dari doa bukan untuk memberi tahu Tuhan tentang kebutuhan-kebutuhan kita, tetapi untuk mengundang-Nya agar mengatur hidup kita. Jika kita meyakini kebaikan kasih Tuhan, maka kita akan mampu menemukan kekuatan spiritual dalam kekuatan doa.

Saudaraku! Kiranya ketiga praksis ibadah ini terpatri dalam sikap mentalitas kita sebagai umat percaya kepada Yesus Kristus yang adalah Tuhan atas semua dan untuk semua. Berbagai dinamika kehidupan kita hadapi saat ini, apakah itu menyenangkan atau menggelisakan, apakah itu keberhasilan pun kegagalan, apakah itu penderitaan atau kesukaan. Disetiap peristiwa itu biarlah kita menjadi umat yang selalu mewujud dalam doa. Kita berdoa kalau kesusahan dan membutuhkan sesuatu; mestinya kita juga berdoa dalam kegembiraan besar dan saat rezeki melimpah. Laksanakan kewajiban kita sebaik-baiknya, selebihnya serahkan kepada Tuhan. Selamat Minggu Rogate. Amin.

Komentar dimatikan

YESUS KRISTUS BATU PENJURU

YESUS KRISTUS BATU PENJURU GEREJA

1PETRUS 2: 4 – 10

 

Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani,

bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri,

supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia,

yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terangNya yang ajaib.

 

533420_4768995178701_1949865757_n

Ke DPR Senayan

Saudaraku! Di Minggu KANTATE hari ini seluruh orang percaya diajak, diundang untuk “Menyanyikan nyanyian baru bagi Tuhan”. Nyanyian baru yang dimaksud bukanlah gubahan baru, syair lagunya yang baru, atau tehnik menyanyikannya yang baru, namun lebih dari itu adalah desakan jiwa, hati yang tulus, sikap mentalitas yag jujur, ungkapan iman yang sungguh untuk melibatkan diri dalam perjuangan keadilan, kebenaran, kedamaian, dan cinta kasih, (bnd: Bapak Basuki Tjahwa Purnama = Ahok, divonis 2 tahun penjara dengan tuduhan dugaan kasus penodaan agama. Repons masyarakat dari Sabang sampai Merauke bangkit dengan gerakan seribu llilin dan bunga untuk tegaknya Keadilan, bebaskan Ahok). Nyanyian yang baru itu adalah respon umat akan karya keselamatan Allah di dalam Kristus dalam peran sukacita memuji Tuhan melalui sikap mental jujur, karakter kebaikan, dan aktivitas sehari-hari meneladani Kristus. Dasar dari nyanyian baru itu adalah pengenalan, penghayatan, serta pengamalan kasih setia Tuhan yang telah menyelamatkan manusia melalui anak-Nya Tuhan Yesus Kristus. Kristus yang menderita, disalibkan, dan mati untuk menebus dosa-dosa manusia; dan pada hari yang ketiga bangkit dari dunia orang mati sebagai fakta kebangkitan dan keselamatan orang-orang percaya juga. Mempercayai, meng-imani dan meng-amini karya Allah di dalam relitas kehidupan manusia yang dibenarkan ini, itulah dasar atau fundasi yang kuat untuk mengokohkan kita menyanyikan nyayian yang baru bagi Tuhan. Nyanyian yang baru itu tidak terpisah dari sikap mentalitas, karakter atau perilaku kita dalam hidup sehari-hari.

Saudaraku! Yesus Kristus adalah Batu Penjuru Gereja, (baca: orang percaya). Dalam realitasnya banyak orang yang tidak percaya kepada-Nya, bahkan Rasul Petrus mengatakan Dia memang dibuang oleh manusia. Pemahaman kata “…memang dibuang oleh manusia”, itu terlihat dalam bentuk demokrasi Pilatus, di mana orang banyak, ulama-lama Yahudi, dan pimpinan kekuasaan mengadakan pemufakatan untuk menyalibkan Kristus. Bagi orang Yahudi seseorang yang tersalib itu adalah penjahat, dan itulah yang dituduhkan kepada Yesus. Dia dibuang oleh manusia. Namun sejarah tidak berhenti di sana, Kristus bangkit dari kematian. Sejarah baru diukir oleh kebangkitan Kristus bukan hanya untuk diri-Nya sendiri, tetapi untuk seluruh umat manusia yaitu keselamatan. Dia menjadi batu penjuru “…batu yang telah dibuang oleh tukang-tukang bangunan, telah menjadi batu penjuru, juga telah menjadi batu sentuhan, dan suatu batu sandungan.” (ay.7). Inilah pilar kesaksian kita bahwa Kristus adalah batu penjuru Gereja, (baca= orang percaya) yang mengawali dan menciptakan cakrawala baru dalam kehidupan manusia. Cakrawala baru itu adalah pembaruan (transformasi) kehidupan yang sebelumnya berorientasi kepada maut atau kematian, namun sekarang di dalam Kristus berorientasi kepada keselamatan dan kehidupan. Sebelumnya berada di dalam genggaman kuasa kegelapan, tetapi kini di dalam Kristus berada di dalam kuasa terang. Kesaksian kita tentang Yesus Kristus batu penjuru menggerakkan hati nurani dan sikap mentalitas kita untuk memaknai kehidupan dalam tiga aspek:

Pertama: Dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani. Batu hidup yang dimaksud adalah kehidupan yang memiliki kuasa atau kekuatan untuk bermakna bagi orang lain dan atau menjadi berkat bagi orang lain. Batu hidup itu adalah luapan manusia batiniah yang kuat bergelora untuk melakukan karya kehidupan: kebenaran, keadilan, kedamaian, cinta kasih sebagai dan menjadi realitas manusia jasmaniah. Dipergunakan sebagai batu hidup itu berarti hidup yang dinamis, hidup yang merdeka, hidup yang bergairah, hidup yang kreatif membarui kehidupan sesuai missi Kristus. Setiap orang yang meng-imani Kristus terpanggil untuk terlibat dalam pembangunan hidup social, hidup bermasyarakat, hidup berbangsa dalam prinsip adil, benar dan sejahtera. Dalam konteks ini bukan memaksa orang lain memulai untuk melakukannya, namun pertama memaksa diri untuk melakukannya kepada orang lain. Karena dasar atau fundasi kita untuk berkarya bukan orang lain, tetapi karena Kristus yang adalah batu penjuru. Bebaskan Ahok…

Kedua: Hidup yang penuh gairah untuk memuji Tuhan. Gairah ini akan muncul ketika setiap orang sadar dan insyaf akan perbuatan-perbuatan Tuhan yang menyertai, menuntun, dan memelihara perjalanan hidupnya. Hidup memuji Tuhan sesungguhnya adalah respons kita atas penyataan Tuhan di dalam Kristus yang peduli terhadap realitas manusia yang terpenjara dalam kuasa maut atau kematian. Melalui dan di dalam Kristus yang adalah batu penjuru; rekonsiliasi tercipta, keselamatan terpatri, dan kehidupan terjadi di dalam dunia orang-orang percaya. Inilah dasar atau pondasi bangunan pujian kita kepada Tuhan yang tidak lekang di sepanjang masa dan abad, bahwa: “Batu yang telah dibuang oleh tukang-tukang bangunan, telah menjadi batu penjuru…”, (ay.7). Dengan demikian kita memuji Tuhan bukan atas dasar pencapaian-pencapaian keberhasilan secular, bukan atas dasar keinginan-keinginan kita yang terpenuhi, dan atau bukan karena harapan-harapan kita yang tercapai. Namun adalah karena Kristus telah menebus dan menyelamatkan kita. Oleh karena itu pujian itu adalah hak dan milik Allah. Hak kita adalah memuji Tuhan. Apa yang menjadi milik dan hak Allah, jangan pernah kita rampas menjadi hak dan milik kita. Kantate itu akan sampai kepada maksud dan tujuannya apabila ada pengakuan yang jujur atas perbuatan-perbuatan yang besar dari Tuhan kepada realitas kehidupan kita yang hina, dan lemah ini. Bebaskan Ahok…

Ketiga: Jangan resah dan gelisah menjadi orang Kristen. Kenapa kita jangan resah dan gelisah? Dikatakan di dalam ayat 9 “… kamulah bangsa yang terpilih, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri…”. Iman dan kesaksian kita berkata apabila kita adalah bangsa yang terpilih, umat kepunyaan Allah sudah pasti bahwa Allah tidak akan membiarkan kita hidup sendirian. Sebagai umat kepunyaan Allah kita berharga di mata Tuhan. Gereja takkan punah selama-lamanya, dibimbing tangan Tuhan, dibela kasihNya. Ditantang penghianat dan banyak musuhnya, bertahanlah jemaat dan jaya mulia, (KJ. No 252: 4). Itulah sebabnya ditengah hiruk pikuknya dunia ini, ditengah kegaduhan politik bangsa yang kita alami saat ini, ditengah intervensi keadilan ber-orientasi tekanan massa yang kita hadapi di bangsa ini, hendaknya kita tetap melibatkan diri dalam misi perdamaian, cinta kasih kepada semua orang, dan berjuang demi tegaknya kebenaran dan keadilan untuk kemanusiaan. Bebaskan Ahok…

Saudaraku! Kristus adalah batu penjuru, datanglah kepada-Nya! Melalui Yesus Kristus setiap orang percaya sudah menjadi imam di hadapan Allah. Sebagai imam mempunyai tanggungjawab untuk berlaku hidup di dalam kekudusan, mempersembahkan hidupnya kepada Tuhan di dalam kesetiaan, ketaatan. Mengucap syukur di dalam doa, dan bersukahati memuji Tuhan, dan memiliki hati yang gembira menjadi saksi memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Tuhan. Amin. Salam perjuangan untuk Keadilan, bebaskan Ahok… Selamat Minggu Kantate.

Komentar dimatikan

BERITA KELEPASAN

LIHATLAH KEKUATAN DAN KUASA TANGAN TUHAN

Yesaya 40: 9-11

IMG_20170102_164623Saudaraku! Waktu akan terus berjalan dan tidak akan pernah undur satu detik pun, (point of no return). Di dalam perjalanan waktu menuju titik akhir, Tuhan selalu hadir memberi dan menyatakan karya kehidupan kepada seluruh makluk untuk dan demi tujuan Allah menciptakan kehidupan yang bermartabat, berdaulat, penuh integritas di tengah dunia yang semakin rusuh ini. Tuhan yang adalah pemilik waktu, dan berada di dalam setiap waktu terus bekerja dan berkarya mendatangkan kebaikan kepada umat-Nya dalam missi kerajaan-Nya yaitu keselamatan. Keselamatan adalah karya Allah untuk kehidupan seluruh umat di tengah pahit getirnya kehidupan di bumi ini. Inilah pernyataan iman kita di sepanjang masa dan abad, di tengah krisis cinta kasih yang sedang kita hadapi saat ini. Krisis cinta kasih yang saya maksudkan adalah fakta di mana tindakan kekerasan, peperangan, hasutan kebencian, intimidasi, dan terror, sepertinya merobek kehidupan saat ini. Hari ini melalui Minggu Jubilate: Bersorak-sorailah bagi Allah hai seluruh bumi, adalah pesta sukacita rohani untuk memandang kepada kekuatan dan kuasa tangan Tuhan yang tidak pernah surut bekerja mendatangkan keselamatan kepada umat-Nya. Hanya di dalam dan oleh karena Tuhan keselamatan itu kita peroleh melalui iman.

Saudaraku! Jubilate itu adalah pesta keselamatan, pesta kebebasan, pesta kehidupan. Jubilate itu adalah keceriaan, senyum, berjabat tangan, saling merangkul, saling menyapa, saling menerima, dan itu terjadi dan tercipta di dalam Tuhan. Wajah yang murung karena banyak kesusahan dipulihkan menjadi ceria. Katupan bibir yang kaku karena banyaknya pergumulan dipulihkan menjadi senyum. Tangan yang tertutup dan enggan bergerak dipulihkan menjadi ringan untuk menyambut saling menyapa. Jurang pemisah karena rasa benci dipulihkan menjadi saling menerima. Itulah Jubilate, karya Tuhan membebaskan dan menyelamatkan kehidupan. Peristiwa ini terjadi di dalam fakta kehidupan bangsa Yehuda yang sedang berada di dalam konteks pembuangan Babel. Hidup di dalam pembuangan adalah derita, sengsara, letih, sapi perahan, terintimidasi, dicurigai,  berada di dalam bayang-banyang ketakutan, dan kematian yang sia-sia. Namun, Tuhan yang selalu hadir di setiap waktu dan pemilik waktu tidak tinggal diam melihat derita bangsa Yehuda (baca: gereja). Melalui Yesaya, Allah menyatakan nubuat untuk memberikan pengharapan dan penghiburan kepada umat-Nya. Menghibur umat Allah dengan bernubuat bahwa masa hukuman Allah hampir usai dan keselamatan dan berkat akan tiba. Keselamatan, berkat, dan penghiburan semua dikaitkan dengan kedatangan Tuhan kepada umatNya yang setia. Dia datang dengan kuasa dan kekuasaan bagaikan seorang sang gembala penuh perhatian yang menggembalakan domba-dombanya, membaringkan domba-dombanya di padang yang berumput hijau, membimbing ke air yang tenang, menyegarkan jiwa domba-dombanya. Allah dilukiskan sebagai seorang sang gembala yang mengangkat seekor anak domba supaya terlindungi, dan membawanya dekat dihatinya.

Saudaraku! Lihatlah kekuatan dan kuasa tangan Tuhan di dalam kehidupanmu. Pernyatan ini adalah jawaban, sekaligus motivasi bagi kita tatkala kita merasa hidup ini seolah-olah berada di dalam pembuangan, seolah-olah kita merasa bahwa Tuhan meninggalkan kita, seolah-olah kita merasa hidup sendirian tidak ada yang peduli kepada kita? Ingat dan lihatlah ini:

Pertama: Tuhan adalah sang gembala dalam kehidupanmu. Sebagai gembala, Dia selalu menjaga, memelihara, berjalan di depan menuntun hidupmu. Pengalaman ini disaksikan oleh Pemazmur Daud. Ada jurang dan batu-batu cadas yang akan dilalui oleh domba-domba menuju rumput dan air. Sekali domba-domba itu terjatuh maka batu-batu cadas akan menusuk tubuhnya sehingga mati. Itulah sebabnya sang gembala berjalan di depannya untuk menuntun dan mengarahkan sang domba-dombanya melewati jurang dan baru cadas yang tajam itu. Dalam menuju hamparan rumput dan air itu ada banyak binatang buas yang siap menerkam. Itulah sebabnya sang gembala berjalan di depan memegang tongkatnya yang selalu siap menghadang. Yesus adalah sang gembala kehidupan kita! Karena itu apa pun persoalan, penderitaan, pergumulan, kesusahan yang kita hadapi saat ini, Dia yang adalah Tuhan selalu ada dan hadir menjaga, memelihara kehidupanmu. Dia selalu ada dan hadir memperhatikan dan peduli terhadap kehidupanmu. Dia selalu ada dan hadir menolongmu. Percayalah kepada Tuhan, dengarlah suaraNya, dan terimalah Kristus yang adalah Juruselamatmu.

Kedua: Berserahlah kepada Tuhan, dan berharaplah hanya kepada Tuhan. Hidup berserah itu adalah hidup yang taat, hidup yang setia, hidup yang tulus, dan hidup yang menyukakan telinga dan hati mendengar suara Tuhan. Bukankah bangsa Yehuda terbuang ke Babel karena mereka berontak kepada Tuhan? Mereka meninggalkan Tuhan, menista yang Maha Kudus Allah Israel, dan berpaling membelakangi Tuhan, (Yesaya 1:2-9). Ya, dan akibatnya mereka harus terbuang. Akankah kehidupan seperti ini masih terus kita pertontonkan hingga sekarang? Betapa banyaknya manusia di zaman ini masuk dalam kubangan penderitaan, kegelisahan, kesengsaraan, dan kehampaan jiwa karena lebih menyendengkan telinganya kepada keinginan, dan roh-roh dunia ini. Hampa sukacita dan miskin sorak-sorai mengakibatkan hidup layu dan kering. Di tengah realitas seperti ini, firman Tuhan mengajak kita untuk berserah kepadaNya, dan berharap hanya kepada-Nya maka hidup sorak-sorai akan kita alami.

Ketiga: Ukirlah karya kehidupan supaya bumi ini bersukacita dan bersorak-sorai. Hidup yang terberkati adalah hidup yang mau menjadi berkat. Tuhan telah hadir ketengah-tengah umat Yehuda yang berada di pembuangan Babel untuk menghibur dan melepaskan mereka, memberi kehidupan kepada mereka, Hal yang sama di sini, Tuhan di dalam Yesus Kristus telah mengukir karya keselamatan dan kehidupan kepada kita. Itulah berkat yang tidak terhingga kita terima dari Tuhan. Sebagai orang yang telah diberkati oleh Tuhan, tidaklah elok menahan berkat itu hanya kepada diri kita sendiri, namun Tuhan mau supaya kita menjadi berkat kepada semua orang, melaui aktualisasi diri untuk ikut serta dalam peran mengukir karya kehidupan, supaya bumi yang kita diami ini bersukacita dan bersorak-sorai. Hai Sion, pembawa kabar baik, naiklah ke atas gunung yang tinggi! Hai Yerusalem, pembawa kabar baik, nyaringkanlah suaramu kuat-kuat, nyaringkanlah suaramu jangan takut! (ay 9).

Lihatlah kekuatan dan kuasa tangan Tuhan di dalam hidupmu! Ketika kamu lemah Dia hadir menguatkanmu… ketika kamu di dalam penderitaan Dia hadir mengokohkanmu… ketika hidupmu kalut dan sengsara Dia hadir menghiburmu…ketika kamu menagis Dia hadir memelukmu… ketika kamu berbeban berat, letih dan lesu Dia hadir memberi kelegaan kepadamu. Bersorak-sorailah bagi Allah, hai seuruh bumi. Amin. Salam Jubilate.

 

Komentar dimatikan

Yesus Menampakkan Diri di Jalan ke Emaus

YESUS MENAMPAKKAN DIRI DI JALAN KE EMAUS

Lukas 24: 13 – 25

MENYADARI APA YANG DI IMANI

Siapakah yang Anda Imani:

Yesus pada hari Jumat atau Yesus pada hari Minggu?

sawah (3)Saudaraku! Mengikuti tahun kelender gerejawi, hari ini kita telah berada dan sampai di Minggu ke-2 setelah Paskah Kristus yang disebut dengan Minggu Miserikordias Domini ( bumi penuh dengan kasih setia Tuhan = gok asi ni roha ni Jahowa do tano on). Semua bentuk kehidupan berawal dari kebangkitan Kristus; karena kebangkitan Kristus berarti terbitnya kehidupan untuk selamanya, dan berakhirnya kematian untuk selamanya. Segala bentuk karya yang memihak kepada kehidupan telah menang untuk selamanya, dan segala bentuk perbuatan yang memihak kepada kematian telah berakhir untuk selamanya. Ini terjadi melalui dan atas Paskah Kristus. Bumi penuh dengan kasih setia Tuhan yang terukir dalam fakta kebangkitan Kristus. Bagaimana Paskah itu terjadi dalam realitas kehidupan masa kini? Di tengah-tengah perubahan zaman yang begitu cepat, zaman industrialisasi, zaman modernisasi, zaman informasi, yang secara langsung dapat mempengaruhi dan membentuk karakter manusia? Adalah sebuah realitas bahwa kehidupan secara global semakin rusuh. Di berbagai belahan bumi ini terjadi tindak kekerasan, peperangan, pertikaian, permusuhan. Secara local dan nasional di bangsa ini terjadi ujaran agitasi kebencian, polarisasi, pemaksaan kehendak, dan lebih mengutamakan symbol agama tertentu menjadi dasar kebenaran mutlak. Dalam konteks ini apakah paskah tidak atau belum terjadi?

Saudaraku! Bacaan Alkitab yang ditentukan sebagai nas kotbah hari ini “Yesus Menampakkan Diri di Jalan ke Emaus” kiranya dapat mencerahkan kita untuk menjawab pertanyaan di atas. Kita akan memulianya dengan memunculkan sebuah pertanyaan: Siapakah yang Anda Imani, Yesus pada hari Jumat, atau Yesus pada hari Minggu? Kisah dua orang Murid yang sedang melakukan perjalanan ke Emaus adalah juga gambaran dari realitas kehidupan manusia pada masa kini:

  1. Asik dengan Yesus hari Jumat, (Yesus yang tersalib dan mati). Di hari Jumat itu Yesus di sesah, menderita, disalibkan, dan mati. Di hari Jumat itu para murid menangis, ketakutan, kecewa, hilang harapan, ditinggalkan, diliputi kesedihan. Mereka dikuasai dan terlarut di dalam emosional yang sangat dalam. Ini terbukti dari percakapan ke-dua murid ketika mereka berjalan menuju Emaus. Mereka asik dan larut bercakap-cakap dan bertukar pikiran tentang segala sesuatu yang telah terjadi pada Yesus di hari Jumat itu. Akibat dari ini mata mereka terhalang melihat kehadiran Yesus yang sedang berjalan dengan mereka. Pesan rohani yang bisa kita lihat dari kisah ini adalah: setiap orang yang hanya asik mempercakapkan peristiwa masa lampau tidak akan pernah melihat masa depan yang lebih baik. Setiap orang yang larut dalam peristiwa masa lampau, dia tidak akan pernah mengalami Tuhan yang selalu hadir dalam setiap realitas kehidupan. Setiap orang yang hanya mengasikkan diri dalam nostalgia masa dulu, dia tidak akan pernah mengalami pencerahan untuk terlibat dalam karya yang menghidupkan. Larut dalam kesedihan, terbawa dalam emosional, asyik dalam nostalgia tempo dulu, inilah yang sering menghalangi mata kita, sehingga kita tidak dapat mengenal Kristus, (ay.16) yang selalu hadir di setiap warna kehidupan kita.

 

  1. Alami, Imani, dan aminkanlah Yesus hari Minggu, (Yesus yang telah bangkit). Di hari Minggu itu batu penutup kuburan telah terbuka, kuburan sudah kosong, kain kafan telah terlipat, dan Yesus sudah bangkit. Sebenarnya peristiwa ini sudah disampaikan Yesus sebelumnya kepada para murid, bahwa pada hari yang ke-tiga Anak Manusia akan bangkit. Namun para murid hanya asyik dengan dirinya sendiri, asyik dengan pikirannya sendiri, asyik dengan harapan-harapannya sendiri. Mereka ada bersama Yesus, mereka mengikuti Yesus, mereka bercakap-cakap dengan Yesus, tetapi mereka tidak mendengar dan percaya kepada apa yang diucapkan Yesus. Mereka gagal mengenal dan mengalami Yesus dalam persekutuan. Peristiwa Emaus membuat kedua murid menjadi siuman, dan sadar bahwa Yesus ada dan sedang berjalan bersama mereka, mendengar apa yang mereka percakapkan, dan mengokohkan kuasa kebangkitan itu. Di dalam ayat 31 dikatakan “ketika itu terbukalah mata mereka, dan mereka pun mengenal Dia…”. Pesan rohani yang bisa kita maknai dari kisah ini adalah: bahwa menjadi orang Kristen itu tidak cukup hanya tahu tentang Kristus, cakap berbicara tentang Kristus, hafal ayat-ayat Alkitab, rajin bergereja, rajin berdoa, aktif terlibat dalam persekutuan-persekutuan ibadah. Lebih dari itu adalah dapat mengenal dan mengalami Kristus dalam kehidupan, artinya alami, Imani, dan aminkan. Setiap kehidupan yang mengalami, meng-imani, dan meng-aminkan Kristus hari Minggu, maka dia akan kaya dalam karya membangun kehidupan itu sediri.

