Arsip untuk Maret 24, 2009

UNSUR-UNSUR LITURGI HKBP

3.1. Pelaksanaan Liturgi : Tata Kebaktian Minggu di HKBP

Acara kebaktian Minggu disusun untuk mewadahi pertemuan, dialog dan interaksi antara Tuhan dan umat-Nya. Unsur-unsur dalam kebaktian Minggu itu dengan mudah dapat dibagi dua, yaitu sapaan Tuhan dan respons jemaat. Tuhan menyapa umat melalui firman-Nya dan umat menjawab dengan doa syukur. Tuhan memberikan hukum, dan umat menjawab dengan doa memohon kekuatan melaksanakan hukum itu. Umat mengaku dosa dan memohon pengampunan, dan Tuhan menjawab dengan memberikan pengampunan. Demikian seterusnya.

Unsur-unsur liturgi HKBP pada hari Minggu pada umumnya sudah diatur sedemikian rupa yang terdiri dari: Nyanyian, Paduan Suara/Koor, Votum-Introitus-Doa, Pembacaan Hukum Taurat, Pengakuan Dosa dan Janji Pengampunan Dosa, Pembacaan Firman Tuhan (Epistel), Pengakuan Iman, Warta Jemaat,  Persembahan, Khotbah dan Doa Penutup (Doa Persembahan, Doa Bapa Kami, Berkat).

 

3.2. Pengertian dan Pemahaman Unsur-Unsur Liturgi HKBP :

3.2.1. Nyanyian

Di Gereja HKBP, kebaktian diawali dengan nyanyian pembuka. Biasanya nyanyian yang dipilih adalah nyanyian yang sesuai dengan nama ibadah Minggu (sebab ibadah Minggu mengikuti kalender gerejawi, yang disusun mengacu kepada gambaran sejarah penyelamatan). Sebelum kebaktian dimulai jemaat memiliki kesempatan mempersiapkan diri dengan berdoa dalam hati.

Di dalam ibadah, nyanyian jemaat menduduki tempat yang penting. Dalam tata kebaktian hari Minggu HKBP mengadakan 7 kali nyanyian jemaat  di samping paduan suara atau Koor. Fungsi nyanyian jemaat di sini adalah untuk memuji Allah, mengajak hati untuk mengucap syukur serta menyadari keberadaan Allah yang Maha Agung. Nyanyian-nyanyian ini disesuaikan dengan Minggu-minggu tahun gerejawi.1)

Nyanyian jemaat berfungsi untuk melayankan liturgi.2) Ada tiga hal secara historis yang melahirkan fungsi nyanyian jemaat di dalam liturgi, yaitu:

1.      Nyanyian jemaat merangkai unsur-unsur liturgi yang satu dengan yang lain, sehingga membentuk satu perayaan liturgi

2.      Nyanyian jemaat mengandung fungsi dan peran simbolis. Ia mengungkapkan makna terdalam dari sikap iman Gereja dan melaluinya dunia mengenal Gereja.

3.      Melalui nyanyian jemaat semua yang hadir dipersatukan di dalam Tubuh Kristus. Melalui nyanyian jemaat, umat mengekspresikan persekutuan orang beriman di hadapan Allah.

Melalui nyanyian ini juga jemaat diajak untuk mengungkapkan perasaan, jiwanya kepada Tuhan serta merasakan penyertaan Tuhan dalam hidupnya. A.A. Sitompul 3) mengatakan bahwa:

           Nyanyian itu mengandung pesan,   membangkitkan semangat yang bernyanyi kepada Tuhan, memberi suasana sukacita untuk bertemu dengan Allah, mengingatkan hubungan kita kepada Allah dan menguatkan iman percaya kita kepada Allah. Hakekat nyanyian adalah memuliakan Allah secara vertical dan horizontal.

 

Di dalam Buku Ende HKBP telah disusun nyanyian-nyanyian sesuai dengan Minggu-minggu gerejawi, peristiwa/kejadian, puji-pujian sukacita, dukacita, orang meninggal dan akhir zaman. Buku nyanyian  HKBP masih berkisar dari apa yang dikumpulkan pada masa zending atau bisa dikatakan sebagai produk zending.  Nyanyian inilah yang dipergunakan atau dilagukan dalam liturgi sesuai dengan nama Minggu-minggu gerejawi.

 

3.2.2.      Votum-Introitus-Doa

Di dalam Agenda HKBP dikatakan: “Di dalam Nama Allah Bapa, dan Nama AnakNya Tuhan Yesus Kristus dan Nama Roh Kudus, yang menciptakan langit dan bumi” Amin. Makna dari votum ini adalah bahwa ibadah itu dibuka di dalam Nama Allah, AnakNya Yesus Kristus dan Roh Kudus, serta menjelaskan “hadirnya Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus di tengah-tengah umatNya”, dimana anggota jemaat yang hadir menjadi satu tubuh di dalam Tuhan sebagai persekutuan orang-orang percaya.

Votum yang diucapkan oleh pemimpin liturgi mengungkapkan kehadiran Allah di tengah-tengah pertemuan umat dan di dalam votum itu terletak amanat kuasa Allah. Kuyper4) berpendapat bahwa:

            Votum adalah keterangan khidmat, yang mengubah suatu pertemuan yang tidak teratur menjadi suatu pertemuan yang teratur, anggota-anggota jemaat yang datang berkumpul di dalam ruang ibadah berubah menjadi persekutuan orang percaya. Dalam hal ini votum berarti untuk meng-konstatir hadirnya Tuhan Allah di tengah-tengah umatNya.

 

Menurut Van der Leeuw, dalam votum terletak amanat, kuasa (eksousia) Allah. Segala sesuatu yang menyusul berlangsung dalam namaNya.

 

 

Votum yang disampaikan pemimpin liturgis dalam ibadah adalah proklamasi “tanda” kehadiran Allah dalam ibadah sehingga ibadah itu berlangsung di dalam nama Tuhan. Maka dalam ibadah itu Allah hadir  bersama-sama jemaat dan sekaligus menjadikan orang-orang yang datang dalam ibadah itu menjadi persekutuan orang-orang percaya.

Pandangan pemimpin-pemimpin gerakan liturgi tentang votum ini, sebaiknya diberi catatan-catatan. Bila votum dipahami sebagai formula untuk menyatakan syah tidaknya kebaktian dan sebagai sarana untuk mengkonstatir kehadiran Allah, secara langsung dapat memberi kesan  bahwa kehadiran Allah ditentukan oleh unsur-unsur liturgi. Pandangan secara teologis bahwa Allah adalah bebas, Dia dapat hadir di mana saja dan kapan saja. Kehadiran Allah tidak dibatasi ruang dan waktu, tidak dibatasi votum. Dia berkuasa atas semua dan berada di atas semua. Pandangan ini didukung oleh Noordmans5) dengan mengatakan bahwa:

             “Kehadiran Tuhan di dalam kebaktian bukanlah secara mekanis, melainkan berdasarkan  atas kehendak dan kemurahanNya. Kehadiran Allah sama sekali tidak tergantung dan terikat pada akta-akta liturgi tertentu”.

 

Hal serupa dikatakan oleh J.J. Stam yang dikutip oleh J.L.Ch. Abineno6) mengatakan:

            ”Tidak benar bahwa oleh votum kehadiran Allah ditetapkan di tengah-tengah jemaat yang berkumpul. Hadirnya Allah tidak tergantung pada kemauan manusia”

 

Perbedaan pemikiran ini harus dihargai sebagai kekayaan dari pemahaman terhadap votum, namun demikian pemahaman yang baru terus diupayakan secara praktis dan teologis. Rumusan votum dengan kalimat ”Di dalam nama Allah Bapa dan nama AnakNya Tuhan Yesus Kristus dan Roh Kudus” atau ”Pertolongan kita adalah dalam nama Tuhan yang menjadikan langit dan bumi” (Mat.28: 19; Mzm.124: 8) janganlah dipahami sebagai formula magis yang menentukan kehadiran Allah. Biarlah itu dimengerti sebagai proklamasi perayaan keselamatan umat Allah bahwa segala karya atau kerja dimulai di dalam nama Tuhan Yesus (Kol.3: 17). Sejumlah keterangan dan informasi tentang votum, yang paling gamblang menyatakan bahwa votum sama pengertiannya dengan bismilah.

Setelah votum maka introitus disampaikan yaitu pembacaan Alkitab sesuai dengan tahun gerejawi dan jemaat menyambutnya dengan menyanyikan ”haleluya, haleluya, haleluya”. Introitus sesungguhnya adalah prosesi atau perarakan masuk sebagaimana umat Israel melakukan perarakan menuju tanah perjanjian atau Gereja secara ekumenis berarakan menuju Kristus, laksana bahtera berlayar menuju pelabuhan abadi.7) Di dalam liturgi prosesi biasanya dilakukan dari pintu utama menuju altar dan mimbar. Dewasa ini beberapa jemaat tidak lagi mempraktekkanya sesuai dengan pengertiannya tetapi sudah diganti dengan penyerahan Alkitab dan pembacaan Alkitab.

HKBP melaksanakannya melalui pembacaan Alkitab. Selanjutnya pelayan ibadah  mewakili jemaat meresponse firman dengan membacakan doa jemaat. Isi doanya sendiri adalah jawaban terhadap firman pembuka itu. Di sini terlihat dengan jelas beda firman dengan doa. Firman adalah suara Tuhan menyapa  jemaatNya  sementara doa adalah suara jemaat menyapa Tuhannya 

 

3.2.3.      Nyanyian Jemaat

Sesudah votum, introitus, dan doa pembukaan jemaat pun merespons dengan bernyanyi. Biasanya dipilih nyanyian syukur atau nyanyian yang sesuai dengan tema mingguan (catatan: HKBP dan beberapa Gereja lain mengikuti kalender ibadah yang tema-temanya merangkum sejarah keselamatan).

 

3.2.4.      Pembacaan Hukum Taurat

Melalui pembacaan Hukum Taurat, umat diingatkan akan tanggung jawab orang percaya dalam hidup sehari-hari secara vertikal maupun secara horizontal supaya seturut dengan kehendak Allah. Hukum Taurat itu dibacakan sebagai “cermin” bagi umat yaitu bagaimana sikap perilaku orang percaya kepada Tuhan dan kepada sesama manusia, sebagai wujud kasih kepada Allah dan kepada sesama manusia, (Ul. 6: 3-9, Mat.22: 36-39). Micron8) berpendapat bahwa:

            Dasafirman mempunyai fungsi sebagai cermin, yang menyatakan kepada kita “betapa besar dan betapa seringnya kita telah menjadikan Tuhan Allah murka oleh dosa-dosa kita”. Oleh karena itu dasafirman ditempatkan sebelum Pengakuan Dosa – Janji Pengampunan Dosa.

 

             Berbeda dari Calvin, dia berpendapat bahwa dasafirman berfungsi sebagai puji-pujian. Oleh karena itu dasafirman ditempatkan setelah Pengakuan Dosa-Janji Pengampunan Dosa. Dalam hal ini, penempatan dasafirman yang dilaksanakan di HKBP sesuai dengan Micron.

 

Oleh karena itu setiap beribadah umat diingatkan bagaimana sikap perilakunya: adakah sesuatu yang sudah dilakukan yang berkenan kepada Allah? adakah pelanggaran-pelanggaran yang diperbuat secara sadar atau tidak? Oleh karena itu pembacaan Hukum Taurat dalam ibadah berfungsi untuk menjadi pemelihara dan cermin dalam kehidupan dihadapan Allah. Dalam Gereja HKBP pembacaan Hukum Taurat diambil dari sepuluh hukum, hukum kasih, atau ayat-ayat Alkitab yang bernada perintah atau imperatif  juga bisa digantikan dengan Katekismus maupun Konfessi.

 

3.2.5.      Nyanyian Jemaat

Hukum Tuhan menyadarkan jemaat akan dosa-dosanya. Hukum mirip dengan cermin, dimana manusia bisa melihat keberadaan dirinya. Sebab itu pembacaan hukum Tuhan dalam ibadah Minggu dilanjutkan dengan nyanyian dan doa pengakuan dosa. Biasanya nyanyian sesudah hukum adalah nyanyian yang menunjukkan pengakuan dan penyesalan dosa jemaat.

 

3.2.6.      Pengakuan dosa dan Pemberitaan Anugerah9)

Pengakuan dosa merupakan suatu bagian yang sangat penting dari kebaktian. Bila manusia datang ke hadirat Allah, sesaat pun tidak dapat menunggu untuk mengatakan hal yang paling penting yaitu bahwa manusia (baca: umat) adalah orang-orang berdosa. Manusia tidak dapat terus berjalan tanpa dosanya diampuni oleh Tuhan Allah. Itulah sebabnya pengakuan dosa mendapat tempat yang  penting dalam kebaktian.

Hamba Tuhan (imam) atas nama jemaat menyampaikan doa pengakuan dosa dan permohonan pengampunan dosa secara pribadi dan bersama-sama dengan jemaat. Pengakuan dosa di hadapan Tuhan yang disampaikan imam yaitu kedosaan yang bersifat pribadi bersama-sama dengan anggota jemaat yang diungkapkan di dalam ibadah di mana Tuhan hadir dalam ibadah.

Umat mengakui bahwa dia adalah orang-orang berdosa, dan dosa itu sebagai penghambat dalam hubungan umat dengan Tuhan dan juga umat dengan sesamanya (bnd Yes.59: 1-6). Umat tidak dapat berhubungan dengan Allah tanpa ada pengampunan dari Allah. Pengakuan sebagai orang berdosa dan sekaligus pengakuan akan kasih karunia Allah yang memungkinkan umat memperoleh kehidupan dan keselamatan (Ef.2: 4-9). Salah satu isi doa pengakuan dosa yang ada di dalam buku Agenda HKBP 10) adalah:

             “ Ya Tuhan Allah Bapa kami yang di surga. Kami datang kehadapanMu mengaku dan memohon keampunan segala dosa dan kesalahan kami. Tataplah kami dengan berkat kasihMu serta ampunilah dosa kami di dalam penebusan AnakMu Tuhan Yesus Kristus, Juruselamat kami. Amin.”

 

Setelah pengakuan dosa menyusul pemberitaan anugerah Allah tentang pengampunan dosa yang diambil dari nas Alkitab, misalnya. Yes.54: 10, Yeh.33: 11a, Maz.103: 8,10,13, Yoh.3: 16). Sesuai dengan jabatan pelayan (sebagai imam) menyampaikan pengampunan dosa yang sudah nyata di dalam Yesus Kristus. Dia yang mendamaikan diriNya dengan dunia atau manusia berdosa dan jemaat menyambutnya dengan gloria: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang Maha tinggi. Amin.”

Sambutan jemaat ini sebagai pujian dan kemuliaan kepada Allah yang telah setia menepati janjiNya, (Keselamatan yang sudah nyata di dalam Kematian-Kebangkitan dan KenaikanNya). Salah satu isi berita anugerah setelah doa pengakuan dosa yang ada di dalam buku Agenda HKBP 11) adalah:

            “Sebab biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi Kasih setiaKu tidak akan beranjak dari padamu, dan perjanjian damaiKu tidak akan bergoyang, Firman Tuhan yang mengasihani engkau”(Yes.54:10). Kemuliaan bagi Allah di tempat yang Mahatinggi.

 

Setiap beribadah umat diingatkan sebagai orang berdosa yang menyesali dosanya dan tetap merindukan kasih karunia dan umat meminta pengampunan, anugerah Tuhan yang terlah nyata di dalam pengorbanan Yesus Kristus.

Berita pengampunan yang disampaikan pelayan (sebagai imam) menjadi pendamaian dari Allah, penguatan, penghiburan, sukacita dan pengharapan bagi umat di tengah-tengah dunia ini (2Tes.2: 15,17). Berita pengampunan ini disusul dengan suatu pujian: Kemuliaan bagi Allah di tempat maha tinggi. (di beberapa Gereja jemaat menyanyikannya dengan lagu Gloria, dan menurut penulis itu lebih baik.)

 

3.2.7.      Nyanyian Jemaat

Jemaat menyambut pengampunan itu dengan nyanyian syukur. Biasanya lagu-lagu yang dipilih adalah benar-benar sukacita sebagai orang-orang yang sudah diampuni dosanya dan memperoleh hidup baru.

 

3.2.8.      Pembacaan Firman Tuhan (Epistel)

Sebagai jemaat yang sudah diampuni dosa-dosanya maka jemaat harus menampakkan pembaharuan dalam seluruh aspek hidupnya. Pelayan pun membacakan Epistel (arti dasar: surat rasuli) sebagai petunjuk hidup baru bagi jemaat yang sudah diampuni dosanya. Pembacaan itu diakhiri dengan sebuah berkat bagi yang mau mendengar dan melakukan firman Tuhan.

Pembacaan firman Tuhan sebagai Epistel dibacakan untuk menghantar jemaat kepada khotbah. Pembacaan firman Tuhan yang diambil dari  Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru mengikuti tradisi Gereja dari abad pertama. Pembacaan ini dikaitkan dengan nas khotbah supaya saling melengkapi. Fungsi pembacaan ini membawa jemaat ke dalam suatu hubungan yang hidup dengan firman Allah di dalamnya ada ajaran, penguatan, tuntunan hidup baru, pengharapan dan penghiburan.

 

3.2.9.      Paduan Suara/ Koor

HKBP disebut juga sebagai Gereja yang bernyanyi. Hal ini terbukti bahwa hampir di setiap pelaksanaan ibadah selalu ada paduan suara atau koor. Paduan suara ini berfungsi sebagai sarana umat untuk memuji Allah dan sekaligus sebagai khotbah yang disuarakan kepada warga jemaat melalui nyanyian.  Melalui paduan suara ini diungkapkan pujian, pemujaan kepada Allah yang mempunyai peran ganda yaitu secara horizontal dan vertikal. Dikatakan horizontal karena isi nyanyian paduan suara itu adalah peneguhan, penguatan, penghiburan, pengharapan. Vertikal karena ditujukan untuk memuji Allah, membersaksikan segala karya Allah dalam kehidupan (Kel.15, Maz.105, 1Taw.16, Why.15).

 

3.2.10.  Pengakuan Iman

Pengakuan iman yang dilakukan di  HKBP adalah sebelum khotbah, sekalipun ada Gereja-gereja lain melakukannya sesudah khotbah. Pengakuan ini ditujukan kepada Allah Bapa, AnakNya Tuhan Yesus Kristus dan Roh Kudus. Melalui pengakuan iman ini umat mengakui keberadaan Allah, tindakan Allah, sumber dan akhir kehidupan, yang mengatur ciptaan dan memberi kehidupan kepada manusia di dunia dan di akhirat. Melalui pengakuan iman umat menunjukkan identitasnya di dunia ini sebagai orang yang beriman dan mengungkapkan bahwa dalam karya Allah melalui Yesus Kristus, umat memperoleh kehidupan serta kesatuan orang percaya di dalam Yesus sebagai dasar mempersatukan segala latarbelakang kemajemukan manusia.

 

3.2.11.  Pembacaan Warta Jemaat

Pembacaan warta jemaat di HKBP adalah bagian dari tata kebaktian Minggu. Hal ini dilatarbelakangi dasar pemikiran bahwa seluruh pelayanan yang sudah dan akan dilaksanakan oleh Gereja harus diketahui warga jemaat, dengan tujuan supaya warga jemaat mendukung dan mendoakannya.

Secara umum isi warta jemaat adalah: berita kelahiran, pemberkatan nikah, jemaat yang tambah dan pindah, jemaat yang meninggal, keuangan dan ragam-ragam pelayanan. Apa yang terjadi dan akan dilakukan Gereja dalam kegiatannya pada Minggu itu dan Minggu mendatang (kegiatan-kegiatan kategorial, dewan-dewan dan kepanitiaan yang ada) disampaikan kepada warga jemaat.

Melalui warta jemaat ini warga jemaat mengetahui apa yang terjadi dalam pelayanan Gereja secara umum serta warga jemaat diundang untuk mendoakannya. Dengan dasar pemikiran ini pembacaan warta jemaat adalah bagian dari ibadah.

Warta jemaat adalah berita yang ada di tengah-tengah jemaat. Ada yang menganjurkan agar warta dikeluarkan dari ibadah. Menurut penulis sebaiknya di dalam. Ini adalah proklamasi bahwa berita-berita yang dikerjakan Tuhan dalam jemaat (kelahiran, baptisan, kematian, pernikahan). Namun agar tidak menyita waktu sebaiknya yang dibacakan hanyalah sakramen atau berita penting yang harus dimaklumatkan kepada jemaat.

 3.2.12.  Persembahan

Hakekat persembahan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru  adalah sama sekalipun dalam hal bentuk atau jenisnya berbeda yaitu sebagai respon manusia dan bukti ketaatannya kepada Allah atas segala berkat Tuhan yang diterima dalam hidupnya. Persembahan yang diberikan jemaat setiap Minggu, atau persembahan khusus yang ditujukan kepada pos tertentu, adalah wujud ketaatan iman untuk mendukung pelayanan/pekerjaan Tuhan yang diprogramkan Gereja. Persembahan juga dikumpulkan untuk kepentingan pelayanan kehidupan sosial jemaat sebagai anggota tubuh Kristus.

Dalam buku Aturan dan Peraturan HKBP tahun 2002, pasal 14 tentang: Kewajiban Warga, di sana dikatakan: “Warga Jemaat berkewajiban memikirkan segala kebutuhan di jemaat dengan mempersembahkan diri sesuai dengan talenta yang diberikan Tuhan kepadanya, maupun melalui penyampaian berbagai persembahan dari hati yang tulus dan penuh sukacita”. Melalui pemahaman ini ada dua yang menjadi fokus perhatian kita dalam memahami persembahan:

i.    Mempersembahkan diri sesuai dengan talenta yang diberikan Tuhan. Talenta yang dimaksud di sini ialah kecakapan-kecakapan khusus yang dimiliki setiap orang. (bnd. Rm.12: 6-8, 1Kor.12: 8-10). Semuanya itu diberikan sebagai persembahan yang kudus kepada Tuhan. “… supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, yang berkenaan kepada Allah”, (Rm.12: 2).

ii.      Menyampaikan berbagai persembahan dari hati yang tulus; Persembahan yang dimaksud di sini, sama artinya dengan penyampaian korban dalam Perjanjian Lama, yang diwujudkan dalam bentuk binatang, panen atau buah dari pekerjaan.

Dari kedua pemahaman ini, bahwa pemberian persembahan menjadi tanda penundukan diri setiap orang beriman kepada Tuhan, dengan demikian hidupnya akan penuh ketaatan melalui persembahan. Oleh karenanya memberi persembahan merupakan tindakan ibadah dan yang dipersembahkan adalah gambaran sikap hati untuk memulikan Tuhan.

Jenis-jenis persembahan di HKBP sudah diatur sedemikian rupa, dan semuanya itu diperuntukkan untuk pembangunan rohani maupun pembangunan Gereja secara phisik. Sebagaimana lazimnya, ada 5 (lima) jenis-jenis persembahan:

a.       Persembahan pada acara kebaktian Minggu

-         Dewasa

-         Sekolah Minggu

b.      Persembahan Kebaktian wijk

c.       Persembahan Kebaktian Kategorial

d.      Persembahan Tahunan (Pelean Taon)

e.       Persembahan acara-acara khusus

-         Ikat Janji

-         Pemberkatan Nikah

-         Ucapan syukur (ulang tahun, memasuki rumah, awal tahun, dll)

Dalam penatalayanannya, persembahan itu mempunyai pos masing-masing sesuai dengan ketentuan yang sudah ditetapkan, misalnya:

1.      Persembahan Acara kebaktian Minggu, diadakan dua kali yaitu sebelum dan sesudah Khotbah, yang terdiri dari: Persembahan sebelum khotbah diedarkan dua kantong (persembahan Ia,b) dan sesudah khotbah satu kantong (persembahan ke-2). Peruntukannya adalah: Persembahan Ia,b untuk kas huria dan pembangunan, sedangkan persembahan setelah khotbah untuk Kantor Pusat HKBP.

2.      Persembahan Sekolah Minggu, dari seluruh jumlah persembahan tersebut, 25 % diperuntukkan untuk Kantor Pusat HKBP.

3.      Persembahan Tahunan dipergunakan untuk keperluan biaya operasional huria di dalamnya termasuk “balanjo” atau gaji pelayan full timer.

4.      Persembahan-persembahan acara kebaktian wijk dan acara ucapan syukur diperuntukkan ke kas huria yang kegunaannya untuk biaya rutin huria.

5.       Persembahan Perjamuan Kudus diperuntukkan untuk pelayanan zending   HKBP.

Demikianlah Gereja HKBP memahami persembahan serta mengelola persembahan sesuai dengan program pelayanan yang sudah ditentukan.

 

 3.2.13.  Khotbah

Khotbah mendapat tempat yang penting dalam ibadah, karena melalui khotbah warga jemaat terbangun dalam iman, mendapat peneguhan, penghiburan serta tuntunan hidup ke arah jalan yang dikehendaki Tuhan. Dalam pelaksanaannya di awali dengan doa permohonon tuntunan Roh kudus, pembacaan firman yang sudah ditentukan dalam buku Almanak HKBP dan penyampaian khotbah dengan durasi waktu 25-30 menit. Pembacaan firman Tuhan yang sudah ditentukan selalu dihubungkan dengan isi khotbah. Khotbah selalu diarahkan untuk pertobatan, pembangunan rohani warga jemaat serta diupayakan untuk  dapat menjawab pergumulan warga jemaat.

            Hubungan yang erat antara pembacaan Alkitab dan khotbah dapat dijumpai dalam Kis.13: 15 dyb. Di sana diceritakan tentang ibadah sinagoge di Anthiokia yang dikunjungi oleh Rasul Paulus dan Barnabas. Sesudah pembacaan Taurat dan Kitab Nabi-nabi, Khadim bertanya kepada mereka, apakah mereka mau mengatakan sesuatu.

 

            Kebiasaan ini diambil alih oleh Gereja lama. Dalam Apologia I (ps. 67) Justinus Martyr menulis tentang ibadah jemaat antara lain seperti berikut, “Pada hari Minggu semua orang Kristen yang diam di kota-kota dan di daerah-daerah pedalaman, berkumpul di suatu tempat dan dibacakan kenang-kenangan Rasul Paulus atau Kitab-kitab Nabi-nabi jika waktu mengizinkan. Kalau  pembaca telah selesai, ketua mengajar dan memberikan nasihat-nasihat supaya kami mengikuti segala contoh apa yang terkandung dalam pembacaan itu”12

 

Di HKBP pembacaan Alkitab mengikuti buku Almanak. Ini memberi keuntungan bahwa tema khotbah selalu komprehensif. Pendeta tidak boleh hanya menyampaikan khotbah berdasarkan ayat-ayat kesukaannya. Pendeta tidak punya agenda pribadi, tetapi agenda Gereja. Menurut penulis penyusunan  bahan khotbah berdasarkan Almanak ini memberi keuntungan jemaat mendapatkan  kekayaan Alkitab  (sebab bagaimanapun  setiap pribadi pengkhotbah selalu memiliki keterbatasan  termasuk memilih ayat).

Pendeta menutup khotbahnya dengan doa. Isinya adalah respons jemaat terhadap khotbah, sekaligus permohonan agar Roh Kudus memampukan jemaat melaksanakan khotbah dalam hidup sehari-harinya.

 

3.2.14.  Doa Penutup : (Persembahan, Bapa Kami, Berkat)

Ibadah berakhir dengan rangkaian doa. Mula-mula doa persembahan. Dalam buku Agenda HKBP 13) rumusan doa persembahan adalah sebagai berikut: “Ya Allah, Bapa kami yang di surga. Kami mengaku bahwa Tuhan adalah sumber dari segala karunia yang melimpah dalam kehidupan kami masing-masing. Sebagian daripada karunia itu, kami serahkan kembali sebagai persembahan kepada Tuhan. Terimalah dan berkatilah persembahan umatMu ini, agar dapat kami pergunakan untuk pekerjaan dan pelayanan Kerajaan Tuhan di dunia ini. Bukalah hati kami untuk mengenal betapa banyak berkat dan karunia yang kami peroleh dari Tuhan, supaya kami senantiasa bersyukur kepadaMu di dalam Nama Yesus Kristus Tuhan kami.” Dilanjutkan dengan doa khusus hari pesta gerejawi  sebagai doa syafaat dan ditutup dengan doa  bapa kami dan berkat.

Pada puncaknya pendeta menyampaikan berkat kepada jemaat. Rumusan berkat yang digunakan dalam tata ibadah HKBP diambil dari kitab Perjanjian Lama yaitu Bil.6: 22-27. Rumusan itu adalah sebagai berikut:  “Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau, Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau kasih karunia, Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera. Selanjutnya jemaat menyambut dengan menyanyikan Amin-amin-amin.

Demikianlah penjelasan unsur-unsur tata ibadah Minggu serta urutan sistimatis tata ibadah yang dipergunakan di HKBP.  Setiap unsur-unsur tata ibadah dari awal sampai akhir tidak terpisah sesuai dengan nama-nama Minggu gerejawi.

 

3.3. Rangkuman

Di dalam peribadahannya HKBP memiliki tata ibadah yang telah disusun secara sistimatis. Setiap unsur-unsur tata ibadah tersebut mempunyai makna tertentu yang dikaji dari sudut pandang teologi. Unsur-unsur tata ibadah tersebut mencakup: Nyanyian, Votum, Introitus, Doa Pembukaan, Hukum Taurat, Doa Pengakuan Dosa, Berita Anugerah, Pembacaan Epistel, Pengakuan Iman, Warta Jemaat, Khotbah, Persembahan, Doa persembahan, Doa Bapa Kami dan Berkat. Setiap unsur tata ibadah tersebut diantarai dengan nyanyian yang berfungsi merangkai unsur-unsur tata ibadah yang satu dengan yang lain, sehingga membentuk satu perayaan liturgi.

Pembahasan unsur-unsur tata ibadah HKBP dari sudut etimologi dan teologi membuka cakrawala baru tentang arti dari setiap unsur-unsur tata ibadah yang selama ini mengalami beberapa kekeliruan pemahaman. Kekeliruan pemahaman tersebut menyebabkan kekeliruan dalam pemakaian dan penempatannya dalam perayaan liturgi, misalnya: votum dan introitus. Dalam prakteknya votum sering dipahami sebagai ”mantra” yang mensahkan jalanya suatu ibadah, padahal votum adalah pernyataan biasa yang memiliki pengertian sama dengan kata bismillah. Oleh karena itu, votum dapat diucapkan oleh umat yang beribadah, atau dijawab dengan ”amin”. Demikian juga introitus yang ditempatkan setelah votum. Penempatan ini adalah kekeliruan dilihat dari sudut etimologinya. Introitus adalah prosesi atau perarakan masuk yang biasanya dilakukan dari pintu utama menuju altar atau mimbar, namun dalam prakteknya di HKBP membacakan nas yang disesuaikan dengan nama Minggu setelah votum. Dari etimologinya, introitus sesungguhnya ditempatkan pada awal kebaktian bukan setelah votum.

Berbagai kekeliruan masih terdapat dalam pemahaman dan penempatan unsur-unsur tata ibadah di HKBP, namun melalui pemahaman unsur-unsur tata ibadah yang ditinjau dari sudut etimologi dan teologi, kekeliruan tersebut dapat dikoreksi demi pembaruan tata ibadah.

 

 



1) Dalam buku nyanyian HKBP (Buku Ende) dapat ditemukan nynyian-nyanyian yang sesuai dengan kalender tahun Gerejawi, yaitu: Nyanyian pujian, nyanyian Minggu, nyanyian Adventus, nyanyian hari kelahiran Tuhan Yesus, nyanyian Tahun Baru, nyanyian Epiphanias, nyanyian pada kematian Yesus, nyanyian pada hari kebangkitan Yesus, nyanyian pada hari kenaikan Tuhan Yesus, nyanyian pada hari turunnya Roh Kudus, nyanyian pada masa Trinitatis. Masih ditemukan juga nyanyian yang berhubungan.

2) Christina Mandang, “Musik Gereja dan Liturgi Nyanyian Jemaat dalam Ibadah”: Liturgi dan Komunikasi  (Jakarta: Yakoma PGI,  2005),  143.

3) A.A. Sitompul,  Bimbingan Tata Kebaktian Gereja Suatu Studi Perbandingan. (Pematang Siantar: 1993),  100.

 

4)  A. Kuyper, Onze Heredienst, (Kampen, 1911),  176-177.

5)  Nordmans,O, Liturgie  (Amsterdam,  1939),  74-76.

6)  J.L. Ch. Abineno, Unsur-Unsur Liturgi  (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004),  74,76.

7)  Rasid Rachman, Teologi Perayaan Kelirumologi dalam Liturgi (STT Jakarta: Bahan Kuliah Perdana Angkatan X, Program Magister Ministri, 2006),  2.

8)  Ibid.,  29.

9)  Di HKBP istilah yang dipakai untuk pemberitaan anugerah adalah janji Tuhan untuk pengampunan dosa.

10)  Agenda HKBP  (Pematang Siantar: Percetakan HKBP  2001),   82.

11)  Ibid.,  85.

12  J.L.Ch.Abineno, Op.cit.,  54.

13)  Agenda, Op.cit.,  5.

Comments (2) »

HKBP PERUMNAS II BEKASI

HKBP Perumnas II Bekasi terletak di Jln. Gunung Gede Raya nomor 2 RT 05/013 Kelurahan Kayuringin Jaya Bekasi Selatan. Di sebelah Timur Jln. Raya A Yani (kompleks Pemda kota Bekasi, Rumah Sakit Mitra Keluarga) sebelah Selatan Jln. Kalimalang (gedung Hero sekarang Bekasi Cyber Park (BCP), Hotel Horizon) sebelah Barat Jln. Gunung Salak dan sebelah Utara Jln. Sudirman.

Secara geografis Gereja ini berada di pusat kota dengan perkembangan yang begitu pesat sebagai Kotamadya. Warga jemaatnya tersebar di seluruh kota dan kabupaten Bekasi dengan profesi Karyawan Swasta, Buruh, Sopir, Pedagang Kecil dan Kaki Lima, Guru/Dosen, Pengusaha, Pegawai Negeri, Pensiunan dan Pengangguran dengan tingkat ekonomi yang bervariasi dan mayoritas tingkat ekonomi pra-sejahtera, di atas garis kemiskinan dan sedikit ditingkat ekonomi menengah ke atas.

Sejarah berdirinya HKBP Perumnas II Bekasi tidak terlepas dari pembanguan perumahan (Perumnas) di Bekasi Selatan yang mendorong etnis Batak (baca: warga HKBP) berdatangan dan berdomisili di Perumahan ini. Banyak tantangan dan rintangan yang dialami jemaat pada waktu itu. Setelah melalui banyak proses, akhirnya pada Minggu 04 April 1982 tepat hari perayaan Kebangkitan Tuhan Yesus (Minggu Paskah) dilaksanakan kebaktian pertama di rumah Ny.Banjarnahor br. Situmeang di Jln. Belut 4 nomor 80 dipimpin oleh DR. Bonar Napitupulu (sekarang Ephorus HKBP).6) Pada tanggal 05 Agustus 1989 HKBP Perumnas II mulai dibangun dengan jumlah warga jemaat 85 Kepala Keluarga  dan lima tahun kemudian HKBP Perumnas II mendapat surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB) nomor. 1805/503/I-B/DPUK tanggal 20 Maret 1993 dengan bentuk bangunan tingkat II.

 

6.3. HKBP Perumnas II Masa Kini

Lingkungan Gereja HKBP Perumnas II Bekasi berdampingan dengan tiga Gereja: Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI), Gereja Kristen Oikumene Di- Indonesia (GKOI) dan Gereja Kristen Oikumene (GKO). Perkembangan HKBP Perumnas II Bekasi sangat pesat, baik dalam jumlah statistik warga jemaat maupun kualitas pelayanan, dilayani dua orang Pendeta dan duapuluh enam orang Parhalado (Majelis).

Berita Pelayanan (Bericht) HKBP Perumnas II Bekasi Tahun 2007 mencatat jumlah warga jemaat sebanyak 722 Kepala Keluarga, 2608 jiwa. Terdiri dari kaum Bapak 664 orang, Ibu 706 orang, Anak Laki-laki 673 orang dan Anak Perempuan 563 orang.7) Mayoritas warga jemaatnya adalah keluarga muda (usia produktif). Pelayanan kebaktian Minggu dilaksanakan empat kali: Kebaktian Minggu subuh pukul 06.00 – 07.30, Kebaktian Anak Sekolah Minggu pukul 07.30 – 9.15, Kebaktian Minggu pagi pukul 9.30 – 11.30 dan Kebaktian Minggu sore pukul 18.00 – 20.00.8) Berita pelayanan (Bericht) HKBP Perumnas II Bekasi mencatat statistik jemaat yang mengikuti ibadah bulan Juni sampai November 2007:

 

BULAN

PKL 06.00

PKL  09.30

PKL. 18.00

JUMLAH

JUNI

355

763

308

1.426

JULI

877

1.926

1.346

4.159

AGUST

764

1.526

1.072

3.362

SEPT.

1.094

1.867

1.430

4.391

OKT

619

1.292

702

2.613

NOV

934

1.832

888

3.654

TOTAL

4643

9206

5746

19.605

 

Dari data statistik jemaat yang mengikuti ibadah bulan Juni sampai November 2007 di HKBP Perumnas II Bekasi, dapat diketahui gambaran kehadiran jemaat mengikuti ibadah, sebagai berikut:

a.        Pukul 06.00, rata rata per-bulan 773 orang dan per-Minggu 193 orang.

b.       Pukul 09.30, rata rata per-bulan 1534 orang dan per-Minggu 383 orang.

c.        Pukul 18.00, rata rata per-bulan 957 orang dan per-Minggu 239 orang

Di samping pelayanan kebaktian Minggu HKBP Perumnas II Bekasi juga melakukan pelayanan kebaktian kategorial (Remaja, Pemuda, Lanjut Usia = Lansia, Ibu Janda = Ina Hanna , Perempuan= Ina Kamis) kebaktian wilayah setiap hari Rabu dan Jumat pada malam hari pukul 19.30. Sesuai berita pelayanan (Bericht) HKBP Perumnas II Bekasi diperoleh data statistik jemaat yang mengikuti kebaktian wilayah mulai bulan Februari sampai November 2007:

 

WIJK

FEB

MAR

APR

ME I

JUN

JUL

AGT

SPT

OKT

NOV

J LH

I

47

65

57

90

90

79

73

104

50

75

730

II

37

70

50

87

67

71

77

82

67

68

676

III

56

98

65

112

86

112

85

116

58

82

870

IV

84

114

76

149

101

134

78

120

71

91

1018

JLH

224

347

248

438

344

396

313

422

246

316

3294

 

 

Dari data statistik jemaat yang mengikuti kebaktian wilayah bulan Februari sampai November 2007 di HKBP Perumnas II Bekasi, dapat diketahui gambaran kehadiran jemaat mengikuti ibadah, sebagai berikut:

a.       Wilayah I, rata rata per-bulan 73 orang dan per-Minggu 18 orang.

b.       Wilayah II, rata rata per-bulan 67 orang dan per-Minggu 16 orang.

c.       Wilayah III, rata rata per-bulan 87 orang dan per-Minggu 21 orang.

d.       Wilayah IV, rata rata per-bulan 101 orang dan per-Minggu 25 orang.

Kebaktian wilayah ini dilaksanakan di empat wilayah pelayanan dipimpin oleh Pendeta dan Majelis dengan menggunakan bahasa Batak. Susunan tata ibadah9) terdiri dari: Bernyanyi, Votum dan Doa Pembukaan, Bernyanyi, Pembacaan Alkitab (nas evanggelium pada hari Minggu), Bernyanyi, Doa dipimpin oleh tuan rumah, Bernyanyi, Khotbah (nas Epistel pada hari Minggu), Diskusi (pendalaman nas khotbah dihubungkan dengan kehidupan kongkrit), Bernyanyi sambil mengumpulkan persembahan dan Doa Penutup (Doa Persembahan, Bapa Kami, Berkat).

Demikian juga kebaktian kategorial (kategorial Bapak, Perempuan dan Pemuda) dilaksanakan dengan susunan tata ibadah: Bernyanyi, Renungan dan Penelaahan Alkitab, Bernyanyi, Doa syafaat, Bernyanyi sambil mengumpulkan persembahan diakhiri dengan Doa Bapa Kami dan Berkat. Khusus kebaktian pemuda tata ibadahnya disusun oleh pemuda  sendiri melalui konsultasi dengan Pendeta. Nyanyian yang dipergunakan dalam kebaktian ini diambil Nyanyikanlah Kidung Baru (NKB), Pujian Bagi Sang Raja (PBSR) dan nyanyian pop rohani lainnya dipandu seorang MC (Master of Ceremony). Tidak ada susunan tata ibadah yang dibakukan dalam kebaktian ini.

 


6) Minggu 04 April 1982 ditetapkan sebagai hari jadi HKBP Perumnas II Bekasi. Amintas Siahaan, Berita Pelayanan (Bericht) HKBP Perumnas II Bekasi Tahun 2004,  (Bekasi: 2004),  2.

7)  Amintas Siahaan,  Berita Pelayanan (Bericht) HKBP Perumnas II Bekasi Tahun 2007  (Bekasi: 2007),  8.

8) Kebaktian Minggu subuh dan pagi menggunakan bahasa Batak dan satu kali dalam satu bulan menggunakan bahasa Indonesia (Minggu ke-3). Unsur tata ibadah sesuai dengan Agenda HKBP yang baku. Kebaktian Minggu sore menggunakan bahasa Indonesia dengan model tata ibadah variatif (Variatif yang dimaksud tetap berpedoman mengikuti unsur-unsur tata ibadah sesuai Agenda HKBP, tetapi rumusan doa, nyanyian dapat diubah).

9)  Di dalam buku Agenda HKBP tidak ada disusun format tata ibadah yang baku untuk kebaktian wilayah. Susunannya cenderung  diatur oleh pimpinan  dan Majelis jemaat setempat. Dengan demikian susunan tata ibadah wilayah di HKBP berbedabeda di setiap daerah.

Comments (2) »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.626 pengikut lainnya.