Archive for Upaya Kontekstualisasi Liturgi HKBP

Arti dan Teologi Liturgi (Kesimpulan)

1.1.Rangkuman.

Liturgi yang kini digunakan untuk kegiatan peribadahan mempunyai latar belakang perkembangan yang menarik. Sejak zaman dahulu liturgi mengalami evolusi pengertian yang pada dasarnya tetap berakar pada arti yang asli meskipun berbeda dalam warna dan penafsiran karena sudut pandang yang berbeda.

Dalam Perjanjian Lama kata liturgi menunjuk kepada pelayanan para imam di Bait Suci yang menekankan kesetiaan, ketaatan, penyerahan diri seorang hamba kepada tuannya. Pengertian ini masih bersifat profan, namun dalam pengertian religius bahwa liturgi dipahami sebagai ibadah yang diarahkan kepada Allah oleh para imam.

Dalam Perjanjian Baru kata liturgi bermakna ganda bukan hanya pelayanan yang dilakukan oleh para imam tetapi menyangkut pelayanan kasih yang ditujukan kepada setiap orang. Pelayanan imam dalam Perjanjian Baru jauh lebih luas dibanding pelayanan imam Perjanjian Lama yang mengacu kepada pelayanan Yesus Kristus dalam karya penyelamatan-Nya.  

Kata liturgi bermakna pelayanan kepada Allah dan sesama dalam bidang memberitakan Injil, memberi sumbangan untuk mereka yang memerlukannya dan melayani dalam arti membantu orang lain. Jadi dalam arti luas liturgi meliputi seluruh kehidupan orang Kristen. Pelayanan kepada Allah dan sesama itu tidak dibatasi hanya pada bidang ibadah saja, tetapi juga pada aneka bidang kehidupan lain. Aksi ibadah meliputi pelayanan, tindakan, tingkah laku, pola pikir dan sebagainya (Rm.12: 1), dengan kata lain ibadah mempunyai hubungan langsung dengan sikap hidup sehari-hari.

Berdasarkan uraian di atas cukup jelas bahwa liturgi bukan hanya menunjuk pada pelayanan kultis tetapi mencakup seluruh lini kehidupan dalam menunjukkan bhakti, pelayanannya  kepada Tuhan dan kepada pelayanan terhadap  sesama. Dengan demikian membicarakan liturgi bukan hanya membicarakan tata ibadah, tetapi dalam pengertian yang lebih luas membicarakan tentang totalitas kehidupan dalam pelayanan kepada Allah yang ditunjukkan kepada pelayanan terhadap sesama.

Liturgi bukan sebatas tata ibadah atau aturan tertulis tentang ibadah tetapi perayaan teologi yang diawali dari karya sejarah keselamatan yang dikerjakan Allah di dalam Yesus Kristus kepada dunia.

 

 

 

 

Komentar dimatikan

Teologi Liturgi

Pernyataan penting Vatikan II tentang liturgi terdapat dalam Sacrosanctum Concilium (SC) 7 yang mengatakan:12)

“Maka memang wajar juga liturgi dipandang bagaikan pelaksanaan tugas imamat Yesus Kristus; di situ pengudusan manusia dilambangkan dengan tanda-tanda lahir serta dilaksanakan dengan cara yang khas bagi masing-masing; di situ pula dilaksanakan ibadat umum yang seutuhnya oleh Tubuh mistik Yesus Kristus, yakni kepala beserta anggotanya.

 

            Dengan demikian SC 7 memandang liturgi sebagai pelaksanaan tugas imamat Yesus Kristus yakni karya keselamatan Allah yang dilaksanakan oleh Kristus. Karya keselamatan Allah yang dilaksanakan oleh Kristus senantiasa dikenang dan dihadirkan Gereja dalam liturgi. Konstitusi Liturgi juga menyebut subyek atau pelaku liturgi  adalah Yesus Kristus dan Gereja. Liturgi selalu  merupakan tindakan Kristus dan sekaligus tindakan gereja. Melalui pemahaman ini maka liturgi dirumuskan sebagai perayaan misteri karya keselamatan Allah dalam Kristus, yang dilaksanakan oleh Yesus Kristus sang Imam Agung dan bersama Gereja di dalam ikatan Roh Kudus.

Pengertian liturgi menurut Vatikan II merupakan pemahaman liturgi secara dinamis, personal dan relasional. Dikatakan demikian karena liturgi menunjuk kepada perayaan misteri karya keselamatan Allah sendiri yang dilaksanakan oleh Kristus bersama Gereja dalam Roh Kudus, liturgi dilihat sebagai perjumpaan Allah dan manusia serta liturgi menjadi wahana pertemuan bukan hanya antar umat beriman tetapi umat beriman dengan Allah sendiri yang berlangsung di dalam Kristus dan Roh Kudus.

            E.Martasudjita,13) mengajukan empat dimensi teologis liturgi sebagai peristiwa perjumpaan umat beriman dengan Allah:

 

1.2.1. Liturgi sebagai Liturgi Trinitatis

            Teologi selalu melihat seluruh tindakan Allah dalam sejarah dan Gereja secara Trinitatis. Misteri karya keselamatan Allah yang dirayakan dalam liturgi merupakan misteri tindakan Trinitas (dilakukan oleh Bapa, Putra dan Roh Kudus) sekaligus. Liturgi Trinitas terlaksana ketika Yesus Kristus (Putra) menyerahkan diri kepada Allah (Bapa) dalam Roh Kudus dan Allah menerima persembahan Kristus dalam Roh Kudus.

 

1.2.2. Liturgi sebagai Perayaan Misteri Paskah

            Vatikan II menekankan peranan sentral misteri Paskah dalam karya keselamatan Allah dan juga seluruh liturgi yang dirumuskan dalam SC 5:14)

”Adapun karya penebusan umat manusia dan pemuliaan Allah yang sempurna itu telah diawali dengan karya agung Allah di tengah umat. Karya itu diselesaikan oleh Kristus Tuhan, terutama dengan misteri paskah: sengsara-Nya yang suci, kebangkitan-Nya dari alam maut, dan kenaikan-Nya dalam kemuliaan. Dengan misteri itu Kristus menghancurkan maut melalui kematian-Nya, dan membangun kembali hidup dengan kebangkitan-Nya. Sebab dari lambung Kristus yang beradu di salib muncullah sakramen seluruh Gereja yang mengagumkan.”

 

            Dengan pernyataan seperti ini, Konsili tidak hanya mengatakan bahwa puncak karya keselamatan Allah terjadi dalam misteri Paskah Kristus, melainkan misteri Paskah menjadi pusat seluruh liturgi Gereja. Pengenangan misteri Paskah dalam liturgi berlangsung dalam bentuk simbol melalui sakramen kudus.

           

1.2.3. Liturgi sebagai Tindakan Kristus dan Tindakan Gereja

            Subyek atau pelaku liturgi adalah Yesus Kristus dan Gereja sekaligus. Pernyataan ini dijelaskan dalam SC 7 yang mengatakan bahwa liturgi dilaksanakan oleh tubuh mistik Kristus, yakni Kristus Sang Kepala dan Gereja sebagai tubuh-Nya. Itu berarti bahwa liturgi adalah tindakan Kristus dan sekaligus tindakan Gereja. Dalam liturgi Kristus bertindak melalui dan bersama Gereja, sekaligus dalam liturgi Gereja bertindak melalui dan bersama Kristus.

 

1.2.4. Liturgi sebagai Fungsi Dasar Gereja

            Pernyataan liturgi sebagai fungsi dasar Gereja menunjuk pemahaman bahwa liturgi merupakan sarana bagi Gereja untuk menyatakan dirinya, menampakkan dirinya dan melaksanakan dirinya sebagai Gereja. Hakikat asli Gereja diungkapkan dalam liturgi yang dirumuskan dalam SC 2:15)

”Liturgi merupakan upaya yang sangat membantu umat beriman untuk dengan penghayatan mengungkapkan misteri Kristus serta hakikat asli Gereja yang  sejati, serta memperlihatkan itu kepada orang-orang lain, yakni bahwa Gereja bersifat sekaligus manusiawi dan ilahi, kelihatan namun penuh kenyataan yang tak kelihatan, penuh semangat dalam kegiatan namun meluangkan waktu juga untuk kontemplasi, hadir di dunia namun sebagai musafir…. Liturgi setiap hari membangun mereka yang berada di dalam Gereja menjadi kenisah suci dalam Tuhan, menjadi kediaman Allah dalam Roh, sampai mereka mencapai kedewasaan penuh sesuai dengan kepenuhan Kristus.”

 

            Liturgi sebagai fungsi dasar Gereja dapat juga didekati dari asal-usul istilah Gereja itu sendiri, yang berasal dari kata ekklesia. Umat yang dipanggil, dipilih dan dikumpulkan oleh Allah sendiri bukan hanya menjadi umat Allah tetapi juga untuk menyembah Allah. Panggilan umat Allah untuk menyembah Allah terutama terlaksana dalam liturgi.

Paul W. Hoon yang dikutip oleh James F.White16) menegaskan bahwa liturgi terikat secara langsung pada peristiwa-peristiwa sejarah penyelamatan. Dengan demikian inti liturgi adalah Allah sedang bertindak untuk memberikan hidup-Nya bagi manusia dan membawa manusia mengambil bagian dalam kehidupan itu. Liturgi dipahami sebagai penyataan diri Allah sendiri dalam Yesus Kristus dan tanggapan manusia terhadap-Nya. Sejajar dengan itu Peter Brunner mengatakan bahwa liturgi adalah pelayanan Allah kepada manusia maupun pelayanan manusia kepada Allah. Dia mengutip rumusan Luther yang mengatakan bahwa:17)

 “Tidak ada satu pun yang terjadi di dalamnya kecuali bahwa Tuhan kita yang pengasih itu sendiri berbicara kepada kita melalui firman-Nya yang kudus dan bahwa kita pada gilirannya berbicara kepada Allah melalui doa dan nyanyian pujian.”

 

Dari penjelasan di atas tentang teologi liturgi selalu berpusat kepada karya keselamatan Allah melalui Yesus Kristus. Liturgi dirayakan oleh Gereja tidak pernah terpisah dari kehidupan sehari-hari menyangkut karakter atau perilaku, perbuatan dan totalitas kehidupan.



12)  R.Hardawiryana, Sacrosanctum Concilium (Konsili Suci) terj. (Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI,  1990),  11.

13)  E. Martasudjita, Op.cit.,  28-40.

14)  R. Hardawiryana, Op.cit.,  9.

15)  Ibid.,  7.

16)  James F.White, Op.cit.,  7-8.

17)  Ibid.,  8.

Komentar dimatikan

Pengertian dan Teologi Liturgi

1.1. Asal-Usul dan Perkembangan Awal

Kata “liturgi” berasal dari bahasa Yunani leitourgia, terbentuk dari akar kata ergon yang berarti “karya, ”, dan leitos, yang merupakan kata sifat untuk kata benda laos yang berarti bangsa. Kata laos dan ergon diambil dari kehidupan masyarakat Yunani kuno sebagai kerja nyata rakyat kepada bangsa atau negara. Secara praktis hal ini berupa membayar pajak, membela Negara dari ancaman musuh atau wajib militer. Namun leitourgia juga digunakan untuk menunjuk pelayan rumah tangga dan pegawai pemerintah semisal menarik pajak.1)  Secara harfiah, leitourgia berarti kerja atau pelayanan yang dibaktikan bagi kepentingan bangsa.

Menurut asal-usulnya, istilah leitourgia memiliki arti profan-politis, dan bukan arti kultis sebagaimana biasa dipahami. Baru sejak abad keempat sebelum masehi, pemakaian kata leitourgia diperluas,yakni untuk menyebut berbagai macam karya pelayanan.2) Baru sejak abad kedua sebelum masehi para penerjemah Alkitab dari bahasa Ibrani ke dalam bahasa Yunani (Septuaginta) memilih kata Yunani leitourgia untuk menerjemah kata Ibrani abodah yang berarti “pelayanan” khususnya pelayanan para Imam dan orang-orang Lewi di hadapan Tuhan.3)

 

 

1.1.1.      Istilah Liturgi dalam Perjanjian Lama

Dalam Perjanjian Lama berbahasa Yunani kata liturgi dijumpai sebanyak 170 kali dari kata abodah.4) Kata ini mengandung dua pengertian dengan memakai istilah sher`et  yang menekankan ungkapan perasaan dalam pengabdian diri serta kesetiaan kepada majikan dan abh`ad  lebih menekankan ketaatan kerja seorang hamba (budak, abdi) kepada tuannya. Kedua istilah ini juga dipakai dalam pengertian profan tetapi dalam pengertian religius selalu dimaksudkan dengan ibadah yang diarahkan kepada Allah oleh para imam Lewi di Bait Suci.

            Istilah sher`et dan abh`ad  tidak dimaksudkan untuk ibadah umum oleh seluruh umat tetapi secara khusus yang dilaksanakan oleh suku Lewi kepada Allah untuk kepentingan seluruh umat Israel (Bil.16: 9). Istilah yang digunakan untuk menggambarkan ibadah yang dilakukan oleh seluruh umat Israel ialah kata latreia dan douleia terpisah dan berbeda dari peribadahan suku Lewi yang dipandang lebih tinggi dan terhormat dengan corak perayaan yang khusus.5)

            Dalam Perjanjian Lama terjemahan Septuaginta istilah leitourgia digunakan untuk pelayanan ibadah para imam kaum Lewi. Sedangkan tindakan kultis umat biasanya diungkapkan dengan istilah latreia (penyembahan).

 

1.1.2.      Istilah Liturgi dalam Perjanjian Baru

Kata leitourgia dan leitourgein mengalami perkembangan dalam Perjanjian Baru. Dalam Luk.1: 23,  leitourgia masih memiliki makna yang sama dengan penggunaannya dalam LXX (Septuaginta) yaitu pelayanan imam. Dibandingkan dengan tulisan Perjanjian Baru yang lain, surat Ibrani merupakan kitab yang sering menggunakan kata leitourgia dan leitourgein (Ibr.8: 6, 9: 21, 10: 11) dengan konteks yang sama sekali baru. Penulis Ibrani menggunakan kata leitourgia untuk menjelaskan makna imamat Yesus Kristus sebagai satu-satunya Imamat Perjanjian Baru.6) Imamat Kristus merupakan pelayanan yang jauh lebih agung dan berdaya guna dibandingkan dengan pelayanan imam Perjanjian Lama.

Pada tulisan Perjanjian Baru yang lain, penggunaan kata leitougia atau leitourgein memiliki makna yang berbeda-beda. Kis.13: 2 merupakan satu-satunya teks yang menggunakan kata liturgi menunjuk ibadah. Dalam Rm.15: 16 Paulus disebut pelayan (leitourgos) Yesus Kristus melalui pemberitaan Injil. Dalam 2Kor.9, 12 dan Rm.15: 27 kata “liturgi” berarti sumbangan yang merupakan tindakan amal kasih bagi saudara-saudara seiman di tempat lain. Dalam teks-teks seperti Flp.2: 25, 30, Rm.13: 6, Ibr.1: 7, kata liturgi memiliki arti melayani dalam arti yang biasa.

Selanjutnya G.Riemer7) mengungkapkan bahwa istilah leitourgia dalam Perjanjian Baru terdapat 15 kali dengan makna yang berbeda-beda. Luk.1: 23, Ibrani 9: 21, Ibr.10: 11 merujuk kepada tugas imam. Ibr.8: 2, Ibr.8: 6 menguraikan pelayanan Kristus sebagai imam. Rm.15: 16 merujuk kepada pekerjaan rasul dalam pekabaran Injil kepada orang kafir. Flp.2: 17 sebagai kiasan untuk hal percaya. Ibr.1: 7, 14 merujuk kepada pekerjaan malaikat-malaikat melayani. Rm.13: 6 mengacu kepada jabatan pemerintah. Rm.15: 27, Flp.2: 25, Flp.2: 30, Flp.4: 18 merujuk kepada pengumpulan persembahan untuk orang miskin. Kis.13: 2 mengacu kepada kumpulan orang yang berdoa dan berpuasa.

Perjanjian Baru menggunakan pelbagai istilah untuk ibadah. Kata latreia yang diterjemahkan sebagai pelayanan atau ibadah. Kata ini digunakan untuk menyatakan kewajiban menerapkan hidup beribadah bagi umat (Flp.3: 3). Kata proskunein yang diterjemahkan untuk merebahkan diri, menyembah atau bersujud (Mat.4: 10; Luk.4: 8). Kata thusia yang diterjemahkan sebagai persembahan kurban dalam bentuk perayaan yang ditunjukkan melalui perbuatan (1Kor.10: 20, Ibr.13: 15). Kata prosphora sama dengan kata thusia menyatakan tindakan mempersembahkan kurban yang ditujukan kepada Kristus (Ibr.10: 10). Kata threskeia yang diterjemahkan sebagai pelayanan keagamaan atau ibadah (Kis.26: 5, Kol.2: 18). Kata sebein diterjemahkan untuk menunjuk ke ibadah (Mat.15: 9, Mrk.7: 7). Kata homologein mempunyai sejumlah arti seperti pengakuan dosa (1Yoh.1: 9), mengaku dengan mulut atau ucapan bibir (Rm.10: 9, Ibr.13: 15).8)

 

1.1.3.      Istilah Liturgi dalam Sejarah Gereja Selanjutnya

Dalam masa pasca para rasul, kata liturgi sudah digunakan untuk menunjuk kegiatan ibadat atau doa Kristiani. Klemen dalam suratnya (1Klemen 41: 1) menyebut istilah liturgi untuk menunjuk pelayanan ibadat baik kepada Allah maupun kepada jemaat yang dilakukan oleh uskup, imam, dan diakon. Akan tetapi, sejak abad-abad pertengahan, kata “liturgi” hanya terbatas digunakan untuk menyebut perayaan Ekaristi saja. Pebatasan ini terjadi di Gereja Timur dan Gereja Barat.

Penggunaan kata “liturgi” bagi penyebutan Ekaristi hingga kini tetap dipertahankan di Gereja Timur, sedangkan untuk perayaan-perayaan ibadat lainnya dipakai sebutan doa atau tata perayaan (Yunani: taxis, Latin: ordo). Dalam Gereja Barat, istilah “liturgi” lama menghilang,9) baru mulai abad ke-16 istilah “liturgi” kembali dikenal. Gereja-gereja Reformasi menggunakan kata Liturgi mulai pada abad ke-17 dan 18 dengan arti ibadat Gereja.

Kemudian Gereja Katolik Roma mulai memakai kata sifat liturgicus untuk menunjuk hal-hal yang berkaitan dengan ibadat. Kata benda liturgia baru digunakan dalam dokumen resmi Gereja Katolik Roma pada abad ke-18. Akhirnya, Konsili Vatikan II membakukan istilah “liturgi” untuk menyebut “peribadahan Gereja” dalam Konstitusi Liturgi Sacrosanctum Concilium (SC).

 

1.1.4.      Istilah Liturgi pada Masa Kini

Dewasa ini kata liturgi adalah sebutan yang khas untuk perayaan ibadah Kristen. Kata ibadah berasal dari bahasa Arab, yakni ebdu atau abdu (abdi = hamba). Kata ini sejajar dengan bahasa Ibrani, yakni abodah (ebed = hamba). Artinya perbuatan untuk untuk menyatakan bakti kepada Tuhan. Ibadah terkait seerat-eratnya dengan suatu kegiatan manusia kepada Allah, yakni dengan pelayanan kepada Tuhan.10) Rasul Paulus dalam Rm.12: 1 menuliskan tentang “ibadah sejati” dalam kaitan dengan persembahan hidup. Liturgi sebagaimana pemahaman Paulus adalah juga sikap beriman sehari-hari tidak terbatas pada perayaan Gereja.

Selain liturgi, kata dalam bahasa Indonesia yang sejajar ialah kebaktian. Bhakti (Sansekerta) ialah perbuatan yang menyatakan setia dan hormat, sikap memperhambakan diri, perbuatan baik. Bakti dapat ditujukan baik untuk seseorang, Negara, maupun untuk Tuhan yang dilakukan dengan sukarela. Pada pihak lain kebaktian mempunyai makna luas, yakni sikap hidup sebagai pelayan Tuhan menyangkut tabiat, perbuatan, karakter, atau pola pikir yang ditujukan secara utuh dan nyata oleh orang percaya di dalam dunia.

Ketiga kata dalam bahasa Indonesia tersebut, yaitu: liturgi, kebaktian dan ibadah, digunakan secara sama dan sejajar. Namun sekalipun demikian dalam pemahaman sehari-hari ada perbedaannya. Kata liturgi sering digunakan dalam kaitan dengan disiplin ilmu, teologi, atau cara resmi dan agung sebagaimana dalam Gereja Roma Katolik. Di seminari ada mata kuliah liturgi, tetapi tidak disebut mata kuliah kebaktian atau ibadah. Kata kebaktian lebih sering digunakan untuk menunjuk perayaan peribadahan. Sementara kata ibadah cenderung digunakan untuk perayaan agama apapun, bahkan agama-agama tradisi dan agama suku. Lazimnya orang menyebut ibadah Yahudi atau ibadah di Masjid, tetapi tidak kebaktian Yahudi atau liturgi di Masjid.11)

 



1) James F.White, Introduction to Christian Worship  (Nashville: Revised Edition, Abingdon Press,  1990),  22-23.

2) E.Martasudjita, Pengantar Liturgi : Makna, Sejarah dan Teologi Liturgi  (Yogyakarta: Kanisius 1999), 18.

3) H.A.Van Dop, “Hakekat dan Makna Liturgi”, Liturgi dan Komunikasi; (Jakarta: Yakoma PGI,  2005), 104. Pengertian liturgi secara kultis terutama digunakan oleh kelompok LXX ketika menerjemahkan Kitab Suci dari bahasa Ibrani ke bahasa Yunani pada abad ke-2 hingga ke-3 sebelum masehi. Dalam terjemahan Septuaginta itu kata leitourgia digunakan untuk menunjukkan pelayanan ibadat para Imam atau kaum Lewi di hadapan Tuhan.

4)  Bosco Da Cunha,O.Carm, Teologi Liturgi dalam Hidup Gereja  (Madang: Dioma, 2004)  16.

5)  Ibid.,  17.

6)  E. Martasudjita, Op.cit., 19

7)  G. Riemer, Cermin Injil  (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF,  1995),  11.

8)  James F. White, Pengantar Ibadah Kristen, terj. (Jakarta: BPK Gunung Mulia,  2002),  15-16.

9)  Menghilangnya istilah “liturgi” dari kamus Gereja Barat berkaitan dengan penerjemahan Kitab Suci dari bahasa Yunani ke bahasa Latin (Vulgata) yang dilakukan oleh Hironimus (347-420). Dalam Vulgata kata “liturgi” umumnya diterjemahkan dengan kata minister atau officium (misalnya Luk.1:23, 2Kor 9: 12). Sebagai ganti istilah liturgi dalam kamus peribadahan digunakan bebagai istilah lain: Officia divina yaitu titel dari kebanyakan karya/ buku tentang liturgi. Kini biasanya dipakai hanya untuk liturgi harian. Ritus atau ibadat yaitu titel buku yang amat disukai dari abad ke-16 hingga ke-20 (misalnya: Rituale Romanum, Kongregasi Ibadat). Istilah ini biasanya diartikan sebagai sisi luar dari liturgi, yakni dari aspek manusia yang beribadah kepada Allah. Caeremoniae atau upacara, yaitu titel dari beberapa buku liturgi dari abad ke-16 dan 17 dan hanya  kadang-kadang digunakan dalam dokumen Vatikan II (misalnya: Kanon 788,1).

10) Rasid Rachman; Pembaruan Ibadah : Pengantar Teologi Liturgi (Bahan Perkuliahan Intensif  Mahasiswa D.Min, STT Jakarta, 19-20 Oktober 2005),  5-6.

11)  Ibid.,  7.

Komentar dimatikan

Hidup Bersyukur

“AKU TAK SELALU MENDAPATKAN APA YANG KUSUKAI, OLEH KARENA ITU AKU SELALU MENYUKAI APAPUN YANG AKU DAPATKAN”

 

Kata kata diatas merupakan wujud syukur. Syukur merupakan kualitas hati yg terpenting. Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa damai, tentram dan bahagia.  Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia.

Ada dua hal yang sering membuat kita tak bersyukur.

 

Pertama : Kita sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa yang kita miliki. Katakanlah anda telah memiliki sebuah rumah,kendaraan, pekerjaan tetap, dan pasangan yang terbaik. Tapi anda masih merasa kurang. Pikiran anda dipenuhi berbagai target dan keinginan. Anda begitu terobsesi oleh rumah yang besar dan indah,mobil mewah, serta pekerjaan yang mendatangkan lebih banyak uang. Kita ingin ini dan itu. Bila tak mendapatkannya kita terus memikirkannya. Tapi anehnya, walaupun sudah mendapatkannya, kita hanya menikmati kesenangan sesaat. Kita tetap tak puas, kita ingin yang lebih lagi. Jadi, betapapun banyaknya harta yang kita miliki, kita tak pernah menjadi “KAYA” dalam arti yang sesungguhnya. Mari kita luruskan pengertian kita mengenai orang ”kaya”. Orang yang ”kaya” bukanlah orang yang memiliki banyak hal, tetapi orang yang dapat menikmati apapun yang mereka miliki.


Tentunya boleh-boleh saja kita memiliki keinginan,tapi kita perlu menyadari bahwa inilah akar perasaan tak tenteram. Kita dapat mengubah perasaan inidengan berfokus pada apa yang sudah kita miliki. Cobalah lihat keadaan di sekeliling Anda, pikirkan yang Anda miliki, dan syukurilah. Anda akan merasakan nikmatnya hidup.  Pusatkanlah perhatian Anda pada sifat-sifat baik atasan, pasangan, dan orang-orang di sekitar Anda. Mereka akan menjadi lebih menyenangkan.  Seorang pengarang pernah mengatakan, ”Menikahlah dengan orang yang Anda cintai, setelah itu cintailah orang yang Anda nikahi.” Ini perwujudan rasa syukur.

 

Ada cerita menarik mengenai seorang kakek yang mengeluh karena tak dapat membeli sepatu, padahal sepatunya sudah lama rusak. Suatu sore ia melihat seseorang yang tak mempunyai kaki, tapi tetap ceria. Saat itu juga si kakek berhenti mengeluh dan mulai bersyukur.

 

 


Hal kedua yang sering membuat kita tak bersyukur adalah kecenderungan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita merasa orang lain lebih beruntung. Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita.


Saya ingat, pertama kali bekerja saya senantiasa membandingkan penghasilan saya dengan rekan-rekan semasa kuliah. Perasaan ini membuat saya resah dan gelisah. Sebagai mantan mahasiswa teladan di kampus, saya merasa gelisah setiap mengetahui ada kawan satu angkatan yang memperoleh penghasilan di atas saya. Nyatanya, selalu saja ada kawan yang penghasilannya melebihi saya. Saya menjadi gemar bergonta-ganti pekerjaan, hanya untuk mengimbangi rekan-rekan saya. Saya bahkan tak peduli dengan jenis pekerjaannya, yang penting gajinya lebih besar. Sampai akhirnya saya sadar bahwa hal ini tak akan pernah ada habisnya. Saya berubah dan mulai mensyukuri apa yang saya dapatkan. Kini saya sangat menikmati pekerjaan saya.


Rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari rumput di pekarangan sendiri. Ada cerita menarik mengenai dua pasien rumah sakit jiwa. Pasien pertama sedang duduk termenung sambil menggumam, ”Lulu, Lulu.” Seorang pengunjung yang keheranan menanyakan masalah yang dihadapi orang ini. Si dokter menjawab, ”Orang ini jadi gila setelah cintanya ditolak oleh Lulu.” Si pengunjung manggut-manggut, tapi begitu lewat sel lain ia terkejut melihat penghuninya terus menerus memukulkan kepalanya di tembok dan berteriak, ”Lulu, Lulu”. ”Orang ini juga punya masalah dengan Lulu? ” tanyanya keheranan. Dokter kemudian menjawab, ”Ya, dialah yang akhirnya menikah dengan Lulu.”


Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki.  Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi. Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan cerita mengenai seorang ibu yang sedang terapung di laut karena kapalnya karam, namun tetap berbahagia. Ketika ditanya kenapa demikian, ia menjawab, ”Saya mempunyai dua anak laki-laki. Yang pertama sudah meninggal, yang kedua hidup ditanah seberang. Kalau berhasil selamat, saya sangat bahagia karena dapat berjumpa dengan anak kedua saya. Tetapi kalaupun mati tenggelam, saya juga akan berbahagia karena saya akan berjumpa dengan anak pertama saya di surga.”

 

Komentar dimatikan

Buruan Tampar Gue

Yesus berkata, ”Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu” (Matius 5:39). Ya, siapa yang tidak kenal kata-kata ini?

Namun demikian, saya bayangkan, 99,9 persen orang ”waras” di dunia ini akan lebih sepaham dengan Nietzsche, yang mengatakan bahwa sikap seperti itu adalah sikap ”bunuh diri” (”suicidal”). Mula-mula menghancurkan diri sendiri. Akhirnya, meluluh-lantakkan seluruh peradaban dunia.

Betapa tidak! Anda pasti ingat apa yang dikatakan Charles Darwin. Dari pengamatan empirisnya, ia menyimpulkan bahwa ciri kehidupan yang terpenting adalah ”persaingan”. Untuk bisa ”survive” atau ”bertahan hidup”, semua makhluk mesti berjuang. Dan siapa yang berhasil ”survive”? Kata Darwin, yang ”survive” adalah makhluk yang paling ”pas”, paling ”cocok”, paling ”fit” dengan kondisi lingkungannya. Survival of the fittest.

Misalnya ada satu zaman, di mana alam sedemikian kerasnya, sehingga yang mampu bertahan hanyalah yang paling kuat dan paling besar. Tapi itu berubah. Digantikan oleh zaman, di mana ”kuat” dan ”besar” justru merupakan kelemahan. Sebab yang dibutuhkan adalah ”kelincahan” dan ”kecerdikan”.

Di sini berakhirlah masa kejayaan makhluk-makhluk raksasa dan perkasa, sejenis dinosaurus, brontosaurus, mastodon, dan sebagainya. Dan sebaliknya, justru makhluk-makhluk ”kecil” sebangsa kura-kura, buaya, dan biawak — yang lebih ”fit” – yang lebih mampu bertahan. Dan, tentu saja, … manusia!

SURVIVAL of the fittest”. Makhluk macam apa yang paling ”fit”, atau paling memenuhi syarat, untuk mampu bertahan, memang bervariasi. Orang ”bule” lebih tahan di iklim dingin. Sedang orang ”keling” lebih nyaman di daerah panas. Tanaman teh tumbuh subur di Puncak, di daerah pegunungan Tapi jangan harap bisa bertahan di Parangtritis, di daerah pantai.

Ya. Tapi yang jelas, kapan pun dan di mana pun, menurut Nietzsche dan kawan-kawan, orang tak akan mampu survive dengan prinsip Yesus: ”ditampar pipi kiri, malah menawarkan pipi kanan”. Guna mampu bertahan – apa lagi berkembang –, kata mereka, diperlukan makhluk yang punya ”nilai lebih”. ”Uebermensch”. ”Super-human”.

Makhluk ini memang tidak mesti seperkasa Gatotkaca, berotot kawat bertulang besi. Namun yang pasti, ia juga bukan makhluk yang serba ”nrimo” walau ”dikuyo-kuyo”; artinya, manda diperlakukan apa saja. Yang bila ditampar, malah meminta, ”Buruan tampar lagi, dong!”. Sikap seperti ini tidak ”fit” untuk keadaan apa saja. Tidak bakalan mampu ”survive” di zaman kapan saja.

BISA saja dalam keadaan-keadaan tertentu, orang cuma bisa diam. Tidak mampu berbuat apa-apa. Misalnya, di masa jaya-jayanya rezim Orde Baru, siapa berani terang-terangan melawan Soeharto? Tak banyak. Tapi sikap ”tiarap” ini hanya boleh untuk sementara. Yaitu sampai tiba saat yang tepat untuk berdiri, untuk bertindak, untuk membalas. Kalau perlu, plus bunganya sekalian!

Ini baru bisa disebut sebagai sikap ”diam” yang bertanggung-jawab! Tapi bersikap seperti yang dianjurkan Yesus – ”ditampar pipi kanan, malah menawarkan pipi kiri”? Ini adalah sikap ”pecundang” yang tidak bertanggung-jawab.

Sebab bayangkanlah, bila seorang pengusaha, di tengah-tengah persaingan, berkata tergopoh-gopoh, ”Saya mengalah sajalah!”.

 

 

Bila di tengah-tengah pemilu, seorang pemimpin parpol berkata dengan segera, ”Bila berminat, ambil sajalah konstituen saya”. Dan bila seorang komandan pasukan, ketika diserang, buru-buru mengibarkan bendera putih, ”Silakan Anda kuasai wilayah kami. Kami pergi!”

Terlebih-lebih bila sikap-sikap tidak wajar itu didasari oleh prinsip, ”Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat terhadap kamu”. Reaksi orang, tentu, ”Lha namanya saja ”orang berbuat jahat”. Kok tidak boleh dilawan sih? Apakah ini tidak sama dengan mempersilakan angkara murka bersimaharajalela dengan leluasa?” Benar inikah yang dimaksudkan oleh Yesus?

YANG pertama-tama harus kita katakan adalah, bahwa kita sungguh salah sangka bila mengira kata-kata Yesus tersebut adalah menganjurkan sikap lemah atau menyerah. Apabila ada orang yang karena takut, lalu buru-buru menawarkan pipinya untuk ditampar, maka, ya, ini memang adalah tanda kelemahan. Pengecut. Pecundang.

Tapi saya yakin, Anda tentu pernah menyaksikan adegan pilem, ketika dua jagoan siap berlaga. Yang satu bertubuh kecil, sedang lawannya berperawakan raksasa. Dengan lincahnya, si Kecil mengayunkan tinju dan memukul perut lawannya. Buuuk!

Tapi si Raksasa cuma tertawa mengejek. Ia malah mempersilakan si Kecil menghantam lagi perutnya. Dan lagi, dan lagi, dan lagi, sampai kelelahan sendiri. Perkenankanlah kini saya bertanya, sikap si Raksasa itu, apakah ini, menurut Anda, adalah tanda kelemahan?

SAMA SEKALI bukan maksud saya untuk mengatakan, bahwa orang Kristen dianjurkan untuk menyontek bulat-bulat sikap si Raksasa. Orang Kristen bukan raksasa. Ia ”Daud”, bukan ”Goliat”.

Sikap si Raksasa itu jelas-jelas mencerminkan sikap jumawa, sikap pede yang berlebih-lebihan, sikap memandang remeh kekuatan lawan. Kalau pun kelihatannya ia mengalah, itu cuma awal saja dari niat sebenarnya yang ada di hatnya. Yakni, niat membalas yang berlipat-ganda.

 Niat menghancurkan lawan habis-habisan. Sebab setelah si Kecil kehabisan tenaga, tibalah saat membuatnya jadi bulan-bulanan. Dihantam. Ditendang. Ditelikung. Dibanting. Dan si Raksasa itu akan tertawa terbahak-bahak. Puas.

Sikap kristiani yang dianjurkan Yesus, kita tahu, bukan begitu. Sebaliknya dari bersikap jumawa, orang Kristen dituntut rendah hati. Sebaliknya dari percaya berlebih-lebihan pada kemampuan diri sendiri, ia menggantungkan diri sepenuh-penuhnya pada kuasa Allah. Dan sebaliknya dari dibakar nafsu ingin membalas, ia rindu mengampuni.

TOH dari ilustrasi di atas, kita dapat menggali satu kebenaran penting. Yaitu bahwa sikap seperti yang dianjurkan Yesus itu, ternyata bisa lahir dari kekuatan dan keyakinan diri. Bukan, seperti tuduhan Nietzsche, tanda kelemahan dan sikap tidak berdaya semata-mata.

Dan kekuatan yang luar biasa! Mengapa? Sebab apa sih sebenarnya esensi yang paling hakiki dari kata-kata Yesus yang sedang kita bicarakan ini? Jelas bukan soal tampar-menampar.

Ketika Yesus sendiri mengalami – dengan mata tertutup — ditampar oleh serdadu-serdadu Romawi, apa yang Ia lakukan? Apakah Ia menyorongkan pipi-Nya yang sebelah lagi, seraya berkata, ”Buruan tampar gua lagi, dong!”? Tidak, bukan?

Sebaliknya, dengan penuh wibawa, Ia bertanya, ”Apa sebabnya, apa salahku, sehingga kalian menampar Aku?” Yesus yang ”terdakwa”, bersikap sebagai ”hakim” yang meminta pertanggung-jawaban mereka!

Yesus tidak ”tiarap”! Yesus tidak Cuma ”nrimo”! Karenanya, Ia juga mau agar pengikut-pengikut-Nya – Anda dan saya – juga begitu! Tidak menjilat-jilat, sekadar supaya selamat. Tidak menjual kehormatan, hanya supaya aman. Tidak menukar keyakinan, dengan kedudukan.

BILA tidak menyerah, lalu apa? Menurut pandangan dunia pada umumnya, satu-satunya alternatif yang tersedia, bila orang tidak menerima perlakuan orang lain, adalah — apa lagi — kalau bukan ”membalas”. ”Mata ganti mata, gigi ganti gigi, nyawa ganti nyawa”.

”Membalas” adalah sikap ”kodrati” manusia. Malah salah satu nilai yang terpuji! Misalnya, dari beberapa jenis ”keadilan” yang ada, ada satu yang disebut ”keadilan retributif”. Apa ini? Menurut pengertian ”keadilan retributif”, ”adil” itu artinya ialah, membalas orang setimpal dengan apa yang dilakukannya. Jadi, pahala bagi yang berbuat baik. Dan hukuman bagi yang berlaku jahat.

Yesus tidak menafikan perlunya ”pembalasan” atau ”hukuman”. Namun Ia juga menawarkan alternatif lain. Yang lebih luhur, yang lebih mulia, yang lebih ilahi. Yakni, bukan ”membalas” melainkan ”mengampuni”. Bukan ”membalas” melainkan ”mengasihi”.

Mengapa lebih luhur? Sebab ketika kita mampu mengendalikan kecenderungan kodrati kita untuk ”membalas”, itu berarti kita telah membuktikan kemampuan kita mengendalikan diri sendiri; mengontrol hawa-nafsu kita. Adakah yang lebih mulia dari pada ini?

Dan dengan itu kita menunjukkan kepada dunia, bagaimana kita memanfaatkan kekuatan yang kita miliki. Bukan untuk melanggengkan permusuhan, tapi mendatangkan perdamaian. Bukan untuk melukai, tapi menyembuhkan. Ini amat ilahi, bukan? ***

Amin

Komentar dimatikan

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.720 pengikut lainnya.