Archive for HKBP PERUMNAS II BEKASI

PGIS – KOTA BEKASI

SERUAN PASTORAL PGIS – KOTA BEKASI
PEMILU CAPRES DAN CAWAPRES

09 JULI 2014
===========================

PILIHLAH PEMIMPIN BERHATI NEGARAWAN:
JUJUR – DAPAT DIPERCAYA – TAKUT AKAN TUHAN – BENCI SUAP,
DAN BERKOMITMEN UNTUK PERJUANGAN KEBEBASAN BERAGAMA

 

Saudara-saudara umat Kristiani!

Pada tanggal 09 Juli 2014 yang akan datang, bangsa Indonesia akan melaksanakan Pesta Demokrasi yaitu Pemilihan Presiden dan wakil presiden. Kita tahu bahwa moment ini sangat penting dan menentukan bagi bangsa Indonesia. Dikatakan penting karena merupakan suksesi di tingkat Eksekutif secara Konstitusi demi kelangsungan perjalanan Bangsa ke depan. Dikatakan sangat menentukan karena di sinilah masyarakat menggunakan hak pilihnya demi mencapai cita-cita luhur bangsa yaitu masyarakat adil, makmur dan maju, serta berdaulat.

Kehadiran umat Kristiani di Negara yang kita cintai ini adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Bangsa Indonesia. Bagaimanapun juga Tuhan sudah menjadikan umat Kristiani sedarah, sedaging dan senasib dengan Bangsa ini, maka umat Kristiani mempunyai hak dan kewajiban yang sama untuk membangun bangsa ini melalui pilar kebangsaan: PANCASILA – UNDANG-UNDANG DASAR – NKRI – BHINNEKA TUNGGAL IKA.

Bangsa Indonesia pada umumnya dan umat Kristiani pada khususnya mesti menjadi warga Negara yang bertanggungjawab. Artinya turut bertanggungjawab atas maju mundurnya kesatuan dan persatuan Negara ini. Tanggungjawab itu hanya dapat dilakukan apabila kita mempunyai keinsyafan kenegaraan, dan keinsyafan kenegaraan hanya dapat tumbuh jika terdapat keinsyafan kebangsaan. Kehadiran warga Kristiani dalam konteks bernegara dan berbangsa adalah sebagai Keluarga Besar, tidak ada seorang pun dikecualikan. Semuanya mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Umat kristiani bukan warga Negara kelas dua atau kelas tiga. Kita sebagai warga Kristiani sekaligus warga bangsa mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan orang-orang lainnya apa pun sukunya dan agamanya.

Saudara-saudara umat Kristiani!

Atas dasar pemikiran di atas hubungannya dengan Pesta Demokrasi yang akan dilangsungkan pada tanggal 09 Juli 2014 yaitu pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, maka MPH PGIS kota Bekasi, menyerukan kepada seluruh umat Kristiani:

01. Supaya semua umat Kristiani mendoakan Pemilu ini pada setiap kebaktian Minggu, dalam doa Syafaat, agar Pemilu dapat berjalan dengan baik, tidak ada gangguan dari siapa pun dan dari pihak mana pun.

02. Supaya semua umat Kristiani dapat menggunakan hak pilihnya dengan sebaik-baiknya. Golongan Putih (Golput) bukanlah pilihan.

03. Berikanlah suara kepada mereka yang memiliki pikiran dan hati JUJUR membangun bangsa ini di dalam bingkai PANCASILA, UNDANG-UNDANG DASAR 45, BHINNEKA TUNGGAL IKA, dan NKRI.

04. Pilihlah Capres dan Cawapres yang DAPAT DIPERCAYA dan TAKUT AKAN TUHAN. Di mana kata sesuai dengan tindakan, dan janji sesuai dengan bhakti. Jangan terlena dengan indahnya retorika dan janji-janji.

05. Jangan pilih yang melakukan KORUPSI, tetapi pilihlah mereka yang benci akan pengejaran suap. Jangan terlena dengan pemberian uang dari siapa pun, dan oleh siapa pun. Kita tidak mau apa yang semestinya adalah hak rakyat diambil oleh mereka yang memiliki moralitas rendah demi kepentingan faksi dan demi kepentingan pribadi. Bumi Indonesia adalah bumi yang kaya dan subur, namun karena kerakusan dan korupsi, bangsa ini sulit terbangkit dari kemiskinan. Kita mau bangsa ini menjadi bangsa yang berdaulat dan bermartabat, menjadi suatu bangsa bersih dari KORUPSI, dan dipimpin oleh orang-orang yang menjungjung tinggi nilai-nilai luhur yaitu masyarakat yang adil, aman, makmur, dan sejahtera.

06. Pilihlah orang-orang yang memiliki komitmen memperjuangkan KEBEBASAN BERAGAMA dan BERIBADAH. Kita melihat dan merasakan khususnya di Kota dan Kabupaten Bekasi bahwa ada umat Kristiani dan umat ber- agama lainnya sulit melakukan ibadah karena adanya larangan dari kelompok-kelompok tertentu. Semestinya negara harus menjaga, memelihara dan menjamin Kebebasan Beragama. Kita berharap orang yang duduk di lembaga eksekutif memiliki integritas tinggi menjaga dan merawat pluralisme serta memiliki komitmen untuk KEBEBASAN BERAGAMA, apa pun agamanya dan kepercayaannya.

07. Berikanlah hak pilihanmu kepada orang yang dapat mengerti keadaan rakyatnya, yang dekat dengan rakyat, dan mau turun berjuang untuk rakyat. Karena bangsa dan negara ini dibangun adalah dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.
Demikian seruan ini kami sampaikan, siapa pun yang kita pilih akan menentukan maju mundurnya bangsa ini ke depan. Kiranya umat Kristiani yang ada di Kabupaten dan Kota Bekasi diberkati oleh Tuhan menentukan dan menetapkan hak pilihnya dalam Pemilu yang akan datang.

Bekasi: Kamis Juni 2014

MAJELIS PENGURUS HARIAN (MPH)
PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA SETEMPAT (PGIS)
KOTA BEKASI

 

Ketua Umum                                                                                 Sekretaris Umum
Pdt. Adven Leonard Nababan, D.Min                        Pdt. Sihar Siagian, M.Th

 

Comments (2) »

Seruan Pastoral PGIS Bekasi

SERUAN PASTORAL PGIS – KOTA BEKASI
untuk PEMILU 09 April 2014
dan PEMILU bulan September 2014
===========================

 

PILIHLAH PEMIMPIN BERHATI NEGARAWAN:

JUJUR – DAPAT DIPERCAYA – TAKUT AKAN TUHAN – BENCI SUAP,

DAN BERKOMITMEN UNTUK PERJUANGAN KEBEBASAN BERAGAMA

 

Saudara-saudara umat Kristiani!

Pada tanggal 09 April 2014 yang akan datang, bangsa Indonesia akan melaksanakan Pesta Demokrasi yaitu Pemilihan Umum Legislatif dan DPD, serta bulan September 2014 Pemilihan Presiden dan wakil presiden. Kita tahu bahwa ke dua moment ini sangat penting dan menentukan bagi bangsa Indonesia. Dikatakan penting karena merupakan suksesi di tingkat Legislatif dan Eksekutif secara Konstitusi demi kelangsungan perjalanan Bangsa ke depan. Dikatakan sangat menentukan karena di sinilah masyarakat menggunakan hak pilihnya demi mencapai cita-cita luhur bangsa yaitu masyarakat adil, makmur dan maju, serta berdaulat.

Kehadiran umat Kristiani di Negara yang kita cintai ini adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Bangsa Indonesia. Bagaimanapun juga Tuhan sudah menjadikan umat Kristiani sedarah, sedaging dan senasib dengan Bangsa ini, maka umat Kristiani mempunyai hak dan kewajiban yang sama untuk membangun bangsa ini melalui pilar kebangsaan: PANCASILA – UNDANG-UNDANG DASAR – NKRI – BHINNEKA TUNGGAL IKA.

Bangsa Indonesia pada umumnya dan umat Kristiani pada khususnya mesti menjadi warga Negara yang bertanggungjawab. Artinya turut bertanggungjawab atas maju mundurnya kesatuan dan persatuan Negara ini. Tanggungjawab itu hanya dapat dilakukan apabila kita mempunyai keinsyafan kenegaraan, dan keinsyafan kenegaraan hanya dapat tumbuh jika terdapat keinsyafan kebangsaan. Kehadiran warga Kristiani  dalam konteks bernegara dan berbangsa adalah sebagai Keluarga Besar, tidak ada seorang pun dikecualikan. Semuanya mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Umat kristiani bukan warga Negara kelas dua atau kelas tiga. Kita sebagai warga Kristiani sekaligus warga bangsa mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan orang-orang lainnya apa pun sukunya dan agamanya.

Saudara-saudara umat Kristiani!

Atas dasar pemikiran di atas hubungannya dengan Pesta Demokrasi yang akan dilangsungkan pada tanggal 9 April 2014 yaitu Pemilihan wakil-wakil Rakyat yang akan duduk di lembaga Legislatif, dan bulan September 2014 yaitu pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, maka MPH PGIS kota Bekasi, menyerukan kepada seluruh umat Kristiani:

 

  1. Supaya semua umat Kristiani mendoakan Pemilu ini pada kebaktian Minggu, 06 April 2014 dalam doa Syafaat, agar Pemilu dapat berjalan dengan baik, tidak ada gangguan dari siapa pun dan dari pihak mana pun.
  2. Supaya semua umat Kristiani dapat menggunakan hak pilihnya dengan sebaik-baiknya. Golongan Putih (Golput) bukanlah pilihan.
  3. Berikanlah suara kepada mereka yang memiliki pikiran dan hati JUJUR membangun bangsa ini di dalam bingkai PANCASILA, UNDANG-UNDANG DASAR 45, BHINNEKA TUNGGAL IKA, dan NKRI.
  1. Pilihlah wakil-wakil Rakyat yang akan duduk di Parlemen yaitu mereka yang DAPAT DIPERCAYA dan TAKUT AKAN TUHAN. Di mana kata sesuai dengan tindakan, dan janji sesuai dengan bhakti. Jangan terlena dengan indahnya retorika dan janji-janji.
  2. Jangan pilih partai atau caleg yang melakukan KORUPSI, tetapi pilihlah mereka yang benci akan pengejaran suap. Jangan terlena dengan pemberian uang dari partai apa pun, dan dari caleg siapa pun. Kita tidak mau apa yang semestinya adalah hak rakyat diambil oleh mereka yang memiliki moralitas rendah demi kepentingan faksi  dan demi kepentingan pribadi. Bumi Indonesia adalah bumi yang kaya dan subur, namun karena kerakusan dan korupsi, bangsa ini sulit terbangkit dari kemiskinan. Kita mau bangsa ini menjadi bangsa yang berdaulat dan bermartabat, menjadi suatu bangsa bersih dari KORUPSI, dan dipimpin oleh orang-orang yang menjungjung tinggi nilai-nilai luhur yaitu masyarakat yang adil, aman, makmur, dan sejahtera.
  3. Pilihlah orang-orang yang memiliki komitmen memperjuangkan KEBEBASAN BERAGAMA dan BERIBADAH. Kita melihat dan merasakan khususnya di Kota dan Kabupaten Bekasi bahwa ada umat Kristiani dan umat ber- agama lainnya sulit melakukan ibadah karena adanya larangan dari kelompok-kelompok tertentu. Semestinya negara harus menjaga, memelihara dan menjamin Kebebasan Beragama. Kita berharap orang yang duduk di lembaga legislatif memiliki integritas tinggi menjaga dan merawat pluralisme serta memiliki komitmen untuk KEBEBASAN BERAGAMA, apa pun agamanya dan kepercayaannya.
  4. Berikanlah hak pilihanmu kepada orang yang dapat mengerti keadaan rakyatnya, yang dekat dengan rakyat, dan mau turun berjuang untuk rakyat. Karena bangsa dan negara ini dibangun adalah dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.

Demikian seruan ini kami sampaikan, siapa pun yang kita pilih akan menentukan maju mundurnya bangsa ini ke depan. Kiranya umat Kristiani yang ada di Kabupaten dan Kota Bekasi diberkati oleh Tuhan menentukan dan menetapkan hak pilihnya dalam Pemilu yang akan datang.

 

Bekasi: Kamis 03 April 2014

 

 

MAJELIS PENGURUS HARIAN (MPH)

PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA  SETEMPAT (PGIS)

KOTA BEKASI

 Ketua Umum                                                                   Sekretaris Umum

 

Pdt. Adven Leonard Nababan, D.Min                            Pdt. Sihar Siagian, M.Th

 

Comments (2) »

TAHUN 2014: SETIA KEPADA TUHAN – BERMAKNA BAGI SESAMA

KERENDAHAN HATI, KESETIAAN, DAN INTEGRITAS KUNCI SUKSES 2014MAKNAI TAHUN 2014 DENGAN:

KARYA KREATIF KRISTUS…

HIDUP DI DALAM KERENDAHAN HATI…

MEWUJUD DI DALAM KESETIAAN (KETAATAN)…

SALING MENGHORMATI DAN SALING MENERIMA 

LINTAS BUDAYA, SUKU DAN AGAMA

RAYAKAN HIDUP BAHWA:

HARI INI LEBIH BAIK DARI HARI KEMARIN…

HARI ESOK LEBIH BAIK DARI HARI INI…

DAN MENGUCAP SYUKURLAH SENANTIASA…

538570_2969621960879_92574814_n

Komentar dimatikan

SURAT UNTUK BAPAK PRESIDEN

Dear President of Republic of Indonesia,

INDONESIA: Bekasi authorities demolish a church thus nurture religious intolerance in the territory

Name of victims: Congregation of Batak Protestant Church (HKBP) Setu
Names of alleged perpetrators: Regent of Bekasi, Dr. Hj. Neneng Hasanah Yasin
Date of incident: 21 March 2013
Place of incident: Setu, Bekasi, West Java

I am writing to voice my deep concern regarding the demolition of a church by the authorities of Bekasi on 21 March 2013. I strongly believe the demolition is a violation to the right to freedom of religion guaranteed by the 1945 Constitution.

I have been informed that Bekasi Public Order Agency (Satpol PP) demolished an unfinished church belongs to the congregation of Batak Protestant Church (HKBP) Setu at around 2 pm on 21 March 2013. The plan was verbally informed to the congregation a day prior to the demolition took place. The authorities of Bekasi claimed that the church was demolished as the congregation does not hold any construction permit required under Bekasi Local Regulation No. 7 Year 1996.

I understand that buildings without construction permit are considered to be illegal under Indonesian laws. However, I am also aware that demolition should not be the measure imposed on illegal building which is still at its construction stage. Instead, as stipulated under Government Regulation No. 36 Year 2005 on Premises, such building should only have its construction process postponed until the owner obtains the construction permit. I wish to emphasise that, in this case, the congregation of HKBP Setu already submitted an application for such permit in 2011 yet the process has been pending since then as the Bekasi authorities have not informed whether their application has been granted.

Based on these as well as the fact that it is a common practice in Indonesia to start constructing a premise while the construction permit is being processed, I doubt that lack of such permit was the genuine reason as to why the authorities of Bekasi demolished the church belongs to HKBP Setu. Instead, I strongly suspect that it was carried out by the authorities to accommodate the request from intolerant groups thus nurturing religious intolerance in the area. I was informed that members of intolerant groups, Islam Defenders Front (Front Pembela Islam, FPI) and Islamic People’s Forum (Forum Umat Islam, FUI) were present during the demolition and they even blocked the main road to the church in an attempt to stop the congregation from coming. My suspicion is also reaffirmed by the fact that such intolerant groups have been involved in the persecution and discrimination against other religious minority groups in Bekasi. I am aware that the FPI, for instance, contributed in the closing down of an Ahmadi mosque in Jati Bening earlier this month as well as in the intimidation towards the congregation of HKBP Filadelfia in Jejalen Jaya village in the last few years.

I am deeply disappointed to learn how the policy and action of the Indonesian government often only accommodate the interest of a particular group while neglect some others who are in vulnerable position such as the religious minorities. I have observed that the Indonesian government has not taken any serious legal measures against the members of intolerant groups who were responsible for the persecution and discrimination of minorities – including the killings of individuals belong to religious minority groups and the destruction of their place of worship. Instead, in some instances criminal prosecution is carried out against the leaders of these minority groups. I am saddened that what has been happening in reality does not in any way reflect the commitment to protect religious freedom as enshrined in the Constitution and expressed by the government in international forums.

Given this, I am urging you investigate the arbitrary decision of Bekasi Regent to demolish the church belongs to HKBP Setu. In so doing, human rights principles guaranteed by the 1945 Constitution as well as international treaties ratified by the government should be taken into consideration. I am also calling you to provide rehabilitation for the congregation of HKBP Setu by granting them the construction permit they requested and allowed them to establish a church on the land they have lawfully acquired. Any individuals who are responsible for the persecution and discrimination of HKBP Setu’s congregation and other religious minority groups should be held criminally responsible and punished with a proportionate punishment.

I look forward for your positive and swift action in this matter.

Yours sincerely,
Adven Leonard Nababan
Bekasi

Comments (1) »

DI SINI KEMERDEKAAN BERIBADAH TELAH RUNTUH

KRONOLOGIS PEMBONGKARAN
GEDUNG GEREJA HKBP SETU
RESSORT PERUMNAS II BEKASI
DILAKUKAN OLEH PEMKAB BEKASI
KAMIS, 21 MARET 2013
==============================

 

HKBP SETU RESORT PERUMNAS II BEKASI

DIRUNTUHKAN OLEH PEMKAB BEKASI

 

Kami menuntut keadilan…,

Karena tindakan pembongkaran Gereja HKBP Setu, yang dilakukan oleh Pemkab Bekasi pada hari Kamis, 21 Maret 2013, adalah penodaan terhadap kemerdekaan beragama dan beribadah.

Kami menuntut keadilan…,

Karena tindakan pembongkaran Gereja HKBP Setu yang dilakukan oleh Pemkab Bekasi pada hari Kamis 21 Maret 2013, adalah pengingkaran terhadap UUD 1945 pasal 29 ayat 2 “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”

Rabu, 20 Maret 2013, pihak gereja HKBP Setu datang ke kantor Pemkab Bekasi di Delta Mas Cikarang untuk mempertanyakan informasi lisan yang disampaikan pihak Pemda tentang rencana pembongkaran Gereja HKBP pada hari kamis, 21 Maret 2013. Setelah sampai di kantor Pemkab Bekasi, pihak Pemkab melalui satpol PP memberi surat perihal pembongkaran HKBP Setu. Surat tersebut ditandatangani oleh Ketua Satpol PP Dikdik Jasmedi. Pada hari tersebut pihak gereja mendatangi Bupati di kantornya untuk mempertanyakan surat yang dikeluarkan satpol PP, namun penjaga kantor mengatakan: “ibu tidak ada dikantor, sudah pulang kerumah kira-kira 30 menit yang lalu”. Dengan cepat pihak gereja menuju rumah dinas Bupati, namun digerbang rumah petugas mengatakan: “ibu tidak ada dirumah baru keluar bersama keluarga”. Pupus harapan bertemu dengan Bupati, akhirnya pihak gereja pulang.

398799_274182222716743_452059392_nKamis, 21 Maret 2013, pukul 8.00 wib. Pendeta, Majelis, dan warga jemaat berkumpul di depan, samping gereja yang sebelumnya telah disegel pada hari kamis 7 Maret 2013. Warga jemaat beserta anak Sekolah Minggu bernyanyi dan berdoa diluar gedung gereja dipimpin Pdt.Torang Simanjuntak selaku pimpinan jemaat. Pada jam tersebut ratusan polisi dan satpol PP sudah hadir di dekat Gereja. Sebagaimana isi surat satpol PP bahwa pembongkaran akan dilaksanakan pada pukul 09.00 wib. Namun sampai jam tersebut pembongkaran belum dilaksanakan.

862840_4563216439745_563976042_nPada pukul 09.00 wib, jalan raya setu ditutup di dua titik oleh kelompok intoleran (massa FUIT, dan FPI), yaitu dari arah pasar setu ke lokasi, dan dari arah pasar serang ke lokasi Gereja. Sekalipun demikian jumlah warga jemaat dilokasi Gereja semakin banyak. Warga jemaat semakin nyaring menyanyikan pujian kepada Tuhan. Termasuk anak-anak Sekolah Minggu memakai baju seragam sekolah bernyanyi memuji Tuhan. Doa dinaikkan, pujian dikumandangkan, dan spanduk yang terbuat dari karton diangkat bertuliskan: Gereja = Rumah Doa, bukan tempat judi, narkoba, dan orang2 jahat; Kami anak anak Tuhan menolak pembongkaran gereja kami; Ini Gereja Rumah Doa jangan dibongkar ya pak; Tolak pembongkaran di mana keadilanmu Pancasila; Tolak pembongkaran Gereja kami, ini bukan tempat maksiat; Tolong jangan dibongkar Gereja kami. Sampai pukul 11.00 wib satpol PP belum melakukan pembongkaran, namun massa kelompok intoleran telah bergerak menuju lokasi gereja.

 

487484_10200209792342382_2103263649_nPada pukul 12.00, secara berlahanlahan satpol PP mendatangi lokasi dikawal oleh para polisi dengan membawa eskapator. Melihat keadaan ini warga jemaat histeris dan menangis. Berjarak 20 meter dari lokasi Gereja, Para Pendeta, Majelis dan warga jemaat menghadang Satpol PP dan eskapator.  Dengan tegas Pdt.Adven Leonard Nababan, dan Pdt.Torang Simanjuntak mempertanyakan kehadiran mereka. Satpol PP menjawab kami menjalankan tugas dari ibu Bupati untuk membongkar Gereja. Selanjutnya dipertanyakan mana surat pembongkaran dari Bupati… namun mereka hanya menunjukkan surat tugas dari Bupati. Pdt.Adven Leonard Nababan memanggil Kapolres, Kapolsek, Danramil, Camat, RT, RW, untuk mempertanyakan kehadiran satpoll PP untuk membongkar bangunan gedung gereja, namun yang hadir hanya Danramil, Kapolsek, Ketua satpol PP, dan Camat. Dengan tegas Pdt.Adven Leonard Nababan menyatakan kepada mereka bahwa kehadiran satpol PP mau membongkar gedung gereja adalah cacat hukum, karena:

1.    Pihak Gereja tidak mendapatkan surat dari Bupati tentang pembongkaran gedung Gereja tersebut.

2.    Alamat surat pembongkaran yang dikeluarkan satpol PP, bukan kepada pihak Gereja, namun kepada Manusun Sihite

3.    Proses pengurusan surat izin bangunan masih terus dilakukan, dan selama masa proses pengurusan tersebut tidak boleh dilakukan pembongkaran. Itu peraturannya.

 

562138_10200210183352157_452344940_nKetika hal tersebut dipertanyakan, ketua satpol PP menyatakan bahwa kami hanya menjalankan tugas dari pimpinan kami ibu Bupati; Danramil menyatakan no comment dan, Kapolsek tidak dapat menjawab apa apa. Dialok ini  berlangsung hampir 1.45 menit, dan mereka mundur. Namun karena desakan ormas intoleran yang sudah memasuki lokasi gereja dan tekanan ketua ormas FUI kepada ketua Satpol PP, dan kapolsek akhirnya pukul 14.oo Wib, eskapator maju membongkar gedung gereja diiringi tangisan histeris semua warga jemaat. Dalam waktu yang tidak begitu lama bangunan gereja luluh lantah…

Tangisan seluruh warga mengiringi runtuhnya bangunan…

Isak tangis seluruh warga jemaat sampai ke surga…

Anak-anak sekolah Minggu menangis…

dan berkata dimanakah kami beribadah???

Dimanakah kami beribadah…..????.

488107_274186192716346_1788906160_n 64142_274182742716691_1770011684_n 208850_10200210070349332_377359591_n 166718_10200210068069275_222025473_n

Para Pendeta menghibur warga jemaat:

Bila hari ini Pemkab Bekasi meruntuhkan bangunan Gereja HKBP Setu, ingat bahwa pada waktu yang akan datang akan berdiri gedung-gedung gereja di tempat ini…Pdt.Erwin Marbun.

Hari ini kita berduka dan menangis, tetapi ingatlah bahwa tetesan air mata kita hari ini, akan menjadi butiran mutiara yang indah pada masa yang akan datang, bangkitlah… Pdt.Adven Leonard Nababan

Debu runtuhan gedung gereja ini sudah saya letakkan di atas kepalaku, dan aku sudah menghapus air mataku… amang inang (bapa ibu) hentikanlah tangisanmu, dan jangan menangis lagi…. Pdt.Torang Simanjuntak

Pemkab Bekasi telah meruntuhkan bangunan Gereja ini, namun iman kita tidak akan pernah bisa diruntuhkan oleh siapapun, tetaplah menjadi berkat bagi masyarakat di sini…Pdt.Manarias Sinaga

 

DISINI KEBEBASAN BERIBADAH TELAH RUNTUH

531515_4696374567182_2081749873_n 

Bekasi, 22 Maret 2013

Pdt.Adven Leonard Nababan

Pdt.Torang Simanjuntak

Comments (1) »

PENYEGELAN HKBP SETU RESS PERUMNAS II BEKASI

KEMERDEKAAN BERIBADAH KEMBALI TERPASUNG

DI NEGARA MERDEKA DAN BER-AGAMA

 

Pembebasan seseorang hendaknya tidak dilihat sebagai terobosan untuk demokrasi,

tetapi demokrasi adalah saat seluruh rakyat menikmati kebebasan.

(Aung San Suu)

 

PDT.ADVEN LEONARD NABABABN,DMIN

Indonesia pada umumnya dan umat Kristiani pada khususnya mesti menjadi warga Negara yang bertanggungjawab. Artinya turut bertanggungjawab atas maju mundurnya kesatuan dan persatuan Negara ini. Tanggungjawab itu hanya dapat dilakukan apabila kita mempunyai keinsyafan kenegaraan dan keinsyafan kenegaraan hanya dapat tumbuh jika terdapat keinsyafan kebangsaan. Kehadiran warga Kristiani  dalam konteks bernegara dan berbangsa adalah sebagai Keluarga Besar, tidak ada seorangpun dikecualikan. Semuanya mempunyai hak dan kewajiban yang sama.

Seorang tidak dapat dianggap sebagai “orang lain” hanya lantaran ia merupakan golongan kecil. Seorang Batak tidak dapat dianggap bukan Bangsa Indonesia lantaran ia bukan suku Jawa yang mayoritas. Demikian pula seorang Kristen tidak dapat dianggap mempunyai hak dan kewajiban yang berbeda dibanding saudara-saudara yang beragama Islam, lantaran jumlah mereka kecil. Umat Kristiani bukanlah suatu minoritas dilihat dari sudut ketatanegaraan. Kita bukan warga Negara kelas dua atau kelas tiga. Kita sebagai warga jemaat Kristiani sekaligus warga bangsa mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan orang-orang lainnya. Dasar pemikiran ini bukanlah pengungkapan sikap arogansi dan sikap “tidak tahu diri” tetapi adalah seruan untuk mengingatkan  warga Kristiani bahwa kehadiran umat Kristiani di Negara yang kita cintai ini adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Bangsa Indonesia. Tanggungjawab kepada bangsa itu berarti: mengaku kesalahan-kesalahan bangsa kita dan memperbaiki segala yang salah, supaya bangsa kita berjalan ke arah keadilan, kebenaran dan kemerdekaan yang sesungguhnya. Bagaimanapun juga Tuhan sudah menjadikan umat Kristiani sedarah, sedaging dan senasib dengan Bangsa ini, maka umat Kristiani tidak boleh mementingkan golongannya sendiri dan menganggap dirinya sebagai bagian parsial dari bangsa ini.

Persatuan dan kesatuan Bangsa berdasarkan Pancasila dan UUD 45 adalah taruhan sejarah yang harus secara terus menerus  diperjuangkan umat Kristiani dengan seluruh komponen bangsa. Jangan sampai sejarah mencatat bahwa “konon dahulu kala ada sebuah Negara Indonesia. Namun karena rasa kebangsaan dan bernegara cukup rendah, maka Negara Indonesia hancur berantakan”. Tanggungjawab untuk mempertahankan Negara ini terletak ditangan setiap warga bangsa dan umat Kristiani yang bertanggungjawab.

 

KEMERDEKAAN BERIBADAH: ANTARA IDEALISME DAN REALISME

 

AKU DAN DIAKemerdekaan beragama dan beribadah adalah hak hakiki dari setiap warga bangsa yang tidak boleh diabaikan oleh pihak manapun dan oleh siapapun di Negeri ini, dan dijamin oleh Negara. Inilah suara hati kita terhadap bangsa ini yang sering kali menjungjung tinggi ranah verbalisme, dan mengesampingkan ranah praksis. Sinergi dari idealisme dengan realisme sangat lemah sehingga menimbulkan friksi dalam kehidupan ber-agama. Idenya adalah kemerdekaan beribadah yang dijamin oleh undang-undang, namun relitasnya adalah warga HKBP Setu Ress. Perumnas II Bekasi, Pondok Timur Indah, HKBP Filadelfia, HKBP Kali Abang dan gereja-gereja lain di Bekasi Jawa Barat dilarang beribadah yang dilakukan sekelompok massa, ormas berkarakter agama yang menyebut dirinya Forum Pembela Islam (FPI) dan Forum Umat Islam (FUI) kepada warga umat Kristiani.

 

HKBP SETU RESORT PERUMNAS II BEKASI DISEGEL PEMKAB BEKASI

CIMG0981Sejak tahun 1999 HKBP Setu Resort Perumnas II Bekasi telah mengadakan ibadahnya di Jl.MT.Haryono, gang Wirjo RT 05/02 Desa Tamansari Kecamatan Setu Bekasi, di dalam bangunan yang sangat sederhana berkapasitas 120 orang. Kurun waktu 13 tahun gereja ini berkembang cepat dengan jumlah jemaat 168 KK, 684 Jiwa, dilayani 17 orang  Majelis dan 7 orang calon Majelis. Hubungan interaksi dan komunikasi dengan masyarakat sekitar tetap terjalin dengan baik hingga saat ini.

Melihat kondisi bangunan gereja yang tidak memungkinkan menampung warga jemaat dalam ibadah setiap hari Minggu, maka bulan Oktober 2012 dimulai pengerjaan pembangunan gedung Gereja. Sebelumnya sejak tahun 2011 telah dilaksanakan pengurusan surat izin Gereja bekerjasama dengan RT/RW, Lurah, dan Camat dengan persetujuan tanda tangan dan KTP masyarakat sekitar sebanyak 85 Orang tahap pertama. Pada tahap kedua setelah ada verifikasi jumlah masyarakat sekitar yang menandatangani persetujuan bangunan Gereja lengkap dengan pas foto, KTP, dan cap jari sebanyak  89 orang.

Pada hari Selasa, 15 Januari 2013 dari Kecamatan Setu (Camat) mengundang melalui telepon  “sifatnya mendesak” Majelis HKBP Setu untuk duduk bersama dengan Ormas yang menyatakan dirinya Forum Umat Islam Taman Sari, (FUIT); Front Anti Pemurtadan Bekasi Raya (FAPB); Kesatuan Aksi Muslimin Bekasi (KAMSI); dan dihadiri pihak Muspika Setu untuk membicarakan keberadaan pembangunan Gereja Setu, bertempat di Kantor Kepala Desa Tamansari Setu.

Setelah utusan Majelis HKBP Setu sampai di kantor Kepala Desa Taman Sari Setu, sudah berkumpul massa kurang lebih 700 orang dan “memaksa” menandatangai surat kesepakatan yang telah dipersiapkan oleh Ormas. Isi surat tersebut adalah:

  1. 1.       Warga Taman Sari menolak dengan tegas adanya pendirian Gereja dan pembangunan rumah tempat tinggal yang dijadikan sebagai tempat ibadah
  2. 2.       Pihak HKBP bersedia mengembalikan fungsi bangunan yang ada sesuai dengan fungsinya, yaitu rumah tempat tinggal
  3. 3.       Apabila pihak HKBP melanggar kesepakatan ini maka kami warga Taman Sari dan ormas islam akan mengambil tindakan tegas

Pada hari Minggu 20 Januari 2013 atas kesepakatan bersama warga jemaat HKBP Setu, tetap mengadakan ibadah di tempat semula dibawah penjagaan petugas keamanan (Polisi, Tentara) berjumlah kurang lebih 200 orang. Ibadah berlangsung dengan baik dan kondusif.

Dan Minggu 27 Januari dan 03 Februari 2013, ibadah juga berlangsung dengan baik dibawah penjagaan petugas keamanan dari Kepolisian, Satpol PP, dan Tentara. Namun pada saat ibadah masih berlangsung seorang petugas Satpol PP menjumpai seorang majelis gereja dan menyatakan supaya ibadah cepat ditutup dengan alasan massa sudah datang.

Minggu 10 Februari 2013 ibadah tetap dilaksanakan, walaupun sebelumnya pihak gereja sudah menerima informasi bahwa ormas dari Forum Umat Islam Tamansari, Kesatuan Aksi Muslimin Bekasi, dan Front Anti Pemurtadan Bekasi akan melakukan aksi demonstrasi pada acara ibadah Minggu. Benar… bahwa pada hari Minggu 10 Februari 2013, mereka melakukan demonstrasi bertaburkan orasi yang dihadiri kurang lebih 300 orang. Dalam orasi tersebut mereka menuntut supaya pihak gereja melaksanakan surat kesepakatan tertanggal 15 Januari 2013. Ibadah tetap berlangsung dari awal sampai akhir dijaga ratusan petugas keamanan dari beberapa unsur (Polisi, Brimob, Polres, Polsek Setu, dll).

Minggu 17 Februari 2013, mulai pukul 10.00 wib ibadah berjalan dengan baik dan kondusif dibawah penjagaan ratusan pihak keamanan. Di dalam doa dan nyanyian semua warga jemaat berserah diri kepada Tuhan. Satu hari sebelumnya tepat pada hari Sabtu 16 Februari 2013 pihak gereja mendapat informasi dari kecamatan Setu bahwa massa intoleran akan datang lebih banyak dari Minggu sebelumnya. Informasi ini tidak terbukti dan ibadah Minggu berjalan dengan khidmat.

Minggu 24 Februari 2013, ibadah Minggu yang sebelumnya dilaksanakan pukul 10.00 wib dimajukan menjadi pukul 06.00 wib. Ini terjadi karena pada hari tersebut adalah pesta demokrasi pemilukada Gubernur Jawa Barat, dengan maksud dan tujuan supaya semua warga jemaat dapat menyampaikan hak pilihnya sesuai hati nuraninya. Ibadah berjalan dengan kondusif. Minggu 03 Maret 2013, ibadah berjalan dengan kondusif dibawah pengamanan puluhan orang kepolisian.

Pada hari Senin 4 Maret 2013 Satpol PP, Kesbangpol, Dinas Tata Ruang dan Dinas Perizinan mengadakan rapat di kantor Pemda Kabupaten Bekasi dan memutuskan untuk melakukan penyegelan bangunan Gereja HKBP Setu. Hasil rapat ini disampaikan kepada Bupati untuk dilakukan eksekusi penyegelan pada hari Kamis 07 Maret 2013. Pemberitahuan eksekusi penyegelan ini diinformasikan kepada pihak Gereja pada hari Rabu, 06 Maret 2013. Menyikapi informasi penyegelan tersebut pihak Gereja melakukan koordinasi dengan seluruh Majelis dan warga jemaat supaya hadir di lokasi pada hari Kamis 07 Maret 2013.

 

KRONOLOGI PENYEGELAN

 

803935_4460677476335_1248642886_nKamis 07 Maret 2013, pukul 10.00 wib perangkat pemerintah kabupaten Bekasi (RT, RW, Camat, Kapolsek, Kapolres, Satpol PP, dan Pejabat Pemda Kabupaten Bekasi) dan juga  pimpinan ormas Forum Umat Islam (FUI), mendatangi Gereja HKBP Setu dengan pengawalan ratusan Polisi dan Satpol PP. Sebelumnya pukul 09.00 Wib majelis dan warga jemaat HKBP Setu telah berkumpul di dalam gereja. Bersama warga jemaat, Majelis, Pendeta Ressort, Pimpinan Gereja HKBP Setu dan beberapa orang Pendeta menyambut kedatangan perangkat pemda kabupaten Bekasi serta mempertanyakan kedatangan ke lokasi Gereja.

Agus Dahlan Kepala Bidang Penegakan Peraturan Daerah Satpol PP Kabupaten Bekasi menyampaikan: “Kami menjalankan tugas pokok dan fungsi yakni penyegelan tempat ini yang belum memiliki IMB”, dan selanjutnya menyampaikan surat perihal Penyegelan yang ditandatangani Bupati Neneng Hasanah Yasin.

Sebelum Penyegelan dilaksanakan bersama jemaat, Pimpinan Jemaat, Pendeta Ressort memanggil Ketua satpol PP, Kapolsek  dan Kapolres untuk mempertanyakan surat penyegelan tersebut, karena gereja ini sudah berdiri sejak tahun 1999, dan mulai tahun 2011 telah berupaya mengurus surat Izin. Warga sekitar Gereja telah memberikan persetujuannya melalui tanda tangan dan KTP berjumlah 89 orang. Sesuai dengan PERATURAN BERSAMA ini sudah terpenuhi, bahkan setelah diverifikasi ada 79 orang yang setuju dan memberikan KTPnya sebagai bukti dari persetujuan tersebut. Namun pihak Pemkab tidak memberi jawab.

Sebelum penyegelan dilaksanakan, Pendeta Ressort meminta supaya diberi waktu untuk berdoa bersama dengan seluruh warga jemaat di dalam gereja. Firman Tuhan diperdengarkan: “Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagaibagai pencobaan” (1Petrus 1:6). Nas ini adalah nas harian Almanak HKBP pada hari itu. Di dalam doa khusuk dan deraian air mata anak-anak sekolah Minggu, warga jemaat berserah kepada Tuhan. Keadaan didalam gereja dan diluar Gereja begitu senyap sekalipun ratusan massa berada di luar gereja.

Pukul 10.30 penyegelan dilaksanakan oleh Satpol PP diiringi isak tangis warga jemaat dan anak-anak Sekolah Minggu. Dimanakah kami anak-anak sekolah Minggu bergereja? Dimanakah kami warga jemaat beribadah hari Minggu ini? Bangunan Gereja kami telah di SEGEL…

 

SERUAN HATI…!

 

862667_4355072196269_202694067_nAdalah suatu tragedi bagi bangsa yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945 ketika sebagian umat beragama tidak lagi mempunyai hak mendirikan rumah ibadah dan tidak leluasa menjalankan ibadah. Dengan ibadah umat manusia mengungkapkan keyakinan kepada Tuhan dan memohon tuntunan-Nya agar kita mampu mengamalkan semua petunjuk-petunjuk Allah di dalam kehidupan sehari-hari, menjalankan ajaran agama demi kemaslahatan (kesejahteraan) seluruh masyarakat Indonesia. Di dalam Alkitab dinyatakan dengan tegas bahwa seluruh bumi dan umat manusia didorong oleh kesadaran akan pemeliharaan Tuhan bersujud kepada Tuhan (Mazmur 22:28; 66:4)  tetapi sebagian umat-Nya tidak memiliki tempat untuk bersujud!

Dengan Kebebasan Beribadah Kita Membangun Bangsa yang Berkualitas Menuju Masyarakat Adil dan Makmur” Kami yakin sepenuhnya, hidup kita, hidup semua orang, dipelihara dan dijaga oleh Tuhan tanpa diskriminasi. Tuhan Yesus mengatakan: “Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekor pun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Sebab itu janganlah takut” (Matius 10: 29-30). Bahkan dikatakan bahwa Allah “menerbitkan matahari bagi orang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Matius 5: 45).

Kami menyerukan, agar pemerintah menjamin hak mendirikan rumah ibadah bagi semua umat beragama dan menegakkan hukum tanpa pilih bulu  terhadap oknum-oknum yang mengerahkan massa untuk menghalangi umat beragama mendirikan rumah ibadah dan menjalankan ibadahnya; kami ingin mengingatkan bahwa mendirikan rumah ibadah bukan hanya untuk kepentingan umat yang mendirikan semata  tetapi juga untuk pembangunan bangsa menuju masyarakat adil dan makmur. Umat yang leluasa beribadah  memberi andil utama bagi pembentukan kehidupan bangsa dan masyarakat yang berkualitas di era globalisasi dewasa ini.

Kepada semua umat beragama kami mengharapkan agar kita membangun kerja sama yang bermanfaat bagi kepentingan seluruh bangsa, negara, dan masyarakat. Sebagai umat beragama dalam masyarakat yang multi-kultural seyogyanyalah kita di dalam mengamalkan ajaran agama mengutamakan perdamaian, cinta kasih, dan keadilan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Semoga Tuhan pencipta langit dan bumi dan seluruh umat manusia memberkati kehidupan kita dalam berbangsa, bermasyarakat dan bernegara yang penuh persaudaraan dan kehangatan.

 

Bila kita berhenti berjuang untuk orang lain,

pada saat itulah kemanusiaan kita hilang atau mati.

 

Perjuangan kita bukan perjuangan mengorbankan orang lain, namun berkorban untuk orang lain.

Mari bergandeng tangan berjuang untuk kemerdekaan beribadah!!

Tidak ada Masa Depan tanpa Kemerdekaan…

Tidak ada Kemerdekaan tanpa Pengampunan…

 

Bekasi, 11 Maret 2013

 

 

Pdt.Adven Leonard Nababan, D.Min

 

 

Komentar dimatikan

TRANSFORMASI: (ecclesia reformata semper reformanda)

Barangsiapa hendak memikirkan tentang “masa depan gereja”

Ia harus berangkat dari masa kini gerejanya.

Gereja masa depan adalah

Suatu kemungkinan dari gereja masa kini

Jika tidak demikian,

maka semua pengharapan hanya tinggal menjadi impian-impian tanpa ada kaitannya dengan kenyataan yang dialami.

Apabila kita merancang pengharapan-pengharapan kita terhadap Gereja yang akan datang,

Maka kita harus merefleksikan pengalaman-pengalaman kita dengan gereja masa kini.

Komentar dimatikan

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.790 pengikut lainnya.