HARI TUHAN

ADVEN II: TUHAN TIDAK PERNAH LALAI DALAM MENEPATI JANJI KEDATAGANNYA

EV: 2 Petrus 3: 8 – 15a                                    Ep: Yesaya 40: 1 – 11

lukisan_gunung_sawah.jpgSaudaraku! Hari ini kita sudah tiba pada Minggu Adventus ke-dua. Seruan untuk membangun hidup bertobat tetap menjadi thema sentral dalam pemberitaan firman Tuhan, sebagai tanda sikap hidup menantikan kedatangan-Nya. Adalah benar bahwa pertobatan tidak hanya digerakkan dalam Minggu minggu Adventus, namun di setiap saat dan tempat itu akan diperankan karena saya, Anda, dan kita semua adalah orang berdosa yang tidak luput dari kealpaan melakukan kehendak Tuhan. Kita melihat betapa gelisahnya kehidupan bumi kita saat ini: saling curiga satu dengan yang lain, dengan sengaja merobek kedamaian, dan celakanya dengan sengaja memakai simbol-simbol agama untuk kepentingan sectarian atau kelompoknya, pun kekuasaannya. Banyak dari antara kita manusia yang merampas hak milik Allah dan menjadikannya sebagai hak milik kita sendiri. Bumi ini adalah hak milik Allah; waktu yang kita tempati ini adalah hak milik Allah, termasuk kemanusiaan kita sesungguhnya adalah hak milik dan kepunyaan Allah, serta segala yang ada pada kita adalah hak milik Allah. Kita hanya diberi kesempatan untuk menggunakannya, menempatinya, mengelolanya, pun merawatnya. Tak lebih dari itu. Pada waktu yang ditentukan-Nya dan itu pasti, sekalipun kita tidak mengetahui harinya, dari kita akan diminta pertanggungan jawab oleh Tuhan sang pemilik kehidupan ini. Dalam rentang waktu sebelum kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus, adalah sangat prioritas dan bijaksana memperbarui cara hidup kita dengan memaknai setiap waktu untuk karya kreatif Kristus yang selalu memihak kepada karya kehidupan: mencintai keadilan, kebenaran, kedamaian, cinta kasih, peduli, saling menghargai, dan hidup rukun. Ingatlah bila waktu yang kita tempati sekarang ini belum berakhir, itu adalah waktu anugerah Tuhan untuk kita pergunakan memperbaiki kelakuan, memperbaiki sikap mentalitas, memperbaiki cara hidup kita ke arah kehendak Tuhan.

Saudaraku! Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat. Pernyataan ini sangat menarik yang disampaikan Petrus hamba dan rasul Yesus Kristus kepada orang Kristen non-Yahudi. Dikatakan menarik karena mereka sudah merindukan kedatangan Kristus yang kedua kalinya, (parousia), namun hingga saat ini belum terjadi. Mereka berada di dalam kebimbangan antara ya dan tidak terhadap kebenaran janji kedatangan Kristus. Di dalam situasi seperti ini muncul guru-guru palsu yang mengajarkan kebebasan liar (libertinisme), dan membuang segala batasan yang ditentukan perintah Tuhan. Juga munculnya ajaran yang meragukan segala-galanya, (skeptisisme). Ajaran guru-guru palsu ini sangat memengaruhi cara hidup atau gaya hidup orang-orang Kristen pada zamannya. Hidup mereka berada dan tampil di dalam sikap moralitas yang rendah, tidak peduli, sembrono, dan liar. Atas realitas ini Petrus hamba dan rasul Yesus Kristus menegaskan dan meneguhkan akan kebenaran firman Tuhan tentang kepastian kedatangan Yesus Kristus kedua kalinya. Apabila hal itu belum terjadi hari ini supaya mereka melihat itu sebagai kasih karunia Allah dengan tujuan memakai rentang waktu yang ada untuk bertobat. Perpanjangan waktu ini sesungguhnya harus dilihat sebagai kepanjangsabaran Allah yang tidak mengenal batas waktu untuk membangun hidup secara benar, hidup dalam kekudusan, bertumbuh dalam kasih dalam menantikan kedatangan Kristus yang kedua kalinya. Petrus hamba dan rasul Yesus Kristus menyampaikan dengan tegas bahwa hukuman sudah tersedia bagi guru-guru palsu yang tidak memercayai hari kedatangan-Nya.

Saudaraku! Nas khotbah di Minggu Adventus yang ke-dua ini, mengajak kita semua untuk mempergunakan waktu yang ada sekarang dalam sikap aktif dan dinamis membarui kelakuan meneladani karya Kristus. Paling tidak ada tiga karakter yang harus kita bangun sebagai tanda hidup berbalik dan bertobat.

Pertama: Mulailah dari Akhir untuk berpikir.Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap… dan bumi dan segala yang ada diatasnya akan hilang lenyap” (ay 10). Adalah sebuah kepastian bahwa bumi dan segala sesuatu yang ada di dalamnya akan berakhir, dan tujuan hidup kita sesungguhnya bukan di sini. Kita di sini hanya sebagai penghuni sementara, kita adalah sebagai pendatang dan pada waktunya nanti kita akan pulang. Dengan memikirkan dan memahami ini kita diingatkan untuk berbenah diri dari semenjak sekarang bertindak dan berperilaku untuk mencapai tujuan. Tujuan hidup kita menjadi penggerak utama untuk menentukan dan melakukan peran apa yang kita laksanakan hari ini. Apabila tujuan hidup kita adalah keselamatan maka tindakan kita adalah karya yang sesuai dengan nilai-nilai keselamatan itu sendiri. Hidup ini adalah sebuah perjalanan: Sebelum kita menjalaninya perlu kita menyiapkan segalanya. Jika kita mau bepergian dan menuju ke suatu tujuan, kita mesti tahu apa yang kita perlukan dalam perjalanan. Barang apa yang mesti kita bawa agar perjalanan kita terasa nyaman, maka semuanya harus disiapkan hingga kita tidak tergoda untuk pulang.

Kedua: Milikilah kerinduan yang kuat untuk mentaati firman Tuhan (kehendak Tuhan). “kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda dihadapan Tuhan, dalam perdamaian dengan Dia(ay 14). Ada peperangan di dalam batin kita ketika kita cenderung tidak taat. Dan waktu kita memilih untuk megikuti keinginan daging kita ada duka yang mendalam karena kita tidak taat pada Tuhan. Sedikit ketidaktaatan akan menimbulkan duka mendalam di hati kita. Sebagai buah dari kerinduan untuk mentaati firman Tuhan, inilah seruan kita: “Tuhan… Bapa yang Maha Suci, aku menyadari bahwa aku seorang berdosa yang tidak bisa menyelamatkan diriku sendiri. Aku membutuhkan Engkau. Aku mengakui bahwa aku telah berdosa terhadap Engkau. Saat ini aku minta agar darah-Mu menghapuskan segala kesalahanku. Hari ini aku merebahkan diri dihadapan-Mu, berdiamlah di dalam hatiku. Aku sungguh percaya kepada-Mu sebagai Tuhan dan Juru Selamat satu-satunya dalam hidupku. Aku percaya bahwa Engkau Yesus adalah Tuhan yang telah mati dan bangkit untuk menyelamatkan dan memulihkanku. Ampunilah dosa-dosaku, dan menangkanlah aku untuk mentaati firmanMu. Terima kasih Tuhan, di dalam nama Tuhan Yesus Kristus aku berdoa. Amin! 

Ketiga: Berusahalah menjadikan waktu yang tersisa ini untuk berdamai dengan kebaikan: berbuat baik terhadap diri dan berbuat baik terhadap orag lain. “Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat” (ay 15). Apabila Tuhan masih memberikan kita waktu itu berarti bahwa Tuhan masih menginginkan sesuatu dari kita. Tentu waktu yang ada ini akan kita ukir dengan karya kebaikan terhadap diri kita ssendiri, orang lain, dan atau lingkungan kita. Inilah seruan kita: Terkadang orang seringkali berpikir secara tidak masuk akal dan bersikap egois, tetapi bagaimana pun juga, terimalah mereka apa adanya. Apabila engkau berbuat baik, orang lain mungkin akan berprasangka bahwa ada maksud-maksud buruk di balik perbuatan baik yang kau lakukan, tetapi tetaplah berbual baik selalu. Apabila engkau jujur dan terbuka, orang lain mungkin mungkin menipumu, tetapi tetaplah bersikap jujur dan terbuka setiap saat. Apa yang telah kau bangun bertahun-tahun lamanya, dapat dihancurkan orang dalam satu malam saja, tetapi janganlah berhenti, dan tetaplah membangun. Kebaikan yang kau lakukan hari ini, mungkin besok akan dilupakan orang, tetapi teruslah berbuat baik. Berikan yang terbaik dari apa yang kau miliki, dan itu mungkin tidak akan pernah cukup, tetapi tetap berikanlah yang terbaik. Sadarilah bahwa semuanya itu terjadi antara engkau dan Tuhan. Tidak akan pernah ada antara engkau dan orang lain, tetapi percayalah bahwa mata Tuhan tertuju pada orang-orang yang jujur, dan Dia dapat melihat ketulusan hatimu. Ada tiga hal penting dalam kehidupan manusia: yang pertama adalah berbuat baik, yang kedua adalah berbuat baik, dan yang ketiga adalah berbuat baik. Amin. Selamat Minggu Adventus ke-dua.

Iklan

Leave a comment »

DOA PENGAKUAN DAN PERMOHONAN

TUHAN AKAN DATANG SEBAGAI BAPA

Yesaya 64: 1-9

gambar_petani_sedang_membajak_sawahSaudaraku! Hari ini kita akan memasuki minggu Advent pertama, sebagai awal tahun baru gerejawi. Adven adalah masa menantikan kedatangan Tuhan Yesus yang ke-dua kali dan sekaligus mempersiapkan Natal (kisah kelahiran Yesus) atau Epifania (kisah awal pelayanan Yesus).  Makna kedua hari raya tersebut mengandung arti eschatology, di mana gereja-gereja mengungkapkan kerinduannya akan kedatangan Tuhan pada masa Adven dan kesiapannya menyambut Natal. Adven pertama ditetapkan gereja menjadi awal tahun liturgi.  Adven I hingga 16 Desember menekankan aspek  eskatologis yang mengarahkan pandangan kepada kedatangan Kristus ke dua kali. Adven pertama diisi dengan thema sikap gereja. Ini menyerukan kepada kita bahwa Dia yang kita nantikan akan segera datang, Dia membawa damai dan cinta kasih bagi kehidupan kita bersama. Apa yang perlu disiapkan?, adalah kesiapan hati dengan tulus, taat dan benar sehingga jiwa kita selalu bersukacita menyambut kedatanganNya, walaupun ada situasi atau keadaan  yang kurang baik, ada derita ataupun pergumulan hidup, sukacita kita tidak akan diambilnya. Misi kedatanganNya sangat jelas yaitu memperbaharui keadaan hidup yang sudah rusak, mengubah  keadaan untuk lebih baik, dengan segala kuasa yang dimilikiNya, Ia akan mengubah hidup dari derita menjadi sukacita, di mana tangisan akan berganti sorak-sorai dan diatas semuanya itu, Kristus sebagai solusi yang dapat menjawab secara pasti semua pergumulan hidup. Orang lemah akan ditolong, demikian juga orang yang kehilangan harapan sekarang telah mendapatkanya. Dan mereka  yang telah diselamatkan  akan berdiri tegak menyaksikan kebesaran Tuhan, tidak lagi tertunduk  malu atas lawan-lawannya sebab kemenangan ada di pihaknya. Jadi atas semua kebesaran Tuhan itu, umat diajak untuk memberitakan apa yang sudah diperbuat Tuhan kepadanya supaya mereka yang masih jauh dan yang belum mengenal Kristus, mereka segera datang menyaksikan kemuliaan Tuhan, dan bersegera untuk membangun insaf diri mendekat kepada Tuhan.

Saudaraku! Nas ini  merupakan sebuah doa yang disampaikan untuk menyatakan bagaimana penderitaan yang dialami umat Israel akibat dosa mereka, sehingga Tuhan menyembunyikan wajah-Nya. Penderitaan yang mereka alami di pembuangan membuat sebagian dari mereka kecewa dan putus asa, dan meninggalkan Tuhan serta pergi menyembah dewa-dewa.  Sebagai wakil umat, Yesaya memohon dengan sangat kepada Tuhan  untuk turun tangan di dalam peristiwa-peristiwa dunia, mengalahkan musuh-musuhnya dan untuk menyelamatkan semua yang berseru kepada-Nya. Doa ini mengungkapkan bagaimana kebesaran Tuhan yang tidak dapat dibandingkan oleh ilah-ilah mana pun, bahwa Tuhan akan mendengar dan akan langsung bertindak  dengan kedahsyatan kuasa-Nya sekiranya umat melakukan kebenaran Tuhan. Umat memohon kepada Tuhan kiranya tidak lagi mengingat dosa mereka dengan kasih-Nya sebagai Bapa atas umat-Nya. Umat Israel sangat berharap kepada kasih Tuhan, menanti dan berharap supaya keselamatan Tuhan segera tiba. Dari nas kotbah ini, kita diajak:

Pertama: Masa Adven pertama ini adalah masa untuk menyadari bahwa hanya Tuhan  pertolongan, pengharapan dan keselamatan kita. Dunia ini dengan segala roh yang berdiam di dalamnya banyak menawarkan kemudahan, keindahan, kebolehan, bahkan sepertinya dapat memberi rasa nyaman dan damai, namun sesungguhnya hanya bersifat sementara. Sebagai orang ber-agama yang ber-iman kepada Tuhan, hanya mengharapkan, dan selalu menjadikan Tuhan sebagai tempat pertolongan, pengharapan, dan keselamatan kita. Meminta pertolongan kepada roh-roh dunia ini hanya menjadikan kita sebagai budak. Membangun pengharapan kita terhadap roh dunia ini juga hanya menjadikan kita semakin haus dan haus yang tak oernah henti. Serta membuat roh dunia ini sebagai keselamatan hanya menjadikan kita mengalami kesia-siaan serta hilang tujuan. Oleh karenanya berharaplah selalu kepada Tuhan karena Dialah jawaban satu-satunya.

Kedua: Masa Adven pertama ini adalah masa berhenti sejenak merenung untuk membangun hidup jujur mengaku sekaligus mengoreksi diri atas dosa dan perbuatan kita yang tidak berkenan dihadapan Tuhan. Seruan membangun hidup jujur mengaku sekaligus mengoreksi diri atas dosa dan perbuatan kita yang tidak berkenan dihadapan Tuhan bukan hanya berlaku pada zaman dulu tetapi juga sekarang ini, kita melihat kejahatan yang semakin merajalela hampir di semua aspek kehidupan. Kejahatan semakin nyata dan orang tidak lagi merasa takut berbuat kejahatan. Sekarang momentum Advent pertama ini menjadi kesempatan bagi kita untuk senantiasa merenung apa yang harus kita perbuat, apakah kita mengikuti sesuai keinginan dunia ini atau keinginan Tuhan?. Bertobatlah, artinya  meninggalkan pola hidup lama berbaliklah pada Tuhan dan hidupilah hidup baru dengan selalu takut akan Tuhan. Sudah saatnya ada perubahan hati dan pikiran sebab bila tidak demikian hidup kita akan semakin dalam masuk pada jurang kehancuran, ibarat kita berada dipinggir jurang, tinggal selangkah kita akan jatuh ke jurang, maka berbaliklah, arahkanlah langkahmu ke jalan Tuhan sehingga selamat.

Ketiga: Masa Adven pertama ini adalah masa membangun hubungan intim bersama Tuhan. Intim yang dimaksud bukan hanya mengetahui tentang Allah, namun mengalami Allah di dalam setiap dinamika kehidupan. Sebagaimana Yesaya menyatakan dalam nas kotbah ini: “Tetapi sekarang, ya Tuhan, Engkaulah Bapa kami! Sebutan Bapa di sini adalah gambaran intimitas di dalamnya bergerak hubungan emosional yang sangat kuat, dan tak terpisahkan. Sebagai Bapa Allah berjanji untuk melakukan perkara-perkara besar bagi mereka yang menantikan Dia. Ia dapat turun tangan dalam sejarah umat manusia sehingga menyebabkan orang melakukan kehendak-Nya. Orang percaya harus memandang kepada-Nya dan bertekun dalam pengharapan, kepercayaan, dan kesabaran.  Selamat Minggu Adven.

 

Komentar dimatikan

GADIS-GADIS YANG BIJAKSANA DAN GADIS-GADIS YANG BODOH

HIDUPLAH BIJAKSANA DAN BERIMAN

Mateus 25: 1 – 13

 

Harapan_di_pematang_sawah_by_devilintroubleSaudaraku! “… berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya”. Pernyataan iman yang sangat menarik dalam konteks memahami waktu, bahwa sesungguhnya waktu yang ada sekarang sedang berjalan menuju titik akhir. Waktu yang ada sekarang sedang menuju titik keabadian Tuhan. Semua akan berakhir. Bumi dan segala yang ada di dalamnya akan berakhir, namun Tuhan sang pemilik waktu kekal selamanya, (verbum dei manet in atternum). Sebagaimana Alkitab mengisahkan bahwa waktu dipahami sebagai garis lurus yang melintang dari masa silam ke masa depan, yang mempunyai awal dan akhir. Dan karena tahu bahwa waktu sedang berjalan menuju titik akhir maka setiap orang berusaha memenuhi panggilan Yesus, melatih diri, menguasai diri, dan selalu siap memperlengkapi diri. Tidak gampang dihanyutkan bujukan, tidak terjerumus menerka atau berspekulasi mengenai kapan akhir itu tiba, tidak bersikap putus asa atau bersikap tidak peduli. Melainkan dengan setia mengikuti Yesus, memanfaatkan waktu “selama hari masih siang”, (Yoh 9:4). Pemahaman waktu yang linier serta sikap mental, dan sikap hidup yang bersumber dari pemahaman waktu linier – inilah yang menjadikan orang percaya mampu hidup dengan bermakna, giat selalu memperlengkapi diri sebagai tanda hidup  “… berjaga – jagalah”.

Saudaraku! Apa yang dikisahkan oleh Matius melalui perumpamaan: “Gadis-gadis yang bijaksana dan gadis-gadis yang bodoh”, sesungguhnya menekankan tentang waktu kedatangan Kristus yang adalah Tuhan untuk realitas kekinian manusia. Tak seorang pun tahu kapan waktu-Nya, anak pun tidak – hanya sang Bapa. Dibalik semua cerita perumpamaan ini penekanannya bukan tentang sepuluh gadis, pun bukan tentang minyak, tetapi tentang hidup berjaga-jagalah. Tetap siuman dan sadar membangun karya kreatif Kristus untuk memaknai kehidupan yang benar, adil , dan damai sesuai missi Kristus sendiri. Memaknai hidup berjaga-jaga paling sedikit ada tiga unsur spiritual yang sangat berguna untuk dibangun:

Pertama: Dapat dipercaya atau memiliki nilai hidup kredibilitas. Mulai dari hal-hal yang kecil sampai hal-hal yang besar. Artinya, bila kita mengaku percaya kepada Tuhan, maka akibatnya adalah kita harus menjadi orang yang dapat dipercaya dalam perkataan, janji, uang, waktu, tanggung-jawab dan hal-hal yang besar dalam kehidupan sehari-hari.  Bila kita tidak dapat dipercaya dalam kehidupan sehari-hari, maka keberadaan beragama kita itu adalah kesia-siaan. Ini juga berarti bahwa kita harus terus mengembangkan pemahaman menjadi orang Kristen tidak hanya mengikuti ritus-ritus dan seremoni agama (beribadah pada hari Minggu), tetapi harus kelihatan dalam kehidupan sehari-hari  dalam bentuk bahwa kita adalah orang-orang yang dapat dipercaya. Allegori perumpamaan tentang ini adalah lima orang perempuan yang bijaksana. Mereka mempersiapkan diri dari hal yang kecil sampai hal besar dalam menanti dan menyambut sang mempelai.

Kedua: Penguasaan Diri (dapat menguasai diri). Sejak dahulu kala penguasaan diri adalah sifat yang sangat dikagumi. Amsal 16: 32 “Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.” Bagi orang percaya, penguasaan diri adalah buah dari pekerjaan Roh Kudus (Gal 5: 23). Rasul Paulus juga menyebutnya sebagai sifat yang dibangkitkan oleh Roh yang diberikan Allah kepada orang percaya. Ditengah zaman yang dikuasai roh yang menggalakkan kerakusan dalam diri manusia, satu-satunya alat perlengakapan yang ampuh adalah penguasaan diri. Hanya orang yang menguasai dirinya tidak terbawa giuran kekilauan dunia ini yang menghanyutkan. Allegori perumpamaan tentang ini adalah lima orang perempuan yang bodoh. Mereka terhanyut dengan dirinya sendiri, pikirannya, dan perasaannya sendiri. Sehingga ketika sang mempelai datang mereka kedapatan tidak siap.

Ketiga: Hidup Bertekun. Untuk lebih memahami kata bertekun ini dapat diibaratkan seperti seorang petani yang giat melakukan pekerjaannya di ladang atau pun di sawah. Terik matahari dan hujan dilalui dengan karya atau kerja demi sebuah harapan ladang atau sawah meghasilkan panen pada waktunya. Ketekunan di dalamnya terdapat Disiplin Dan Bekerja Keras. Demikian halnya kehidupan kita sebagai orang percaya, bertekun di dalam iman melalui karya bakti untuk satu kehidupan yang benar dan adil. Di tengah zaman yang sangat cepat berkembang ini dan di tengah kesibukan manusia berpacu dalam persaingan bebas, diperlukan kedisplinan dan karakter bekerja keras. Tidak berpangku tangan atau sikap menunggu, namun dinamis mengukir karya dalam waktu. Seandainya besok hari kiamat, maka hari ini aku akan tetap menanam pohon Apel. Ungkapan ini begitu terkenal sebagai sikap bertekun di dala disiplin dan bekerja keras.

Saudaraku! Sungguh nas khotbah ini mengajak kita semua untuk cakap memperlengkapi diri dalam garis waktu yang masih tersisa ini. Sebagamana kita megetahui bahwa ada tiga ciri zaman sekarang di mana kita hidup, yaitu: Pertama: era “zaman revolusi industry teknologi’ yang mengutamakan tenaga mesin, robot, atau done pergantian tenaga manusia oleh mesin akan menambah jumlah pengangguran yang dramatis, ketimpangan ekonomi akan menganga dan kesenjangan social akan makin besar. Kedua: era “Masyarakat Ekonomi Asia”, (MEA) yang diutamakan adalah persaingan mutu atau kualitas baik dalam bidang jasa dan barang. Apabila kita tidak ada persiaan yang sungguh-sungguh menghadapi ini, maka kita bisa menjadi budak dan obyek di mana kita ada. Atau menjadi penonton saja di tempat kita masing-masing. Ketiga: Piagam Medina (kontrak konstitusional antara Nabi Muhammad dan penduduk Madinah). Menyerukan kepada para cendikiawan Muslim di seluruh dunia untuk mengembangkan konsep kewarganegaraan yang inklusif, dan dapat menanungi seluruh golongan masyarakat dengan tetap mendasarkan pada tradisi, dan warisan fikih Islam sembari memperhatikan aneka ragam perubahan global. Apabila kita tidak ada persiapan yang sungguh-sungguh menghadapi ini, maka jiwa kerukunan dalam arti saling menghargai dan menghormati akan semakin lemah dan hilang. Firman Tuha berkata kepada kita saat ini: “…berjaga-jagalah” artinya tetap siuman dan sadar sembari terus mengukir karya kreatif Kristus yang adalah sang pengantin di mana tak seorang pun tahu hari dan saat kedatangan-Nya. Tetap cakap memperlengkapi diri supaya di dalam waktu yang tersisa ini menjadi waktu kemuliaan bagi kita semua. Selamat hari Minggu.

 

 

Komentar dimatikan

HUKUM YANG TERUTAMA

UTAMAKANLAH KASIH DALAM HIDUPMU:

MANGHAHOLONGI DEBATA NANG DONGAN JOLMA

Mateus 22: 34 – 46

lukisan_gunung_sawah.jpgSaudaraku! Bulan Oktober 2017 akan segera kita tinggalkan dan segera memasuki bulan November 2017. Sekilas kita bisa bertanya apa bedanya bulan-bulan yang sudah terlewatkan dengan bulan-bulan yang akan segera kita masuki? Bukankah hal itu sesuatu yang biasa sebagaimana tahun – tahun sebelumnya? Ya, itu adalah benar bahwa suka atau tidak waktu akan terus berjalan sebagaimana sifat dari waktu itu sendiri terus berjalan menuju titik akhir. Apabila demikian apa perlunya kita memikirkan atau membahas bulan yang akan segera kita tinggalkan dan bulan yang akan segera kita masuki? Bagi para pencari makna ini adalah penting untuk bersegera mengevaluasi diri dan selanjutnya berbenah memperlengkapi diri untuk kehidupan yang semakin berkualitas dalam karakter, moral, mentalitas, pun spiritualitas. Adalah sebuah pernyataan yang benar bahwa waktu itu penting, namun bagaimana memaknai waktu itu jauh lebih penting. Bagi para pencari makna jauh lebih penting memikirkan esensi kehidupan yaitu karya atau respons yang diukir di setiap waktu daripada membahas peristiwa yang terjadi disetiap waktu. Di dalam bingkai (frame) berpikir seperti itulah kita mewujud memaknai renungan ini, yaitu UTAMAKANLAH KASIH DALAM HIDUPMU: MANGHAHOLONGI DEBATA NANG DONGAN JOLMA.

Betapa hebatnya orang-orang Farisi (= memisahkan diri) yang menekankan keharusan seseorang menggenapi setiap segi hukum Taurat, dan orang-orang Saduki yang menganggap bahwa ibadah di Bait Suci adalah pusat dan tujuan utama dari hukum Taurat. Tuntutan atau ajaran hukum Taurat dan ritus adalah mutlak, di luar ajaran itu adalah pelanggaran. Posisi mereka adalah jelas sebagai pembela syariat-syariat hukum Taurat dan satu-satunya kebenaran yang wajib dilakukan bahkan menjadikannya sebagai jalan keselamatan. Di luar ajaran itu tidak ada kebenaran, tidak ada jalan keselamatan. Itulah sebabnya ketika Yesus hadir ditengah-tengah mereka selalu mendapat penolakan. Mereka tidak bisa menerima Yesus sebagai anak Allah sebagai figurative kegenapan hukum Taurat. Dalam berbagai cerita kitab Injil hampir tidak ada titik temu ajaran orang-orang Farisi dan Yesus. Orang-orang Farisi bergerak ketat dalam peristiwa hukum-hukum yang ada, sedangkan Yesus bergerak cepat dalam memaknai peristiwa hukum-hukum yang ada. Orang-orang Saduki bergerak cepat dalam pelaksanaan ritus-ritus di Bait Suci; sementara Yesus bergerak cepat dalam pemaknaan ritus – ritus itu sendiri. Dalam konteks hidup bergereja, hidup antar umat beragama, hidup berbangsa dan bernegara, kini dan di sini jangan-jangan hal seperti ini yang terjadi sehingga nilai-nilai kemanusiaan (cinta kasih, damai sejahtera, kebaikan, sukacita, kesabaran, kemurahan) semakin kerdil dan sepi dari kehidupan. Adalah fakta bahwa hampir setiap hari kegaduhan antar kelompok terjadi, saling mencurigai, ujaran kebencian terjadi, dan ironisnya simbol-simbol agama dipakai untuk memperbesar lingkaran diskriminasi terhadap kaum yang memiliki agama berbeda dari agamanya. Di sini saya gagal faham.

Saudaraku! Yesus hadir ditengah-tengah kumpulan orang-orang Farisi dan Saduki menekankan esensi dari agama bukan persoalan ritus, pula bukan persoalan tuntutan-tuntutan hukum, namun lebih dari itu adalah persoalan pemaknaan ritus, pemaknaan hukum-hukum itu sendiri dalam karya penyelamatan kehidupan manusia secara praksis:

Pertama: Mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi. Dengan ajaran ini Yesus menekankan esensi dari tuntutan hukum Taurat itu sendiri bukan dalam ajaran meniadakan hukum Taurat. Tuhan memberikan hukum Taurat kepada bangsa Israel melalui Musa supaya bangsa itu mendengarkan Tuhan, melakukan kehendak Tuhan, dan berjalan sesuai dengan perintah Tuhan. Muatannya bukan lebih banyak tentang teoritis tetapi adalah praksis yaitu berlaku taat, dan setia kepada Tuhan. Matius menggunakan kalimat mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati, jiwa, dan, akal budi bukan dengan kata pikiran… Penggunaan kata hati, jiwa, dan akal budi adalah pengambaran esensi keutuhan manusia itu sendiri. Peran ketaatan dan kesetiaan hanya terjadi dalam gerak hati, jiwa, dan akal budi, tidak dengan pikiran. Dengan demikian bila Yesus menyatakan hukum yang terutama yaitu mengasihi Tuhan Allahmu… kepada orang-orang Farisi, dan orang-orang Saduki itu berarti supaya mereka hanya berlaku taat dan setia kepada Tuhan. Itulah makna dari tuntutan hukum Taurat yang pertama dan terutama. Dan ini jugalah makna dari agama-agama yang kita miliki sekarang. Adalah sesuatu yang tidak benar apabila orang-orang yang menyebut dirinya ber-agama, namun tindakannya berbeda jauh dari kesetiaan, dan ketaatan kepada Tuhan yang dipercayainya. Di saat ketaatan, dan kesetiaan kepada Tuhan diperankan, maka di saat itu jualah cinta kasih, hidup saling mengasihi kita rayakan. Ketaatan dan Kesetiaan kepada Tuhan sesungguhnya adalah pesta cinta kasih, damai sejahtera, kebaikan, sukacita, kesabaran, kemurahan.

Kedua: Mengasihi sesama manusia seperti dirimu sendiri. Rumusan ini sangat menarik karena termuat karya penciptaan manusia secara utuh dalam kesamaan dan kesatuan. Manusia sebagai ciptaan Tuhan adalah sama dalam esensinya sekalipun berbeda dalam bentuknya: laki-laki dan perempuan. Dalam konteks mengasihi titik berangkat Yesus bukanlah bentuk, tetapi adalah esensi kemanusiaan itu sendiri yaitu kesamaan dan kesatuan sebagai ciptaan Tuhan. Apa yang diungkapkan Yesus dalam nas ini yaitu mengasihi sesama manusia seperti dirimu sendiri, titik berangkatnya selalu digerakkan oleh apa yang kita lakukan kepada diri kita sendiri. Sebagaimana kita selalu digerakkan untuk menjaga, merawat, memelihara, melindungi, melakukan yag terbaik kepada diri kita sendiri sebagai tanda kita mengasihi diri kita sendiri; demikian pulalah kita berlaku kepada sesama manusia yang berbeda bentuk dengan kita. Dalam firman yang lain dikatakan: Matius  7:12 “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. Dalam bentuk kita adalah berbeda, namun dalam esensi kita adalah sama sebagai karya kreatif Allah dalam hembusan Roh-Nya.  Yesus mengatakan dalam kitab Matius ini sebagai hukum kedua yang sama dengan hukum pertama dan terutama. Artinya mengasihi Tuhan Allah tidak terpisah dari tindakan kasih terhadap sesama. Apabila semua agama berkata bahwa kami mengasihi Tuhan Allah, pada saat yang sama ada praksis kasih terjadi dalam kehidupan manusia. Di dalam kitab 1 Yohanes 4: 20 dikatakan: Jikalau seorang berkata “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Dengan demikian makna dari kehidupan kita akan ditentukan oleh seberapa besar hati, jiwa, dan akal budi kita mengasihi Tuhan Allah dan mengasihi sesama kita.

Saudaraku! Panggilan nas khotbah ini adalah UTAMAKANLAH KASIH DALAM HIDUPMU. Dalam konteks kini adalah sangat relevan kita perankan. Kita melihat dan merasakan betapa egoisnya kehidupan saat ini. Toleransi atau kepedulian semakin rapuh digerus oleh egoism sectarian atau kelompok, pun faksi. Masing-masing asyik dalam citra diri yang sempit tanpa pernah merasa bersalah akan tindakan ketidakpedulian terhadap orang lain. Betapa hidup ini semakin gelisah tatkala kehendak diri, simbol diri, kita paksakan sebagai kebenaran mutlak terhadap orang lain. Selama ini terus kita perankan itu berarti kejatuhan kita sudah dekat. Harapan kita dalam proses mengakhiri bulan Oktober ini, dan memasuki bulan November ini, kualitas diri kita semakin bergema memaknai kehidupan yang semakin lebih baik, lebih damai, lebih ramah, lebih sejahtera, lebih rukun. Karena Apalah arti ibadahmu kepada Tuhan, bila tiada rela sujud dan sungkur? Apalah arti ibadahmu kepada Tuhan, bila tiada hati tulus dan syukur. Ibadah sejati jadikanlah persembahan, ibadah sejati kasihilah sesamamu? Ibadah yang berkenan bagi Tuhan jujur dan tulus, ibadah murni bagi Tuhan. Berbahagialah orang yang hidup beribadah yang melayani orang susah dan lemah dan penuh kasih menolong orang yang terbeban. Itulah tanggungjawab orang beriman”. Utamakanlah Kasih dalam Hidupmu. Amin.

 

Komentar dimatikan

Charity Teresia Agnes Nababan

Komentar dimatikan

YESUS MEMBERI MAKAN LIMA RIBU ORANG

ALLAH MENYEDIAKAN KEBUTUHAN KITA

MATEUS 14:13-21

Saudaraku! Suka atau tidak suka waktu akan terus berjalan dan tidak akan pernah mundur atau terulang kembali, (point of no return). Sepertinya waktu berjalan begitu cepat serta membawa perubahan yang begitu cepat dan sangat mendasar. Dikatakan mendasar karena mempengaruhi seluruh lini kehidupan: ekonomi, social, budaya, agama, politik, bahkan teknologi komunikasi yang cepat berubah. Kita belum selesai menguasai teknologi komunikasi yang ada, selanjutnya sudah muncul teknologi komunikasi yang baru, dan begitu seterusnya. Perubahan begitu cepat dan sangat mendasar. Apabila kita asik bertahan dalam zona aman (comfort zone) melalui cara kerja linier, monoton, sudah pasti kita akan tertinggal bahkan tergilas oleh perubahan itu sendiri. Tidak cukup hanya kerja tetapi harus ada karya; tidak cukup hanya mengikut tetapi harus ada inovasi. Sikap seperti inilah yang harus kita bangun untuk dapat memaknai waktu ini. Sudah pasti tantangan demi tantangan akan datang silih berganti, namun ingatlah untuk melawan arus air yang keras dibutuhkan ikan yang kuat, hanya mengapung saja ikan mati pun bisa melakukannya.

Saudaraku! Saat ini kita telah memasuki Minggu pertama bulan Agustus 2017. Berbagai dinamika kehidupan sudah kita hadapi dan akan kita hadapi. Persoalan kebutuhan (perut) terus menjadi momok: hari ini kami makan apa…, besok apa yang kami makan…, dan lusa siapa yang kami makan. Barangkali cara berpikir seperti ini masih menguasai sebagian orang karena persoalan kemiskinan atau keadaan ekonomi keluarga yang sangat terbatas. Namun pada saat yang sama ada orang berpikir: hari ini di mana kami makan…, besok ke mana kami makan…., dan lusa siapa kami ajak makan. Konsep pikiran seperti ini menguasai sebagian orang karena hidup berkecukupan, memiliki ekonomi yang sejahtera dan makmur. Selama bumi ini masih ada gambaran kehidupan social seperti ini tetap ada, dan apabila kedua keadaan ini berdiri sendiri makai ketimpangan social akan terus terjadi. Yang miskin akan tetap miskin, dan yang kaya akan tetap semakin kaya. Ini tidak baik. Mendekati kebaikan adalah mau berbagi, seperti ada tertulis: “Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya” 2 Korintus 9: 9. Dan selanjutnya dikatakan dalam 2 Korintus 8: 14 “Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan”. Dalam konteks ini keseimbangan yang dimaksud adalah harmoni. Harmoni kehidupan social akan tercipta apabila masing-masing orang mau berbagi dengan orang lain. Selama kita masih enggan berbagi dengan orang lain maka dunia akan terus mengalami kelaparan. Dan ingatlah ini bahwa kelaparan terbesar di jagad raya ini bukan lapar karena ketiadaan roti atau ketiadaan makanan, tetapi karena ketiadaan kepedulian dan cintakasih (baca= berbagi). Dunia dengan roh yang ada di dalamnya tidak menginginkan kebaikan (baca=harmoni) tercipta dalam kehidupan, karena roh dunia ini adalah roh egois, roh konsumerisme, roh hedonisme yang selalu menghisap martabat kemanusiaan dari manusia itu sendiri. Beda dan sungguh jauh berbeda dengan Roh Allah yang setia dalam kasih-Nya menghembuskan roh perdamaian, roh kepeduliaan, dan keselamatan kepada martabat kehidupan manusia itu sendiri.

Saudaraku! Bila demikian halnya muncul satu pertanyaan: kenapa Tuhan menempatkan kita di dalam dunia yang egois ini? Jawabannya sangat sederhana yaitu supaya kita ber-kemauan hati dipakai oleh Tuhan meneruskan missi-Nya (baca= kerajaan-Nya) selama waktu kita masih ada di dunia ini. Lihatlah betapa Yesus menunjukkan belas kasihan kepada orang banyak yang datang mengikuti-Nya. Sang murid berkata supaya mereka di suruh pulang ke rumah masing-masing. Ini adalah rasional karena tidak mungkin memberikan mereka makanan tanpa ada persediaan. Bagaimana mungkin memberikan makan lima ribu orang itu pun belum termasuk perempuan, sementara persediaan makanan tida ada? Yang lebih nyaman adalah menyuruh mereka pulang ke rumah masing-masing. Murid-murid membangun sikap lari dari kenyataan, lemah dalam peran mengambil tanggungjawab. Berbanding terbalik dengan sikap yang ditunjukkan oleh Yesus yaitu menyuruh murid-murid-Nya untuk mengumpulkan orang banyak itu, dan memakai situasi sulit itu sebagai kesempatan menunjukkan Kerajaan Tuhan. Dengan dan melalui lima roti dan dua ikan orang banyak diberi makan, bahkan sisa dua belas bakul, (5 + 2: 5000 = 12). Ada banyak pesan rohani yang bisa kita pelajari dari nas ini, sekaligus meneguhkan iman percaya kita kepada Tuhan di dalam Yesus Kristus yang selalu menyediakan kebutuhan kita. Paling tidak tiga hal yang saya sampaikan:

Pertama: Berjalan bersama Yesus dibutuhkan komitmen dan tanggungjawab. Setiap orang yang dengan sungguh mengikuti Yesus pasti tidak terhindar dari kesulitan dan persoalan-persoalan kehidupan. Namun pada saat yang sama setiap orang yang sungguh mengikuti Yesus pasti akan mengalami kemenangan dari setiap kesulitan dan persoalan-persoalan kehidupan ini. Kesulitan yang terjadi di dalam kehidupan ini bukan untuk dihindari, namun harus kita hadapi. Kita akan kehilangan kualitas unggul kepribadian apabila kita tidak berani menghadapi kesulitan sebagai realitas kehidupan. Yesus menghadapi kesulitan menurut sudut pandang para murid, bahkan memakai kesempatan itu untuk menunjukkan kuasa Kerajaan Tuhan yang perduli terhadap kehidupan setiap orang. Di dalam kehidupan ini ada banyak perkara yang tidak bisa kita jawab. Pikiran tidak sanggup atau mampu untuk mengurainya. Terkadang kita melarikan diri dari kenyataan, hati kita kalut, bahkan melemparkan tanggungjawab kepada orang lain. Hari ini firman Tuhan meneguhkan hati kita supaya di setiap kesulitan yang kita hadapi boleh siuman bahwa Tuhanlah jawaban itu. Jangan ragu, jangan bimbang ikutlah Dia terus.

Kedua: Pedulilah terhadap orang lain jangan enggan untuk berbagi. Kuasa Allah di dalam Yesus Kristus yang mencukupkan lima roti dan dua ikan untuk makanan orang banyak adalah sebagai mujizat, tetapi hal yang membuat mujizat selanjutnya adalah kemauan hati untuk mau berbagi dengan orang lain sehingga semuanya mendapat makanan sesuai kebutuhannya. Apa jadinya kalau setiap orang hanya mementingkan dirinya sendiri dan mengambil hanya untuk dirinya sendiri? Yang pasti adalah kekacauan. Dalam konteks kita di sini bahwa kelaparan terjadi karena ada orang mengambil lebih banyak. Dan ini tidak akan menjadikan hidup mengalami sukacita. Yang membuat hidup ini ada sukacitanya adalah berbagi… sekali lagi berbagi. Bahasa lainnya adalah PEDULI. Di saat kepedulian diperankan maka di sana mujizat akan dirasakan. Di zaman teknologi informasi baru (New Digital Age) ini, di saat manusia berlomba mengutamakan tenaga-tenaga mesin (baca: drone) dalam tatanan kehidupan, biarlah harkat martabat kemanusiaan itu juga dihargai dan dimaknai dengan membangun roh kepedulian, mau berbagi dengan orang lain. Sebagai mahluk social kita tidak bisa terpisah dari orang lain; Anda tidak bisa hidup sendirian dengan segala apa yang Anda miliki tanpa orang lain. Ingatlah begitu banyak orang yang membutuhkan kepedulian kita hari ini. Maulah berbagi dengan mereka…

Ketiga: Allah menyediakan bagi kita apa yang kita butuhkan. DI PARADE DEBATA DO NA RINGKOT DI HITA. Barangkali untuk beberapa orang perkataan ini adalah sebagai utopia, hanya untuk menina bobokkan hati dan perasaan kita, sementara realitas begitu banyak orang yang sulit memenuhi kebutuhan setiap harinya. Mencari sesuap nasi pun amat dan teramat sulit. Bagaimana kebenaran perkataan ini? Bila Allah menyediakan apa yang kita butuhkan tentu angka kemiskinan akan terus menurun bukan sebaliknya. Untuk mencoba menjawab pertanyaan ini harus jelas bagi kita perbedaan antara kebutuhan dan keinginan kita. Kita harus jujur mengaku bahwa sesungguhnya realitas manusia sekarang sudah lebih banyak mencari apa yang menjadi keinginannya bukan apa yang menjadi kebutuhannya. Dan ini sudah terjadi sejak awal ketika manusia pertama diciptakan: dari sudut kebutuhan Allah sudah menyediakannya di Taman Eden, dan Allah memberi titah untuk tidak memakan buah yang ada di tengah taman itu. Si jahat hadir dan menawarkan sesuatu yang indah dipandang mata sehingga muncullah keinginan. Keinginan itulah yang menguasai pikiran manusia pertama, dan itulah awal runtuhnya harmoni kehidupan. Dengan kata lain kebutuhan kita akan menjadi hilang apabila kita gagal mendidik keinginan-keinginan kita. Di padang gurun Allah memberi Manna kepada umat-Nya, memberi daging kepada umat-Nya, dan itulah realitas Allah yang mencukupkan kebutuhan umat-Nya. Kuncinya adalah kerinduan kita untuk mau datang kehadiran Tuhan, mendengarkan firman-Nya, dan melakukan perintah-perintah-Nya.

Saudaraku! Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran! Mengapakah kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? Dengarkanlah Aku maka kamu akan memakan yang baik dan kamu akan menikmati sajian yang paling lezat. Sendengkanlah telingamu dan datanglah kepada-Ku; dengarkanlah, maka kamu akan hidup! (Yesaya 55: 1-3). Amin.

Komentar dimatikan

AJAKAN JURUSELAMAT

AJAKAN JURUSELAMAT:

MARILAH KEPADA-KU, SEMUA YANG LETIH LESU DAN BERBEBAN BERAT

Matius 11:16-19, 25-30

 

MG-1832Saudaraku! Bumi yang kita diami sekarang sepertinya semakin garang; bumi yang kita diami sekarang sepertinya semakin keras; bumi yang kita diami sekarang sepertinya semakin rusuh. Hampir setiap hari kita melihat dan mendengar, baik secara langsung maupun melalui media elektronik, cetak, dan media social terjadi pelecehan akan harkat dan martabat kemanusiaan. Secara global pembunuhan dan perang atas nama agama masih terus terjadi di Mosul Irak, Suriah, Philippine, dan Negara lainnya. Akibatnya banyak masyarakat sipil yang terbunuh dan harus mengungsi mencari zona aman. Secara nasional ujuran kebencian dan hasutan masih terjadi. Akibatnya nilai-nilai kebangsaan yaitu persatuan dan kesatuan dalam konteks pluralisme terganggu. Identitas keberagaman dalam konteks suku, agama, budaya, dan ras yang adalah kekayaan dilihat sebagai ancaman dan dicurigai. Baru-baru ini kita mendengar adanya selebaran terror kepada oknum kepolisian, bahkan secara langsung berusaha membunuh oknum-oknum kepolisian. Celakanya tindakan tersebut dilihat sebagai jalan “mulia” menuju sorga. Belum lagi persoalan-persoalan local seperti perampokan, korupsi, dan tindakan kejahatan lainnya. Inilah sebagian potret kehidupan kita kini dan di sini. Bumi yang kita diami sekarang sepertinya bukan lagi bumi yang damai, bumi yang nyaman, bumi yang tenteram, bumi yang adil. Namun adalah bumi yang egois, penuh kegelisahan, keresahan, dan gersang. Martabat kemanusiaan sudah diukur dari sudut angka rupiah tidak lagi dari sudut nilai sebagai anugerah Tuhan.

Terhadap realitas ini tentu kita bertanya di mana peran atau posisi agama-agama yang kita anut? Bukankah seharusnya melalui ajaran-ajaran agama kehidupan semakin baik? Kehidupan semakin damai? Relasi-relasi social semakin merekat? Bukankah melalui ajaran-ajaran agama yang kita anut cinta kasih antar sesama manusia semakin terpelihara? Semua kita berkata bahwa tidak satu pun agama di dunia ini yang mengajarkan kebencian, permusuhan, pembunuhan, dan yang sama dengan itu justru sebaliknya. Hidup berdamai, hidup dalam kepedulian, saling menghargai atau menghormati, hidup rukun, dan saling mengasihi itulah ajaran agama. Bila itu ajaran agama yang kita anut lantas kenapa bumi yang kita diami sekarang semakin rusuh dan gelisah? Apa yang salah dengan agama? Ketika agama dijadikan sebagai kebiasaan dan kewajiban maka yang terjadi adalah kegersangan dan kekeringan nilai-nilai spiritual. Senada dengan itu Marxisme Karl Marx menyatakan agama dijadikan sebagai “alienasi dan candu” yang secara sengaja diciptakan oleh kalangan-kalangan atas (penguasa) untuk menina-bobokkan masyarakat, dalam pengertian sebagai candu semakin banyak dikonsumsi maka semakin menggerogoti jiwa pecandunya. Namun selalu ada keinginan yang kuat dan hasrat tak tertahankan untuk selalu mengkonsumsi candu. Artinya agama dijadikan bukan dalam hasrat membangun hubungan vertical (nilai-nilai rohaniah), namun sudah dalam kepentingan kalangan-kalangan atas. Bila ini yang terjadi maka agama hanya sekedar sarana untuk memuaskan kepentingan-kepentingan manusia. Apakah ini yang terjadi di Negara ini? Celaka! Semestinya agama itu harus menjadi jati diri dan identitas bukan kebiasaan dan kewajiban. Artinya ajaran agama yaitu cinta kasih, kebenaran, keadilan, kedamaian, kerukunan menjadi gaya hidup kita setiap hari.

Saudaraku! Tuhan di dalam Yesus Kristus mengkritik dengan keras cara hidup bangsa Yahudi yang hanya menjadikan agama itu sekedar memuaskan hasrat keinginan mereka. Yesus membuat perumpamaan kepada umat Israel seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya: Kami meniup seruling bagimu tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka tetapi kami tidak berkabung.(ay,17). Makna dari perumpamaan ini adalah menggambarkan kekerasan hati, ketidak pedulian, orang Yahudi dalam menanggapi karya penyelamatan Tuhan dan berita pertobatan yang disampaikan oleh Yohanes. Mereka tidak mendengar firman Tuhan dan hukum-hukum Tuhan. Mereka tidak memperhatikan tanda-tanda yang ditunjukkan Tuhan, bahkan mereka menuduh Yohanes sebagai orang yang kerasukan setan, dan anak manusia yaitu Yesus sebagai pelahap, peminum, sahabat orang berdosa. Orang Yahudi telah menutup telinga dan mata terhadap karya keselamatan Tuhan. Mereka sudah ditawan oleh hasrat kehendak dan kepentingan sendiri, sehingga apa pun yang dilakukan oleh Yesus mereka tidak peduli.

Namun demikian, luar biasanya dalam bertindak  Tuhan dalam Yesus Kristus tidak ditentukan oleh sikap mentalitas orang Israel. Tuhan dalam Yesus Kristus bertindak sesuai dengan hakekatnya sendiri yaitu pengasih dan penyayang, panjang sabar, dan besar kasih setia-Nya. Yesus mengajak bangsa yang keras hatinya, yang tidak peduli untuk datang kepada-Nya. “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu”, (ay.28). Yang sangat menarik di sini adalah sudut pandang! Dari sudut pandang Yesus, yaitu  bahwa kekerasan hati, ketidak pedulian yang ditunjukkan orang-orang Yahudi adalah bentuk dari hidup yang lemah, tidak berdaya, terbeban yang memerlukan pertolongan dari Tuhan. Artinya bahwa kerajaan Allah dinyatakan kepada orang-orang yang dalam hidupnya tak berdaya. Yesus menawarkan kasih dan pertolongan-Nya kepada setiap orang yang letih lesu, dan berbeban berat, yaitu hidup yang lega, hidup yang merdeka. Hidup yang lega, dan hidup yang merdeka dalam arti yang sesungguhnya hanya ada di dalam Tuhan. Datanglah kepada-Nya!

Saudaraku! Selama bumi masih ada, dan kehidupan semua mahkluk belum berakhir, ajakan Juruselamat ini masih terus berlangsung. Nyatalah kepada kita sekarang bahwa sudut pandang Allah dalam melihat sikap mentalitas dan karakter manusia adalah sangat berbeda dengan sudut pandang dunia ini. Benar, ketika manusia melakukan pemberontakan kepada Allah, tidak peduli terhadap karya Tuhan, dan berlaku jahat di mata Tuhan adalah pantas untuk dibinasakan. Adalah benar di saat manusia bersifat egois, serakah, tinggi hati, membenci, tidak takut kepada Tuhan adalah pantas untuk di binasakan. Itulah sudut pandang dunia ini. Namun dari sudut pandang Allah bahwa semua jenis kehidupan seperti itu adalah bentuk kualitas kehidupan yang sangat rendah yang membutuhkan pertolongan Tuhan. Tindakan ini bukan berarti bahwa Tuhan setuju terhadap kejahatan atau setuju terhadap segala perbuatan yang bertentangan dengan firman Tuhan, namun Dia berbelas kasihan terhadap manusia yang kehilangan kemuliaan Tuhan. Untuk itulah Tuhan dalam Yesus Kristus mengundang kita semua untuk datang kepada-Nya.

Mungkin secara pribadi kita tidak terlibat dalam melakukan tindakan-tindakan pelecehan terhadap kemanusiaan, melakukan kejahatan dengan mencuri, memfitnah, membunuh, merampok, mengintimidasi orang lain. Tetapi secara tidak langsung acap kita mengeraskan hati, tidak peduli terhadap karya Tuhan, menutup mata dan telinga kepada firman Tuhan. Menutup mata dan telinga kita terhadap jeritan masyarakat yang mengalami ketidak adilan, pelecehan, penistaan terhadap harkat dan martabat manusia. Kita sering hanya memikirkan kebutuhan kita sendiri, urusan kita sendiri, kelompok politik kita. Dan untuk ini Tuhan mengundang kita untuk datang kepada-Nya. Selagi hari masih siang dan selama Tuhan masih memberi kita nafas hidup marilah kita membuka mata dan telinga kita untuk peduli kepada sesama kita dan bumi kita yang sedang mengerang ini. Marilah kepada-Ku semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Amin.

Komentar dimatikan

%d blogger menyukai ini: