DIPERSATUKAN DI DALAM KRISTUS

KITA SATU DI DALAM TUHAN:

AKU – DIA – MEREKA ADALAH SESAMAKU

Refleksi teologis dari Efesus 2: 11-22

Prasangka rasial mengandung dan melahirkan jauh lebih banyak kekejian, kekejaman dan kebencian, dibandingkan kejahatan lainya. Ironisnya, tidak seperti pencuri atau pencopet, mereka tidak disebut penjahat. Stanley Jones seorang missionaris kulit putih di Afrika Selatan memberikan tempat duduknya di bis kepada seorang wanita desa berkulit hitam. Segera orang-orang kulit putih memprotes: “memberikan tempat duduk untuk perempuan berkulit hitam? Tidak tahu harga diri”. Prasangka rasial adalah ketakutan, takut kehilangan sesuatu bila berbaur dengan orang-orang dari ras yang berbeda.  Padahal bergaul lintas ras, lintas suku, dan lintas agama akan membuat hidup menjadi lebih indah, kaya dan mengasyikkan. Betapa membosankan kehidupan sekiranya bila hanya satu warna, kelabu bagaikan gurun pasir, bukan penuh pesona bagaikan kebun bunga.

Saudaraku! Allah tidak pernah secara apriori mengunggulkan sebuah kelompok atau ras tertentu atau suku tertentu. Kalaupun Israel sampai dipilih Allah, itu bukanlah karena ia mempunyai nilai tambah pada dirinya, melainkan sebab karunia Allah semata-mata. Allah sedikit pun tidak diskrimintif. Ia memang menghargai perbedaan, tetapi pantang membeda-bedakan. Tuhan tidak mempersoalkan bila manusia berbeda, yang dipersoalkan bila manusia memandang muka. Perbedaan yes, tetapi pembeda-bedaan no! Berbeda itu indah, tetapi diskriminasi itu jahat. Kita marah ketika didiskriminasikan, namun betapa sering pada saat yang sama, dengan tanpa bersalah mendiskriminasikan orang lain. Allah tidak setuju terhadap bentuk diskriminasi ” … tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus, (diversity in unity and unity in diversity). Mata tidak dapat berkata kepada tangan: “Aku tidak membutuhkan engkau.” Dan kepala tidak dapat berkata kepada kaki: “Aku tidak membutuhkan engkau.” Sebagai tubuh Kristus sekalipun berbeda dan banyak anggota perannya adalah saling menghargai, saling melengkapi, saling membutuhkan dan masing-masing menjalankan fungsinya sebagaimana dia ada. Firman Tuhan berkata: sekarang di dalam Kristus Yesus kamu yang ”jauh”, sudah menjadi ”dekat” oleh darah Kristus. Karena Dialah damai sejahtera kita…”(Ef 2:13-14)

Saudaraku! Bila demikian apa yang dimenangkan ditengah-tengah pluralisme kehidupan? Jadikanlah manusia sebagai sesama manusia tanpa pernah memandang apriori kepada manusia karena perbedaan. Ingatlah, manusia ada bukan karena manusia tetapi manusia menjadi manusia karena manusia memiliki kemanusiaan. Sebagai manusia yang memiliki kemanusiaan yang dimenangkan bukanlah sikap pembeda-bedaan tetapi adalah kemanusiaan itu sendiri sekalipun manusia berbeda-beda. Sebagai umat percaya kepada Kristus yang dimenangkan adalah karya Kristus yang mendamaikan diri-Nya dengan manusia, dan konsekuensinya adalah manusia harus berdamai dengan sesamanya, hidup bersatu dan menyatu di dalam Kristus membangun komunitas yang saling menghidupkan dengan sesamanya manusia. Kehidupan ber-Gereja akan semakin menggairahkan bila masing-masing jiwa yang berbeda dipahami sebagai alat untuk saling melengkapi, memperkaya, dan saling membutuhkan. Sungguh perbedaan itulah yang menjadikan kita kaya dan sangat disayangkan bila ”kekayaan” itu dijadikan sebagai sarana pembeda-bedaan terlebih sarana pemecah kebersamaan. Apapun perbedaan yang kita miliki: cantik atau jelek, hitam atau putih, kaya atau miskin, dll yang kita perankan adalah saling menghargai, saling menghormati, saling melengkapi. Each for other and other for each.

 

 

About these ads
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.626 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: