PERAYAAN NATAL?

PERAYAAN NATAL:

ASAL MULA PERINGATAN HARI NATAL

Secara historis ada tiga perayaan tahunan atau hari raya Gereja, yaitu: Paskah, Pentakosta, dan Natal. Ketiga hari raya ini berasal dari dua tradisi yang berbeda. Hari raya Paskah dan hari raya Pentakosta beral dari tradisi Yahudi. Hari raya Natal 25 Desember berasal dari tradisi Romawi dan merupakan hari raya kontroversial dan rumit, sebab Natal merupakan hari raya ”baru” dan berasal dari tiga tradisi yang berbeda: Roma, Mesir, dan Gallilea. Tanggal kelahiran Kristus tidak dapat ditetapkan secara pasti. Sejak zaman Patristik, orang sulit menetapkan kapan kira-kira Yesus lahir. Namun di masa kini, Natal dirayakan pada musim dingin sekitar Desember dan Januari. Selain itu, kisah kelahiran Yesus tidak populer di kalangan para penulis Alkitab, sementara kisah dan berita kematian-Nya jauh lebih populer. Hanya injil Matius dan Lukas mengisahkan kelahiran Yesus, itu pun saling berbeda sama sekali dan bahkan saling bertentangan. Matius mengisahkan suasana mencekam, sehingga orangtua Yesus menyingkir ke Mesir. Lukas menyampaikan suasana penuh damai, sehingga orangtua Yesus membawa-Nya dari Nazaret ke Yerusalem.

1. Masuknya Perayaan Natal di Roma1)

Gereja di Roma merayakan 25 Desember sejak tahun 336 untuk menggantikan perayaan hari kelahiran Sang Surya Tak Terkalahkan (dies natalis solis invicti).

Perayaan natale tanggal 25 Desember telah dilakukan untuk penghormatan kepada Dewa Sang Surya Syria dari Emase pada masa pemerintahan Kaisar Aurelianus (274). Kaisar Aurelianus membangun kuil Dewa Matahari di Kampus Agrippae-Roma. Namun, ibadah Sang Surya telah ada sejak abad pertama di Roma. Pada masa itu, banyak tentara Romawi yang bertugas di wilayah Syria, dan para serdadu berkenalan dengan ibadah kepada Sol. Usai bertugas di Syria, para serdadu yang memenuhi Roma tetap ingin beribadah kepada Sol. Atas izin para petinggi Syria, Kaisar Septimius Severus dan putranya Caracalla yang memiliki hubungan baik dengan para Imam Emesa dan kaum pejabat Syria di Roma, mengizinkan dibukanya peribadahan Sol di Roma.

Pengganti Caracalla yaitu Elagabalus (218-222) meneruskan penyembahan Sol dan memberlakukan peribadahan Sol invictus di Roma sebagai agama negara. Pada perkembangan selanjutnya Aurelianus mendirikan kuil Sol, sementara ibadah Sang Surya dipandang sebagai penyelamat dam penyatu Negara Romawi. Sebagai penguat wibawanya, ia menyatakan dirinya sebagai titisan Dewa Sol: roi soleil. Selain membentuk persekutuan Imam Sol yang baru – ini yang langsung berhubungan dengan perayaan Natal – ia memindahkan pesta raya Solis Invicti dari musim gugur (akhir Agustus) ke musim dingin (Desember) pada tahun 274. Maka setiap empat tahun sekali dibulan Agustus (musim gugur) diadakan kontes atletik (gymnasium), dan setiap tahun pada 25 Desember diadakan parade perang yakni pesta pora besar-besaran.

Hingga di sini 25 Desember dijadikan pesta raya masyarakat Romawi. Sekitar enam puluh tahun kemudian, Gereja Roma merayakan 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus Kristus. Gereja mau menguasai pesta kafir itu dengan merayakan hari kejadian (Natal=kelahiran) Kristus pada hari 25 Desember, dan memproklamasikan Kristus sebagai terang baru dan satu-satunya Matahari kebenaran, yang dinubuatkan oleh Nabi Maleaki (bagimu akan terbit surya kebenaran , 4:2). Dengan proklamasi ini Gereja mau menobatkan penyembah-penyembah Sol Invictus menjadi penyembah Kristus.

Sejak tahun 336, Natal2) telah dirayakan oleh Gereja Roma pada tanggal 25 Desember. Jelas, tanggal tersebut bukan tanggal kelahiran Kristus yang sesungguhnya, melainkan strategi politis. Pendapat ini diperkuat berdasarkan kenyataan bahwa pada malam tersebut para gembala masih menjaga dombanya dipadang rumput. (Lukas 2:8). Pada bulan Desember tidak mungkin para gembala masih bisa menjaga domba-dombanya di padang rumput sebab musim dingin pada saat tersebut telah tiba.

2. AKSESORI NATAL

2.1. Pohon Natal

Sudah mentradisi di Indonesia bahwa pohon Natal adalah figurasi dari pohon cemara. Lantas apa hubungannya antara Natal dan pohon cemara? Di daerah asalnya di Eropa Barat dan Utara, pohon cemara adalah satu-satunya pohon terkuat. Ia mampu bertahan hidup di musim dingin dan semakin indah dengan selimut salju yang menutupinya. Setiap musim salju terutama bulan Desember, anak-anak Eropa menyaksikan dan bermain dengan pohon cemara bersalju. Tentu ini membuat kesan korelasi bahwa datangnya hari raya Natal ditandai dengan hiasan pohon Cemara.

Bagi orang Eropa, pohon cemara memang mempunyai arti, namun bagi kita di Indonesia? Pohon cemara bagi kita hanya indah untuk hiasan taman. Juga salju tidak ada di Indonesia, sehingga kita tidak pernah menyaksikan indahnya pohon cemara yang diselimuti salju. Lantas mengapa kita harus memasang cemara pada hari Natal? Sekedar ikut-ikutan atau korban jajahan tradisi Eropa. Natal dengan hiasan pohon, tentu sebuah gagasan yang bagus. Tetapi pohon apa sesuai konteks Indonesia? Mengapa bukan pohon babmbu? Karena bambu sangat dekat dengan kehidupan kebanyakan orang Indonesia bahkan Asia? Dengan melihat kegunaannya, maka seharusnya jemaat kita menghiasi pohon bambu pada setiap  Natal, bukan cemara. Bambu digunakan untuk banyak segi kehidupan: sayuran, rumah, mebel, alat musik, alat-alat dapur, kursi, meja, tangga, sumpit, pagar, dan bahkan senjata, pemotong tali pusar bayi, alat-alat pramuka, dll. Bahkan rumah bambu adalah rumah yang cocok untuk daerah rawan gempa seperti Indonesia, karena kuat dan tahan gempa atau sekalipun roboh tidak sebahaya rumah beton.

Bambu adalah tanaman sederhana penampilannya; Gereja seharusnya bersikap sederhana, namun dibutuhkan kehadirannya oleh segala lapisan masyarakat. Di dalam kesederhanaan seperti bambu, terdapat kejujuran, dan ketulusan. Dalam kontek kita saat ini, Indonesia membutuhkan kejujuran dan ketulusan. Figurasi bambu harus dimulai dari kesederhanaan, sebab tak ada bambu yang ditanam di tempat mewah. Kristus lahir adalah ditempat yang sederhana bukan ditempat mewah.

2.2. Lilin dan Cahaya

Hal ini telah dimunculkan sejak zaman Patristik sebagai gambaran akan terang yang mengalahkan kegelapan. Kelahiran Yesus dihayati sebagai kemurnian ditengah kegalauan dunia. Natal dirayakan berhubungan dengan terang yang disimbolkan dengan lilin (candle light).

2.3. Nyanyian

Sejalan dengan sejarah Natal yang berasal dari tradisi sekuler, tidak semua nyanyian Natal adalah nyanyian Gereja. Nyanyian-nyanyian seperti: White Christmas, Blue Christmas, Jingle Bell, dan We wish you a Merry Christmas, bukanlah nyanyian Gereja sehingga tidak tepat apabila dinyanyikan dalam liturgi Natal. Nyanyian-nyanyian tersebut tidak mengisahkan kelahiran Kristus, namun lebih bersifat romantis, memoris dan melankolis.

3.      Kesimpulan

Perayaan Natal yang dilakukan oleh Gereja-gereja masa kini berasal dari tradisi Romawi dalam rangka transformasi kepercayaan menggantikan perayaan hari kelahiran Sang Surya Tak Terkalahkan (dies natalis solis invicti) menjadi perayaan Natal Kristus (dies natalis christi). Substansi perayaan Natal ini bukanlah waktu, hari, tanggal, dan tahun, namun surya terang yang menggeser kegelapan hidup manusia. Kristus yang lahir itu membawa terang sehingga manusia dapat melihat kepastian masa depan di dalam terang Kristus.

Atas dasar ini Gereja disegala tempat dan waktu terpanggil dan diutus untuk memaknai kehidupan sesuai dengan konteks demi kontekstualisasi perayaan kelahiran Kristus. Gereja disetiap tempat dan waktu merdeka mengabarkan dan merayakan Natal sesuai dengan budayanya sendiri tanpa bertentangan dengan doktrin ke-kristenan.


1) Rasid Rachman, Hari Raya Liturgi,  (Jakarta: BPK Gunung Mulia,  2005),  122-125.

2) Natal 25 Desember merupakan festival Gereja Latin atau Gereja Roma. Hingga tahun 386, Natal tidak dikenal di Antiokia. Gereja-gereja Yerusalem atau Aleksandria pun tidak merayakannya. Namun baru diadopsi oleh beberapa Gereja Timur pada sekitar tahun 430. Gereja Armenia pun tidak merayakan Natal. Sementara itu, Gereja-gereja Timur tetap merayakan Epifhania 6 Januari. Natal dan Epifania, dirayakan oleh hampir semua Gereja, namun dengan sedikit perbedaan kemeriahan. Natal sangat penting artinya bagi Gereja Roma daripada Epifania. Sementara bagi Gereja Timur, Epifania sangat penting daripada Natal. Gereja Timur merayakan Natal sebagai kelahiran Yesus dan kedatangan para Majus. Sementara Epifania dirayakan untuk memperingati babtisan Yesus, mujizat-Nya di Kana, dan hari babtisan umat.

About these ads
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.626 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: