Archive for Maret, 2009

Perkembangan Liturgi HKBP (Kesimpulan)

Sebelum kekristenan memasuki tanah Batak sesungguhnya orang Batak sudah mempercayai bahwa ada satu kekuatan yang berada di luar diri mereka sendiri yang diyakini dapat memberi berkat. Kepercayaan dan keyakinan ini mendorong mereka membuat upacara-upacara sebagai bentuk penghormatan dan ketundukan kepada kekuatan yang berada di luar diri mereka. Berbagai bentuk upacara yang mereka lakukan sesuai dengan peristiwa yang dialami dan di setiap upacara pemberian persembahan dalam bentuk korban hewan peliharaan dan hasil panen selalu dilaksanakan. Bentuk upacara yang dilaksanakan tidak selalu sama, namun disusun sedemikian rupa sesuai dengan peristiwa yang dialami dengan maksud supaya kehidupan terberkati. Dengan demikian praktek pemujaan orang Batak pada awalnya berorientasi kepada kepentingan mereka sendiri yaitu supaya roh nenek moyang tidak mengganggu kehidupan dan berkenan memberkati hasil pekerjaan pertanian mereka.

Setelah kekristenan praktek upacara- upacara ini tetap dilakukan dengan mengambil unsur-unsur positif dari budaya dan mengarahkan bentuk-bentuk upacara kepada penyembahan Allah. Unsur budaya tidak semuanya ditolak atau dibuang tetapi dalam missi kekristenan unsur-unsur budaya tertentu justru dipergunakan dalam upacara-upacara kekristenan.

Seiring dengan dimulainya penginjilan ke tanah Batak praktek peribadahan tetap mengalami perkembangan. Praktek peribadahan HKBP pada awalnya dibawa oleh RMG yang bercorak “uniert” tetapi di dalam perkembangan selanjutnya bahwa di dalam tubuh HKBP mengalir dasar-dasar teologi yang diperoleh dari Gereja muda yang digunakan dalam Katolik Roma, nyanyian-nyanyian mazmur yang biasa digunakan Gereja Calvinis dan nyanyian yang berjiwa pietis. Sedangkan yang berasal dari Gereja “uniert” adalah nyanyian-nyanyian (lagu-lagu koor), pemahaman dan pelaksanaan Baptisan dan Perjamuan Kudus. Pengaruh Calvinisme dalam praktek peribadahan HKBP dapat juga dilihat dari adanya penggunaan nyanyian-nyanyian Mazmur dan pencatuman pembacaan Hukum Taurat dalam tata ibadah Minggu.

Dengan demikan dapat disimpulkan bahwa HKBP dalam praktek peribadahannya dipengaruhi oleh pengalaman budaya yang disebut sebagai preparation evanggelica, hasil missi RMG yang di dalamnya terdapat teologi-teologi Gereja muda dan pengaruh Calvinis. HKBP tidak sepenuhnya bercorak Lutheran, hanya saja lebih didominasi oleh corak ajaran dan ibadah Lutheran. Demikian juga unsur-unsur tata ibadah yang dilakukan di HKBP tetap mengalami perkembangan dan bersifat dinamis.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Comments (2) »

Perkembangan Praktik Peribadahan HKBP: Kebaktian Hari Minggu

HKBP telah menuangkan pengertian khusus “ibadah” atau “kebaktian” dalam Garis-garis Besar Pembinaan dan Pengembangan HKBP tahun 1997 yang menyatakan bahwa “kebaktian adalah upacara Gerejawi di mana sejumlah orang percaya berkumpul untuk mengadakan persekutuan dengan Allah Bapa, AnakNya Yesus Kristus dan Roh Kudus (Mat. 18:20, 1Kor. 14: 25) Sifat-sifat kebaktian HKBP sema dengan sifat-sifat kebaktian pada jemaat mula-mula, yaitu perasaan dan pengertian yang diterangi oleh Roh Kudus tentang perbuatan-perbuatan besar Allah (Kis. 2:1-13); adanya kegembiraaan mendengar dan membaca Firman Allah (Luk. 4:16-20, Kis. 15:21), timbulnya serta berkembangnya perasaan ingin berbakti, perasaan beroleh kekuatan, kedamaian, persaudaraan dan keadaan yang teduh, khidmat, sopan dan teratur (1Kor. 14:26-40) 14)

Sejak perkembangannya HKBP, masalah ibadah telah mendapat perhatian besar para zendeling RMG yang melayani di Gereja Batak. Sikap dan perhatian ini dibuktikan dengan disusun sebagai cara untuk mengatur anggota jemaat yang semakin bertambah, terutama di daerah Silindung dan sekitarnya. Para zendeling mulai mengusahakan untuk membangun jemaat yang teratur dan sanggup membendung pengaruh “kekafiran” di Tanah Batak.

Di dalam  Tata Jemaat itu dimuatlah aturan mengenai kehidupan jemaat Kristen, kebaktian Minggu dan ibadah harian. Dan untuk membantu terselenggaranya aturan-aturan ini, diangkatlah beberapa orang untuk menjadi sintua, diakon, diakones dan guru anak-anak. Dalam Tata Kebaktian pada waktu itu sudah ada pembacaan Dasa Titah sebelum Pengakuan dosa dan pengampunan dosa.15)

Kemudian lahir pula Tata Gereja 1906/1907 yang di dalamnya ditunjukkan bahwa Gereja telah mengeluarkan pedoman untuk melaksanan kebaktian Minggu, kedua sakramen, peneguhan  sidi, perkawinan Gerejawi, penguburan dan pendidikan umum.

Sebelumnya, tahun 1903 Agenda sudah disusun, walaupun pemakaiannya belum seragam di semua Gereja. Semua hal yang menyangkut ibadah di HKBP sampai sekarang tetap merupakan hal yang sangat penting untuk digumuli melalui rapat-rapat pendeta dan sidang-sidang Sinode Agung. Unsur-unsur yang berperan penting dalam kebaktian HKBP sepanjang sejarah HKBP adalah liturgi (Agenda), kalender Gerejawi, pelayanan ibadah, nyanyian Gerejawi dan musik.

Liturgi atau tata kebaktian HKBP dilaksanakan berdasarkan buku Agenda yang disusun dan ditetapkan oleh HKBP. Tata kebaktian tersebut juga bisa disebut “Agenda”, yaitu sebutan yang diambil dari Gereja “Uniert” Jerman.

Berdasarkan Agenda tahun 1984 ada 18 tata kebaktian yang telah disediakan untuk menjalankan setiap jenis kebaktian, yaitu: Tata kebaktian hari Minggu, tata kebaktian pembaptisan anak-anak; tata kebaktian pembaptisan darurat; penerimaan calon baptis dewasa; pembaptisan orang dewasa; peneguhan sidi; pemberkatan nikah (Perkawinan); persiapan perjamuan kudus; perjamuan kudus bersama dengan persiapannya; perjamuan kudus (di rumah dan di tempat lain); pemakaman (untuk orang dewasa, anak-anak, ditempat pemakaman/penguburan); pelaksanaan siasat (penghukuman pertama, penghukuman yang sangat berat); penerimaan kembali anggota jemaat yang terkena siasat Gereja; penahbisan sintua; penahbisan guru jemaat; penahbisan pendeta; penahbisan penginjil wanita/bibelvrouw dan diakones; penahbisan gedung Gereja dan tata kebaktian peletakan batu alas gedung Gereja.

Selain memuat tata kebaktian tersebut, Agenda juga memuat ayat-ayat pembimbing/pembuka (introitus) pada kebaktian hari Minggu atau pesta-pesta Gerejawi, doa dan janji Allah tentang pengakuan dosa, doa pembukaan pada hari Minggu dan pesta-pesta Gerejawi, serta doa syafaat setelah khotbah. 16)

               Selain tata ibadah-tata ibadah diatas, di HKBP ada pula tata ibadah Mengikat Janji (Martumpol), Tata Ibadah Lingkungan (Wijk), Tata ibadah mangongkal holi, Tata ibadah oikumene, Tata Ibadah Sinode Gereja, Tata Ibadah Hari Kemerdekaan, Tata Ibadah Tahun Baru (1Januari) dan kebaktian Penahbisan Pelayan-pelayan Gereja, dsb, yang tidak dimuat dalam Agenda tahun 1986, tetapi rumusan tata ibadah  tersebut tetap bersifat formal, walupun tidak seragam di setiap HKBP lokal

 

Bentuk tata ibadah atau Agenda yang di atas telah diberlakukan sejak HKBP memperoleh kemandiriaannya (manjungjung baringinna) pada tanggal 12 Juli 1940. Sebelumnya, pernah para zendeling atau para pendeta RMG menggunakan liturgi yang belum baku karena ibadah belum dilakukan secara tetap, atau dapat dikatakan, ibadah dilaksanakan dari kampung ke kampung dan dari ladang ke ladang atau dari lapo ke lapo dan lagi pula situasi dan sarana juga belum memungkinkan untuk melaksanan ibadah secara liturgis. Tetapi setelah ”Pardonganon Mission Batak” (RMG), terbentuk tahun 1899, di mana pekabaran Injil telah meluas ke Muara, Samosir, Dairi, Pakpak dan Simalungun, maka tata tertib ibadah menjadi suatu hal yang penting.

Pada tahun 1903 Agenda sudah disusun dan pada tahun 1904 sudah ada “Agenda” dari HKBP Perbaungan (1904) dan Aturan ni Ruhut di angka Huria na ditingatonga ni halak Batak (1907) yang mengatur pelaksanaan berbagai kebaktian. Semangat liturgis ini makin mantap sejak Gereja Batak mulai diorganisasikan secara baik dengan diberinya identitas atau nama pada tahun 1925, yaitu “Evangelische Kirche Mission Im Batak lande Auf Sumatra” (Gereja Zending Injili di Tanah Batak, Sumatera) yang kemudian berubah nama menjadi HKBP pada tahun 1929.17)

Sejak disusun dan digunakannya Agenda pertama kali di HKBP, susunan dan isinya tidak banyak berubah dengan yang ada pada masa sekarang. Sebelum tahun 1940, Agenda tersebut dibuat dalam bahasa Batak Toba, Angkola, Simalungun dan Pakpak Dairi, sedangkan pada masa sekarang yang umum dijumpai hanya Agenda berbahasa Batak Toba dan bahasa Indonesia. Ada pula Agenda edisi tahun 1988 yang dibuat dalam bentuk kecil yang disebut “Agenda na Metmet”:

              Agenda na Metmet” adalah Agenda yang hanya memuat beberapa tata ibadah dalam bahasa Batak yaitu: Pandidion na hinipu (Baptisan darurat); pamasumasuon di huta (Pemberkatan nikah di rumah); Pananomon na mate (pemakaman; di rumah untuk orang dewasa, anak-anak; di kuburan untuk orang dewasa, orang tua, seorang bapa atau ibu yang meninggalkan pasangannya atau anaknya, orang yang mati bunuh diri, anak-anak.18)

 

2.4.1.      Kebaktian Minggu Tahun 1861- 1940

Pada tahun 1861, ketika Klammer melayani di Sipirok, ia mengadakan kebaktian hari Minggu dengan membuat liturgi yang sangat sederhana yang terdiri dari 3 unsur, yaitu doa, menyanyi dan khotbah.19) Kemudian pada zaman Nommensen , orang-orang Kristen Batak sudah dibiasakan untuk mengadakan kebaktian hari Minggu. Misalnya di Pematang Siantar, kebaktian-kebaktian hari Minggu diadakan di rumah besar (lapou atau ruma bolon) Raja Siantar. Tekanan yang paling dipentingkan pada masa itu adalah pada pemberitaan Firman Allah.20)

Bentuk-bentuk kebaktian pada zaman Nommensen masih berbeda-beda disetiap tempat. Paul B. Pedersen menunjukkan dalam bukunya dengan mengutip laporan Hester Needham, seorang diakones tahun 1890, yang dimuat dalam buku “God First: Hester Needham”s Work in Sumatera”. Dia melaporkan tentang kebaktian hari Minggu yang dilayani Johansen, di mana setelah khotbah ia biasa mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada jemaat sambil berjalan di lorong-lorong bangku dengan maksud membuat mereka mengerti. Demikian pula Lehman dalam buku “Gottes Volk im vielen Landern” melaporkan tentang kebaktian yang dipimpin oleh Nommensen. Pada hari Minggu pagi Nommensen mengumpulkan warga jemaat dan membicarakan firman Allah selama mungkin  sampai ada orang lain yang mengganggunya. Tidak ada khotbah dan sebagai gantinya selama satu jam setiap orang dibolehkan untuk berbicara.

Kebaktian itu dibuka dan ditutup dengan nyanyian dan doa. Sesudah itu orang yang sudah dibaptis dan murid-murid baptisan pergi ke salah satu kampung untuk berbicara dengan kawan-kawan yang lebih muda tentang keselamatan jiwa mereka.

Rapat Pendeta HKBP tahun 1957 juga mendiskusikan liturgi pada periode 1861-1940 yang tidak seragam, meskipun Agenda HKBP telah disusun oleh Panitia yang terdiri dari Steinsieck dan Jung pada tahun 1903. Pada waktu pengakuan dosa, ada jemaat secara spontan langsung menjawabnya. Sementara itu di dalam Agenda HKBP Mentawai pengakuan dosa lebih dahulu dilakukan daripada pembacaan Dasa Titah.21)

Pada tahun 1904 sudah ada dua bentuk liturgi hari Minggu yang ditulis tangan oleh Jung dan Steinsieck, yaitu satu untuk kebaktian yang dipimpin oleh pendeta dan satu untuk kebaktian yang dipimpin oleh guru huria atau penatua. Hal ini dibuat untuk membedakan pendeta dan pengkhotbah awam. Perbedaan ini telah dimulai para zendeling dan terus berlaku sampai sekarang. Unsur ibadah yang tidak ada pada kebaktian minggu yang dipimpin penatua adalah Votum dan Introitus; Janji mengenai pengampunan dosa (karena penatua atau guru tidak boleh mengucapkan kalimat ”Marilah kita mendengarkan janji mengenai pengampunan dosa”); dan berkat akhir kebaktian.22)

Bentuk liturgi hari Minggu yang dijumpai pada periode ini berasal dari tahun 1904, di mana liturgi dibedakan untuk jemaat yang sudah lama (dilayani oleh pendeta) dan jemaat yang masih baru (dilayani oleh guru).

Litugi hari Minggu tahun 1904 untuk jemaat yang sudah lama 23) adalah:

-         Bernyanyi

-         Votum : Atas nama Allah Bapa dan Nama AnakNya Yesus Kristus dan Nama Roh Kudus, yang menciptkan langit dan bumi, kiranya Ia mencurahkan damaiNya ke dalam roh kamu sekalian, Amin.

-         Pembacaan ayat (satu ayat yang cocok untuk acara Minggu itu)

-         Doa (dibacakan satu doa yang sudah ada dalam Agenda yang cocok untuk minggu itu); jemaat menyambut dengan kata amin.

-         Pendeta berkata: Allah kiranya menyertai engkau.

-         Mendengarkan 10 Hukum Tuhan; dibacakan atau bertanya tentang hal itu kepada orang banyak

-         Jemaat berdoa: Ya Tuhan Allah, kuatkanlah kami untuk melakukan yang sesuai dengan hukumMu

-         Bernyanyi

-         Pengakuan Dosa (pendeta membaca salah satu doa yang berhubungan dengan pengkuan dosa)

-         Bernyanyi

-         Pendeta berkata: Mari kita mendengarkan nas pada hari Minggu ini (dapat diambil dari Evanggelium, Epistel dan Perjanjian Lama)

-         Pendeta berkata: berbahagialah orang yang mendengar firman Allah dan memeliharanya.

-         Bernyanyi

-         Pengakuan Iman Percaya

-         Bernyanyi

-         Khotbah

-         Warta Jemaat (tingting)

-         Bernyanyi

-         Doa Penutup (Bapa kami dan Berkat)

 

Pada zaman Nommensen, pelaksanaan kebaktian hari Minggu juga diatur dalam tata Gereja 1906/1907, antara lain mengenai tugas-tugas pengkhotbah pendeta, guru dan sintua, lamanya khotbah, waktu untuk memulia ibadah, makna lonceng dibunyikan, pemilihan lagu-lagu, pemilihan nas-nas yang harus sering dikhotbahkan, cara pemyampaian khotbah, motivasi pengkhotbah, kegiatan lain setelah selesai kebaktian Minggu, dan penegasan bahwa pelaksanaan ibadah harus sesuai dengan urutan yang telah ditetapkan dalam Agenda.24)

Beberapa peraturan tersebut, di antaranya adalah:

-         Waktu kebaktian adalah pukul 9 atau pukul 10. Lonceng Gereja harus dipukul dua kali sebagai tanda panggilan dan untuk ketiga kalinya sebagai tanda masuk. Kalau tidak ada lonceng Gereja dapat digunakan gong.

-         Lagu nomor satu adalah lagu tetap untuk membuka kebaktian. Sedangkan lagu-lagu lain dipilih oleh pengkhotbah dan harus diberitahukan kepada guru jemaat.

-         Nyanyian Gereja dipimpin oleh guru jemaat dan sebelum lagu selesai pendeta dapat naik ke mimbar, lalu berdoa di dalam hatinya dan kemudian menghadap jemaat serta berkata: Di dalam nama Allah Bapa dan Anak dan Roh Kudus….:. Selanjutnya ia berdoa dan berkhotbah

-         Selesai berkhotbah (tidak terlalu lama, maksimal setengah jam), lalu persembahan dijalankan.

-         Doa Penutup dan berkat

-         Jika guru yang berkhotbah, dia harus mengingat aturan yang ada dalam buku Agende. Selanjutnya buku Agende adalah pedoman untuk persiapan pelayanan hari Minggu.

 

2.4.2.      Kebaktian Minggu Tahun 1940 – sekarang

Liturgi atau tata kebaktian Minggu dimasukkan dalam urutan pertama dalam Agenda baik yang berbahasa Batak maupun yang berbahasa Indonesia. Bentuk  kebaktian Minggu yang tetap dipertahankan sejak tahun 1940 sampai sekarang adalah: 25)

-         Nyanyian Bersama

-         Votum-Introitus-Doa

-         Nyanyian Bersama

-         Pembacaan Hukum Taurat (Pelayan membacakan ke-10 Hukum Taurat dan    membacakan pesan Tuhan mengenai hukum tersebut, ia dapat pula menggantinya dengan membaca bagian tertentu dari alkitab, konfessi, RPP)

-         Nyanyian Bersama

-         Pengakuan dan Pengampunan Dosa

-         Nyanyian Bersama

-         Membaca Epistel

-         Nyanyian Bersama

-         Pengakuan Iman

-         Warta Jemaat

-         Nyanyian Bersama sambil mengumpulkan persembahan

-         Khotbah

-         Nyanyian Bersama

-         Doa Penutup (persembahan, Bapa Kami dan Berkat)

-         Jemaat menyanyikan : Amin-Amin-Amin.

 

Tata Gereja tahun 1972 memuat aturan bagi para pendeta, yaitu para pendeta harus berkhotbah sesuai dengan perikop yang telah ditentukan menurut tahun Gerejawi oleh HKBP. Mereka juga harus menggunakan Agenda dan Buku Ende di dalam menjalankan ibadah minggu. Peraturan ini masih terus berlaku dalam Tata Gereja 1994-2004; hanya saja ditekankan tentang pentingnya buku Almanak HKBP (berdasarkan tahun Gerejawi) sebagai sumber untuk melihat perikop yang telah ditentukan untuk dikhotbahkan dalam kebaktian Minggu.26)

Sedangkan berdasarkan keputusan Sinode Agung ke-49 tahun 1988  dinyatakan bahwa kebaktian minggu secara resmi diselenggarakan dalam bahasa batak dan bahasa Indonesia, minimal intisari khotbah disampaikan dalam bahasa Indonesia.27)

Pada tahun 1991, yaitu pada rapat pendeta HKBP diselenggarakan di Seminarium Sipoholon, di dalam notulennya dimuat keputusan untuk memperhatikan keterlibatan warga jemaat secara aktif dalam ibadah. Keterlibatan tersebut adalah dalam hal pembacaan Epistel secara responsoria.28)

Pemahaman HKBP tentang makna hari Minggu dijelaskan dalam Konfessi HKBP tahun 1996 pasal 11. Di dalamnya dinyatakan bahwa 29) “Hari Minggu adalah hari di mana orang percaya dapat mensyukuri, merayakan dan memperingati hari kebangkitan Tuhan Yesus dan hari Turunnya Roh Kudus. Karena dengan merayakan hari Minggu itu kita memperingati karya penciptaan Allah dari permulaannya sampai pada hari ini.

Di dalam GBKPP-HKBP yang dikeluarkan pada tahun 1997, dituntut supaya dalam kebaktian Minggu ada peningkatan dalam hal pengetahuan dan keterampilan berkhotbah dengan memperhatikan bahwa Roh Kudus adalah sumber segala kekuatan dan kuasa (Kis.1: 8).

Karena khotbah yang bermutu akan membawa jemaat kepada pengertian akan firman Allah sebagai pedoman hidup dan kuasa untuk mendewasakan iman jemaat. Perlu juga diperhatikan mengenai pentingnya musik dan koor dalam mempengaruhi perasaan dan pikiran para warga jemaat, karena musik dan koor merupakan sarana yang penting untuk mengungkapkan puji-pujian kepada Tuhan dan untuk mengungkapkan kesaksian dan kegembiraan (Mzm.150: 1-6). Untuk itu pemain musik harus dilatih dan musik harus disajikan sebelum kebaktian dimulai untuk mengarahkan dan mempersiapkan jemaat mengikuti kebaktian.

Pemimpin-pemimpin koor perlu ditatar dan dilatih. Penyajian koor harus disesuaiakan dengan tata cara ibadah. Faktor penting lainnya adalah perlunya menjaga suasana hikmat dan teduh dalam kebaktian. Teknik responsorial dipergunakan untuk meningkatkan partisipasi warga jemaat dan menghindarkan kebosanan. Warta jemaat atau “tingting” dibuat sesingkat dan setepat mungkin serta acara tertulis untuk menjaga agar suasana ibadah tetap hikmat dan teduh.

            Peningkatan kehadiran warga jemaat juga perlu dipantau untuk mengetahui peningkatan kehadiran warga jemaat dan hendaklah diumumkan berapa yang hadir, selanjutnya diarsipakan sehingga dapat diketahui statistik kehadiran pertahun.30)



14) HKBP, Garis-garis Besar Kebijakan Pembinaan dan Pengembangan HKBP 1997 (Tarutung Kantor Pusat HKBP, 1997),  36.

15) Unsur ibadah, seperti: pembacaan Dasa Titah, pengakuan dosa dan pengampunan dosa tetap mewarnai kebaktian HKBP sampai sekarang sesuai dengan teologi Martin Luther. Bnd: J.R. Hutauruk, Op.cit.,  7-8.

16)  Konven Pendeta HKBP, Agenda di Huria Kristen Batak Protestan  (Jakarta-Bogor: 1984),  1-103. Susunan dan Isi Agenda ini masih dipertahankan sampai sekarang.

17)  TB. Simangunsong, “Ibadah Sebagai Upaya Pelaksanaan Misi Gereja” dalam Midian KH. Sirait, Beribadah Kepada Tuhan: Buku Ulang Tahun ke-60 Pdt I.V.T. Simatupang (Jakarta: Judika Ray, 2000),  186-187.

18) HKBP, Agenda na Metmet di Huria Kristen Batak Protestan (Pearaja-Tarutung: Kantor Pusat HKBP, 1988),  1-22.

19) J. Sihombing, Sejarah ni Huria Kristen Batak Protestan nasinurathon ni Dr.J. Sihombing (Pematang Siantar: t.p, t.t),  32.

20)  HKBP Pematang Siantar, Parningotan di Pesta Parolop-olopon Jubileum 50 taon 29 September 1907 – 29 September 1957 HKBP Pemaang Siantar (t.p, t.t.)

 

 

 

21)  HKBP, Notulen Rapot Pandita HKBP ari 20-22 Nopember 1957 di Butar (Tarutung: Kantor Pusat HKBP),  19.

22) Paul B. Pedersen, Darah Batak dan Jiwa Protestan: Perkembangan Gereja-Gereja Batak di Sumatera Utara (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1975),  81.

23)  Agende,  1-4.

24)  Aturan ni ruhut di angka huria na ditongatonga ni Halak Batak  (Siantar-Toba;  Pangarongkoman Mission 1907)

25)  Agenda HKBP tahun 1986,  3-6.

26)  Aturan ni HKBP 1972-1982,  199. Aturan ni HKBP 1994-2004,  20.

27)  HKBP, Notulen Sinode Godang Pa-49 hon HKBP 10-15 November 1988 (Tarutung: Kantor Pusat HKBP),  100.

28)  Notulen Rapot Pandita 1991,  70.

29)  Panindangion Haporseaon 1996,  36.

30)  Garis-garis Besar Kebijakan HKBP edisi 1997,  36-39.

Komentar dimatikan

Sejarah Singkat Terbentuknya Doktrin & Praktek Peribadahan HKBP

2.3. Sejarah Singkat Terbentuknya Doktrin dan Praktek Peribadahan HKBP

Doktrin dan praktek peribadahan HKBP secara historis sebagian besar masih merupakan warisan teologi para pekabar Injil RMG, yang melayani HKBP antara tahun 1861-1940. Mereka adalah peletak dasar untuk ajaran HKBP, meskipun selama periode pelayanan mereka belum ada keseragaman dan penetapan doktrin konfesional. 9)

Proses pembentukan doktrin HKBP terjadi pertama-tama melalui peranan para pendeta atau penginjil utusan RMG, yang di antaranya ternyata ada pula yang berasal dari aliran Calvinis Belanda. Di samping itu juga berdasar dari hasil pergumulan HKBP sendiri setelah mandiri. Sejak awal adat Batak pun turut mempengaruhi pembentukan doktrin dan praktek peribadahan di HKBP.

Pengaruh paling besar dan telah diwariskan hingga kini diperoleh dari peranan para penginjil RMG khususnya I.L.Nommensen dan Johannsen. Keduanya berperan besar dalam penerjemahan Alkitab (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) ke dalam bahasa Batak dan buku-buku pengajaran penting yang digunakan HKBP, seperti:

a.      Djamita angka na nienet sian hata ni Debata na di Padan na Robi na nihatabatakhon (Khotbah yang diringkaskan dari Perjanjian Lama)

b.      Djamita angka na nienet sian hata ni Debata na di Padan na Imbaru (Khotbah yang diringkas dari Perjanjian Baru)

c.       Parpunguan ni angka ajat dohot ende siapilon ni angka parguru na naeng mangkhajongjongkhon haporseaon manang na naeng tardidi (Kumpulan ayat dan nyanyian hafalan untuk pelar katekisasi yang akan menyatakan kepercayaannya atau orang yang akan dibabtis) yang dilengkapi dengan buku ”Sungkun sungkun tu angka Parguru” (Pertanyaan untuk para Pelajar Katekisasi) yang merupakan saduran dari ”Herforder Katechismus” (buku yang berisi keterangan tentang kelima pokok ajaran Katekismus Kecil Luther)

d.      Pangarimpunan ni oegama hakristenon (Ringkasan Pengajaran Kristen) merupakan saduran dari Katekismus Heidelberg

e.       Pangarimpunan ni podapoda Sihaporseaon ni halak Kristen (Ringkasan Pengajaran yang harus dipercayai orang Kristen)

f.        Panatapan tu na Masa Sogot (Pandangan kepada kehidupan kelak)

g.      Buku Ende Huria (Buku Nyanyian)

h.      Boasa ari Minggu ari paradianan ni halak Kristen (Mengapa hari Minggu hari perhentian Kristen)

i.        Apoelapoel di angka na marsitaonon (Penghiburan bagi orang yang berduka)

j.        Parbinotoan Parsorion (Pengetahuan tentang nasib manusia)

k.      Katekismus Kecil Luther

Dari semua buku ajaran yang digunakan, Katekismus Kecil Luther merupakan buku yang paling umum digunakan.

Panggabean10) mengemukakan bahwa proses pembentukan teologi HKBP berasal dari tiga jalur, yaitu dari teologi para penginjil, khususnya RMG; dari hasil pergumulan Gereja sendiri dan dari pengaruh adat Batak bahwa adat telah digunakan sebagai persiapan untuk menerima Injil (preparation evangelica). Ia juga menegaskan bahwa HKBP memang bersifat “uniert” tetapi bukan Gereja “uniert” karena di dalam tubuh HKBP mengalir dasar-dasar teologi yang diperoleh dari Gereja muda yang digunakan dalam Katolik Roma, dari nyanyian-nyanyian Mazmur yang biasa digunakan Gereja Calvinis dan dari nyanyian yang berjiwa pietis. Sedangkan yang berasal dari Gereja “uniert” adalah nyanyian-nyanyian (lagu-lagu koor), pemahaman dan pelaksanaan Baptisan dan Perjamuan Kudus.

Pengaruh Calvinisme juga dapat dilihat dari penggunaan buku Katekismus Heidelberg oleh para penginjil Belanda. Dapat dilihat bahwa susunan dan pembagian Taurat dalam Katekismus Heidelberg sama dengan susunan pembagian Hukum Taurat dalam Katekismus Kecil Luther yang diterjemahkan oleh Nommensen.11) Pembentukan teologi Calvinis tampak jelas dari adanya penggunaan nyanyian-nyanyian Mazmur dan pencatuman pembacaan Hukum Taurat dalam tata ibadah Minggu. Sedangkan corak “uniert” HKBP yang masih dipertahankan dari zaman para zendeling sampai sekarang adalah penggunaan Agenda dalam ibadah HKBP.

Selanjutnya pada periode 1940 sampai sekarang, teologi HKBP dapat dilihat dari Konfesi HKBP yang lahir pada tahun 1951, dan diperdalam pada tahun 1996. Sedangkan untuk praktik peribadahan masih menggunakan Agenda tahun 1904, yang diperjelas dengan “Ruhut Parmahanion dohot Paminsangon” (RPP) HKBP” (aturan disiplin HKBP) dan “Aturan dan Peraturan HKBP” yang selalu diperbaharui setiap 10 tahun.

Penetapan teologi yang “Konfesional” baru terwujud pada tahun 1951. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh beberapa hal, yaitu prioritas yang harus dikerjakan oleh para zendeling menurut situasi dan kondisi yang dihadapi sampai tahun 1940, antara lain pengkristenan orang Batak, pengaturan agar orang Batak dapat hidup secara teratur dan dapat melawan kekafiran, pengaturan Gereja yang organisatoris, penyusunan bentuk peribadahan dan pengaturan keterlibatan warga jemaat dalam kepemimpinan Gereja.12)

Selain yang telah dikemukakan di atas pada masa kepemimpinan RMG di HKBP sampai tahun 1940 tidak pernah dipersoalkan keseragaman doktrin di HKBP. Berdasarkan uraian tersebut maka jelaslah apa yang dikatakan HKBP ketika memberi jawaban melalui wakil-wakilnya (J.Sihombing dan K.Sirait) dalam pertemuan LWF pada tanggal 16-17 Januari 1950, yaitu: “HKBP tidak menganggap dirinya 100 persen `Lutheran`, tetapi mereka merasa bahwa mereka lebih dekat kepada kaum Lutheran daripada kepada siapapun juga”. 13)



9)  Kenyataan ini dibuktikan melalui tulisan Jan S. Aritonang yang mengatakan bahwa selama kurun waktu tersebut , terdapat 163 orang pekabar Injil RMG yang diutus ke Tanah Batak dengan latar belakang teologi yang berbeda-beda. Bnd. Jan S. Aritonang, Sejarah Pendidikan Kristen di Tanah Batak   (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1988),  99.

 

 

 

10) A. Panggabean, ”Dasar Theologia Operational HKBP bersama atau tanpa Nommensen (Dari mana sumber theologia HKBP?) dalam HKBP, Benih yang Berbuah: Hari Peringatan 150 tahun Ompui Ephorus  Dr.Ingwer Ludwig Nommensen Almarhum 6 Februari 1834- 6 Februari 1984  (Pematang Siantar : Bagian Ilmu Sejarah Gereja dan Pekabaran Injil STT-HKBP bidang Penelitian dan Pengembangan, 1984), 138-143.

11)  T.O.B. Simaremare: ”Peranan Katekhismus Luther Kecil” dalam Benih yang Berbuah,  94.

12)  J.R. Hutauruk, Menata Rumah Allah: Kumpulan Tata Gereja HKBP (Pematang Siantar: 1994), 7-14.

13)  Paul B.Pedersen, Darah Batak dan Jiwa Protestan: Perkembangan Gereja-Gereja Batak di Sumatera Utara  (Jakarta: BPK Gunung Mulia 1975), 176.

Komentar dimatikan

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.670 pengikut lainnya.