MODEL-MODEL LITURGI GEREJA

4.1.1.      Model-model Liturgi Gereja Masa Kini

Basden 13) mencatat bahwa tahun 1990-an di Amerika terklafikasi lima jenis gaya ibadah, yaitu: Liturgis; Tradisional; Kebangunan (Revivalist); Pujian dan Penyembahan (Praise and Worship); “Pencari Jiwa” (Seeker). Ke-5 gaya ibadah ini mengklain mendapat inspirasi dari topangan sumber Alkitab sekalipun Alkitab tidak memberikan satu pilihan cara ibadah yang paling benar, namun Alkitab memberikan informasi tentang kebiasaan beribadah umat. Identifikasi ke-5 gaya ibadah itu adalah:

 

1.      Liturgis

Liturgis memiliki keteraturan dan persiapan yang sudah terwarisi secara turun temurun. Kelompok liturgis ini mengklaim sebagai pewaris tradisi asli dari zaman Perjanjian Baru dan sejarah gereja. Oleh karenanya seringkali bertahan (status quo) dengan alasan “patuh pada tradisi” menjadi pembenaran untuk menghadapi keberbagain ibadah. Teratur, terencana dan persiapan yang matang merupakan gambaran umum dari gaya ibadah liturgis ini (lih 1Kor.14: 33,39). Warna ibadah yang agung dan kontemplatif mendapat penekanan utama. Roma Katolik, Lutheran dan Anglikan berada pada gaya ini.

 2.      Tradisional

Tradisional memiliki ciri formal, namun tidak terlalu formal.14) Perilaku ini terjadi karena tidak adanya pegangan pelaksanaan ibadah sekalipun ada kesepakatan bersama. Gaya ibadah tradisional ini terkadang disebut non-liturgis dan kadang disebut semi-liturgis. Pada satu pihak gaya ibadah tradisional ini adalah cangkokan dari induk liturgis, pada pihak lain terbuka pada gaya kebangunan. Perubahan dimungkinkan terjadi apabila ada kesepakatan bersama. Kol.3: 16 dan Ef.5: 19-20 adalah salah satu aspirasi yang mendasari gaya ibadah tradicional ini. Reformed dan Menonit berada pada kelompok ini.

 3.      Kebangunan (Revivalist)

Kebangunan memiliki ciri informal, meluapkan kegembiraan, khotbah yang agresif dan bersemangat.15) Motivasi yang sering ditekankan adalah mencari yang terhilang dan membawa sebanyak mungkin kepada anugerah Allah (lih Kis.2). Pada gilirannya umat diarahkan untuk bersaksi bagi orang-orang yang belum percaya. Membakar semangat berdampak langsung kepada emosi, sehingga umat mengkaim merasakan kehadiran Allah dalam ibadah. Quaker, Metodis dan Frontier (Babtis, Diciples of Christ, Churches of Christ) berada dalam kelompok ini.

 

4. Pujian dan Penyembahan (Praise and Worship)

Pujian dan Penyembahan ini memiliki ciri informal, suara tidak terlalu keras namun menggunakan pengeras suara.16) Umat mengungkapkan pengalamannya menemukan kehadiran Allah dengan meluapkan ekspresi melalui doa, nyanyian dan kata-kata. Kadang-kadang menggunakan bahasa lidah, penyembuhan dan umat sering menjawab: ”Oh Yesus”, ”Amin”, ”Haleluya”. Ibadah adalah keterlibatan seluruh tubuh, bertepuk tangan, menari, angkat tangan dan berseru nyaring. Maz.150 dan 1 Kor.12-14 menjadi aspirasi tentang gaya ibadah ini. Pantekosta berada dalam kelompok ini.

5.      ”Pencari Jiwa” (Seeker)

            ”Pencari Jiwa” memiliki ciri ketergantungan kepada satu atau dua orang pemimpin yang dinilai memiliki kharisma.17) Tidak ada ciri yang seragam di antara gaya-gaya ibadah ini. Yang satu mengindahkan musik komtemporer, yang lain menarik jiwa melalui babtisan; yang satu mengarahkan gaya hidup kudus setiap individu, yang lain pada minyak urapan. Kis.17: 16-34 menjadi salah satu inspirasi gaya ibadah ini.

 4.3.2. Identifikasi Ibadah di HKBP

Berbagai gaya ibadah yang muncul di era tahun 1980-1990, namun gaya ibadah yang sangat mempengaruhi perkembangan peribadahan Protestan (main stream) hingga masa kini adalah gaya ibadah Karismatik, Pujian dan Penyembahan (Praise and Worship). Pengaruh gaya ibadah ini sungguh sangat terasa di HKBP yang memunculkan sorotan bahwa ibadah di HKBP monoton, kaku, formal, dll.

HKBP dalam peribadahannya berpusat pada pemberitaan Firman. Unsur-unsur tata ibadah sudah terwarisi secara turun-temurun sekalipun ada keterbukaan menerima perubahan-perubahan sesuai dengan perkembangan. Tata ibadah yang bercorak Lutheran tetap terwarisi sekalipun tidak semuanya menggambarkan tata ibadah Luther. Ini terlihat melalui pembacaan Hukum Taurat yang terdapat dalam unsur-unsur tata ibadah yang sesungguhnya tidak terdapat di dalam tata ibadah Luther. Pembacaan Hukum Taurat hanya terdapat di dalam tata ibadah yang disusun oleh Martin Bucer dan Calvin yang sekarang dipakai oleh Gereja-gereja reformed.  

 1. Tata Ibadah Luther 18)          

-     Nyanyian Mazmur atau nyanyian rohani

-     Kyrie Eleison dan Gloria

-     Doa Mingguan (doa kolekta)

-     Pembacaan Surat

-     Nyanyian Mazmur

-     Pembacaan Injil

-     Kredo (dinyanyikan)

-     Khotbah

-     Doa Bapa Kami (dinyanyikan)

-     Nasihat

-     Kata-kata Penetapan Perjamuan Kudus

-     Pembagian Roti dan Anggur jemaat menyanyikan Sanctus ( Yes.6: 1) dan Agnus Dei (Kristus, ya Anak Domba Allah)

-     Pengucapan Syukur

-     Berkat

2. Liturgi Jenewa 19)

-     Pertolongan kita

-     Pengakuan Dosa

-     Pemberitahuan Pengampunan Dosa

-     Doa memohon Pengampunan Dosa

-     Dasa Firman

-     Nyanyian Mazmur

-     Doa

-     Khotbah

-     Pengumpulan Persembahan

-     Doa Syafaat

-     Kredo

-     Formulir Perjamuan Kudus

-     Doa agar diterima serta Bapa Kami

-     Kata-kata Penetapan disusul dengan Nasihat

-     Kata-kata Pembagian Roti dan Anggur

-     Komuni sementara menyanyikan Mazmur

-     Pengucapan Syukur

-     Nyanyian Mazmur

-     Berkat

-     Pengutusan

3.      Tata Ibadah HKBP 20)

 -         Nyanyian Rohani

-         Votum-Introitus-Doa

-         Nyanyian Rohani

-         Pembacaan Hukum Taurat

-         Nyanyian Rohani

-         Doa Pengakuan Dosa

-         Pemberitaan Anugerah

-         Nyanyian Rohani

-         Pembacaan Firman (Epistel)

-         Nyanyian Rohani

-         Kredo

-         Nyanyian Rohani

-         Khotbah

-         Nyanyian Rohani

-         Doa Persembahan

-         Doa Bapa Kami

-         Berkat

Di dalam tata ibadah Luther dan liturgi Jenewa terdapat  nyanyian Mazmur sedangkan dalam tata ibadah HKBP nyanyian Mazmur jarang dipakai. Dengan demikian tata ibadah HKBP tidak semua mencerminkan tata ibadah Luther secara murni, tetapi juga memakai tata ibadah Calvin melalui pembacaan Hukum Taurat, Pemberitaan Pengampunan Dosa dan Pemberitaan Anugerah serta nyanyian Mazmur sekalipun jarang dipergunakan.

 4.4. Rangkuman

Pembaruan ibadah diawali oleh Martin Luther di Wittenberg Jerman yang memunculkan lahirnya liturgi Protestan atau liturgi Reformasi. Ajaran-ajaran Roma Katolik yang berbau lahiriah di dalam ibadah dipulihkan kepada pemberitaan injil yang sesungguhnya. Artinya seluruh liturgi (tata ibadah) harus merupakan pemberitaan Injil dan segala apa yang terjadi di Gereja harus dinilai menurut ukuran Injil. Dalam pembaruan ibadah, Luther menunjukkan sikap kehati-hatian, pelbagai tradisi lama apabila tidak bertentangan dengan firman Allah tetap dilaksanakan.

Semangat pembaruan ibadah terus berkembang dan bergulir hampir keseluruh Eropa yang memunculkan sembilan bentuk-bentuk baru dari liturgi yang semuanya berasal dari induk tradisional liturgi barat (Roma), yaitu: liturgi Lutheran, reformed (Calvinis), anabaptis, anglikan, puritan, quaker, metodis, frontier dan pentakostal. Kesembilan bentuk liturgi tersebut mewarnai liturgi Gereja-gereja Protestan hingga saat ini.

            Di dalam perkembangan liturgi selanjutnya Gereja-gereja Reformasi berpandangan bahwa tidak ada liturgi yang bersifat normatif, bersifat kekal, sempurna dan tidak dapat diperbaharui sepanjang masa. Upaya pembaruan liturgi tetap terbuka sebagaimana pemahaman tentang hakikat Gereja, yaitu: “Ecclesia reformata semper reformanda”, namun demikian pembaruan liturgi yang akan diupayakan tidak bersifat “liar” tetapi selalu di dasarkan kepada refleksi teologis dan praksis liturgi. Di dalam upaya pembaruan liturgi ada beberapa  prinsip yang dibangun sehingga bercorak reformatoris, yaitu: liturgi dilayankan dalam bahasa umat, firman Allah harus dikomunikasikan secara terbuka dan mendalam, Umat terlibat aktif dalam liturgi dengan menyanyikan nyanyian jemaat, perjamuan kudus dirayakan sebagaimana perintah Kristus, maka umat berhak dan wajib menerima kedua elemen perjamuan kudus, pelayan liturgi tidak mengenakan pakaian liturgis sebagai pakaian jabatan yang hanya membedakannya dari umat tetapi sebagai pakaian kesarjanaan.

            Seiring dengan perkembangan bentuk-bentuk liturgi Protestan, muncul juga perkembangan dalam berbagai gaya atau pengekspresian liturgi. Sebagaimana Basden mencatat ada lima gaya ibadah yang muncul, yaitu: Liturgis yang memiliki keteraturan dan persiapan yang sudah terwarisi secara turun temurun, Tradisional yang memiliki ciri formal, namun tidak terlalu formal, Kebangunan memiliki ciri informal, meluapkan kegembiraan, khotbah yang agresif dan bersemangat, Pujian dan Penyembahan yang memiliki ciri informal, suara tidak terlalu keras namun menggunakan pengeras suara, ”Pencari Jiwa” yang memiliki ciri ketergantungan kepada satu atau dua orang pemimpin yang dinilai memiliki kharisma. Melalui varian perkembangan ini dapat dicatat bahwa pembaruan ibadah Protestan terus mengalami perkembangan baik dalam bentuk maupun dalam hal ekspresi.

            Melihat perkembangan liturgi Protestan ini dapat dikatakan bahwa keanekaragaman merupakakan ciri ibadah Protestan sejak awal.  Tidak ada liturgi yang bersifat normatif, bersifat kekal, sempurna dan tidak dapat diperbaharui sepanjang masa.


13)  Paul Basden, The Worship Maze: Finding a Style to Fit Your Church (Illinois: Inter Varsity Press,  1999),  34-35.

14)  Ibid.,  55-57.

15)  Ibid.,  66-70.

16)  Ibid.,  76-81.

17)  Ibid.,  88-99.

18) G.Riemer, Cermin Injil  (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF,  1995),  167. Bnd. W.J. Kooiman, Op.cit.,  126-127.

19)  Ibid.,  171.

20)  Agenda HKBP  (Pematang Siantar: Percetakan HKBP,  2000)

About these ads
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.779 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: