Archive for Upaya Menuju Kontekstualisasi Liturgi HKBP

6.3.1.      Doa Epiklese, Pembacaan Alkitab dan Khotbah

 

Gereja-geraja di Indonesia secara utuh melihat bahwa doa, pembacaan Alkitab dan khotbah adalah unsur tetap di dalam kebaktian jemaat sekalipun urutannya tidak sama.45) Ada Gereja yang menempatkan doa sebelum dan ada yang setelah pembacaan Alkitab bahkan ada yang menempatkannya di antara pembacaan Alkitab dan khotbah.

Di HKBP pembacaan Alkitab dan khotbah yang disampaikan pendeta tidak diawali dengan doa, namun rumusan berkat: “Damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal kiranya memenuhi hati dan pikiranmu” (Flp.4: 7). Namun jika yang berkhotbah  bukan pendeta, maka sebelum pembacaan Alkitab dan khotbah diawali dengan doa. Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam perkembangan selanjutnya sebelum pembacaan Alkitab dan khotbah sudah didahului dengan doa sekalipun pendeta yang berkhotbah.

Bertitiktolak dari pengertian doa epiklese dalam rangkain pembacaan Alkitab dan khotbah seyogyanya pembacaan Alkitab dan khotbah dalam kebaktian jemaat didahului dengan doa permohonan akan pimpinan (penerangan) Roh Kudus untuk menuntun umat mendengar firman Allah. Dengan kata lain doa harus diucapkan sebelumnya dan doa itu erat dihubungkan dengan firman Allah yang akan didengar. Ini perlu menjaga hakikat dari doa epiklese supaya doa yang diucapkan sebelum pembacaan Alkitab jangan sama dengan doa syafaat. Rumusan-rumusan doa epiklese tersebut jangan terlalu panjang, tetapi pendek, tegas dan agung. Misalnya:

Ya Allah, Bapa kami dalam Yesus Kristus, kami sangat membutuhkan FirmanMu agar kami memiliki sumber dan kerangka acuan untuk hidup di tengah-tengah dunia ini. Berfirmanlah ya Tuhan, ke dalam hati kami yang paling dalam, agar kami memiliki pegangan yang pasti, arah yang jelas, semangat pendorong meneruskan karya dan hidup kami sehari-hari. Berfirmanlah, ya Kristus, agar hati kami senantiasa damai dan gembira. Berilah kami Roh Kudus  agar kami dapat mendengar dan hidup sesuai dengan firmanMu. Amin.

 

Doa Persembahan

              HKBP menempatkan doa persembahan pada akhir kebaktian sebelum doa berkat dengan rumusan:

“Marilah kita berdoa untuk menyerahkan kita kepada Tuhan: Ya Allah, Bapa kami yang di surga. Kami mengaku bahwa Tuhan adalah sumber dari segala karunia yang melimpah dalam kehidupan kami masing-masing. Sebahagian dari karunia itu, kami serahkan kembali sebagai persembahan kepada Tuhan. Terimalah dan berkatilah persembahan umatMu ini, agar dapat kami pergunakan untuk pekerjaan dan pelayanan Kerajaan Tuhan di dunia ini. Bukalah hati kami untuk mengenal betapa banyak berkat dan karunia yang kami peroleh dari Tuhan, supaya kami senantiasa bersyukur kepadaMu di dalam Nama Yesus Kristus Tuhan kami”. Amin.

 

            Untuk menghindari kejenuhan rumusan lama sangat baik apabila dipikirkan rumusan-rumusan baru yang lebih hidup dan relevan sesuai dengan pemberian jemaat, misalnya:

Kami mensyukuri segala pemberianMu, ya Allah. Engkau mencukupkan segala kebutuhan kami sehari-hari dan menjamin masa depan kami. Engkau mengabulkan doa-doa dan permohonan kami, dan tidak pernah bosan memberkati kami. Bukalah hati kami, ya Allah, agar kami dapat mengenali berbagai anugerahMu kepada orang-orang yang Engkau kasihi. Tolonglah kami untuk mencatat dan menghitung berkatMu, agar jiwa dan mulut kami penuh dengan ucapan syukur dan hati kami kehilangan alasan untuk kuatir. Ajarlah kami untuk menjadikan ibadah dan perbuatan baik kami sebagai ungkapan syukur dan terima kasih kami kepadaMu. Bantulah kami mengembangkan sikap hidup yang benar, adil dan jujur sebagai jawaban kami atas berkat Tuhan. Saat ini kami menyerahkan sebagian dari berkatMu itu sebagai tanda syukur dan terima kasih kami. Terimalah persembahan umatMu ini, ya Tuhan, dengan sukacita. Mulialah nama Tuhan melalui seluruh hidup kami. AMIN.

 

Pokok-pokok pikiran upaya kontekstualisasi liturgi HKBP ini belum mencakup seluruh unsur-unsur liturgi yang dilaksanakan di Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), tetapi masih sebagian kecil dari liturgi yang dipakai khususnya dalam kebaktian Minggu.

6.4. Rangkuman

            Di dalam praktek peribadahannya  HKBP mengalami perkembangan dan terbuka untuk pembaruan liturgi. Pada awalnya praktek peribadahan HKBP dibawa oleh RMG bercorak “uniert”, namun di dalam perkembangan selanjutnya praktek peribadahan HKBP telah diwarnai praktek peribadahan Calvinis (Reformed) dengan dicantumkannya pembacaan Hukum Taurat dalam liturgi. Perkembangan praktek peribadahan HKBP juga terjadi dalam tekhnis pelaksanaan, sekalipun unsur-unsur liturgi yang terdapat dalam buku Agenda tidak diubah.

Secara umum perkembangan praktek peribadahan di HKBP dapat dibagi dalam tiga periode, yaitu: Periode pertama  tahun 1861 – 1940. Pada periode ini praktek peribadahan ditekankan pada pemberitaan firman Tuhan dalam bentuk diskusi dan tanya jawab. Belum ada keseragaman dalam tata ibadah. Periode kedua tahun 1940-2000. Pada periode ini sudah ada tata ibadah yang baku dan seragam di semua tempat yang disusun di dalam buku Agenda. Di samping itu nyanyian Kidung Jemaat sudah dipakai dalam ibadah  sejak tahun 1980-an. Periode ketiga tahun 2000 – Sekarang. Pada periode ini  praktek peribadahan mengalami beberapa perkembangan dan pembaruan. Perkembangan itu terlihat melalui pengurangan instruksi verbal dari liturgis terhadap jemaat, melibatkan warga jemaat dalam pembacaan Alkitab. Di beberapa jemaat – jemaat HKBP khususnya di daerah perkotaan nyanyian-nyanyian rohani dan alat-alat musik kontemporer telah dilakukan. Di samping itu modifikasi tata ibadah telah dilakukan tanpa mengubah unsur-unsur tata ibadah yang terdapat di buku Agenda. Modifikasi tata ibadah itu terlihat melalui penempatan nyanyian mengantarai doa pengakuan dosa dan pemberitaan anugerah, pelaksanaan doa syafaat setelah pembacaan warta jemaat dan tekhnis pengumpulan persembahan didahului pembacaan nas Alkitab dan pemberian kantong persembahan kepada petugas kolektan.

Seiring dengan perkembangan zaman pembaruan liturgi di HKBP tetap diupayakan dengan memasukkan unsur-unsur budaya di dalam liturgi, seperti alat-alat musik tradisionil Batak dan ulos (selendang) dan manortor (menari). Namun praktek peribadahan seperti ini hanya dilakukan pada pesta-pesta perayaan gerejawi. Upaya pembaruan liturgi tetap mendapat perhatian HKBP guna menjawab perkembangan secara kontekstual. Secara khusus di HKBP Perumnas II Bekasi telah diupayakan pelaksanaan liturgi dengan memasukkan nyanyian-nyanyian rohani kontemporer selain Kidung Jemaat dan Buku Ende, seperti: Nyanyikanlah Kidung Baru (NKB), Pujian Bagi Sang Raja (PBSR). Sebutan peribadahan seperti ini digunakan istilah ibadah variatif. Variatif karena menekankan variasi unsur-unsur liturgi dalam bidang nyanyian, rumusan-rumusan doa dan musik tanpa mengubah unsur-unsur liturgi yang terdapat dalam buku Agenda.

Kesadaran Gereja-gereja di Indonesia untuk melihat kembali liturginya sebagai hasil pengimporan liturgi Barat memunculkan kesadaran baru untuk upaya pembaruan liturgi. Semangat gerakan pembaruan liturgi berpuncak pada Liturgi Lima di Peru melalui Konferensi Komisi Iman dan Tata Gereja dari Dewan Gereja-gereja se-Dunia (DGD) tahun 1982 yang menghasilkan pandangan-pandangan baru tentang pembaruan liturgi. Salah satu pandangan baru tersebut melihat bahwa penyesuaian liturgi adalah suatu keharusan yang dilakukan oleh Gereja. Tata ibadah termasuk tata ruang, para petugas, simbol-simbol, tata gerak, musik dan sakramen yang seluruhnya dalam liturgi ditempatkan dalam pemahaman kontekstualitas  dalam semangat gerakan liturgi. Usaha mengadakan pembaruan liturgi pada umumnya dan penyesuaian liturgi pada khususnya tak pernah berhenti. Oleh sebab itu menolak mengadakan penyesuaian berarti mengingkari universalitas penyelamatan.

 


45)  J.L.Ch.Abineno, Op.cit.,   44.

Komentar dimatikan

Berita Pengampunan Dosa (Absolusi)

Esensi dari absolusi ini adalah pemberitaan anugerah Allah yang di dalam Kristus telah mendamaikan diriNya dengan dunia dan berdasarkan kematiaanNya, rela untuk mengampuni dosa manusia. Di dalam pemberitaan ini HKBP membacakan nas yang dipilih menurut tahun Gerejawi, disambung dengan pengucapan ”gloria” (Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi). Sebagai jawaban atas berita pengampunan dosa ini jemaat mengucapkan Amin.

Di dalam penyampaian ”gloria”, HKBP tidak melakukan sesuai dengan jiwa dari gloria itu sendiri. Pada awalnya gloria ini adalah nyanyian jemaat bukan pembacaaan yang dilakukan pemimpin liturgi.39) Supaya gloria ini sesuai dengan fungsinya maka di dalam unsur liturgi sebaiknya ini dinyanyikan oleh jemaat sebagai sambutan terhadap berita pengampunan dosa. Lebih hidup bila dinyanyikan sesuai dengan melodi Batak.

 

6.3.1.      Pembacaan Epistel

Sesuai dengan judulnya ”pembacaan Epistel” maka yang dibaca seharusnya adalah kitab-kitab Rasul. Namun yang dilakukan di Gereja HKBP tidak selalu membaca surat-surat Rasul. Terkadang pembacaan diambil dari  Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru mengikuti tradisi Gereja dari abad pertama.40) Pembacaan ini tidak berdiri sendiri, tetapi selalu dikaitkan dengan nas khotbah yang sudah ditetapkan di dalam almanak Gerejawi.

Supaya “pembacaan Epistel” ini tidak menjadi keliru, sebaiknya unsur pembacaan Epistel diubah menjadi pembacaan Alkitab yang menekankan amanat petunjuk hidup baru. Kebiasaan pemimpin liturgi mengucapkan: “ta bege ma turpuk Epistel di Minggunta sadarion songon patujolo ni jamita” (marilah kita mendengar nas Epistel pada Minggu ini sebagai pendahuluan khotbah) tidak perlu diucapkan. Pembacaan nas Epistel bukanlah sebagai pendahuluan nas khotbah sekalipun keduanya mempunyai keterkaitan.

 

6.3.2.      Pengakuan Iman

Pengakuan Iman yang dilakukan di HKBP ditempatkan sebelum khotbah seperti yang dilakukan pada Abad-abad Pertengahan.41) Pola ini mengikuti Luther yang menempatkan pengakuan iman sebelum khotbah. Setelah berita pengampunan dan pembacaan firman sebagai amanat hidup baru, jemaat segera datang di hadapan hadiratNya dengan pengakuan. Berbeda dengan Butzer dan Calvin, yang menempatkan pengakuan iman setelah khotbah.

Perbedaan penempatan ini menyangkut fungsi dari pengakuan iman. Gereja calvinis melihat bahwa pengakuan iman adalah sebagai jawaban terhadap pemberitaan firman, sedangkan reformasi lainnya melihatnya sebagai doa, umpamanya: Flp.2: 11, 1Tim.3:16, 1Kor.8: 6. Tentang  kedua pandangan ini biarlah dilakukan sesuai dengan pemahaman fungsinya masing-masing.

Pada masa Reformasi pengakuan iman digubah ke dalam prosa atau nyanyian. Luther sendiri dalam Deutsce Messe (1525) menyuruh jemaat menyanyikan terjemahan Pengakuan Iman Nicea dalam bahasa Jerman.42) Pelaksanaan seperti ini perlu dilakukan untuk menghindari kebosanan atau kebiasaan yang tidak bermanfaat. Pengakuan Iman tidak selalu diucapkan secara bersama tetapi dinyanyikan secara bersama oleh jemaat. Lebih hidup bila melodinya disesuaikan dengan budaya setempat. Demikian juga rumusan pengakuan pengakuan yang lain (Niceanum, Constantinopolitanum dan Athanasium) dapat dipakai di dalam unsur liturgi pengakuan iman. Di samping menghindari kebosanan atau kebiasaan dapat juga dilihat  sebagai simbol oikumenis.

 

6.3.3.      Doa Syafaat

Sebagaimana disampaikan dalam catatan terdahulu bahwa di beberapa jemaat HKBP menempatkan doa syafaat ini sebelum khotbah setelah pembacaan warta jemaat. Ini suatu kekeliruan. Sebenarnya di dalam buku liturgi HKBP penempatan doa syafaat sudah diatur setelah khotbah dilanjutkan dengan doa Bapa Kami.43) Di sana ada 18 rumusan doa syafaat yang disesuaikan dengan hari raya atau pesta Gerejawi. Bagi Jemaat-jemaat HKBP yang menempatkan doa syafaat sebelum khotbah hendaklah mengikuti  buku Agenda HKBP.

Suatu kekeliruan besar apabila doa syafaat ditempatkan sebelum khotbah. Bertitik tolak dari pengertian syafaat yang berasal dari bahasa Arab atau Ibrani: Syofet artinya perantara; Inggris: intercession berada antara mimbar di mana firman Tuhan dilayankan dan altar di mana dilayankan persembahan.44) Dalam ibadah jemaat dari abad ke abad doa syafaat ditempatkan sesudah pemberitaan firman. Luther juga melakukan hal yang serupa.

Rumusan-rumusan doa syafaat yang ada di dalam buku Agenda HKBP yang terbatas pada hari-hari raya atau pesta Gerejawi perlu dikembangkan dan lebih bijaksana apabila diberi kebebasan menyesuaikan dengan kehidupan, peristiwa yang dihadapi jemaat secara kontekstual



39)  Ibid.,  34.

40)  Ibid.,  49.

41)  J.L.Ch. Abineno, Op.cit.,  81.

42)  Ibid.,  81. A.A. Sitompul, Op.cit.,  150.

43)  Agenda, Op.cit.,  106.

44)  Rasid Rachman, Kuliah perdana…, Op.cit.,   4.

Komentar dimatikan

UPAYA MENUJU KONTEKSTUALISASI

6.3.Upaya Menuju Liturgi Kontekstual di HKBP

Tidak sedikit para teolog praktika Indonesia yang merasa tidak puas melihat  praktek liturgi Gereja-gereja di Indonesia masa kini, khususnya Gereja-gereja “main stream” (arus utama). Salah seorang di antaranya J.L.Ch.Abineno dalam pidato Dies Natalis STT-Jakarta, pada tanggal 27 September 1962, mengungkapkan bahwa bentuk tata ibadah yang dipakai Gereja-gereja di Indonesia merupakan pengambilalihan dengan atau tanpa perubahan dari Gereja-gereja Barat. Pengimporan bentuk-bentuk dari barat ini telah terjadi berpuluh-puluh, bahkan beratus-ratus tahun lamanya.21) Hal senada juga disampaikan oleh Muller Kruger22) seorang teolog Jerman yang lama bekerja di Indonesia. Dia mengungkapkan bahwa bentuk-bentuk pelayanan yang diimpor dari Barat (oleh Gereja-gereja di Indonesia) diterima begitu saja, sehingga hampir-hampir tidak dirasakan sebagai bentuk-bentuk asing.  Rumusan dalam setiap unsur-unsur liturgi menggunakan kata-kata yang meskipun sulit dimengerti dianggap sudah baku dan tidak boleh diubah. H. Kraemer23) juga mencatat sekalipun Gereja-gereja muda telah merdeka atau otonom dan memerintah sendiri, tetapi dalam struktur dan gaya ekspresinya masih merupakan koloni spiritual dari Barat.

Terhadap kenyataan ini, beberapa pimpinan dan ahli teologi Gereja-gereja di Indonesia pada masa itu mulai sadar bahwa ternyata Indonesia belum lepas dari “penjajahan spiritual” karena semua liturgi pada waktu itu hanya merupakan warisan dan sebetulnya tidak relevan lagi untuk kebutuhan iman jemaat saat ini.

Di kalangan protestan, pembaruan liturgi sejalan dengan gerakan oikumenis. Puncak pembaruan adalah Liturgi Lima tahun 1982 di Peru melalui konferensi Komisi Iman dan Tata Gereja dari Dewan Gereja-gereja se-Dunia (DGD). Secara umum telah terjadi penerbitan revisi buku-buku liturgi Gereja. Baik penyesuaian maupun gerakan liturgis memberi pembaruan pada unsur-unsur dalam liturgi. Tata ibadah termasuk tata ruang, para petugas, simbol-simbol, tata gerak, musik dan sakramen yang seluruhnya dalam liturgi ditempatkan dalam pemahaman kontekstualitas  dalam semangat gerakan liturgi.24)

Anscar J Chupungco, OSB menyimpulkan bahwa penyesuaian liturgi adalah keharusan teologis yang timbul dari peristiwa inkarnasi. Jika firman Allah telah menjadi seorang manusia Yahudi (Yesus Kristus) maka Gereja pun di berbagai negara di dunia ini harus menjadi Gereja pribumi.25) Bagi dia Gereja tidak pernah statis. Gereja selalu mengalami proses perubahan dari tahap eksistensinya yang satu ke tahap yang lain. Itulah sebabnya usaha mengadakan perubahan liturgi pada umumnya dan penyesuaian liturgi pada khususnya tak pernah berhenti. Oleh sebab itu menolak mengadakan penyesuaian berarti mengingkari universalitas penyelamatan.

 

6.4. Pokok-pokok Pikiran Kontekstualisasi  Unsur-Unsur Liturgi HKBP

Dari unsur-unsur liturgi HKBP yang ada di buku Agenda, beberapa hal yang perlu mendapat pemikiran dalam rangka upaya kontekstualisasi unsur-unsur liturgi adalah:

6.4.1.      Nyanyian-nyanyian

HKBP mempergunakan dua buku nyanyian yaitu: Buku Ende pada kebaktian berbahasa daerah (Batak) dan Kidung Jemaat pada kebaktian berbahasa Indonesia. Di dalam Buku Ende HKBP telah disusun nyanyian-nyanyian sesuai dengan Minggu-minggu gerejawi, peristiwa/kejadian, puji-pujian sukacita, dukacita, orang meninggal dan akhir zaman.

Nyanyian inilah yang dipergunakan atau dilagukan dalam liturgi sesuai dengan nama Minggu-minggu Gerejawi. Fungsi nyanyian jemaat di sini adalah untuk memuji Allah, mengajak hati untuk mengucap syukur serta menyadari keberadaan Allah yang Maha Agung. Melalui nyanyian ini juga jemaat diajak untuk mengungkapkan perasaan, jiwanya kepada Tuhan serta merasakan penyertaan Tuhan dalam hidupnya. Nyanyian-nyanyian ini disesuaikan dengan tahun gerejawi.26)

Dalam pelaksanaannya sering dinyanyikan sesuai dengan “kebiasaan” atau “selera” tanpa memperhatikan tempo dari nyanyian tersebut. Di samping itu cara menyanyikan setiap nyanyian belum sepenuhnya memperhatikan jenis dari nyanyian itu, misalnya: apakah nyanyian itu pujian, penghiburan, pernyataan iman, dll.

Demikian juga pemilihan nyanyian sering tidak disesuaikan  dengan unsur liturgi yang mengantarainya. Sebagaimana M. Pakpahan menjelaskan bahwa semua nyanyian yang dinyanyikan harus mempunyai keterkaitan dengan unsur-unsur liturgi yang ada. Dalam liturgi hari Minggu di HKBP ada tujuh nyanyian jemaat27) yang mempunyai makna atau penekanan sesuai dengan urutan liturgi:

a.       Nyanyian Pembukaan sebelum votum diucapkan.

            Biasanya jenis nyanyian yang dinyanyikan di sini adalah nyanyian pujian atau  nyanyian syukur (ende hamauliateon manang puji-pujian). Bisa juga jenis nyanyian doa dan permohonan (ende tangiang manang ende pangidoan).

b.      Nyanyian setelah votum dan sebelum pembacaan Hukum Taurat.

            Jenis nyanyian yang dinyanyikan di sini adalah nyanyian kepercayaan (ende taringot tu haporseaon)

c.       Nyanyian setelah pembacaan Hukum Turat dan sebelum pengakuan dosa/janji pengampunan dosa.

            Jenis nyanyian yang dinyanyikan di sini  berisikan peneguhan atau penguatan dari Tuhan. Dari Buku Ende HKBP dipilih nomor, contoh: 117:2, 180:5,  188: 3,  215: 4. Dimungkinkan juga jenis nyanyian yang mengandung unsur pengakuan dosa atau belas kasihan Kristus kepada orang berdosa. Dari Buku Ende dapat dipilih nomor, contoh: 163: 4, 178: 1,  179: 1,  180: 1.

d.      Nyanyian setelah pengakuan dan pengampunan dosa dan sebelum pembacaan Epistel.        

             Jenis nyanyian yang dinyanyikan di sini adalah nyanyian  pujian syukur karena Tuhan telah mengampuni dosa. Dari Buku Ende dipilih nomor, contoh:  4: 1,  9: 1,  15: 1, 190: 1,  198: 3,  209: 2, 213: 1.

e.       Nyanyian setelah pembacaan Epistel dan sebelum Pengakuan Iman.

            Jenis nyanyian yang dinyanyikan di sini adalah berisi sambutan akan firman Tuhan yang dibaca dari Epistel. Contoh: Buku Ende No 25: 1, 28: 1, 196: 1,    229: 1.

f.        Nyanyian setelah Pengakuan Iman dan sebelum khotbah.

            Jenis nyanyian yang dinyanyikan di sini adalah nyanyian yang sesuai dengan isi nas khotbah Minggu itu.

g.       Nyanyian setelah khotbah dan sebelum doa pengutusan.

            Ada tiga jenis nyanyian yang boleh dinyanyikan di sini, yaitu: nyanyian yang sesuai dengan tema khotbah, nyanyian yang berisi peng-amin-an  akan firman Tuhan dan nyanyian pengutusan. Dari keterangan ini bahwa pemilihan nyanyian jemaat harus  benar-benar di sesuaikan dengan unsur-unsur liturgi yang ada atau thema dan tahun-tahun Gerejawi.

Demikian juga dalam cara menyanyikan, warga jemaat perlu diberdayakan dengan metode bersahut-sahutan, misalnya: nyanyian yang terdiri dari empat bait dinyanyikan dengan cara alternatif (bait pertama dinyanyikan secara bersama, bait yang kedua dinyanyikan oleh jemaat pria, bait yang ketiga dinyanyikan oleh jemaat wanita, dan seterusnya, terakhir dinyanyikan secara bersama). Cara atau metode bernyanyi seperti ini dilakukan oleh Martin Luther. Dia berpandangan bahwa nyanyian jemaat harus bervariasi dan menjemaat sesuai dengan tahun liturgi.28)

Dalam rangka upaya kontekstualisasi liturgi khusus di bidang nyanyian, Buku Ende yang menggunakan bahasa lokal tetap dimasukkan dalam liturgi HKBP. Di samping itu, memasukkan irama lagu tradisional Batak dalam nyanyian liturgi memberi makna penghayatan khusus dalam ibadah sesuai konteks budaya Batak.29) Di dalam Buku Ende HKBP terdapat beberapa nyanyian berirama lagu tradisional Batak yang tetap dipertahankan dan dikembangkan di HKBP. Dari pemahaman kontekstualisasi dengan tidak megabaikan konteks-konteks budaya, memperhitungkan juga proses sekularisasi, teknologi dan perjuangan manusia demi keadilan, maka nyanyian liturgi juga tidak terbatas dalam konteks budaya lokal, namun terbuka untuk nyanyian-nyanyian rohani  kontemporer.

6.4.2.      Votum-Introitus-Doa

Formula votum yang digunakan HKBP adalah ”…di dalam nama Bapa, dan Anak dan Roh Kudus” (Mat.28: 19). Kemudian formula ini dirumuskan menjadi ”Di dalam nama Allah Bapa, dan nama AnakNya Tuhan Yesus Kristus dan nama Roh Kudus yang menciptakan langit dan bumi”. Votum ini dipahami sebagai proklamasi “tanda” kehadiran Allah dalam ibadah sehingga ibadah itu berlangsung di dalam nama Tuhan. Maka dalam ibadah itu Allah hadir  bersama-sama jemaat dan sekaligus menjadikan orang-orang yang datang dalam ibadah itu sebagai persekutuan orang-orang percaya.

Tentang votum di liturgi HKBP ini para ahli liturgi mempunyai pandangan yang berbeda. Noordmans dan J.J. Stam yang dikutip oleh JL.Ch. Abineno30) mengatakan bahwa ”tidak benar melalui votum kehadiran Allah ditetapkan dalam jemaat. Hadirnya Allah bukan tergantung pada kemauan manusia”.

Penggunaan kalimat  ”di dalam nama Bapa dan Anak dan Roh kudus” telah dikenal dalam tradisi Kristen sejak lama. Hal ini secara jelas disampaikan di dalam Kol.3: 17 ” Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita”. Gereja katolik biasa mengucapkan formula ini sambil membuat tanda salib. Setibanya Imam di ruang liturgi, ia membuat tanda salib di depan altar dan mengucapkan formula votum.31)

Dengan demikian votum jangan dimengerti sebagai formula ”magis” yang menentukan hadir tidaknya Allah di dalam persekutuan dan sah tidaknya sebuah ibadah. Biarlah itu dipahami sebagai  doa pembukaan bahwa apa yang mau dilakukan di dalam ibadah berlangsung di dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus. Votum adalah pernyataan biasa yang memiliki pengertian sama dengan kata bismillah. Oleh karena itu, votum dapat diucapkan oleh umat yang beribadah, atau dijawab dengan ”amin”.

Selanjutnya pembacaan introitus. Selama ini HKBP melaksanakannya dengan membacakan nas Alkitab dari Perjanjian Lama atau Perjanjian Baru yang dihubungkan  dengan nama  Minggu dan tahun gerejawi yang tersusun dalam buku Agenda HKBP. Pada masa reformasi, introitus tetap dipakai di dalam liturgi dan umumnya dinyanyikan secara gregorian oleh paduan suara. Pada abad ke-19 Gereja-gereja lutheran di Jerman melaksanakan introitus melalui cara menyanyikan secara gregorian oleh paduan suara, menyanyikan secara gregorian oleh jemaat dan mengucapkannya sebagai rumus masuk oleh pelayanan dan disambut oleh jemaat dengan gloria kecil.32) HKBP mengikuti pola ini melalui pengucapan nas Alkitab yang dihubungkan dengan tahun Gerejawi dan nas khotbah oleh pelayan liturgis dan disambut jemaat dengan menyanyikan “haleluya”. Dari sudut etimologinya introitus adalah prosesi atau perarakan masuk yang biasanya dilakukan dari pintu utama menuju altar atau mimbar, oleh karena itu introitus sebaiknya ditempatkan pada awal kebaktian bukan setelah votum.

Doa Pembukaan dibacakan oleh pemimpin liturgi setelah pembacaan introitus sesuai rumusan yang terdapat dalam buku Agenda HKBP. Pemilihan rumusan doa pembukaan ini dihubungkan dengan nama Minggu dan tahun Gerejawi yang diatur dalam buku Agenda HKBP. Doa pembukaan yang dirumuskan di dalam buku Agenda HKBP sudah baik dengan menghubungkannya sesuai dengan nama Minggu dan tahun Gerejawi, namun rumusan-rumusan itu perlu diperkaya untuk menghindari kejenuhan di dalam jemaat. Berhubungan dengan itu diusulkan supaya jangan hanya menggunakan rumusan-rumusan lama, tetapi juga rumus-rumus baru menyangkut pergumulan, ekonomi, keadilan yang sesuai dengan situasi jemaat pada saat itu. Rumusan baru doa pembukaan yang diusulkan tetap mengikuti nama Minggu dan tahun Gerejawi.



21)  J.L. Ch.Abineno, Gereja dan Ibadah Gereja,  (BPK Gunung Mulia, Jakarta 1986),   27.

22)  Ibid.,  27-28.

 23)  H. Kraemer, Religion and Christian Faith,  (London: Lutterworth press. 1956),  410.

24)  Rasid Rachman, Pengantar Sejarah Liturgi,  121.

25)  Anscar J. Chupungco, Penyesuaian Liturgi Dalam Budaya  (Yogyakarta: Kanisius,  1987),  107.

26) Dalam Buku Ende dapat ditemukan nyanyian-nyanyian yang sesuai dengan kalender tahun Gerejawi, yaitu: Nyanyian pujian, nyanyian Minggu, nyanyian Adventus, nyanyian hari kelahiran Tuhan Yesus, nyanyian Tahun Baru, nyanyian Epiphanias, nyanyian pada kematian Yesus, nyanyian pada hari kebangkitan Yesus, nyanyian pada hari kenaikan Tuhan Yesus, nyanyian pada hari turunnya Roh Kudus, nyanyian pada masa Trinitatis. Masih ditemukan juga nyanyian yang berhubungan dengan bagian-bagian dari liturgi itu sendiri atau satu-satu peristiwa, yaitu: nyanyian tentang pengampunan dosa, nyanyian tentang kepercayaan, nyanyian pada masa kesusahan, nyanyian tentang penghiburan. Setelah itu ada nyanyian yang disusun berdasarkan waktu, yaitu: Nyanyian di pagi hari, nyanyian di malam hari, nyanyian akhir zaman, nyanyian  mengenai kematian manusia. Ada juga nyanyian yang berdasarkan, persitiwa-peristiwa khusus, yaitu: Nyanyian tentang kerajaan Allah, nyanyian yang berhubungan dengan zending, sakramen, peneguhan sidi, penahbisan pendeta dan nyanyian pada masa perkawinan.

27)  M.Pakpahan, Op.cit.,  5-6.

28)  Rasid Rahman, Pembaruan Ibadah; Perkuliahan intensif Mahasiswa D.Min, (STT-Jakarta, 2005),  21.

29) Buku Ende HKBP masih terbatas pada nyanyian bahasa Batak yang berirama Batak. Dari jumlah 864 nomor nyanyian yang terdapat dalam Buku Ende HKBP hanya lima nomor yang berirama Batak, yaitu: Nomor 585 “Sombama Jahowa” (Sembahlah Tuhan ) lagu “taridem-idem” Batak Toba; 592 “Hosianna di Anak ni Raja Daud” (Hosiana bagi Raja Anak David) lagu “Serma dengan-dengan” lagu rakyat Batak Simalungun; 743 “O Tuhan Togutoguma Au” (Ya Tuhan Pimpinlah) lagu”Aek Sarulla” lagu tradisional mayarakat Batak Toba; 805 “Molo Adong Tingki Pajumpang” (Bila ada Waktu Bertemu) lagu “Tading Ma Ham” lagu rakyat Batak Simalungun; 848 “Dison Adong Huboan Tuhan” (Tuhan di sini Aku membawa ), 857 “Husomba Ho Tuhan” (Aku Bersujud kepadaMu Ya Tuhan).

30)  J.L. Ch. Abineno, Unsur-Unsur Liturgi, (BPK-Gunung Mulia, Jakarta, 2004),  74,76.

31)  Rasid Rachman, Op.cit.,   27.

32)  J.L.Ch.Abineno, Op.cit.,  11.

Komentar dimatikan

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.720 pengikut lainnya.