 

  1. Perjumpaan dengan Yesus adalah sumber gairah baru, motivasi baru untuk mewujudkan masa depan yang baru, bumi yang baru, kehidupan yang baru di dalam kuasa kebangkitan. Dikatakan dalam ayat 34 “Sesungguhnya Tuhan telah bangkit… lalu kedua murid itu pun menceritakan apa yang terjadi…”. Ada semangat baru, ada gairah baru yang muncul ketika berjumpa dengan Yesus. Perjumpaan dengan Yesus mengubahkan sikap mentalitas untuk tidak pernah surut dalam menghadapi penderitaan, dalam menghadapi persoalan-persoalan kehidupan; karena Yesus yang bangkit itu yang telah menampakkan diriNya kepada ke-dua murid adalah fakta kemenangan atas penderitaan bahkan menjadi kemuliaan.

Saudaraku! Sekali lagi: Siapakah yang Anda Imani? Kristus hari Jumat itu atau Kristus hari Minggu itu? Realitas hidup kita kini dan di sini, benar semangat keagamaan sekarang ini tumbuh seperti jamur di musim hujan, berkembang sangat pesat. Ini terbukti dengan meriahnya perayaan-perayaan seremoni agama. Tetapi apabila kita telisik lebih jauh seberapa besarkan dampak perayaan perayaan itu untuk pembangunan tatanan kehidupan? Jangan jangan yang kita perankan adalah apa yang diperankan ke-dua murid yang sedang mengadakan perjalanan ke Emaus, hanya asik berbicara tentang Kristus yang tersalib, Kristus yang mati itu melalui seremoni agama. Sehingga yang terjadi dalam relasi kemanusiaan kita adalah saling menghakimi, saling mencurigai, saling mempertebal tembok simbol-simbol ke-agamaan. Peristiwa Emaus ini biarlah menjadi sebuah pembelajaran iman kepada kita, bahwa Kristus yang berjalan dengan para Murid adalah Kristus yang bangkit. Kristus yang telah memenangkan kuasa maut atau kematian. Kristus yang telah menang atas penderitaan untuk keselamatan umat manusia di dalam hidup kekekalan. Inilah sumber inspirasi baru bagi kita untuk memaknai kehidupan yang semakin berdaulat dan bermartabat, menghargai sesama, mengasihi sesama, dan berdamai terhadap sesama. Pintu pengampunan harus kita buka dengan lebar bukan karena seseorang berhak menerima itu , tetapi lebih dari itu karena kita berhak mengalami kedamaian. Bumi penuh dengan kasih setia Tuhan. Amin.

Komentar dimatikan

Makna Perayaan Pra-Paskah dalam Liturgi

MAKNA PERAYAAN PRA-PASKAH  DALAM LITURGI

===================

 

Paskah (Ibr:pesakh, Yun: Pascha) berarti melewatkan, yakni kisah Allah membunuh (pesakh) anak-anak sulung Mesir. Tanggal Paskah Yahudi jatuh sekitar bulan Maret-April pada musim semi, masa ketika bunga bermekaran. Ciri utama dari perayaan Paskah adalah perjamuan keuarga di rumah masing-masing yang dilakukan setelah senja.

Perayaan Paskah awal mulanya berasal dari perayaan Keni, tetapi Isral memberi makna baru. Bagi umat Israel Paskah adalah peringatan dan proklamasi akan pelepasan dari perbudakan Mesir. Oleh karena itu Paskah dirayakan dengan motivasi membarui sikap dan pengucapan syukur dengan sukacita. Pembaruan sikap yang dimaksud adalah perubahan dari hidup lama menjadi umat Allah.

Dalam Perjanjian Baru, Yesus merayakan Paskah dengan perjamuan (perjamuan malam) bersama dengan para murid-Nya. Perjamuan Paskah tersebut menjadi dasar perjamuan kudus atau ekaristi bagi gereja masa kini (1Korintus 11). Namun, perjamuan Paskah telah diberikan warna baru yang sejajar dengan makna pelepasan dari perbudakan Mesir, yakni: Pelepasan dari kuasa dosa. Paskah sendiri telah menjadi perayaan Gereja sejak abad kedua.

MASA PRA-PASKAH

Awalnya masa pra-paskah dilakukan berubah-ubah, tidak menetap, hingga dapat ditetapkan dalam tiga periode, yaitu:

  1. Periode pertama dari abad 3 dan atau 4, hingga abad 8 dan atau 9. Pada periode ini masa dimulainya masih berubah-ubah. Ada yang memulainya dengan puasa hanya satu-dua hari (Ireneus, Tertulianus) sebelum paskah. Ada pula pada sepekan sebelum paskah (Dionysius, Basilides). Ada pula hingga dua pekan sebelum paskah (kaum Montanis), dan ada pula yang secara ekplisit membedakan antara pra-paskah pada empat puluh hari sebelum paskah, (Athanasius).
  2. Periode kedua sebagai periode pemantapan, dari abad ke-8 hingga Konsili Vatikan II. Sebelumnya, pada asa perang di Eropa telah muncul praktik berpuasa dan berpantang pada empat puluh hari sebelum paskah,
  3. Peride ketiga sejak tahun 1969, sebagai hasil Konsili Vatikan II, hingga pada masa kini.

Inti makna Pra-paskah adalah untuk mempersiapkan diri. Masa dan Minggu-minggu Pra-paskah adalah persiapan untuk Paskah; sama seperti Minggu-minggu Adven persiapan Natal. Dalam perayaan Liturgi Minggu-minggu pra-paskah adalah muncul lebih dahulu. Sedangkan Minggu-minggu Adven adalah imitasi dari Minggu-minggu Pra-paskah. Dalam Minggu-minggu pra-paskah di sanalah Gereja menghayati Minggu-minggu sengsara, peristiwa salib Kristus. Masa Pra-paskah adalah kesempatan spiritual umat untuk mengenal kasih Allah di dalam Kristus melalui pertobatan yang sungguh.

PERSIAPAN PRA-PASKAH

Masa empat puluh hari persiapan Paskah ini (quadraginta dierum exercitatio = masa empat puluh hari perlatihan spiritual) telah ditetapkan sejak awal abad ke-4 di Roma. Umat mempersiapkan diri dengan “membasuh nista” selama hidup sehari-hari. Konsili Nicea ke -4 menamakannya quaragesima paschae (empat puluh hari sebelum Paskah). Masa ini diisi dengan berpantang dan berpuasa untuk mempersiapkan Paskah.

Catatan:

Penetapan Angka 40 diambil dari beberapa kisah Alkitab, yakni: Perlambang masa pengujian dan persiapan. Musa berada 40 hari di Gunung Sinai (Kel.34: 28). 40 tahun bani Israel di padang gurun. 40 hari penduduk Niniwe berpuasa menyesali dosa (Yun 3:1-10). 40 hari Yesus berpuasa ketika dicobai Iblis (Mat.4:2).

Kapankah Pra-paskah empat puluh hari dimulai?

Pada abad ke-4, Paskah dihitung sejak Jumat Agung, sehingga akhir Pra-paskah adalah Kamis putih. Kata Pra-paskah rupanya hanya digunakan di Indonesia, bahasa lain biasanya menggunakan kata lent atau lenten yang berasal dari lencten (Anglo-Saxon), artinya musim semi. Istilah lain disebut lang atau long, artinya panjang atau lebih lama. Sebab di musim semi, siang menjadi lebih panjang atau lebih lama. Praktik perayaan Pra-paskah dilaksanakan dalam bentuk:

  1. Selasa Daging. Ini bukanlah tradisi gereja, namun tradisi masyarakat (Misalnya: Italia Perancis, Brasil, Meksiko) memanfaatkan pesta hura-hura menjelang masa berpuasa. Hari Selasa Daging atau biasa disebut Selasa lemak (le Mardi Gras), mengingatkan bahwa selama empat puluh hari Pra-paskah, orang dilarang makan daging, mentega, makanan berlemak, dan termasuk tidka makan telur sampai hari raya paskah. Itulah hari Selasa terakhir orang menyantap segala jenis makanan, sebelum akhirnya berpuasa makan daging.

Di Gereja umat melakukan Pengakuan dosa pada hari Selasa itu. Dengan demikian Selasa itu disebut shrovetide berasal dari shriven artinya menulis. Konon eipercaya bahwa Imam yang mendengarkan pengakuan dosa menuliskan pengakuan itu dalam catatannya untuk kemudian memohon pengampunan.

  1. Rabu Abu. Ini adalah hari pertama pembuka masa Prapaskah, yakni masa pertobatan, perkabungan, introspeksi diri, pendekatan diri kepada Tuhan, dan berpuasa. Secara umum dalam tradisi Israel, abu melambangkan kefanaan manusia (Kej.3:19; 18:23), agar manusia menyesali diri dan bertobat.

Sejak abad ke-4 hingga ke-10, istilah Rabu Abu belum muncul, baru pada abad ke-13 baru muncul dengan menaburkan abu ke atas kepala. Paus Urbanus II dalam Sinode Benevento (1091) merekomendasikan penggunaan abu di setiap gereja. Imam dan laki-laki menaburkannya di kepala, perempuan membuuhkannya di dahi. Pada abad ke-12 pertama kalinya abu diambil dari daun palem yang dikeringkan sejak Minggu Palem, Penggunaan abu sebagai tanda pertobatan dan perkabungan. Dan sekaligus mengingatkan manusia bahwa manusia berasal dari abu dan kembali kepada debu.

  1. Kamis putih. Adalah hari raya terakhir sebelum tri hari paskah. Kamis putih juga dipandang sebagai penutup masa pra-paskah. Dua unsur utama dalam liturgi yang dilakukan yaitu perjamuan malam, dan membasuh kaki sebagai simbol hamba yang melayani, (Yoh.13)

MINGGU-MINGGU PRA-PASKAH:

  1. PRA-PASKAH I. MINGGU INVOKAFIT.

Minggu Invocabit = invokafit “bila ia berseru kepada-Ku”, Maz. 91.15a. Permulaan masa 40 hari, bertemakan pencobaan yang Yesus alami di padang gurun dan berpuasa. Berita hari ini berkisar pada pencobaan, kemenangan atas pencobaan, dan kemuliaan-Nya.

Pembacaan Alkitab (Leksionari):

Tahun A. Tentang ketidaktaatan manusia pertama sehingga jatuh ke dalam dosa.

Tahun B. Perjanjian pemulihan dunia oleh Allah setelah peristiwa air bah.

Tahun C. Kisah rencana masuknya umat Israel ke tanah perjanjian setelah keluar dari tanah Mesir.

  1. PRA-PASKAH II. MINGGU REMINISCERE.

Minggu Reminiscere “Ingatlah segala rahmat-Mu”, Maz 25:6. Bertemakan penyataan Yesus bersama dengan Musa dan Elia, (Mat.`17:1-9; Mrk 9:2-10; Luk. 9:28-36). Penyataan itu merupakan kemuliaan bagi Anak Manusia.

Pembacaan Alkitab (Leksionari):

Tahun A. Sikap beriman seperti teladan Abram yang meninggalkan tanah leluhurnya untuk mengiuti panggioilan Tuhan.

Tahun B. Perjanjian Tuhan dengan Abraham akan keturunannya yang bayak

Tahun C. Pengulangan agar berpegang pada janji Tuhan an keturunan dan tanah.

  1. PRA-PASKAH III. MINGGU OCULI.

Minggu Oculi “mataku tetap terarah kepada Tuhan”, Maz, 25:15. Penekanannya pada percaya dan menyembah Allah, dan air hidup.

Pembacaan Alkitab (Leksionari):

Tahun A. Percakapan Yesus dengan perempuan Samaria di sumur nenek moyang Israel

Tahun B. Bertema Yesus menyucikan Bait Allah

Tahun C. Bertemakan dosa, penderitaan, dan pertobatan.

  1. PRA-PASKAH IV. MINGGU LETARE.

Minggu Letare “Bersukacitalah bersama-sama Yerusalem”, Yes.66.10. disebut juga Paskah kecil.

Pembacaan Alkitab (Leksionari):

Tahun A. Bertemakan perjumpaan secara pribadi dengan Yesus, dan babtisan yang dihubungkan dengan orang buta sejak lahirnya.

Tahun B. Percakapan Yesus dengan Nikodemus, terutama bagian “Anak manusia harus ditinggikan, supaya dunia diselamatkan,

Tahun C. Bertemakan perumpamaan anak yang hilang, mengingatkan akan rekonsili antara Allah dan manusia.

ANAMNESIS PEKAN SUCI

Gereja Roma memperoleh informasi bahwa pekan Paskah, yakni pekan Agung dimulai sejak Minggu sebelum hari raya Paskah, atau yang kita sebut Minggu Palem, mengenang peristiwa Yesus memasuki kota Yerusalem. Hingga akhir abad ke-4, Agustinus menetapkan hari-hari prosesi Paskah selama Pekan Suci secara lengkap, yaitu: Minggu Palem, Senin dalam Pekan Suci, Selasa dalam Pekan Suci, Rabu ddalam Pekan suci, Kamis dalam pekan suci, Jumat Agung, Sabtu suci, dan Paskah.

Dalam dan dikatakan Pekan suci, karena selama sepekan itu dilakukan ibadah oleh umat. Pada hari Senin dan Selasa dilakukan kebaktian kecil. Pada hari Rabu dibacakan kisah penghianatan Yudas. Pada hari Kamis dilakukan Perjamuan Kudus. Hari Jumat difokuskan untuk kisah sengsara Yesus dengan ritus mencium salib. Dan pada hari Sabtu disebut dengan Sabtu sunyi, di mana umat tidak melakukan aktifitas apa pun, kecuali berada di dalam rumah.

PENUTUP

Seluruh bentuk perayaan Minggu-minggu Pra-Paskah muatannya adalah penghayatan akan karya kreatif Kristus untuk keselamatan manusia dari dosa. Dalam perayaan ini umat diingatkan untuk melakukan pertobatan, membangun spiritualitas dalam kedekatan ketaatannya mengikuti dan percaya kepada Kristus yang adalah anak Allah. Mengenang mingu-minggu sengsara Kristus disusun sedemikian rupa sehingga menjadi perayaan liturgi penuh makna dalam keterlibatan setiap orang untuk menjadi pelaku keselamatan dalam karya keadilan, kebenaran, cinta kasih, dan damai sejahtera. Ditengah kehidupan secara global, bangsa Indonesia pada khususnya orang kristen terpanggil untuk menjadi pelaku kebenaran, keadilan, perdamaian demi tegaknya hukum kemanusiaan yang bermartabat, dan menghargai hak azasi.

 

Komentar dimatikan