PENCURAHAN ROH KUDUS 2

PERISTIWA PENTAKOSTA AWAL KEBANGKITAN GEREJA

Kisah Rasul 2:1-8

Selama dua hari berturut-turut kita merayakan peringatan turunnya Roh Kudus. Ini menandakan betapa pentingnya perayaan ini bagi Gereja. Gereja pada awalnya berdiam dalam domain lokal (Yerusalem), kini melalui peristiwa Pentakosta bergerak dalam domain global. Gereja pada awalnya asyik dalam ranah eksklusif, kini mewujud dalam ranah inklusif, terbuka. Semangat dan keberanian bersaksi semua terjadi di dalam roh Pentakosta. Roh Kudus yang turun atas para Murid menjadikan mereka saksi yang berani tentang Kristus. Tanpa kehadiran Roh Kudus di dalam diri orang percaya, maka keberanian bersaksi tentang Kristus akan menjadi sepi. Tanpa kehadiran Roh Kudus di dalam diri orang percaya, maka kita tidak memiliki daya juang menyakinkan orang lain untuk menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Kehadirannya bukan tergantung kepada manusia, tetapi tergantung kepada kebebasan Roh itu sendiri. Roh Kudus bebas hadir di mana saja dan kapan saja tidak ada waktu atau ruang yang membatasinya.

Saudaraku! Di hari perayaan peringatan Roh Kudus yang pertama ini, semangat kesaksian kembali disegarkan, dan semangat kesaksian itu akan mewujud di saat orang membuka diri terhadap Roh Kudus dan menerima tuntunan Roh Kudus. ”Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”(Kis. 1:8). Munculnya semangat kesaksian di dalam diri setiap orang adalah karena Roh Kudus mewujud di dalam diri. Di saat Petrus bersaksi ”… barangsiapa percaya kepada-Nya ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama-Nya”, dan seketika itu Roh Kudus turun ke atas semua orang yang mendengarkan pemberitaan itu. Mereka tercengang-cengang karena melihat bahwa karunia Roh Kudus dicurahkan ke atas bangsa-bangsa lain juga. Pencurahan Roh Kudus disamping mengobarkan semangat kesaksian, juga memacu semangat kebersamaan yang tidak diskriminatif. Simbol-simbol yang berbeda tidak harus sama dan dipaksakan supaya seragam, namun dihargai dan disyukuri sebagai kekayaan karunia. Perbedaan yang ada dijungjung tinggi tanpa ada pembedabedaan antara aku dan Anda. Inilah salah satu gaung pencurahan Roh Kudus, dapat menerima perbedaan tanpa pembedabedaan. Batas atau sekat pemisah antara aku dan Anda yang dirumuskan dalam bentuk simbol-simbol dicairkan dalam bentuk kesatuan yang mewujud di dalam persekutuan iman. Dengan demikian pencurahan Roh Kudus dirumuskan dalam kata BERANI DAN RELA. Berani dan rela menjadi alat kesaksian bagi orang lain; berani dan rela menerima perbedaan tanpa pembedabedaan; berani dan rela mengedepankan nilai Unity in Diversity and Diversity in Unity. Ketika ini diperankan maka peristiwa Pentakosta yang kita rayakan saat ini akan menghasilkan indahnya kebersamaan, indahnya persekutuan, indahnya kedamaian, dan indahnya kehidupan.

Saudaraku! Roh Tuhan yang berdiam di dalam diri setiap orang percaya, itulah yang bekerja sehingga mampu berdiri tegak di dalam iman dan mengaku tentang Kristus yang berkarya di dalam hidupnya. Roh Kudus yang dicurahkan kepada kita, itu jualah yang memungkinkan kita teguh dalam prinsip, utuh dalam identitas, kuat dalam misi. Prinsip itu adalah nilai kebenaran firman Tuhan yang absolut; identitas itu adalah karakter Kristus (imitatio christi), dan misi itu adalah berita keselamatan manusia. Dengan demikian hidup di dalam Roh bukan teoritis tetapi praksis yang secara terus menerus mewujud dalam pembangunan kehidupan secara kongkrit. Roh Pentakosta mendesak diri untuk menerima dan menghormati perbedaan tanpa pembedabedaan; saling mengerti dan saling memahami; saling menguatkan bukan saling melemahkan dalam pembangunan karya kreatif Kristus yang memihak kepada kemanusiaan. Pemaksaan kehendak dan menjadikan kebenaran budaya lokal menjadi kebenaran budaya global adalah pembunuhan martabat kemanusiaan. Terlebih memaksakan kebenaran satu agama menjadi kebenaran agama-agama yang lain adalah pembunuhan dari nilai-nilai kebenaran absolut. Dalam konsep manusia yang bermartabat dan berbudaya, terlebih di negara ber-agama yang berazaskan Ketuhanan yang Maha Esa, sesungguhnya tidak ada ruang atau tempat bagi orang-orang yang mengharamkan perbedaan suku, budaya, dan agama. Pembangunan fanatisme sempit hanya menambah kegelisahan, keresahan, kecurigaan, dan perpecahan dalam masyarakat pluralis. Pencurahan Roh Kudus yang kita peringati saat ini akan sampai pada maksud dan tujuannya bila masing-masing orang hidup saling menghargai, saling memahami, dan saling menguatkan. Dengan demikian hidup kita bermakna bagi orang lain dan melaluinya kita menjadi berkat bagi orang lain. Salam Pentakosta. Amin.

 

About these ads
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.697 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: